Terpaksa Menikahi Bos Kejam (Forced To Marry A Cruel Boss)

Terpaksa Menikahi Bos Kejam (Forced To Marry A Cruel Boss)
Berbaikan


__ADS_3

Hari persidangan dimana kini Tn Difya begitu juga Dengan Dio yang sudah berada disana.


yang kini akan menerima semua hukuman atas kejadian yang mereka perbuat.


Ardan menatap jauh arah Tn Difya, mengingat kejadian yang pernah di lakukan pria itu kepadanya.


bahkan merebut semua miliknya, namun di saat bersamaan Fian yang ternyata juga ikut hadir disana, menatap jauh kearah Ardan.


ting...


suara notif dari seseorang, Fian seketika menatap ponselnya terdapat nama Liam di sana.


Fian seketika membuka notif tersebut, saat dirinya selesai membaca, Fian kini beranjak keluar dari persidangan itu seraya menemui seseorang.


di sebuah taman Marcuru, Fian kini telah tiba disana, seraya mencari cari sosok seseorang.


"kak?" Panggil orang itu yang ternyata Liam.


Fian seketika mengalihkan pandangannya menatap kearah Liam, dan begitu juga seseorang yang bersamanya saat ini.


"Ardan?" Ucap Fian melihat keberadaan Ardan bersama Liam disana.


Ardan menatap jauh kearah saudaranya itu, seraya mengahampirinya, saat mereka berada disana, namun seketika suasana berubah menjadi canggung.


"eng... bagaimana kabarmu?" Tanya Fian kepada Ardan yang kini berdiri dihadapannya.


"hemm cara bicaramu seperti kita ini tidak pernah ketemu sama sekali, kita bahkan satu rumah, kau menannyakan kabarku?" Ucap Ardan dengan tangan yang kini berada di saku celana.


Fian terdiam sejenak memikirkan apa yang harus dirinya katakan.


"hah.. sudahlah Kak.. apa yang kau pikirkan, meminta maaf?, aku tau ini cuma kesalah pahaman yang terjadi di antara kita, aku bahkan tak pernah berpikir untuk tidak memaafkan mu, lagian ini semua kesalahan dari kita sendiri" ucap Ardan dengan senyuman di bibirnya, Fian tertegun mendengar perkataan itu, dan seketika.


Brukkk....


Fian memeluk erat tubuh Ardan, Ardan terdiam sejenak, dan kini membalas pelukan itu.


"Ahhh" Bruk... seketika Liam ikut larut dalam pelukan itu.


"ku harap kita seperti ini, menjadi saudara yang seharusnya terjalin dengan baik" ucap Liam yang masih memeluk kedua kakak laki lakinya itu.


Namun dari kejauhan Arin yang masih menatap ketiga saudara itu hanya tersenyum lembut kearah mereka.

__ADS_1


"Oh.. bukannya itu Arin, kurasa dia sedang menunggu kakak!" ucap Liam yang kini menatap kehadiran Arin disana.


Ardan seketika mengalihkan pandangannya menatap dimana Arin berada.


Ardan tersenyum lembut melihat kehadiran sosok yang begitu ia cintai, Ardan kini berlalu menemui Arin yang masih berdiam disana.


Bruk..


sebuah pelukan kini mendarat di tubuh kecil itu, Namun disisi lain Fian dan Liam yang masih berada disana seketika membicarakan kedua pasangan itu.


"ah..kak, kapan kau akan menikah, bahkan umurmu sudah menginjak 26 tahun" ucap Liam kepada Fian yang kini masih berdiri di sampingnya.


"kenapa harus aku, kenapa tidak kau saja yang menikah, kau pikir menikah itu mudah" ucap Fian jengkel dengan perkataan adik bungsunya itu.


Ardan dan Arin yang masih berdiam disana, namun sedikit mendengar suara kericuhan dari belakang.


tampak sepertinya Liam dan Fian tengah berdebat sesuatu, Ardan hanya menatap jengkel kedua saudaranya itu, yang suka berdebat satu sama lain.


"apa apaan mereka berdua, seperti anak kecil saja!" Ucap Ardan yang kini menatap jauh arah Fian dan Liam.


Arin seketika tertawa melihat tingkah mereka, Ardan yang mengetahui Arin tertawa seketika pandangannya kini beralih menatap gadis itu.


