
trak.. trak..
srek...
brus...
terdengar suara seseorang yang tengah memasak, Aziah menatap jauh tubuh kecil Arin yang dengan gesit melakukan aktifitasnya.
berbeda jauh dengan gadis yang saat ini tengah berdiri di depannya.
"Nadia..? bagaimana kalau kamu juga masak disini!" ujar Aziah kepada Nadia.
membuat semua mata kini menatap mereka berdua kecuali Arin yang masih sibuk memasak, Nadia tampak terlihat kaget tak berani berbicara.
"bagaimana!, kamu boleh masak disini" ujar Aziah lagi.
"hem.. ya bagaimana kalau Nona Nadia juga masak, siapa tau Kakak Fian akan menyukai masakan mu" ujar Liam yang kini mulai ikut berbicara.
"kenapa kau bawa bawa aku" ucap Fian yang kini juga ikut berbicara.
"eng..." Nadia seketika terdiam mendengar permintaan mereka berdua.
Ardan kini beralih menatap Nadia dengan wajah dingin.
Trak...
Arin yang sudah selesai kini meletakan masakan itu di atas meja, Ardan dan yang lainnya kini menatap masakan itu, terlihat sangat familiar.
"kakak ipar apa yang kau masak? Aku baru pertama kali melihat masakan seperti ini?" Ujar Liam kepada Arin seraya menatap masakan itu
Arin kini memberitahukan nama masakan itu kepada mereka.
"wah.. tampaknya ini sangat lezat!" ucap Liam yang kini mencicipi masakan itu.
Ardan yang masih menatap diam kini matanya melihat kearah Arin yang masih berdiri disana.
Bruk...
lagi lagi Ardan menarik Arin untuk duduk di sampingnya, Liam memakan makanan itu tanpa bersuara.
"kau lapar apa doyan? Aku meminta istriku memasak untuk ku, kenapa kau yang sangat menikmatinya!" ujar Ardan seketika.
Liam seketika tersenyum dengan penuturan Ardan.
Arin segera mengambilkan makanan untuk Ardan dan meletakannya di hadapannya.
tanpa basa basi Ardan segera memakan masakan itu dengan lahap, Aziah yang tadi hanya diam kini mencicipi makanan itu begitu juga dengan yang lainnya, Arin kini bergumam dalam hatinya.
"seperti kontes memasak saja" batin Arin menatap mereka semua.
Nadia hanya menatap Arin dengan kesal seraya membuang nafasnya dengan kasar.
"Nad.. kenapa kamu masih berdiam disana, lebih baik kamu duduk sekarang" ucap Aziah meminta Nadia untuk duduk. Nadia kini beranjak duduk.
__ADS_1
"mas..Arin boleh pergi kekamar sekarang?" Tanya Arin kepada Ardan.
"sama, saya juga mau kekamar sekarang" ucap Ardan kini beranjak dari tempat duduknya dan menarik tangan Arin, untuk ikut bersamanya.
"Mah.. Pah.. Ardan kekamar duluan" ucapnya kini menunuju di lantai atas.
***
pukul 16.22
Arin kini beranjak dari kamarnya menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
saat dirinya hendak melangkah menuju bathtub, Arin seketika terhenti di sebuah cermin yang kini berada di hadapannya.
Arin memandang tubuhnya yang kini terpampang jelas disana, dilihatnya perutnya yang kini sudah sedikit tampak terlihat.
Arin mengelus perutnya sekilas dan menatap jauh pikirannya saat ini, Arin tersenyum dan kini kembali melangkahkan kakinya menuju kedalam bathtub untuk berendam disana.
***
namun disisi lain Nadia yang sudah pulang, kini dirinya tampak sangat kesal.
namun tak lama terdengar suara seseorang yang kini memanggilnya.
"apa yang kau pikirkan? " Tanya orang itu yang kini berada disana.
"hh.. aku ingin membuat gadis itu menerima semuanya" ucapnya yang kini terlihat sangat marah.
"hh... kau tenganlah.. kau akan mendapatkan semua itu nanti, kau bisa membuatnya menderita sesuai kenginanmu" ucap orang itu.
