Terpaksa Menikahi Bos Kejam (Forced To Marry A Cruel Boss)

Terpaksa Menikahi Bos Kejam (Forced To Marry A Cruel Boss)
Kecurigaan Nadia pt 2


__ADS_3

di kamar kecil.


"hoek..!!" Ardan yang masih mengalami muntah muntah, kini terduduk di atas toilet duduk seraya bersandar disana.


"apa yang ku makan semalaman!" Gumam Ardan yang sudah terlihat lemas.


Ardan kini kembali menuju ruangannya dan ternyata di sana masih ada Yuan menunggunya.


" Tn? Apa anda baik baik saja?" Tanya Yuan kepada Ardan yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"tidak.. saya hanya tidak enak badan saja" jawab Ardan yang kini duduk di sofa.


" Tn, ini ada salinan berkas yang anda minta, Tn mau membacanya atau saya.." belum sempat Yuan mengatakan sesuatu.


seketika Ardan memintanya untuk memberikan berkas itu kepadanya, Yuan beranjak mendekati Ardan namun.


tiba tiba...


kejadian itu terulang lagi, Ardan merasa perutnya mual mual kembali, kini dirinya kembali menuju kamar kecil.


Yuan yang tadinya menghampir seketika terhenti seraya bergumam sesuatu.


"apa tuan mencium bau tubuh ku?" Gumam Yuan seraya mencium bau tubuhnya sendiri.


"mungkin bau parfum ku membuat tuan seperti itu?" Tukas Yuan lagi seraya berpikir.


Ardan yang masih berada di sana kini terlihat benar benar lemas dan bahkan dirinya sudah tidak sanggup untuk berjalan.


Ardan segera mengeluarkan ponselnya dan menelpon seseorang.


"Kemarilah..sekarang." pinta Ardan kepada orang itu, dengan keadaanya yang masih tersandar di dalam sana.


tok.. tokk..


suara pintu di ketuk.


"Masuklah" ucap Ardan yang masih berada di dalam toilet, tak lama Romi segera masuk keadalam sana.


dan tampak Ardan yang masih terlihat lemas sembari memejamkan kedua matanya.


Romi segera membopong tubuh atasannya itu dan membawanya pulang kerumah, di mobil kini Romi melajukan mobil itu melintasi balai perkotaan.


***


di rumah tampak Arin yang kini menikmati secangkir teh sembari menonton TV.

__ADS_1


saat dirinya tengah asik tiba tiba Arin di kejutkan dengan sura Romi yang kini berjalan masuk seraya membopong tubuh Ardan yang terlihat lemas.


Arin seketika mengalihkan pandangannya menatap kearah mereka berdua, dan segera menghampirinya.


"Rom..apa yang terjadi?" tanya Arin yang kini menatap wajah Ardan yang terlihat pucat.


"Tn Ardan, tidak enak badan Nya" jawab Romi kepada Arin yang kini membatu Romi membopong tubuh Ardan.


dan seraya menuju kamar mereka, Romi dan Arin meletakan tubuh Ardan di atas tempat tidur.


"Rom kau boleh pergi sekarang" ucap Arin yang kini berjalan mendekati Ardan seraya membuka jas miliknya, dan begitu juga sepatunya.


"Baik Nyonya" sahut Romi berlalu pergi meninggalkan majikannya itu berdua di sana.


Arin kini menatap wajah Ardan yang sedikit pucat, dan seraya menyeka keringat di dahi pria itu.


***


"ck.. mas Ardan kenapa sih, tidak enak badan masih tetap kekantor!" Ucap Arin yang kini membuka kemeja Ardan.


Ardan seketika membuka matanya dan kini beralih menatap gadis yang berada di hadapanya saat ini.


"Arin?" Panggil Ardan kepada Arin dengan sura pelan namun bisa di dengar.


"hemm mas Ardan sudah bangun? Mas kenapa?" Tanya Arin yang kini meletakan kemeja Ardan di sofa ujung dan menuju meja untuk mengambilkan segelas air untuk Ardan.


menerima air tersebut dan segera meminumnya.


"udah mendingan? Apa perlu Arin panggilkan dokter kemari mas?" Tanya Arin kepada Ardan.


