
"hemm sudah bu" sahut Arin yang kini memberikan potongan potongan itu kepada Rita.
Namun terlihat dari jauh rombongan pria paruh baya yang tengah asik menyiapkan meja meja dan membawa beberapa botol anggur di tangan mereka.
Namun tampak dari jauh Melinda, yang ternyata juga ikut hadir disana kini menatap diam kearah mereka tampak di wajahnya ada rasa tak suka melihat Arin di hadapannya.
Melinda kini mengalihkan pandangnnya menatap kearah dimana para pria tengah sibuk membakar sesuatu, Melinda menatap jauh seorang pria yang selama ini dirinya cintai,
"Ardan" gumam Melinda menatap Ardan yang berada di antara yang lainnya.
Melinda kini menghampiri rombongan para pria yang tengah asik membakar.
"sayang?" Panggil Farhan yang melihat kehadiran Melinda disana,
"eng..." gumam Melinda yang kini menatap Farhan dan juga Ardan secara bergantian
"kenapa kau kemari?" Tanya Farhan bingung,
"eng.. ahh tidak aku hanya ingin melihat lihat saja" ucapnya gugup.
"Eh... apa ini sudah matang?" Tanya Jeray seraya mengangkat sebuah daging yang mereka panggang.
"apa kau tidak bisa melihat daging yang sudah matang?" Ujar Fian kepada Jeray.
"eng... heheh sedikit" sahut Jeray yang kini kembali meletakan daging itu di atas pemanggang.
namun saat mereka tengah asik tiba tiba suara tangisan anak kecil kini terdengar kearah mereka,
"Arka tampaknya menangis" gumam Fian yang kini menatap kearah Mamahnya, dan begitu juga yang lainnya.
Ardan seketika mengalihkan pandangnnya dan kini berjalan menghampiri Mamahnya, tak lama Ardan kini kembali membawa Arka bersamanya.
tampak di wajah anak kecil itu tersenyum lepas saat Ardan menggendongnya.
Melinda menatap diam arah Arka dan Ardan yang kini berada disana.
"Oh.. bagimana soal Nona Linda dan Kak Farhan, apa kalian sudah berencana mempunyai anak?" Ujar Jeray ceplas ceplos.
Farhan seketika melihat kearah Melinda yang kini berdiri di sampingnya.
"eng...." gumam Farhan.
"nanti... jika kak Farhan tidak mau menunda" jawab Melinda spontan seraya menatap kearah Ardan, ingin melihat respon pria itu kepadanya.
Ardan yang tak menghiraukan perkataan Melinda kini dirinya sibuk mengajak Arka untuk bermain bersamanya, Melinda membuang nafasnya dengan kasar dan beranjak pergi dari sana.
"kenapa Nona Linda berlalu begitu saja?" Tanya Jeray penasaran.
__ADS_1
"apa kau hanya bisa ikut campur urusan orang lain saja?" Ujar seseorang kepada Jeray.
"apa maksud mu hemm?" tanya Jeray yang kini menatap orang itu yang tak lain adalah Willian,
"Willi?" Panggil Melvin kepada Willian.
"ck..." gumam Willian yang masih menatap kearah Jeray.
"apa kalian akan terus berdebat yang tidak tidak?" seketika Ardan bersuara dan kini menatap tajam kearah kedua sepupuhnya itu.
"tidak.." jawab Jeray yang menyadari tatapan itu.
***
Pukul 17.00
tak lama kini mereka semua telah selesai mempersiapkan semuanya, kini mereka segera berlalu menuju meja makan.
dan membawa daging yang mereka bakar kesana, Ardan kini berlalu menuju dimana Arin duduk.
"sini sama Mamah" ujar Arin kepada Arka yang kini berada di sampingnya bersama Ardan.
Arka memeluk kuat kerah baju Ardan dan tak bergeming sedikitpun untuk beranjak dari gendongan Papahnya.
"Ahh kamu tidak mau sama Mamah, baiklah... tidur saja sama Papah mu nanti malam." gumam Arin yang kini beranjak membuat bubur untuk Arka.