"kenapa?" Tanya Ardan bingung, Arin seketika menggelengkan kepalanya pertanda jawab darinya.


"hh.. aku hampir lupa" ucap Arin seraya menepuk pelan jidadnya, Ardan seketika tersenyum seraya mengelus perut Arin yang sudah terlihat sedikit membesar.


"Baiklah kita pergi sekarang" ucap Ardan seraya ingin beranjak, namun sebelum dirinya benar benar pergi, Ardan kini menatap sekilas kedua saudaranya itu.


"Hei.... apa kalian akan terus berdebat disana? Mau sampai kapan masalah kalian akan selesai, kemarilah kita harus pergi sekarang" ucap Ardan dengan sedikit berteriak kearah mereka berdua dan kini berlalu pergi.


***


Di rumah sakit, kini Arin dan Ardan mereka berdua telah sampai di sana, mereka segera beranjak menuju ruang resepsionis.


namun saat mereka tiba disana seketika banyak sepasang mata yang kini menatap kearah mereka berdua.


Arin yang menyadari tatapan para pengunjung tak menghiraukan mereka yang kini tengah membicarakan mereka berdua


"selamat siang Tuan, Nona.. ada yang bisa saya bantu?" Tanya resepsionis itu kepada Ardan dan Arin.


"saya ingin menemui Dokter Sinta, hari ini saya ada jadwal cek kandungan istri saya, apa Dokter Sinta nya ada?" Tanya Ardan kepada resepsionis itu.

__ADS_1


"hemm ada Tuan.. anda tinggal masuk saja di ruangan yang sebelah ya tuan" ucap resepsionis itu seraya menunjukan arah ruang.


Ardan dan Arin hanya menganggukan kepala mereka dan kini beranjak menuju keruangan yang telah di konfirmasikan kepada mereka.


kini mereka berdua telah tiba diruangan dimana Dokter Sinta berada, Dokter Sinta memminta Arin untuk berbaring di Plang .


seraya memeriksa kandunganya, terlihat di sebuah layar 3D menampakan sebuah janin yang sudah separuhnya berbentuk manusia.


Ardan menatap layar itu tak bergeming sedikitpun, kini matanya beralih menatap sosok Arin yang masih berbaring disana.


dengan senyum diwajahnya, Ardan memandang wajah itu ada debaran dihatinya.


"Mas Ardan?" Panggil Arin membuyarkan lamunan Ardan, Ardan seketika sadar dari lamunannya.


"eng.." gumam Ardan sedikit bingung.


"Mas Ardan kenapa?" tanya Arin menatap kearah Ardan, Ardan hanya menggelengkan kepalanya seraya tersenyum.


"baiklah... pertumbuhan janinnya cukup baik Nyonya, anda tidak perlu khawatir, jika Nyonya mengalami mual mual itu wajar bagi wanita yang mengalami gejala awal" jelas Dokter Shinta yang kini menatap wajah Arin dan tersenyum kearahnya.


"baik Dokter" sahut Arin yang kini duduk di sana.


"hmm dan ini obat untuk mengurangi rasa mual anda" ucap Dokter Sinta lagi seraya memberikan obat mual itu kepada Ardan.


selang beberapa menit kini mereka berdua telah keluar dari sana.


Ardan dan Arin beranjak pergi menuju mobil, Ardan melajukan mobilnya melintasi balai perkotaan.


di sepanjang perjalanan Arin membuka jendela mobil seraya menikmati hembusan angin pagi yang kini memasuki dalam mobil.


di dalam perjalanan Arin hanya berdiam menatap jauh perubahan kota itu seiring bergantinya tahun.


Saat Arin tengah larut dalam keheningan tiba tiba Ardan bersuara.


"mau jalan jalan hari ini?" Tanya Ardan seketika membuyarkan lamunan Arin.


Arin kini beralih menatap Ardan seraya tersenyum mendengar perkataan peria itu yang ingin membawanya untuk pergi jalan jalan.


Arin menganggukan kepalanya dengan mantap, Ardan tersenyum dan menatap wajah itu sekilas dan kini beralih pokus menyetir mobilnya.


Ardan membawa Arin menuju suatu tempat yaitu Mall, ntah maksud apa Ardan membawa Arin kesebuah Mall.

__ADS_1


saat mereka telah tiba Arin beranjak turun dari mobilnya dan di ikuti Ardan yang kini berada di sampingnya.



__ADS_2