
Ardan yang mendengar perkataan Arin seketika mengerutkan alisnya.
"siapa?" Tanya Ardan kini melirik Arin seklias.
"hemm nanti aku kasih tau mas, saat kita sudah sampai disana" ucap Arin lagi.
Ardan hanya menganggukan kepalanya meski dirinya sangat penasaran akan siapa yang tengah Arin bicarakan saat ini.
"Apa mungkin Roy" batin Ardan berpikir.
Di jln xxx tampak kini dua mobil mewah terpakir disana, Ardan yang ternyata sudah tiba kini beranjak turun dari mobilnya dan menatap seluruh rumah itu.
Arin yang juga berada disana kini menatap Ardan yang tengah melihat seluruh rumah itu.
"mas, ayo masuk" ucap Arin seraya menarik tangan Ardan untuk ikut masuk bersamanya.
Tepat di depan rumah tersebut, Arin kini mengetuk pintu rumah itu,
tok... tok...
"bibi? Ini Arin!" panggil Arin seraya mengetuk pintu rumah itu.
Cklek...
tak lama terlihat seorang wanita paruh baya kini keluar dari dalam rumah itu, Arin tersenyum melihat sosok itu.
"Arin? Kau sudah tiba nak?" Ucap Bibi San seraya memeluk tubuh Arin.
Ardan yang masih berada di sana kini menatap kedua wanita itu dalam diam.
Bibi San yang melihat tubuh Arin seperti itu ,seketika Airmatanya jatuh.
"bagaiman jika, ayah dan ibumu tau soal ini!" Ucap Bibi San melihat Arin yang sudah berbadan dua.
"Arin akan jelaskan kepada Ayah dan Ibu, bibi, oh.. tunggu, Mas Ardan sini?" Ucap Arin seraya memanggil Ardan yang masih berdiam disana.
Ardan yang mendengar namanya di panggil sontak mengalihkan pandangannya menatap kearah Arin.
Bibi San kini mengalihkan pandangannya menatap seorang peria yang kini berjalan menghampiri mereka berdua.
"eng... salam bibi?" ucap Ardan serya membungkukan kepalanya sedikit.
Bibi San menatap lekat wajah Ardan yang kini tepat berdiri di hadapannya.
"iya nak" jawab Bibi San yang masih melihat Ardan di hadapannya.
"bibi dia Mas Ardan, suami Arin bi" ucap Arin yang memperkenalkan Ardan kepada Bibi San.
"hemm, baiklah... lebih baik kita kedalam dulu" sahut Bibi San yang kini mempersilahkan mereka berdua masuk.
***
Di ruang tamu, kini mereka saling diam satu sama lain, seketika Arin yang kini memulai berbicara.
__ADS_1
"eng... Bi kapan Ayah dan Ibu datang?" Tanya Arin kepada Bibi San.
Ardan yang mendengar perkataan Arin soal orangtuanya seketika bergumam dalam hatinya.
ntah apa yang dipikirkannya.
"bibi juga tidak tau nak.. kapan ayah dan ibu mu berangkat." jawab Bibi San.
"Arin? Orangtua kamu datang kemari?" Tanya Ardan seraya berbisik kepada Arin.
"hemm iya mas, mungkin hari ini.!" ujar Arin, membuat Ardan sedikit kaget.
mendengar jawaban dari Arin seraya berpikir bagaimana jika orangtua Arin melihat anaknya seperti ini, lalu apa mereka akan merestui hubungan ini.
"huks... huks.." Ardan seketika tersedak memikirkan apa yang akan dirinya hadapi nanti saat bertemu kedua orangtua Arin.
"mas Ardan kenapa?" Tanya Arin khawatir, Arin segera menyodorkan Air minum kepada Ardan.
"eng.. tidak ada, mas hanya batuk saja" jawab Ardan gugup.
Arin dan Bibi San kini mereka menghabiskan waktu mereka bersama, selang beberapa lama kini mereka berdua berpamitan untuk pulang.
"Bibi.. Arin sama Mas Ardan pulang dulu ya Bi, lain kali Arin akan menemui bibi, jika Arin punya waktu" ujar Arin seraya memeluk tubuh Bibi San.
"baiklah.. jaga kesehatanmu ya nak, hati hati kalian dijalan" ucap Bibi kepada Arin.
kini mereka berdua segera pergi meninggalkan rumah tersebut menuju lokasi dimana Arin tuju.