Saat sudah selesai Arin kini menyuapi bubur itu kepada Arka.
"kamu tidak makan sayang?" Tanya Ardan yang masih menggendong Arka.
"nanti kalau Arka sudah selesai makan" jawab Arin yang kini menyuapi Arka, Ardan kini meminta Asistenya.
untuk mengambil tempat duduk bayi untuk Arka dan memintanya untuk meletakan bangku itu di sampingnya.
"aaa..." gumam Arin menyuapi Arka makanan.
Ardan mengambil makanannya dan kini menyuapi kemulut Arin.
dengan spontan Arin menerima suapan itu sontak semua mata kini tertuju kepada mereka bertiga,
"huks.. huks... aaa mereka membuatku ingin cepat cepat menikah" gumam Jeray melihat kearah mereka.
"mmm Mamah dukung kamu, jika kamu sudah mau menikah" ucap Ny Sarah.
Jeray sontak kaget mendengar perkataan Mamahnya menatap tak percaya apa yang dirinya dengar.
"lebih baik kau menikah, sudah waktunya kau memberikan kami seorang menantu dan cucu di keluarga Siklye" ujar Ny Sarah kepada Jeray.
__ADS_1
"Mah.." gumam Jeray masih terlihat Shok permintaan Mamahnya. Seketika semua orang disana tertawa melihat perdebatan antara ibu dan anak itu.
***
Selang beberapa lama acara keluarga itu kini telah selesai, Arin yang baru selsai mandi kini dirinya beranjak menidurkan Arka, Arin menggendong Arka seraya mennyanyikan lagu penghantar tidur.
Selang beberapa jam kini Arka tertidur di pelukan Arin, namun dari Arah ruang kerja, Ardan yang baru saja selesai melihat email dari kantornya kini beranjak menuju dimana Arin berada.
"Sa..." belum sempat Ardan melanjutkan perkataannya seketika Arin mengacungkan telunjuknya meminta Ardan untuk mengecilkan suaranya.
"apa dia sudah tidur" tanya Ardan yang kini melihat kearah Arka yang ternyata sudah terlelap.
Ardan beranjak menghampiri Arin dan kini ikut memeluk kedua orang itu.
Ardan mencium pipi Arka yang tengah tertidur pulas sesekali dirinya menjahili Arka dengan mencolek hidung mungil itu.
"Mas Ardan..?" Gumam Arin yang menyadari tindakan Ardan, Ardan seketika tersenyum dan seringkali melakukan hal itu terus terusan.
"howeks..." seketika Arka merengek.
Arin kini menatap tajam Ardan.
"mas Ardan.." gumam Arin pelan.
"suhtt... cup.. cup.. sayang tidurlah" gumam Ardan menepuk lembut tubuh kecil itu menenangkan Arka untuk tidur kembali.
Arin kini beranjak menurunkan Arka meletakannya di atas tempat tidurnya.
****
namun disisi lain Fian yang kini berada di dalam kamar mandinya seketika menatap tubuhnya yang kini terpampang di cermin, seraya mengingat sesuatu.
"ck..." gumam Fian seraya memegang kepalanya dan tampak di wajahnya terlihat ada rasa panik.
Entah apa yang tengah di pikirkan Fian saat ini, Fian bergegas keluar dari dalam kamarnya dan menggunakan bajunya.
seraya keluar dari dalam sana menuju mobilnya, entah apa yang saat ini tengah mengganggu pikirannya.
namun Ardan yang ternyata berada di loby rumahnya kini menatap heran Fian yang keluar begitu saja dengan terburu buru.
"kenapa dia begitu terburu buru!!" Gumam Ardan melihat Fian yang kini melajukan mobilnya menuju luar perkarangan rumah itu.
"ck.. kenapa nomor Sofia sulit sekali untuk di hubungi" gerutu Ardan yang mencoba menelpon nomor sofia.
"ahh sudah lah, lebih baik aku menghubungi Yuan sekarang" gumam Ardan yang kini mencari nomor Yuan di ponselnya.
__ADS_1