
Namun di lain sisi Arin, Ardan begitu juga Liam kini hanya menatap diam keduanya itu yang masih asik berpandangan satu sama lain.
"Ehem..?" Dehem Ardan membuyarkan keasikan mereka berdua.
Fian dan Sofia begitu juga Arin dan Liam kini mereka berempat spontan menatap kearah Ardan.
"Kenapa kalian menatap ku seperti itu?" Tanya Ardan.
Arin begitu juga Liam, Fian dan Sofia seketika mereka, kini hanya menatap bingung pria itu.
"Aah sudahlah kita kekamar sekarang." Timpal Ardan yang kini menarik lembut tangan Arin menuju lantai atas, meninggalkan Liam, Fian dan begitu juga Sofia, yang masih berdiri disana.
***
Pukul 19.00
Tampak di dalam kamar Arin yang kini sudah bersiap siap, kini gadis itu bergegas turun menuju lantai bawah.
tampak dari sana terlihat Nenek dan begitu juga Mamah mertuanya yang kini sudah tiba di ruang tamu, begitu juga dengan Ardan dan Liam yang sudah bersiap siap.
Ardan yang menyadari keberadaan Arin yang kini menuruni anak tangga, seketika pria itu menatap kagum sosok gadis itu yang kini berjalan menghampiri.
"ahh lihat menantu mu Ziah, dia cantik sekali!" ujar Nenek kepada Aziah.
Aziah seketika menatap kearaha Arin yang kini berjalan menghampiri, Aziah tersenyum menatap kearah gadis itu.
"baiklah.. kita berangkat sekarang!" ucap Nenek yang kini berlalu menuju luar rumah.
Ardan yang kini masih berada disana seketika pria itu memeluk pinggang gadis itu seraya berbisik sesuatu.
"Cantik!" Bisik Ardan pelan di telinga Arin.
Arin seketika tersenyum, dengan wajah yang kini menampakan sedikit memerah akibat perkataan dari pria itu kepadanya.
Di luar rumah kini mereka berlima bergegas masuk kedalam mobil yang sudah di siapkan untuk mereka.
Liam bergegas melajukan mobil itu yang kini meninggalkan perkarangan rumah itu menuju sebuah Mall besar yang terletak di pusat kota.
Beberapa menit di perjalanan, tampak dari luar jendela mobil, terlihat sebuah Mall besar yang berada di naungan G.A Group yang merupakan perusahaan baru.
Mall GAURENCY ARGREA.
Arin menatap kagum gedung besar itu, yang kini terpampang jelas dihadapannya.
cklek..
Bamm...
Arin yang kini sudah berada di luar mobil seraya menatap jauh pintu Mall itu yang terlihat begitu ramai pengunjung.
"Kakak, tidak sia sia pengembangan bisnis mu bahkan Mall ini dua kali lebih besar dari Mall Insoulci!" ujar Liam yang kini menatap kagum Mall itu.
__ADS_1
"Hemm!" gumam Ardan yang kini menatap Liam.
"Ahen?" panggil Nenek kepada Ardan.
"iya Nenek!" sahut Ardan.
"apa kalian tidak berencana membawa anak buah kalian!" Ujar Nenek kepada Ardan dan Liam.
"eng..!" gumam Ardan dan Liam yang kini saling pandang satu sama lain.
"tidak perlu Nenek!" jawab Ardan yang kini beranjak menuju kedalam Mall.
Mereka berlima bergegas memasuki Mall itu, mereka yang kini sudah berada di loby Mall tampak di dalam sana suasana begitu ramai.
Arin kini menatap kesebuah patung pancur yang begitu indah, dengan ukiran kramik di sepanjang laintai Mall itu.
"Baiklah kita belanja sekarang!" ucap Nenek yang kini berjalan mendahuli mereka.
Seraya menuju lantai atas mencari sebuah toko brand ternama.
Arin yang kini berjalan di samping Ardan hanya menatap bingung Nenek Shila itu.
"Mas, apa Nenek suka Shoping seperti ini?" tanya Arin kepada Ardan.
"hemm.. kamu baru tau Nenek seperti ini, Nenek memang suka Shoping, apa lagi jika di temani oleh dua gadis seperti kamu sama Mamah!" ujar Ardan.
