Terpaksa Menikahi Bos Kejam (Forced To Marry A Cruel Boss)

Terpaksa Menikahi Bos Kejam (Forced To Marry A Cruel Boss)
Kerinduan


__ADS_3

Namun saat dirinya tengah memikirkan sesuatu, tiba tiba seseorang memanggilnya, Fian mengalihkan pandangannya menatap kearah orang itu.


"oh.. Tn Kennan?" Ucap Fian sedikit membungkukan kepalanya.


"ah.. ternyata benar kau Fian, oh aku tidak melihat Ardan bersama mu" ujar Tn Kennan kepada Fian.


"eng.. Ardan berada di kediamannya saat ini" jawab Fian kepada Tn Kennan.


Tn Kennan hanya menganggukan kepalanya.


"eng.. Tn Kennan, apa anda sedang melakukan bisnis disini saat ini?" tanya Fian kepada Tn Kennan.


"oh.. tidak, sebenarnya saya ingin menemui seseorang jadi saya menginap disini dalam waktu beberapa minggu kedepan" jawab Tn Kennan kepada Fian.


Fian menganggukan kepalanya seraya berpikir. Fian kini mengalihkan pandangannya menatap salah satu kamar, terlihat seorang wanita yang baru saja keluar dari dalam sana


"oh Tn Kennan juga bersama Ny Rita kemari?" Tanya Fian yang melihat kehadiran sosok wanita paruh baya yang ternyata istri dari Tn Kennan, Rita Aris Wijaya.


"hemm iya" jawab Tn Kennan kepada Fian, Rita kini menghampiri mereka berdua yang tengah asik mengobrol berdua.


"apa yang kalian bicarakan malam malam begini?, Fian ternyata kau saya pikir kamu siapa?, bagaimana kabarmu?" tanya Rita kepada Fian, yang masih berada disana.


"eng..cukup baik saat ini" jawab Fian seraya tersenyum kearah Rita begitu juga Rita membalas senyuman itu.


"baiklah... suamiku, kau tau aku sudah memberitahu kedatangan kita kepada Ny Sani, besok aku ingin bertemu mereka" ujar Rita kepada Kennan suaminya.


"hemm baiklah, beberapa bulan lalu aku lupa untuk memberitahunya waktu itu, saat kedatangan ku kemari untuk membicarakan bisnis ku bersama Ardan" gerutu Tn Kennan.


***


"baiklan, Tn, Ny saya permisi dulu" ujar Fian kepada mereka berdua.


Tn Kennan dan istrinya kini menganggukan kepala mereka menatap kepergian Fian dari sana.


"huh..." gumam Rita.


"apa yang kau pikirkan?" Tanya Tn Kennan.


"sudah berapa tahun sekarang, saat aku meninggalkan orang yang paling berharga di kehidupan ku disini" ujar Rita.


"hemm kapan kita akan menikah kannya?" tanya Tn Kennan spontan, membuat istrinya kini berbalik menatapnya.


"menikahinya, untuk apa secepat itu memintanya untuk menikah?" Tanya Ny Rita yang sedikit kesal.


"kenapa? sudah waktunya dia untuk menikah, lagian aku butuh penerus usahaku dari seorang menantu untuk keluarga Wijaya" jelas Tn Kennan.


Ny Rita kini menatap suaminya dengan tatapan menyelidik.


"apa yang kau lihat?" Tanya Tn Kennan bingung melihat tatapan Rita kepadanya.


"menantu? apa dia akan mau menuruti kemauan dari kita untuk menyuruhnya cepat cepat menikah!" Ujar Ny Rita seraya berpikir.

__ADS_1


"untuk apa dia menunda menikah" ucap Tn Kennan lagi.


Ny Rita tak menjawab perkataan suaminya melainkan berpikir jauh tentang apa yang dirinya rencanakan, seraya berjalan menuju kamarnya.


Tn Kennan hanya menatap punggung istrinya itu dan kini beranjak menyusulnya masuk kedalam sana.


***


Pukul 09.00


Arin baru bangun dari tidurnya, Arin mebuka kedua matanya menatap seluruh ruangan itu.


namun dengan rasa berat Arin beranjak dari tempat tidurnya, seraya memasuki kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Cklek....


suara pintu kamar mandi di buka.


Deg...


Arin seketika menatap kearah tubuh seseorang yang kini berada tepat di hadapnnya, tubuh sisfek itu membuat Arin tak berhenti menatapnya.


