Terpaksa Menikahi Bos Kejam (Forced To Marry A Cruel Boss)

Terpaksa Menikahi Bos Kejam (Forced To Marry A Cruel Boss)
Last ending S1


__ADS_3

Namun di lain sisi, Arin yang kini sudah tiba di luar, Arin seketika menatap kearah Ardan yang berdiri di sampingnya.


"Mas Ardan kok bisa ada di sini?" tanya Arin yang kini mulai bersuara.


"Klien nya Mas, mengundang Mas untuk datang keacara makan malam sekalian sama ulangtahun putrinya, tapi Mas gak tau, kalau putri Tn Sam teman kamu!" jelas Ardan kepada Arin.


"eng..oh begitu!" sahut Arin.


"Apa yang terjadi?" tanya Ardan tiba tiba.


Arin seketika menatap kearah Ardan kembali dan kini terdiam tanpa sepata katapun.


"eng... gak ada apa apa kok Mas!" jawab Arin.


"kalau gak ada apa apa, lalu.. kenapa kalian bisa seperti itu?" ucap Ardan.


"nggak ada apa apa kok Mas!" jawab Arin lagi dan kini berlalu pergi.


"Sayang kamu mau kemana?" Tanya Ardan kepada Arin.


"pulang!" sahut Arin yang sudah berjalan dahulu.


"Oh.. tapi mobil kita disana loh!" Ucap Ardan sembari menunjuk sebuah mobil hitam.


Arin spontan menghentikan langkahnya dan kini bergegas menuju kearah mobil mereka, Ardan yang masih berdiam di sana, kini beranjak mengikuti gadis itu berlalu menuju mobil mereka.


Namun saat dirinya hendak berlalu menuju mobil, Ardan seketika di kejutkan dengan suara deringan ponsel, Ardan segera meraih ponsel miliknya dan terlihat nama Romi di sana.


"Halo?" ucap Ardan yang kini sudah tersambung dalam panggilan telpon.


"Halo Tuan?" ucap Romi.


"Bagaimana? Apa kamu sudah tiba?" Tanya Ardan kepada Romi.


"Saya sudah sampai di Lobber Tuan, tapi kemungkinan di rumah sakit tak jauh dari sini!" ucap Romi kepada Ardan.


"oh.. baiklah, jika kau sudah bertemu dengannya, kabari aku!" Ujar Ardan sembari mengakhiri panggilan.


"baik Tuan!" sahut Romi.


Ardan segera manaruh kembali ponselnya dan kini bergegas masuk kedalam mobil.


Di dalam mobil


"Mau pulang atau masih mau jalan jalan?" tanya Ardan kepada Arin dan Arka.


"emangnya Mas mau jalan jalan kemana?" tanya Arin.


"mmh kemana aja, yang penting jalan jalan kan!" ujar Ardan.


"Gus.. jalankan mobilnya!" pinta Ardan kepada Agus.


Namun di lain sisi, terlihat sebuah mobil mewah berwarna hitam yang kini terparkir rapi di sebuah halaman rumah sakit.


"Huh.. demi apa aku harus kemari!" gumam Romi yang kini berlalu pergi menuju kedalam Rumah sakit itu.


Tap... tap...


Sesampainya di dalam Romi kini berlalu sembari mencari sesuatu kesana kemari menatap satu persatu ruangan rumah sakit itu.


"bagaimana jika aku salah lagi? harus berapa kali aku bolak balik kerumah sakit lainnya untuk memastikan perkataan Tn Fian kepada Tn Ardan tempo lalu saat di Swiss!" gumam Romi yang kini masih terus berlalu menatap satu persatu ruangan itu.


Di persimpangan ruangan Romi yang kini sudah berada di sana, dengan mata menatap kesana kemari mencari seseorang untuk dirinya tanyakan, namun tampak dari arah jauh terlihat seorang pria yang kini tengah bersusah paya menenangkan pasien.


"Eng..!" gumam Romi yang kini menatap kearah orang tersebut.