***
Arin beranjak keluar dan diikuti Ardan di sampingnya, kini mereka semua menelusuri Mall tersebut.
untuk mencari perlengkapan bayi, 𝐁𝐀𝐁𝐘 𝐒𝐓𝐎𝐑𝐄, kini mereka masuk kedalam sana.
Arin melihat kesana kemari mencari sesuatu, tampak dari jauh sebuah tempat tidur bayi, berwarna hitam, Arin yang begitu tampak menyukainya.
kini meminta salah satu pramuniaga mengambilnya, Ardan yang dari tadi sibuk mencari cari kini matanya melihat kearah diman.
Arin berada bersama seorang pramuniaga, Ardan segera menghampiri mereka berdua.
"mas bagus gak?" Tanya Arin kepada Ardan yang baru saja tiba disana.
"kok hitam?" tanya Ardan balik, "lah kenapa?" Tanya Arin bingung.
"biru aja gimana?" Ujar Ardan kepada Arin.
"enggak Arin maunya hitam" sahut Arin.
"tapi mas suka biru" sahut Ardan tak mau kalah.
pramuniaga itu seketika terdiam menyaksikan perdebatan antara suami istri itu.
"eng.. begini saja, bagaimana kalau warna, biru hitam, jika Tn dan Ny mau?" Ujar pramuniaga itu kepada Arin dan Ardan.
__ADS_1
"baiklah...saya ambil yang itu" sahut Ardan.
"baik Tn saya ambil dulu" ucap Pramuniaga itu seraya berlalu mengambil tempat tidur bay.
tak lama kini dirinya telag kembali membawa apa yang Ardan minta.
"hemm bagus juga, kamu baungkus ya" sahut Arin meminta pramuniaga itu.
"baik Ny" jawab pramuniaga itu.
Arin kini beralih mencari sesuatu yang lainnya, beberapa jam kini mereka telah selesai mencari apa yang ingin mereka beli.
Arin dan Ardan bergegas menuju salah satu Resort yang Ada di Mall itu.
𝐈𝐧𝐬𝐨𝐮𝐥𝐜𝐢 𝐑𝐞𝐬𝐨𝐫𝐭
"Mas... Arin mau kesana sebentar, Mas Ardan masuk saja dulu, nanti Arin nyusul mas Ardan." Ujar Arin kepada Ardan.
"eng.. bawa Romi ya, jangan sendirian" ujar Ardan lagi.
Arin menganggukan kepalanya dan segera meminta Romi untuk ikut bersama Arin.
Ardan kini melanjutkan perjalannanya menuju dalam Resort tersebut, saat dirinya sudah berada di dalam sana hendak menuju arah ruang, seketika seseorang memanggilnya.
"Oh.. Tn Kennan?" Panggil Ardan yang kini menatap orang yang memanggilnya yang ternyata Tn Kennan.
"apa kabar Ardan" tanya Tn Kennan kepada Ardan.
"saya baik Tn, bagaimana dengan anda sendiri?" Tanya Ardan balik.
"baik.. baik" jawab Tn Kennan.
"eng.. oh apa kabar Ny Rita senang bertemu dengan anda disini" ujar Ardan tersenyum lembut.
"saya juga, tampaknya kamu sangat baik Ardan, kamu bahkan lebih gemukan sekarang" sahut Ny Rita ceplas ceplos.
Ardan seketika tersenyum mendengar perkataan Ny Rita kepadanyan.
"oh.. maafkan saya Tn Kennan membuat anda menunggu lama" timpal Ardan.
"tidak.. tidak, oh lebih baik kita duduk sekarang" sahut Tn Kennan seraya meminta Ardan untuk duduk disanan.
"oh.. apa kamu kamari sendirian Ardan?, atau bersama Fian?" Tanya Tn Kennan kepada Ardan.
"eng.. tidak saya bersama...." belum sempat Ardan melanjutkan perkataanya.
kini seseorang memanggil dirinya Ardan sontak menatap kearah suara itu begitu juga Tn Kennan dan Ny Rita.
"Mas.. Ard..." ucap Arin seketika menggantungkan kalimatnya.
"Arin?" Panggil Tn Kennan dan Ny Rita melihat kehadiran Arin di sana.
"eng... " Arin seketika terdiam kaget melihat apa yang kini di hadapannya.
__ADS_1
Ny Rita seketika menatap perut Arin yang sudah membesar.