
namun di sisi lain Fian dan Liam yang baru saja tiba, di Villa itu, Fian kini berlari menuju lantai atas, namun tidak dengan Liam.
seketika langkahnya terhenti mendapati sosok yang terjatuh dari atas.
Liam sontak membulatkan matanya melihat sosok itu yang tak lain Arin, yang terjatuh dari lantai atas.
BYUR....
suara dercikan Air, Liam seketika berlari menuju dimana Arin terjatuh.
tanpa aba aba Liam segera masuk kedalam kolam itu, namun secara bersamaan Romi yang kini juga berada disana.
matanya melihat sosok Liam dan Arin yang berada di dalam Air itu.
Byur...
"ahh..hh" Liam kini berhasil membawa Arin kedasar tampak diwajah Arin penuh luka memar akibat pukulan, Liam menatap wajah itu seketika dan kini membawanya naik.
"Rom.. bantu aku" ujarnya kepada Romi yang masih berada disana.
Romi segera membantu Liam mengangkat tubuh itu, Liam mencoba membangun kan Arin, namun tidak kunjung sadar.
namun di sisi lain.
BRUK...
satu pukulan tepat di wajah kiri peria itu, Ardan menarik kerah baju peria dan kini menatap kearah dua mata itu,
" Ck..akhirnya kau tiba juga ya Ardan!" Ucap Tn Difya kepada Ardan.
"apa yang kau lakukan Difya Adnan ?" ucap Ardan dengan meninggikan nada suaranya.
"kenapa? Bukan kah ini sebuah pertunjukan yang bagus Ardan" ucap Tn Difya tanpa ada rasa takut di hatinya.
"apa yang kau lakukan, kenapa kau lakukan ini?" Ucap Ardan tak percaya atas apa yang kini dirinya lihat.
"aku ingin melihat mu menderita Ardan, kau selalu mendapat kan apa yang kau ingin kan, kau bahkan membuat perusahaan ku berada diambang kebangkrutan" ujar Tn Difya.
"Ck... bukan kah kau sendiri yang menyebabkan perusahaan mu itu mengalami kebangkrutan Tn Difya" ucap Ardan dengan masih memegang kuat Kerah itu.
"seharusnya waktu itu aku sudah tau niatmu Difya...kau sengaja membuatku untuk menikahi putri mu ini, hanya untuk membuatku hancur seketika, dan merebut apa yang selama ini kau inginkan dari ku" ucap Ardan dengan tatapan yang terlihat sangat marah.
Bruk....
__ADS_1
Ardan memukul wajah peria itu dengan sangat kuat,Nadia yang melihat kejadian itu dengan keadaan dirinya tertangkap basa disana, seketika ingin kabur, namun dengan cepat seseorang menahannya.
"mau kemana kau?" Ujar orang itu kepada Nadia.
"Fian?" Ucap Nadia menatap kehadiran Fian yang tiba tiba,
namun secara bersamaan Liam yang baru saja berada dari bawah dengan tubuh yang terlihat basah kuyup seraya menggedong seseorang di pelukannya.
"Kakak?" Panggil Liam yang kini berada disana, seketika semua mata tertuju kepada Liam dengan masih menggendong Arin di pelukannya.
Ardan yang melihat Arin keadaan pingsan, seketika wajahnya terlihat sangat marah dan tanpa di duga.
BRUK...
PRANK...
Brak.. srekk
Ardan memukul keras kearah wajah peria itu dan membuatnya tak berdaya.
Ardan segera berlalu mendekati Liam dan kini mengambil Alih Arin dari pelukan itu.
"kakak... kau urusi breng*** itu" ucapnya kepada Fian yang masih berada disana.
"kau tenanglah akan ku bereskan mereka sekarang juga" ucap Fian yang kini beralih menatap kearah Tn Difya,dan begitu juga Nadia.
"Zian? Romi? Tom?, kemarilah kalian tau apa yang harus kalian lakukan" ucap Fian kepada Romi, Zian dan begitu juga Tomy untuk melakukan sesuatu kepada orang yang kini di hadapan mereka.
