
"bagaimana bisa?" tanya Tn Hendrik lagi.
namun kali ini Aziah tidak berani untuk berbicara lebih jauh tentang apa yang barusan terjadi.
"kenapa kau diam saja?" tanya Tn Hendrik kepada istrinya yang tiba tiba diam begitu saja.
"apa yang terjadi? Jika tidak ada masalah besar kenapa kau diam begini?" ucap Tn Hendrik lagi menerka.
"ini semua terjadi di sebabkan oleh Tn Difya dan begitu juga Nadia Pah!" Sahut seseorang kepada Tn Hendrik
Tn Hendrik dan istrinya seketika mengalihkan pandangannya kearah suara itu.
"Fian?" Panggil Tn Hendrik melihat putra sulungnya itu yang kini berada di sana.
"apa yang kau katakan?" Tanya Tn Hendrik lagi, tak percaya dengan apa yang di katakan Fian kepadanya.
Fian kini tak menjawab perkataan dari Papah nya melainkan menatap jauh kearah dimana Ardan dan Arin berada.
"Tom? Kemarilah!" Pinta Fian kepada anak buahnya yang satunya lagi.
Tomy segera beranjak mendekati Fian dan membawa beberapa berkas dokumen dan segera memberikan berkas tersebut kepada Tn Hendrik.
Tn Hendrik mengambil Dokumen tersebut yang bertulisan (𝐃𝐚𝐭𝐚 𝐁.𝐂 𝐆𝐫𝐨𝐮𝐩) dengan wajah masih terlihat bingung.
"loh bukan kah ini..." ucap Tn Hendrik menggantungkan kalimatnya, seraya mengingat sesuatu.
"nanti juga Papah bakalan tau." Ucap Fian seraya berjalan menghampiri Ardan.
Tn Hendrik tertegun dengan perkataan anak sulungnya itu.
"Apa yang sebenarnya terjadi sih Mah?" Tanya Tn Hendrik kepada istrinya lagi.
"kenapa Arin bisa terjatuh kekolam?" Tanya Tn Hendrik lagi.
"sebenarnya... Nadia yang..." Aziah segera menceritakan semuanya kepada suaminya.
terlihat di wajah itu tampak ada rasa kecewa namun juga tak percaya dengan apa yang terjadi.
Tn Hendrik menggelengkan kepalanya kini matanya beralih menatap dimana Ardan berada.
"pah?" panggil Istrinya lagi, Tn Hendrik seketika mengalihkan pandangannya kearah istrinya.
"Arin hamil Pah!" Ucap Aziah seketika membuat Suaminya seketika membulatkan matanya, tak percaya dengan apa yang istrinya katakan.
"apa Mah? Hamil?" Ucap Tn Hendrik tak percaya.
"iya Pah kita akan punya cucu, Ardan cilik" ucap Aziah kepada suaminya.
"Mamah bahagia soal ini?" Tanya Tn Hendrik seketika melihat tingkah istrinya seperti itu.
"Pah, bukannya Papah juga sudah lama ingin punya cucu" ucap Aziah lagi kepada suaminya.
__ADS_1
"bukan cuma Papah aja, Mamah juga bukannya ingin Ardan segera menikah dan memberikan kita seorang cucu" ucap Tn Hendrik.
"yasudah kita kesana sekarang." Timpal Tn Hendrik lagi seraya berjalan menghampiri keberadaan anak anaknya.
***
namun disisi lain kini Arin sudah sadar dari pingsannya, menatap keseluruh penjuru kamar itu.
"Arin?" Panggil Ardan kepada Arin yang kini telah siuman, Arin seketika menatap kearah suara tersebut dilihatnya Ardan yang kini tengah duduk di sampingnya.
"Mas A Ardan!"panggil Arin dengan suara masih lemah, akibat pukulan keras di pipihnya.
"istirahatlah.. kau tidak boleh lelah" ucap Ardan yang kini mengusap wajah itu dan di tatapnya lekat wajah Arin yang kini terlihat penuh luka lebam.
terlihat di wajah peria itu, ada rasa penyesalan dan rasa bersalah di hatinya.
"Mas Ardan udah pulang?" Tanya Arin kepada Ardan yang masih berada di sampingnya.
"iya.. saya sudah pulang!" Ucap Ardan lembut, Arin tersenyum kearah peria itu dan kini beranjak duduk di tempat tidur.
"Mas..Arin mau makan es crime boleh?" pinta Arin kepada Ardan.
seketika semua mata menatap heran kearah Arin.
"eng...nanti aja gimana?" Ucap Ardan kepada Arin.
