Terpaksa Menikahi Bos Kejam (Forced To Marry A Cruel Boss)

Terpaksa Menikahi Bos Kejam (Forced To Marry A Cruel Boss)
Makan Malam Bersama


__ADS_3

Arin kini bergegas masuk kedalam dapur untuk mencuci buah mangga yang baru saja di petik.


"Arin kamu lagi ngapain?" Tanya Aziah kepada Arin.


"mamah? Arin lagi cuci buah mangga, mamah mau?" ucap Arin seraya bertanya kepada ibu mertuanya.


"apa itu masam?" Tanya Aziah dengan wajah yang seperti menahan hawa masam buah.


"mungkin sih Mah" ucap Arin.


seraya tersenyum kearah ibu mertuanya, kini Arin mengupas mangga itu dan seraya membuatnya seperti rujak.


saat dirinya sudah selesai Arin segera menuju halaman belakang dan meletakannya di atas meja taman seraya menikmati suasan.


"mas Ardan mau?" Tanya Arin seketika menatap arah datangnya Ardan dan seraya menyuapi buah mangga itu kemulutnya.


Ardan menganggukan kepalanya seraya membuka mulutnya, Ardan menatap Arin yang begitu menikmati buah mangga seketika wajahnya mengembang menahan hawa masam dari mangga, yang dimakannya.


"ah... Arin" ucap Ardan.


dengan wajah menahan rasa masam buah, Arin tertawa melihat Ardan seperti itu yang menurutnya lucu.


"Apa perutmu tidak sakit makan yang beginian?" Tanya Ardan yang masih menatap kearah Arin yang masih menikmati buah.


Arin menggelengkan kepalanya pertanda jawaban darinya.


"jangan terlalu banyak... nanti perutmu mules" ucap Ardan yang kini mengambil mangkuk buah itu seraya memberikannya kepada bibi Yan, yang ternyata juga berada disana.


"Mas.. Ardan" gumam Arin cemberut.


"tidak tidak.. sudah cukup" ujar Ardan seraya menarik lembut tangan Arin yang ingin mengajaknya menuju kedalam rumah.


***


di kamar utama, Arin yang kini sudah berada di sana, seraya menuju tempat tidur dengan wajah yang masih cemberut.


Arin berbaring di atas kasur tanpa memperdulikan Ardan yang kini menatap kearahnya.


seraya naik keatas tempat tidur dan merebahkan tubuhnya di samping tubuh Arin dan kini memeluknya, Arin yang menyadari Ardan memeluknya.


tak memperdulikannya melainkan memejamkan kedua matanya, Ardan hanya menatap diam Arin dan mencoba membujuknya.


"Arin?.. kamu marah sama saya?" Tanya Ardan yang masih berbaring di samping Arin.


Arin yang masih pura pura tidur, tidak mengubris perkataan Ardan yang coba membujuknya.


namun seketika terdengar suara deringan panggilan dari ponsel Ardan, Ardan segerah meraih ponselnya yang berada diatas meja kamar.


"hallo?" Ucap Ardan.

__ADS_1


yang kini mengubah posisinya menghadap kearah depan.


"hemm baiklah" jawab Ardan kepada orang yang berada di sebrang telpon, seraya mengakhiri panggilan tersebut.


"siapa Mas?" Tanya Arin yang kini menatap kearah Ardan.


Ardan tak menyahuti perkataan Arin melainkan dirinya kini memejamkan kedua matanya, Arin yang melihat Ardan tak menghiraukannya, terlihat kesal.


"Mas Ardan?" Panggil Arin kesal.


Ardan hanya tersenyum melihat tingkah Arin yang sedang marah.


***


Pukul 16.00


Arin kini terbangun dari tidurnya, dan kini beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


saat dirinya sudah selesai Arin segera keluar dari dalam sana dan hendak menuju kamar ganti.


namun saat Arin berada di kamarnya, Arin melihat Ardan yang kini tengah bersiap siap.


"mas Ardan mau kemana?" Tanya Arin kepada Ardan yang masih bersiap siap.


Ardan seketika mengalihkan pandangannya menatap kearah Arin yang kini hanya menggunakan kimono saja.


"kamu belum bersiap siap?" Tanya Ardan balik, yang kini melihat Arin yang baru selesai mandi.


"eng.. emang kita mau kemana mas?" Tanya Arin yang kini berjalan menghampiri Ardan.