***
2 hari telah berlalu terlihat Arin yang kini berada di dapur tengah memasak sesuatu.
Trak...
suara gelas yang di letakan di atas meja, Arin yang tadi sibuk memasak kini beralih menatap kearah orang itu.
"Mamah mau apa?" Tanya Arin yang kini menatap ibu mertuanya di sana.
"buatkan saya teh, dan jangan lupa untuk Nadia" ucap Aziah seraya berlalu menuju ruang tamu.
Arin segera membuatkan teh untuk ibu mertuannya dan saat dirinya sudah selesai Arin segera beranjak menuju ruang tamu.
Trak...
Arin meletakan teh yang telah dibuatnya di atas meja, Nadia yang duduk di sana menatap keberadaan Arin dengan tatapan tak suka.
"ini teh nya Mah" ucap Arin seraya meletakan dua teh di atas meja.
"hemm taruh saja disitu." ujar Aziah yang masih menatap layar ponselnya, Arin menganggukan kepalanya, dan berlalu pergi menuju dapur.
namun saat dirinya hendak melangkah kan kaki nya menuju dapur, seketika terdengar suara panggilan dari ponselnya.
__ADS_1
Arin meraih ponselnya yang berada di saku celananya, Arin melihat nomor asing di ponselnya dan segera mengangkat panggilan tersebut.
"Hallo?" Ucap Arin kepada seseorang dari sebrang telpon.
"Hallo?" Ucap orang tersebut kepada Arin, saat Arin menerima panggilan tersebut seketika wajahnya berubah terlihat cemas.
ntah apa yang dikatakan orang itu kepada Arin. Arin kini berlalu pergi menuju luar dan segera memanggil taxi untuk membawanya kesuatu tempat.
***
Namun secara bersamaan Nadia juga mendapatkan panggilan dari seseorang.
"tante.. aku harus pulang sekarang ada sesuatu yang harus aku kerjakan saat ini" ucap Nadia kepada Aziah.
"hemm baiklah sayang" jawab Aziah yang kini beranjak mengantar Nadia keluar rumah.
"hati hati ya sayang" timpal Aziah yang kini menatap Nadia berlalu meninggalkan kediaman Azhendra.
di sebuah Villa yang terletak di jaln xxx, terlihat Arin yang kini sudah berada di sana.
Arin segera masuk dan mencari keberadaan seseorang.
trak...
Cklek...
Arin membuka pintu Villa itu dan seraya meneriaki nama seseorang.
"ROY?" panggil Arin seraya berteriak mencari cari keberadaan Roy, namun saat dirinya sudah berada di sana.
seketika suara langkah kaki yang kini menghampirinya, Arin yang mendengar suara langkah itu segera melihat kearah dimana datanganya sura tersebut, Arin seketika menatap orang itu.
"Roy?" panggil Arin yang kini berjalan menghampiri Roy.
Roy menatap kearah Arin yang kini berjalan menghampirinya.
"Roy..? Apa kau baik baik saja?" Tanya Arin yang kini sudah berada di sana.
Roy tak menyahuti perkataan Arin melainkan menatap jauh arah belakang.
Arin yang menyadari tatapan Roy seketika dirinya melihat kearah pandangan itu.
Deg....
Arin seketika membulatkan kedua bola matanya menatap apa yang kini di hadapannya.
"Nadia?" Ucap Arin yang kini menatap keberadaan Nadia disana.
Nadia tersenyum penuh arti kearah Arin dan seraya berjalan mengahampirinya.
"ck.. ternyata kau mudah sekali ya untuk di bohongi" tukas Nadia yang kini sudah berada tepat di hadapan Arin.
Arin hanya menatap intens Nadia tanpa tau apa maksud tujuan dari gadis itu.
__ADS_1
"Arin Arin... kau pikir diriku akan mudah melepaskan orang seperti mu, ck, kau salah" timpal Nadia serya mencambak rambut Arin.
"akh..ssth" pekik Arin menahan sakit di kepalanya.