Terpaksa Menikahi Bos Kejam (Forced To Marry A Cruel Boss)

Terpaksa Menikahi Bos Kejam (Forced To Marry A Cruel Boss)
Permintaan Papah


__ADS_3

brukk..


Nadia seketika memeluk erat tubuh Ardan yang masih berada di barisan anak tangga, Ardan sontak menatap diam Nadia yang kini tengah memeluknya, dan spontan melepaskan pelukan gadis itu dari tubuhnya sembari menatap sekilas Nadia dan kini berlalu pergi begitu saja.


"Ardan?" Panggil Nadia yang masih berada di sana menatap kepergian Ardan.


Ardan tak bergeming bahakan tidak melihat kearah Nadia dan tetap melanjutkan langkah kakinya menuju kamar atas.


"Ck.. berani beraninya dia melakukan itu kepadaku, meski didepan keluarga Adnan" batin Nadia seraya menggepalkan tangannya.


Fian yang melihat Nadia begitu sangat kesal, seraya menghampirinya


"ternyata, cinta mu belum terbalaskan kembali, aku kira Ardan akan menarik kata katanya untuk berpisah dari mu" ucap Fian yang kini berada di samping Nadia.


Nadia yang mendengar perkataan Fian yang sedikit menyinggung dirinya, mendengus kesal dan beranjak menuju mobil dan berlalu pergi.


Fian hanya tersenyum melihat kejadian itu dan kini menaiki anak tangga menuju kamar atas.


Disisi lain Arin yang kini sudah berada di kediamannya dan seraya mengobati lukanya.


"huh.. menyebalkan, bagaimana bisa aku mabuk seperti itu, ck" gumam Arin yang masih memijat kakinya yang terkilir, Sari yang kini belum tidur beranjak menghampiri dan membantu Arin mengobati lukanya.


"sudah ku katakan, jangan mabuk, kau ini kita hampir saja mengalami hal buruk, jika tidak ada pria itu yang menolong kita saat di ganggu laki laki breng*** tadi" gerutu Sari yang masih setia mengobati luka Arin.


"hemm maafkan aku, aku benar benar minta maaf!!" ucap Arin yang kini merasa bersalah.


"hmm sudahlah, lagian kita tidak tau musibah apa yang akan terjadi" ucap Sari, Arin menganghukan kepalanya dan seketika dirinya teringat akan sesuatu.


"siapa pria yang tadi menolong kita?" Tanya Arin dengan wajah berpikir.


"ntahlah, aku tidak begitu jelas melihat wajahnya, yang kulihat hanya bibirnya saja, karena tempat itu terlalu gelap" ucap Sari seraya mengingat ingat.


"Ahh sudahlah kita tidur saja, takutnya besok kita telat kekantor" timpal Sari lagi kepada Arin dan kini melangkahkan kakinya menuju tempat tidurnya, Arin menurut dan ikut tidur.


pukul 05.42 Arin terbangun dari tidurnya dan segera beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan bersiap siap.


Di L.C Group Arin dan Sari kini mereka telah sampai di sana dan bergegas menuju ruang karyawan, dan segera duduk di tempat mereka masing masing.


"huh... untung saja kita tidak ketinggalan buss tadi" ucap Sari seraya menyeka keringatnya.

__ADS_1


Arin tersenyum melihat tingkah Sari yang begitu menggemaskan, tak lama terdengar suara langkah kaki yang masuk keruangan IT, terlihat kepala anggota IT kini membawa satu lembar kertas dan membacakannya.


"baiklah dengarkan aku, karena lusa akan diadakan pengangkatakan Direktur L.C Group baru, maka semua jam pekerjaan akan di tingkat lagi karena acara itu akan menganalisi perkembangan dari L.C Group, jika kinerja L.C Group di bawah Direktur sementara Tn Liam, jika Direktur terbesar mengetahui potensi dan statistik L.C Group meningkat, maka Tn Liam akan menjadi Direktur tetap di perusahaan ini, maka dari itu aku harap kalian memberikan yang terbaik untuk perusahaan dan juga Direktur okeh!" jelas Kepala Staf IT kepada Anggotanya.


mereka menganggukan kepala seakan akan mengerti arti dari penjelasan itu.


"siap ketua!!" Ucap mereka semua dan kini memulai pekerjaan mereka.


***


"Tn Ardan, ini berkas yang anda minta!" Ucap sekretaris Ardan yang bernama Yuan, Ardan mengambil berkas itu dan melihat secara ditel isi dalamnya.


"cukup bagus" ucap Ardan yang kini menaruh berkas tersebut di meja kerjanya.