"Sepertinya tidak asing?" gumam Romi yang kini beranjak menghampiri orang itu.


"Nona.. tolong tenanglah!" ucap pria itu yang masih menenangkan pasien.


Brak..


"akh..!" pekik pria itu menahan sakit akibat pukulan dari pasien itu.


"pergi.. aku tidak mau, jika kau berani mendekati ku akan ku katakan kepada kekasih ku! Ardan... hiks hiks tolong aku!" ucap pasien itu.


Pria itu seketika mendekati pasien tersebut dan segera memasukannya kedalam ruangan itu.


Cklek..


"huh... lelah sekali, kenapa dia suka sekali menyebut nama pria itu? seakan akan dia itu kekasih pria itu!" gumam orang tersebut.


Namun secara bersamaan yang dimana Romi sudah tiba di sana sembari menatap lekat sosok itu.


"I Iyan?" panggil Romi kepada orang itu yang ternyata Iyan.


Spontan orang tersebut menatap kearah Romi yang kini berdiri tepat di sampingnya.


"Romi?" ucap Iyan yang mengenali Romi.


"kau bekerja disini?" tanya Romi kepada Iyan.


"iya Rom, loh.. loe ngapain disini?" tanya Iya balik.


"eng.. aku di suruh untuk mencari seseorang pasien, apa kau mengenalinya!" ucap Romi, sembari memperlihat kepada Iyan sebuah foto.


"eng.. ini? bukankah ini gadis itu?" ucap Iyan sembari menunjuk kearah ruangan itu.


"oh jadi benar gadis itu ada di sini?" Tanya Romi kepada Iyan.


"Nadia maksudmu!" Sahut Iyan.


"gadis itu ada di dalam, kau tau... dia membuatku selalu dalam kesusahan, setiap kali aku ingin memberinya obat, tapi dia selalu mengancamku dengan menyebut nama Ardan!" Timpal Iyan menjelaskan.


"hh.. Tn Ardan itu mantan kekasihnya, yang sudah menikah satu tahun yang lalu!" Jelas Romi yang kini mendekati jendela ruangan itu sembari mematap kedalam sana mencari sosok Nadia.


"Loh.. kemana dia?" ucap Romi yang masih menatap kesana kemari dari jendela ruangan itu.


Spontan Iyan kini juga ikut menatap ruangan itu mencari sosok Nadia di dalam sana, namun saat mereka tengah mencari tiba tiba.


Brak..


Suara benturan kaca jendela yang cukup keras.


"Aaaa!" teriak Romi spontan menjauh dari jendela dan terjatuh kelantai begitu juga Iyan yang kini menatap kearah Romi yang tampak terkejut.


"Hahah! Kau tau setiap hari aku harus melawati hari seperti ini, dia akan selalu bertingkah seperti anak kecil kadang kadang ya... berlaga ala seorang wanita terhormat!" ujar Iyan kepada Romi yang masih terduduk di lantai.


"apa apaan itu.. dia membuatku kaget!" Sahut Romi yang kini beranjak bangun dari sana.


"boleh aku tau, apa yang terjadi kepada Nona Nadia? Sudah berapa lama dia seperti ini?" tanya Romi kepada Iyan.


"Oh.. itu sudah hampir satu tahun yang lalu, Nadia di bawa oleh seorang wanita paruh baya kemari, dalam keadaan yang sangat kacau, saat dia datang kemari, dia menyebut nama pria itu dan kadang kadang nama seorang wanita!" Jelas Iyan kepada Romi.


"Wanita? mungkin itu Nyonya Arin!" tukas Romi.


"eng.. iya Arin, nama itu yang juga di sebutnya!" sahut Iyan.


"oh.. baiklah, kalau begitu!" ucap Romi kepada Iyan.


"jadi Tn Fian benar, soal nona Nadia yang masuk rumah sakit jiwa, pantas saja... sudah lama nona Nadia tidak pernah lagi muncul setelah itu!" batin Romi yang kini menatap jauh kearah ruangan itu.