"Fian..Fian.. sudah lama ya kita tidak berbicara satu sama lain!" Ucap Tn Difya dengan kondisi luka parah.
"hemm kau benar Tn Difya, memang sudah lama kita tidak berbicara seperti ini" ujar Fian kepada Tn Difya.
"Tom... kemarilah" panggil Fian kepada anak buanya itu.
"apa kau sudah mendapatkan apa yang aku minta?" Tanya Fian kepada Tomy yang kini berada di sampingnya.
"sudah Tn" jawabnya, Tomy segera mengeluarkan sebuah Dokument, tampak di wajah Tn Difya sangat kaget.
"kau ingat ini, bagaimana caramu melakukannya hemm, maka dari itu, aku pun juga melakukan hal yang sama kepadamu" jelas Fian dengan senyum penuh arti.
"ck... jadi dia anak buah mu" gumam Difya yang kini melihat kearah Tomy, yang ternyata merupakan seketaris di perusahaannya.
"hh.. bagaimana, bukan kah kau juga menyukai pertunjukan itu, dimana saat kau merayakan apa yang tak seharusnya kau dapatkan" timpal Fian seraya menunjukan dokument itu kepada Tn Difya.
__ADS_1
Fian menatap jauh Difya dan segera menyuruh mereka bertiga untuk membawanya ikut bersamanya.
saat sebelum dirinya benar benar pergi, Fian mengalihkan pandangannya menatap kearah Nadia.
"bagaimana.. kau terus melakukan hal yang sama seumur hidupmu, ck ternyata kau tidak pernah berubah ya Nad, kau bahkan tak pantas untuk di cintai" ujar Fian menatap kearah Nadia yang kini di awasi oleh Zian Fian kini melangkah kan kakinya menuju luar Villa itu.
Nadia seketika berteriak histeris meminta Zian untuk melepaskannya.
***
namun di sisi lain Ardan yang kini sudah berada di Kediaman Azhedra bersama Mamah dan juga Liam.
mereka segera menuju kamar tamu dan seraya menelpon dokter pribadi mereka untuk segera datang kerumah.
selang beberapa lama kini Dokter pun telah tiba, dan segera memeriksa keadaan Arin yang masih belum sadarkan diri.
"Dokter? Apa istri saya baik baik saja?" Tanya Ardan dengan wajah sedikit panik.
"tuan...mereka tidak apa apa!" Ucap Dokter Dandy, kepada mereka semua yang berada disana.
Ardan seketika bingung mendengar perkataan Dokter Dandy yang menyebut kata (mereka).
"mereka? Siapa yang dokter maksud?" Tanya Ardan penasaran.
"tuan..apa anda tidak tau, kalau saat ini Nyonya tengah hamil 2 Bulan 4 hari" ucap Dokter Dandy kepada Ardan.
Ardan yang mendengar perkataan dari Dokter Dandy seketika terdiam kaget begitu juga Aziah dan Liam.
kini mereka saling pandang satu sama lain.
"H Hamil Dok?" Tanya Ardan tak percaya.
"Iya tuan, lebih baik.. tuan harus menjaga istri anda dengan baik, dan jangan menyuruhnya untuk bekerja lebih berat" jelas Dokter Dandy kepada Ardan yang masih menatap Arin tak percaya.
tak lama dari luar, terdengar suara langkah kaki yang kini masuk kedalam kamar itu.
Tn Hendrik yang baru saja tiba dari Perusahaannya kini beranjak menuju kamar tamu yang begitu terlihat ramai disana.
Aziah yang kini melihat kearah datangnya, suaminya kini berlalu menghampiri sosok itu.
"apa yang terjadi? Kenapa ada Dokter Dandy kesini?" Tanya Tn Hendrik kepada istrinya.
"eng...Arin tadi jatuh ke kolam saat berada di Villa" ucap Aziah kepada suaminya.
__ADS_1
Tn Hendrik seketika menatap intens istrinya, seraya meminta penjelasan lebih lanjut.