Arin seketika menganggukan kepalanya seakan akan mengerti.
"iya Nenek!" jawab Arin yang kini menatap kearah Nenek.
"kemarilah sayang!" Pinta Nenek kepada Arin.
Arin beranjak menghampiri keberadaan Nenek yang kini berlalu memasuki sebuah toko brand ternama milik Elizabeth Mauren.
Mereka yang kini sudah tiba di dalam toko itu, tampak di sana Arin dan kedua wanita itu kini tengah sibuk mencari cari baju dan beberapa barang brand yang lainnya.
tampak terlihat kekompakan gadis gadis itu yang asik memilih apa yang mereka suka.
Namun di lain sisi Ardan dan Liam kini hanya menatap diam kearah gadis gadis itu seraya membuang napas mereka dengan berat.
"Ternyata kekuatan Nenek berpengaruh kepada Kakak ipar, haha!" ucap Liam seketika.
"eng..!" gumam Ardan.
"Kakak.. kurasa ku rasa kau harus memberi kakak ipar kali ini lebih besar dari pada sebelumnya." timpal Liam lagi.
"Kau suka sekali mengejek ku ya Liam!" Tukas Ardan seraya tersenyum paksa kearah adiknya itu.
"eng.. hehe kakak aku hanya..." belum sempat Liam melanjutkan perkataanya seketika Nenek memanggil mereka berdua.
"Ahen? Liam? kemarilah!" pinta Nenek kepada mereka berdua.
__ADS_1
"eng..!" gumam Ardan yang kini menatap kearah Nenek nya.
Ardan beranjak menghampiri keberadaan gadis gadis itu yang masih sibuk dengan dunia mereka.
Srek...
"Oi..!" gumam Ardan yang kini menatap bingung paperbag paperbag itu yang kini diberikan kepadanya.
"Ahen kalian bawa ya!" ucap Nenek kepada Ardan dan Liam.
Deg...
"Apa?" sahut Ardan dan Liam bersamaan.
"eng..!" gumam Nenek yang kini menatap kearah cucu cucu nya itu.
"heheh tidak Nenek!" sahut mereka bersamaan.
"baiklah.. kita cari lagi yang lain!" ucap Nenek kepada Arin dan Aziah.
Srek...
Arin kini meletakan paperbag itu di tangan Ardan seraya tersenyum nakal kepada pria itu.
"Suamiku tersayang, bawakan ya!" ucap Arin menggoda Ardan.
Ardan hanya menatap diam paperbag yang begitu banyak ditangannya dan juga Liam.
"ffuth..!" seketika Liam tertawa.
"kakak terima sajalah nasib kita, yang akan mejadi para bodyguardnya para gadis malam ini!" Ucap Liam yang masih tertawa.
"huh.. ahh diam lah kau." ucap Ardan yang kini berlalu meninggalkan Liam disana seraya mengikuti kemana gadis gadis itu pergi.
Mereka berlima kini kembali menelusuri seluruh isi Mall itu dan tak lupa membeli apa yang mereka inginkan, namun saat mereka telah berada di luar toko itu, Nenek tidak lupa untuk meminta Arin mencarikan sesuatu untuk Sofia dan Fian berupa dua buah cincin untuk mereka.
Arin mengaggukan kepalanya dan menyetujui permintaan Nenek kepadanya memilihkan cincin untuk Fian dan Sofia, mereka berlima kini kembali menelusuri seluruh penjuru Mall malam itu.
pukul 21.00
Selang beberapa lama mereka menghabisakan waktu mereka di Mall, kini mereka berlima bergegas untuk pulang kekediaman mereka.
"Kakak?" panggil Liam.
"hemm!" sahut Ardan yang kini menatap kearah Liam.
"Kenapa kita tidak memanggil Romi atau Zian kemari untuk membantu kita membawakan barang barang belanjaan ini, kau lihat mereka berbelanja banyak sekali!" gumam Liam yang kini mengangakat barang barang itu.
"Eng.. sudahlah, kau tahan saja dahulu, sebentar lagi kita bakalan pulang." ucap Ardan yang kini berlalu mengikuti para gadis itu menuju parkiran Mall.
__ADS_1