
Di parkiran Mall, Ardan dan Liam kini menaruh semua barang barang belanjaan itu di bagasi mobil dan bergegas masuk kedalam mobil mereka.
di dalam mobil, Liam segera melajukan mobilnya menuju kembali kekediaman Azhendra.
Selang beberapa jam terlihat sebuah mobil mewah kini memasuki perkarangan rumah, Liam dan Ardan begitu juga Arin, Nenek dan Mamah mertuanya yang masih berada di dalam mobil kini mereka semua beranjak keluar dari mobil dan bergegas masuk kedalam rumah.
cklek..
Suara pintu rumah di buka.
Arin yang kini sudah berada di loby rumah, dirinya bergegas berjalan menaiki anak tangga seraya menuju sebuah kamar yang tak jauh dari kamar dirinya.
Tok... tok..
Cklek...
"Eng.. Arin?" panggil Sofia yang kini menatap keberadaan Arin yang berdiri di depan pintu kamarnya.
"Oh.. Sofia? Eng boleh aku masuk?" tanya Arin kepada Sofia.
"oh.. boleh silahkan!" ucap Sofia seraya tersenyum.
Arin beranjak masuk kedalam kamar itu seraya membawa beberapa paperbag di tangannya.
srek..
Arin kini meletakan paperbag paperbag itu di atas tempat tidur Sofia, Sofia memandang bingung semua paperbag itu yang kini berada di atas kasurnya.
"eng.. Arin? apa yang kau bawa?" tanya Sofia kepada Arin.
"mmh.. oh ini semua untuk mu, Mamah dan Nenek memintaku untuk memberikannya kepadamu!" sahut Arin kepada Sofia.
"semua ini?" Ucap Sofia tak percaya.
"hemm iya." jawab Arin.
Namun di lain sisi Ardan dan Liam yang ternyata masih berada di ruang tengah tampak terlihat kedua pria itu sangat kelelahan akibat berkeliling Mall berjam jam.
Bruk...
"aah.. tau begini aku membawa Romi ikut bersamaku, aahk.. tanganku sakit semua!" gerutu Ardan seraya menyandarkan tubuhnya di sofa.
"aah.. Kakak?, aku bersumpah tidak akan ikut lagi dengan para gadis itu, mereka membuat tangan ku mati rasa akibat membawa semua barang belanjaan itu." gerutu Liam yang kini ikut duduk di Sofa.
Srek..
Deg..
"Aaaa..!" teriak Liam.
"Oh.. apa yang kau katakan barusan Liam?" Ucap Nenek kepada Liam, seraya menjewel telinga cucu nya itu.
__ADS_1
"heheh.. Nenek, tidak ada apa apa Nenek, Liam hanya asal berbicara saja barusan." ucap Liam seraya tersenyum kikuk.
Ardan yang melihat kejadian itu hanya tersenyum dan seraya mengejek Liam yang masih di jewel sang Nenek.
"Kakak..? Kau?" ucap Liam yang melihat Ardan terus mengejeknya.
"eng.. Nenek Ardan permisi ke kamar dulu ya Nenek, Nenek lanjutkan saja!" ucap Ardan kepada sang Nenek.
"hemm baiklah..!" sahut Nenek kepada Ardan.
Ardan tersenyum kearah Liam dan seraya berlalu menuju lantai atas yang dimana kamarnya berada.
***
Di lain sisi, Arin yang kini masih berada di kamar Sofia seraya menunjukan sebuah kotak merah kepada Sofia yang dimana terdapat dua buah cincin.
Sofia yang melihat cincin cincin itu kini hanya diam tak bersuara.
"eng.. Nenek memintaku untuk mencarikannya untuk kalian, aku tidak tau seperti apa... jadi aku pilih yang ini saja semogah kalian menyukainya!" ujar Arin kepada Sofia.
"eng.. !" gumam Sofia yang kini menatap kearah Arin dan seketika dirinya tersenyum.
"ini bagus Arin, aku menyukainya terimakasih, kau lagi lagi harus repot mencarikan cincin untuk kami." ucap Sofia seraya menatap gadis itu.
"Mmh.. tidak masalah Sofia, eng.. baiklah aku permisi dulu, terimakasih atas waktunya calon kakak ipar!" ucap Arin seraya tersenyum kepada Sofia.