"sekarang Mas" sahut Arin seraya memegang tangan Ardan.
"H hamil?" Gumam Fian.
"kenapa kau bertanya kepadaku! Aku bahkan belum mempunyai seorang istri" Sahut Fian dengan wajah yang masih menatap kedua pasangan itu.
"eng.. baiklah, Rom? Kemarilah..." panggil Ardan kepada Romi.
"iya tuan?" Sahut Romi yang kini sudah berada disana.
Ardan segera memerintahkan Romi untuk membelikannya es crime, Romi menganggukan kepalanya dan bergegas menuju luar.
***
selang beberapa jam kini Romi telah kembali menuju kediaman Azhendra seraya membawa es crime yang di perintahkan Ardan kepadanya.
"ini tuan." tukas Romi seraya memberikan es crime itu kepada Ardan, tanpa basa basi Arin segera menyantap es crime itu hingga tak tersisa.
seketika Ardan dan yang lainnya kini hanya menatap bingung dengan sikap Arin seperti anak kecil di pikiran mereka.
Arin yang kini menatap kearah mereka yang melihatnya seperti itu, hanya diam bingung.
"apa yang terjadi? Kenapa mereka menantap ku seperti itu?" Batin Arin yang kini menatap satu satu mereka.
"Arin? Apa kamu hamil?" tanya Ardan kepada Arin yang kini menatap gadis itu meminta penjelasan darinya.
__ADS_1
Arin seketika mengerutkan alisnya, dan seketika dirinya teringat sesuatu.
Arin segera beranjak dari tempat tidur dan menuju kamar atas dimana kamar dirinya dan Ardan berada.
namun disisi lain Ardan dan keluarganya menatap heran Arin yang kini berlalu menuju kamar atas dan segera menyusul Arin disana.
***
di kamar utama Arin segera mencari sesuatu di dompetnya, terlihat sebuah gambar yang terletak disana.
Arin kini menatap gambar itu seraya duduk dilantai, berpikir jauh kedepan.
Saat dirinya tengah melamun menatap gambar itu, seketika sebuah tangan menyentuh pundak Arin yang kini terduduk di lantai.
Arin seketika tersadar dari lamunannya dan seraya menatap kearah orang yang kini berada disana.
"mas Ardan?" Panggil Arin, Ardan tak menyahuti perkataan Arin, melainkan menatap jauh, sebuah gambar yang berada di tangan Arin.
Arin yang menyadari tatapan itu segera menyembunyikan gambar itu.
"apa yang kamu sembunyikan?" tukas Ardan yang kini menatap Arin.
"eng.. tidak ada mas" jawab Arin gugup, Ardan tidak percaya dengan perkataan itu.
melainkan kini dirinya menatap kembali tangan Arin dan seraya mengambil gambar tersebut.
Deg...
Ardan terkesiap melihat apa yang kini di gambar itu, Arin yang melihat tatapan Ardan seperti itu seketika memohon.
"mas Ardan..Arin mohon jangan sakiti anak Arin mas, jika mas Ardan tidak mau anak itu, tidak masalah, biar Arin saja yang merawat anak itu" ucap Arin seraya memohon kepada Ardan.
Ardan hanya terdiam paku menatap gambar itu , Ardan seketika mengalihkan pandangannya kearah Arin yang kini duduk di sana seraya memohon kepadanya.
di tatapnya lekatnya gadis itu, Ardan segera meraih tubuh Arin di peluknya tubuh kecil itu yang selalu membuatnya merasa nyaman dan tenang.
"apa yang kamu katakan, saya tidak berniat untuk menyakitinya, dia anak saya Arin" ucap Ardan yang masih memeluk tubuh Arin didekapannya.
Ardan mengusap lembut pundak itu di ciumnya wajah gadis itu dengan penuh rasa ketulusan dihatinya.
Arin yang melihat Ardan seperti itu, seketika membalas pelukan itu dan didekapnya tubuh peria itu dengan erat.
namun di luar kamar terlihat Tn Hendrik dan istrinya kini menatap jauh kearah putranya yang masih berada di sana bersama gadis yang kini menjadi istri dari putranya itu.
Begitu juga dengan Liam dan Fian, Liam seketika melihat kearah Fian dan kini berbicara kepadanya.
"kakak..lalu kapan kau akan menikah?" Tanya Liam seketika membuat Fian
Tn Hendrik begitu juga dengan istrinya kini saling menatap Fian satu sama lain.
"eng... aku belum mau!" Ucap Fian yang kini beranjak pergi menuju lantai bawah.
__ADS_1