
Arin mendongak kan wajahnya menatap kearah orang yang memanggil dirinya.
"kau?" Ucap orang itu yang ternyata Nadia, Arin seketika terhentak kaget melihat gadis itu lagi.
"Bagaimana bisa kau berada di rumah Ardan? Siapa kau sebenarnya?" tanya Nadia kepada Arin yang masih menatapnya dengan perasaan kaget.
"eng... saya Asisten Rumah Tangga disini" ucap Arin seraya berpikir untuk tidak memberitahukan siapa dirinya.
Nadia menatap intens Arin dan kini sedikit penasaran akan sosok gadis yang selalu dilihatnya saat ini.
"kenapa Ardan mau membawa gadis seperti dirimu, bahkan dirinya saja sudah memiliki lebih dari sepuluh Sisten disini!" Jawab Nadia yang kini berjalan menghampiri Arin yang masih diam mematung.
"Apa jangan jangan kau....!" Timpal Nadia seraya menatap jauh kedua mata Arin.
"ck mana mungkin Ardan menyukai gadis sepertimu" ucap Nadia seraya menatap langit langit rumah tersebut, dan kini tersenyum penuh Arti.
"sebentar lagi, aku akan menjadi nyonya disini, ku pastikan dalam waktu yang singkat, aku akan membuat mu kembali kepadaku Ardan, bagaimanapun caranya." Batin Nadia yang kini berjalan menuju ruang tamu.
"kau.. buatkan aku minuman" timpal Nadia kepada Arin dengan sedikit berteriak, seraya berjalan menuju ruang tamu.
Arin hanya menggelengkan kepalanya dan kini beranjak menuju dapur untuk membuatkan gadis itu minuman, saat beberapa menit, kini Arin kembali membawa secangkir teh.
"ini teh nya Nona!" ucap Arin seraya meletakan secangkir teh itu di meja.
"apa kau tidak tau, siapa aku.. panggil aku Nyonya mulai sekarang" ucap Nadia kepada Arin, Arin hanya menganggukan kepalanya namun tidak di hatinya.
dirinya menatap jengkel wanita yang kini berada dihadapannya ingin rasanya dirinya memaki maki wanita itu.
"kenapa kau diam, pergi sana" ucap Nadia sedikit meninggikan nada suaranya.
Arin seketika pergi meninggalkan Nadia disana, dan kini beranjak menuju luar rumah, saat dirinya sudah berada disana.
Arin menatap kesana kemari mencari sosok Romi, namun tidak terlihat dari tadi.
"huh.. sudahlah aku akan pergi sendirian saja" ujar Arin seraya melangkahkan kakinya menuruni anak tangga dan kini menuju kearah jalan untuk mencari taxi.
Arin segera masuk kedalam taxi tersebut dan menuju kediaman bibi San.
Di sepanjang jalan menuju rumah bibi San, Arin tampak tengah memikirkan sesuatu, apa yang akan terjadi di dalam kehidupannya saat ini.
pernikahan, rumah tangga, bersama peria yang bahkan tidak memiliki hati sedikitpun.
Arin berpikir jauh kedepan, dirinya bermimpi ingin menikahi peria yang begitu menyayanginya bukan menyiksa dirinya, Arin tenggelam dalam keheningan yang cukup lama.
"Nona.. kita sudah sampai!" Ucap sopir itu kepada Arin yang masih keadaan melamun.
__ADS_1
"eng.. eh iya pak, ini uangnya!" sahut Arin yang kini tersadar dari lamunannya, dan beranjak keluar dari dalam taxi.
Arin berjalan memasuki jalan itu dan melangkahkan kakinya menusuri jalan stapak yang tidak pernah di tempuhnya lagi.
Arin kini telah berada di depan rumahnya yang pernah dirinya tinggali, Arin menatap jauh rumah itu dan teringat saat saat bersama sang bibi.
Cklek...
suara pintu terbuka, terlihat seorang wanita puruh baya yang baru saja keluar dari rumah tersebut.
wanita itu seketika menghentikan langkahnya dan menatap seseorang yang tengah berdiri di depan rumahnya.
wanita itu seketika menangis dan berlari kecil menghampiri orang tersebut yang tak lain Arin.
"Bibi... bagaimana kabar bibi?" Tanya Arin seraya menahan tangisannya.
"bagaimana bisa bibi baik baik saja, memikirkan mu yang belum kembali kerumah" ucap bibi San yang masih memeluk tubuh Arin.