"tidak perlu saya sudah mendingan, cuma mual mual saja!" Ucap Ardan kini menyandarkan tubuhnya.


Arin segera beranjak dari kasur menuju kamar ganti untuk mengambilkan pakaian untuk Ardan.


"pakai ini mas, nanti masuk angin" ucap Arin seraya memberikan baju kepada Ardan.


Ardan menerimanya dan segera memakaikan di tubuhnya.


"Mas Ardan istirahat aja dulu, Arin akan keluar kalau begitu" ucap Arin yang kini ingin beranjak dari kasur.


namun dengan cepat Ardan menahan tangan Arin dan kini membuatnya terduduk kembali di atas kasur.


"sini saja, temani saya." Sahut Ardan seraya menepuk kasur di sebelahnya.


Arin menatap kearah itu dan segera mendekati Ardan dan duduk di sampingnya.

__ADS_1


"mas Ardan tidur lah, Arin akan berjaga disini!" Ucap Arin yang kini duduk di samping Ardan.


Ardan merebahkan tubuhnya dan begitu juga Arin yang kini ikut berbaring di sana, namun saat dirinya hendak berbalik arah seketika.


Bruk...


sebuah pelukan mendarat di tubuhnya,Arin terhentak kaget dan kini berbalik arah menatap seseorang yang memeluknya.


dilihatnya Ardan yang kini berbaring seraya memeluk tubuh itu.


"jangan ganggu saya Arin, biarkan saya seperti ini" ucapnya dengan tangan yang masih memeluk Arin.


Arin kini beralih menatap wajah itu dengan sangat lama di pandangnya Ardan yang masih memejamkan matanya.


Arin ingin sekali menyetuh wajah itu, namun dirinya seketika teringat sesuatu dan membuatnya mengurungkan niatnya.


"mas Ardan? Bukannya punya kekasih, kenapa menikahi Arin? Apa semua ini hanya seolah olah mas Ardan ingin membuat kekasihnya merasa cemburu atau apa?" Batin Arin yang kini teringat akan sosok gadis yang sering kali datang kemari.


"ck... leluncon yang sunggu menyedihkan!!" Batin Arin seraya berpikir, Arin kini kembali membelakangi Ardan.


seraya menatap jauh pikirannya, tentang apa yang akan terjadi kepada dirinya di masa depan, apa dirinya menjadi gadis yang akan mendapati cinta dari Ardan.


atau hanya tetap sebagai alatnya saja untuk melampiaskan semua kekesalannya bahakan saat ini dirinya tengah mengandung anak dari pria itu.


Arin seketika menangis dalam diam memikirkan semua itu, Ardan yang tadi memejamkan matanya seketika membuka kembali matanya.


merasakan tubuh itu begetar sepertinya tengah menangis, Ardan menatap lekat punggung itu.


dan seraya memikirkan sesuatu.


"apa dia sedang menangis?" Ucap Ardan dalam hatinya, Ardan ingin rasanya membalik tubuh itu.


mengahadap dirinya, namun Ardan mengurungkan niatnya dan kini masih tetap memeluk tubuh kecil itu dalam diam.


***


namun disisi lain Nadia yang kini sudah mulai merasa curiga atas kehadiran sosok gadis itu yang sering ditemuinya.


kini perlahan lahan memulai rencana untuk menyelidiki siapa gadis itu.


"argh... siapa dia? siapa gadis itu? Bagaimana bisa dia selalu berada dimana pun Ardan berada, kenapa Romi lebih memikirkan gadis itu aaahhh" teriak Nadia frustasi.


saat dirinya tengah di landa kekesalan tiba tiba ada suara langkah kaki yang kini kian mendekatinya.


"maaf Nona, ada apa Nona memanggil saya?" Tanya orang itu yang ternyata anak buah Nadia, yang bernama Dani.

__ADS_1


Nadia seketika mengalihkan pandangannya menatap keberadaan anak buahnya itu Dani dengan tatapan tajam ingin membunuh.


"Dan.. aku ingin kau selidiki gadis yang saat ini tinggal bersama Ardan, setelah kau menemukan siapa gadis itu, beritahu aku kau mengerti?" Ucap Nadia yang kini menatap jauh arah pusat kota dari dalam ruangannya saat ini.


__ADS_2