"sayang?" panggil orang itu yang ternyata Ardan.


yang baru saja selesai mandi dan hendak keluar dari sana, Arin segera mendongak kan kepalanya menatap Ardan yang ternyata di hadapannya.


"apa yang kamu lihat?" Tanya Ardan seraya mengangkat satu alisnya.


Arin kini berlalu menuju ruang yang satunya dimana terdapat sower di sana.


tak lama kini Arin telah keluar dari dalam sana dan beranjak menuju ruang ganti untuk mengganti pakainya, namun saat dirinya sudah berada disana.


Arin melihat sosok Ardan yang masih memakai bajunya, Arin beranjak menuju dimana lemari pakaiannya berada.


dan bergegas mengambil baju yang sedikit terbuka, beberapa menit kini Arin telah selesai memakai bajunya.


"sayang.. kenapa kamu pakai begituan?" Tanya Ardan bingung.


melihat Arin yang menggunakan baju kemeja putih ukuran besar, dengan celana pendek Ardan menatap tubuh Arin dari ujung kepala hingga kaki.


"Arin gerah mas" jawab Arin seraya menyisir rambutnya.


Ardan seketika bergumam memintanya untuk mengganti pakaiannya.


"tidak.. mau Arin gerah" jawab Arin yang kini berlalu menuju luar.


"ahh apa yang dia lakukan!" gumam Ardan yang kini ikut keluar, menatap Arin yang tampak begitu seksi baginya.


di lantai bawah Arin yang baru saja menginjak kan kakinya disana seketika terdengar suara panggilan dari handphonenya, Arin meraih Hnadphonenya yang berada di saku celananya.


"eng.. nomor siapa ini?" Gumam Arin melihat nomor asing yang tertera di beranda ponselnya, Arin segera mengangkat panggilan itu.

__ADS_1


" Hallo?" Ucap Arin kepada seseorang dari sebrang panggilan.


"Hallo, Arin!, ini bibi."sahut orang itu yang ternyata Bibi San, yang menelpon Arin.


"Oh Bibi?" Ucap Arin girang, mendapat panggilan itu.


Ardan yang masih berada di belakang Arin kini pandangannya menatap gadis itu yang tengah asik menelpon tanpa memperdulikan dirinya.


Ardan hanya mencuri curi dengar apa yang kini tengah Arin bicarakan.


"baiklah Bi... Arin akan berkunjung kerumah Bibi nanti" jawabnya seraya mematikan panggilan itu.


"Mas..?" Panggil Arin kini berbalik mengahadap Ardan.


"hemm!" jawab Ardan.


"kita kerumah bibi ya, hari ini, Mas Ardan belum pernah ketemu bibi kan, apa mas Ardan mau?" Tanya Arin kepada Ardan.


"hemm baiklah kita kesana nanti, setelah habis dari sana kita cari perlengkapan buat baby juga" ujar Ardan seraya mengelus perut Arin.


tring.. tring...


suara telpon berdering.


Arin dan Ardan sontak melihat kearah suara itu.


"mas handphone mas Ardan berbunyi, angkat dulu gih" ujar Arin kini seraya melangkah kan kakinya menuju sofa dan seraya duduk disana.


"Hallo?" Sahut Ardan kepada seseorang dari sebrang panggilan.


"hemm baiklah nanti saya kesana" jawab Ardan kepada orang itu seraya mengakhiri panggilan.


Ardan kini menaruh ponselnya kembali di saku celana seraya menghampiri Arin yang kini duduk di sofa sembari menonton tv.


"Siapa mas?" Tanya Arin kepada Ardan.


"klien, nanti temani mas ketemu sama kliennya, setelah habis dari rumah bibi kamu, kamu mau?" Tanya Ardan kepada Arin.


"hem boleh" jawab Arin.


***


pukul 10.00


Arin dan Ardan kini mereka berdua bergegas pergi menuju rumah Bibi, yang terletak di jln xxx, sebelum mereka pergi.


Ardan meminta Romi untuk ikut bersama dan juga beberapa anak buah lainnya menggunakan mobil yang satunya.


di perjalanan mereka berdua sering kali ngobrol satu sama lain.


"mas, nanti kita ke Insoulci Resort ya mas, ada yang harus Arin temui!" Ujar Arin kepada Ardan.

__ADS_1



__ADS_2