"bi.. bibi jangan khawatir, Arin baik baik saja, bibi tidak perlu cemas" ucap Arin seraya menyeka air mata bibi San.
bibi San terkesiap menatap jari Arin yang kini terdapat sebuah cincin, bibi San meraih tangan itu dan di tatapnya lekat.
"apa yang terjadi? Arin? katakan kepada bibi" ucap bibi seraya kembali menatap wajah Arin.
" bibi..!" Ucap Arin dalam isak tangis yang kini terdengar.
"apa peria itu menikahimu nak?" Tanya bibi San yang kini meraih Arin dan memeluknya.
"hiks... hiks... bibi" ucap Arin yang masih dalam keadaan menangis.
"Sudah sudah.. jangan menangis, bibi tidak berharap kau seperti ini" ucap bibi San seraya menenangkan Arin.
Arin menganggukan kepalanya dan seraya menyeka airmatanya.
"sudah kita masuk sekarang" timpal bibi lagi yang kini berjalan masuk kedalam rumah, Arin menghabiskan waktunya bersama sang bibi.
namun di sisi lain, Romi yang baru saja tiba habis dari luar, kini hendak menemui majikannya itu.
Romi mencari keberadan Arin dirumah itu namun tidak tampak sedikitpun.
Romi beranjak menuju ruang tamu dan tampak dari sana seorang gadis yang tengah duduk sendirian Romi menghampiri sosok tersebut dan dilihatnya.
"Nona Nadia?" tukas Romi yang kini telah berada disana menatap Nadia yang ternyata berada di rumah tuannya itu.
"Romi? Ardan mana? Apa dia sudah pulang dari kantor? aku sangat merindukannya" ucap Nadia kepada Romi yang kini berada di hadapannya.
__ADS_1
Romi tak menjawab perkataan Nadia melainkan menanyakan sesuatu pada gadis itu.
" Nona.. apa kau melihat Nona Arin tadi?" Tanya Romi kepada Nadia.
Nadia seketika mengerutkan alisnya menatap kesal kearah Romi.
"Arin? siapa dia? Siapa yang kau maksud? Aku bertanya Ardan kau malah bertanya perihal yang lain kepadaku!" Tukas Nadia seraya meninggikan nada bicaranya.
Romi seketika diam dan seraya memikirkan sesuatu.
"ohh tidak.. tuan pasti akan memarahi ku habis habisan, jika tau Nyonya tidak ada dirumah saat ini" batin Romi.
Romi segera beranjak pergi meninggalkan Nadia yang masih dalam keadaan marah.
Nadia yang melihat Romi tak menghiraukannya melemparkan sebuah cangkir begitu saja,
Prank...
"ck... siapa gadis itu sebenarnya? kenapa Romi terlihat begitu mencemaskan dirinya?, aku harus cari tau soal gadis itu." Ucap Nadia yang kini berlalu pergi meninggalkan rumah itu.
Romi yang masih mencari keberadaan Arin dan di bantu oleh beberapa anak buah lainnya namun sampai saat ini belum membuahkan hasil.
Romi mendengus kesal seharusnya dia tidak meninggalkan rumah itu.
"apa kalian sudah menemukannya? " tanya Romi yang masih diam di sebuah taman tak jauh dari lokasi tempat tinggal Ardan.
"tidak tuan.. kami tidak menemukan jejak Nyonya sedikit pun" tukas anak buah lainnya kepada Romi.
"Nyonya.. kau selalu saja pergi, kau membuatku selalu dalam masalah besar" ucap Romi yang kini dengan wajah yang begitu cemas.
Romi segera beranjak pergi kembali kerumah dan diikuti yang lainnya.
pukul 16.00
Arin yang kini beranjak ingin pulang kerumah seketika mendapat panggilan dari seseorang, Arin yang masih berada di dalam taxi.
segera maraih ponselnya dan terlihat nomor asing yang memanggil dirinya Arin segera mengangkat panggilan tersebut,
"Hallo? Ini siapa?" Tanya Arin kepada seseorang yang menelponya.
"ini saya!, apa kamu tidak menyimpan nomor saya di ponsel kamu?" Tanya orang itu yang ternyata Ardan.
"eng.. mas Ardan!! Arin lupa menyimpannya mas, kenapa mas Ardan nelpon?" ucap Arin seraya bertanya.
__ADS_1