"kita akan makan malam di Gorden, kamu siap siap dulu, saya tunggu kamu" ucap Ardan


seraya mencium pucuk kening Arin yang kini berada di hadapannya, Ardan segera beranjak menuju luar.


Arin hanya menatap kepergian Ardan dan kini dirinya bergegas menuju kamar ganti dan merias wajahnya dengan make up minimalis.


saat dirinya sudah selesai Arin kini beranjak menuju luar kamar menuju ruang tamu.


tampak disana sudah Ardan dan begitu juga yang lainnya kini telah berkumpul dibawah, Arin menghampiri Ardan seraya berbicara kepadanya.


"mas..apa nanti bakalan ada tamu lain yang ikut disana?" Tanya Arin yang kini berdiri di samping Ardan.


"hemm nanti kamu juga bakalan tau" jawab Ardan seraya menyimpan ponselnya di saku celana.


"kalian sudah siap semua bukan, baiklah kita berangkat sekarang" ujar Tn Hendrik yang kini berjalan terlebih dahulu.


***


kini mereka semua beranjak menuju mobil dan bergegas berangkat menuju 𝐆𝐨𝐫𝐝𝐞𝐧 𝐑𝐞𝐬𝐨𝐫𝐭, selang beberapa lama kini mereka telah tiba di sana.

__ADS_1


Arin menatap kagum gedung itu, sungguh mewah dilihatnya Ardan yang dari tadi pokus mengemudi.


kini pandangannya menatap kearah Arin yang sibuk melihat seluruh bangunan itu.


"kamu suka?" Tanya Ardan tiba tiba kepada Arin.


"eng... suka, begitu indah..!" Ucap Arin yang kini menatap kearah Ardan.


mereka segera keluar dari dalam mobil dan beranjak menuju dalam 𝐆𝐨𝐫𝐝𝐞𝐧 𝐑𝐞𝐬𝐨𝐫𝐭.


"mm jika kamu suka, saya akan bawa kamu untuk menemui pemiliknya nanti" ucap Ardan kepada Arin.


"mas Ardan yakin ingin bawa Arin untuk bertemu dengan pemilik 𝐆.𝐈 𝐆𝐫𝐨𝐮𝐩?" Ucap Arin dengan mata yang berbinar.


Ardan menganggukan kepalanya dan seraya tersenyum kearah Arin, kini mereka ber6 telah tiba di salah satu ruang VIP.


tampak dari kejauhan di sebuah meja makan besar yang kini di hiasi dengan dekorasi minimalis.


yang begitu elegan dan disana terdapat sajian makan malam yang tersusun rapi, Arin menatap dekorasi itu dengan senyuman diwajahnya.


"selamat malam Tn, silahkan!" Ucap pelayan resort itu kepada Tn Hendrik dan yang lainnya yang kini sudah tiba di dalam sana.


Tn Hendrik menganggukan kepalanya dan kini menuju meja itu.


"Pah..? Om Falen juga hadirkan?" tanya Liam yang kini sudah duduk di sana.


seraya memainkan ponselnya.


"hem, mereka semua akan hadir" jawab Tn Hendrik, Arin yang diam sedari tadi.


dengan perasaan bingung dengan orang yang kini tengah dibicarakan oleh Tn Hendrik dan Liam.


"Mas? Om Falen itu siapa?" Tanya Arin yang masih penasaran akan nama itu.


"oh.. itu Adik dari Papah yang dari AS!" jawab Ardan yang kini menatap Arin.


Arin seketika terdiam kaget mendengar perkataan Ardan, kini dirinya berpikir bahwa saat ini keluarga Azhendra akan berkumpul di acara makan malam ini setelah sekian lama.


Wajah Arin seketika berubah terlihat sangat gelisa jika nanti dirinya bertemu dengan keluarga adik dari Ayah mertuanya.


Ardan yang dari tadi menatap Arin melihat wajah istrinya itu begitu cemas kini dirinya mencoba menenangkan Arin.


"kenapa? Kamu terlihat cemas, saat saya beritahu kamu tentang keluarga Papah" tanya Ardan yang kini memegang lembut tangan Arin.


"eng..." Arin hanya terdiam tak menjawab perkataan itu.


"kamu tidak perlu khawatir, mereka orangnya baik, tidak perlu kamu cemaskan Arin" ujar Ardan.


mencoba menenangkan perasaan Arin, Arin hanya menggukan kepalanya dan kini menarik nafasnya mencoba menenangkan dirinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2