Sofia seketika tersenyum kearah Arin yang kini berlalu menuju keluar kamar itu.
Arin segera meraih ponselnya dan terlihat di sana terdatap pesan dari nomor asing, Arin membuka pesan tersebut dan membacanya.
"Hai Nona?" Ucap seseorang dalam pesan itu.
"Siapa?" tanya Arin yang kini membalas pesan tersebut.
"Nona.. ini aku!" ucap seseorang dalam pesan itu kembali.
"eng.. kau? Ferdian?" tanya Arin asal menebak.
"bravo!" balas orang itu yang ternyata Ferdian.
"jadi kau Ferdian? bagaimana bisa kau mendapat nomor ponselku?" ucap Arin seraya bertanya.
"eng.. itu tidak penting Nona bagaimana caranya aku mendapatkan nomor ponsel mu, yang terpenting aku bisa berhubungan dengan mu!" balas Ferdian dalam pesan itu.
"mmh ya terserah kau saja!" balas Arin lagi.
Namum secara bersamaan Ardan yang ternyata berdiri di hadapan Arin yang masih menatap ponselnya tanpa memperdulikan pria itu yang sudah tiba di hadapan gadis itu.
"Ehemm?" dehem Ardan membuyarkan kesibukan Arin yang masih menatap pokus layar ponselnya.
Deg..
__ADS_1
"eng.. Mas Ardan?" panggil Arin yang kini menatap kearah Ardan yang berdiri tepat di hadapannya.
"apa yang kamu lihat?" tanya Ardan yang kini menatap lekat wajah Arin.
"eng.. tidak ada kok Mas!" jawab Arin.
Ardan tidak menyahuti perkataan Arin melainkan pria itu masih menatap lekat wajah gadis itu seraya menatap kearah ponsel yang masih berada di tangan gadis itu.
"Mhh.. masuk kamar sekarang, ini suda malam Arin, kenapa kamu masih berada di luar." ucap Ardan yang kini meminta gadis itu masuk kedalam kamarnya.
"iya Mas." jawab Arin seraya berjalan terburu buru menuju kamarnya.
Ardan yang masih berdiam diri di sana kini hanya menatap bingung gadis itu.
"Apa yang dia sembunyikan dariku!" batin Ardan yang masih menatap punggung Arin yang kian menjauh dari pandangannya.
Ardan segera melangkah kan kakinya kembali menuju kekamarnya.
di dalam kamar Arin yang sudah mengganti pakaianya dengan menggunakan baju tidur, kini gadis itu beranjak menuju tempat tidurnya.
Yang dimana di sana sudah ada Ardan yang masih pokus memainkan ponsel milik pria itu. Arin merebahkan tubuhnya di samping Ardan seraya menatap diam pria itu.
"Mas?" panggil Arin kepada Ardan.
"mmh?" sahut Ardan tanpa mengalihkan pandangannya.
"Mas Ardan belum tidur?" tanya Arin.
"belum ngantuk!" jawab Ardan dingin.
Arin menatap bingung sifat Ardan yang tiba tiba berubah dingin kepadanya.
Srek...
Arin beranjak bangun dan kini mengubah posisinya menjadi duduk di atas tempat tidurnya seraya menatap lekat wajah Ardan yang sama sekali tidak menatap dirinya.
"Mas Ardan kenapa?" tanya Arin seketika.
"tidak kenapa!" jawab Ardan.
"eng.. kalau gak ada kenapa Mas Ardan jawab Arin kayak gitu." sahut Arin kepada Ardan.
Ardan spontan menatap kearah Arin yang dimana gadis itu masih menatap bingung dirinya, Ardan seketika tertegun memikirkan sikap dirinya yang seperti itu yang tak seharusnya dirinya marah tanpa alasan.
"eng.. maaf, Mas hanya.." ucap Ardan menggantungkan kalimatnya.
"Gak papa kok Mas, mungkin Mas Ardan kelelahan aja!" timpal Arin seraya tersenyum.
Arin kini merebahkan tubuhnya kembali, dan bergegas memejamkan mata untuk lekas tidur.
Ardan yang masih posisi duduk, kini hanya menatap diam Arin, dan kini ikut merebahkan tubuhnya di samping gadis itu.
__ADS_1