"Tn Ardan, lusa akan ada pengangkatan Direktur L.C Group baru, Tn Hendrik menyampaikan ini kepada anda Tuan, apa anda akan datang keacara lusa nanti?" Ucap sekretari Yuan menyampaikan pesan dari Tn besar.


"hemm aku akan datang nanti" jawab Ardan seraya menatap jauh pemandangan kota dari dalam ruang kerjanya.


Ardan seketika teringat kejadian beberapa minggu lalu, dan kejadian saat dirinya bersama gadis itu,


"ck!" Ardan mendengus kesal.


"kenapa aku malah memikirkan gadis itu, bagaimana jika dia berhasil membawa uang itu dan mencoba lepas dari ku?" Ucap Ardan pada dirinya sendiri.


Cklek... suara pintu terbuka


"Tn?" Panggil Romi kepada Ardan yang kini dirinya baru saja tiba.


"hemm ada apa?" Ucap Ardan yang masih berada di posisi sama.


"beberapa minggu yang lalu, Nona Nadia pernah datang ke Villa saat Nona Arin masih berada disana!" Ucap Romi menjelaskan.


Ardan seketika membuka kedua bola matanya dan kini beralih menatap Romi yang berada di hadapannya.


"Minggu lalu, saat gadis itu mencoba kabur dari ku?" Ucapnya lagi seraya mengingat kejadian.


"apa yang dia inginkan datang ke Villa tanpa sepengetahuanku?" Ucap Ardan lagi.


saat Ardan hendak berpikir tiba tiba ponselnya berdering mendapat panggilan dari seseorang, Ardan meraih ponselnya yang terletak di meja kerjanya, dan segera mengangkat panggilan tersebut.

__ADS_1


"hallo?" Ucap Ardan kepada seseorang dalam panggilan tersebut, wajah Ardan seketika berubah menjadi terlihat dingin dan seraya beranjak pergi meninggalkan ruang kerjanya.


***


Di sebuah Resort


terlihat beberapa mobil mewah terparkir disana, Ardan yang baru saja tiba segera keluar dari dalam mobil dan segera masuk kedalam Resort tersebut.


"Selamat siang Tuan?" Ucap Pelayan Resort kepada Ardan yang beranjak masuk kedalam sana.


"hemm" sahut Ardan yang seraya melangkahkan kakinya menuju suatu ruangan.


Cklek...


"Ardan kau sudah sampai?" ucap orang tersebut kepada Ardan yang baru saja tiba diruangan itu, saat Ardan sampai disana terlihat ada Nadia dan kedua orangtuannya, juga hadir disana.


"kenapa memanggilku kemari?" tanya Ardan yang kini menghampiri mereka semua.


"duduklah terlebih dahulu!" ucap Tn Hendrik kepada Ardan


"nak.. kau baru saja tiba kemari, duduklah ada sesuatu yang harus kami bicarakan kepadamu!" ucap Aziah kepada Ardan.


Ardan duduk di salah satu bangku kosong di sebelah sisi sang Mamah.


"katakan Apa yang ingin kalian katakan?" Ucap Ardan yang sudah duduk di sana.


Tn Hendrik menggelengkan kepalanya pelan, seakan akan tahu kalau putranya yang satu ini tidak bisa diajak basa basi.


"Hemm sebenarnya Papah hanya ingin kamu dan Nadia bertunangan?" Ucap Tn Hendrik ke inti permasalahan, Ardan seketika menatap tajam Papahnya dan kini wajahnya berubah drastis.


"tidak.." ucap Ardan menolak tegas perkataan papahnya.


"ARDAN!!" Teriak Tn Hendrik kepada Ardan.


"kamu harus menikah dengan Nadia Ardan, ini demi kepentingan bisnis yang akan keluarga kita begitu juga Nadia kerjakan" ucap Mamah Aziah menjelaskan kepada Ardan.


"lagian kamu juga udah waktunya untuk membina rumah tanggamu sendiri Ardan!" timpal Aziah kepada Ardan.


"tidak.. aku tidak akan menikah, jika kalian ingin menikah demi bisnis saja, kenapa tidak jodohkan Fian saja, bukan diriku" ucap Ardan seraya ingin beranjak pergi dari sana, namun dengan cepat dihentikan oleh Tn Hendrik.

__ADS_1


"jika kau tidak mau, maka.. besok lusa kau harus datang bersama Nadia ke acara pengangkatan Direktur" ucap Tn Hendrik kepada Ardan sebelum putranya meninggalkan tempat itu.


Ardan hanya melirik sekilas dan segera melanjutkan perjalanannya.


__ADS_2