"baiklah.. aku pergi dulu Yan, terimakasih infonya, senang bertemu dengan kau lagi, ternyata kau baik baik saja!" Tukas Romi kepada Iyan.


"mmh... aku juga!" sahut Iyan kepada Romi.


Romi beranjak pergi dari sana dan bergegas menuju luar rumah sakit itu dan kembali ke Shanghai.


***


Di sebuah pantai, terlihat Arin begitu juga Ardan kini mereka bertiga tengah bermain di sana, di temani anak kecil yang tak lain Arka yang dimana terlihat anak kecil itu tengah asik bermain lempar bola karet.


Namun saat bola yang di berikan kepada Arka seketika terhembus angin dan terlempar jauh dari tempat mereka bertiga.


Spontan Arka berlari mengambil bola itu yang jatuhnya agak jauh dari sana.


bruk..

__ADS_1


"ehh.." gumam seseorang yang merasakan sesuatu menabraknya.


Sontak orang itu menatap kebawah yang dimana terlihat bola karet berwarna biru yang berada tepat di bawah kakinya, orang tersebut seketika memungut bola itu.


Namun secara bersamaan terdengar suara anak kecil yang kini bersuara meminta orang itu memberikan bolanya.


"Om.. itu bola Arka?" ucap anak kecil itu yang ternyata Arka.


Sontak orang itu kini menatap kearah Arka yang dimana anak kecil itu juga menatap kearahnya.


"eng..oh ini bola kamu dik?" tanya orang itu balik.


Arka menganggukan kepalanya pertanda jawaban darinya.


Srek..


"ini lain kali hati hati, jangan sendirian, bahaya.. kalau sendirian di pantai!" tukas orang itu kepada Arka.


"iya om, Arka gak sendirian kok, Arka sama Mamah sama Papah!" Sahut Arka.


Namun tampak dari arah jauh seorang wanita muda kini menghampiri keberadaan orang itu.


"Roy? kamu lama banget tau gak..!" ucap seorang gadis kepada orang itu yang ternyata Roy.


"Eh.. loh kok ada anak kecil? hei... dimana orangtua mu tampan?" ucap gadis itu kepada Arka.


"Dia anak siapa Roy?" tanya gadis itu lagi kepada Roy.


"aku juga tidak tau Gin, ini anak siapa... !" jawab Roy kepada gadis itu yang bernama Gina.


"Mamah sama Papah Arka di sana Om.. tante!" jawab Arka sembari menunjuk kearah belakangnya.


Namun di lain hal, Arin dan Ardan yang masih menatap jauh kearah dimana Arka yang belum kunjung kembali.


"Mas Arka mana?" tanya Arin khawatir.


"kita cari saja!" jawab Ardan yang kini menarik lembut tangan Arin.




"Arka?" panggil Arin berteriak.



Namun dari arah jauh Arka yang masih berada di sana, kini menatap kearah suara tersebut yang memanggil dirinya.



"Mamah?" ucap Arka yang kini menatap jauh kebelakang dan diikuti tatapan keduanya.



"Itu Mamah kamu Arka?" Tanya Gina kepada Arka.



Roy menatap kearah jauh yang dimana terlihat seorang gadis seorang pria yang kini berjalan menuju kearah mereka, Roy menatap lekat sosok gadis itu.



Deg...



Sontak Roy terdiam paku, yang kini menatap tak percaya apa yang dirinya lihat.



"A Arin?" gumam Roy dengan wajah masih menatap kearah gadis dan pria itu.



"Mamah Papah" sahut Arka membuyarkan lamunan Roy.




"Arka?" Panggil Arin yang kini melihat kearah Arka.



Arka spontan menghampiri keberadaan kedua orangtuanya itu yang kini berdiri agak jauh dari sana.



Roy dan Gina yang masih berada di sana kini keduanya itu menatap kearah Arin dan Ardan di sana, Roy tampak kaget melihat sosok Arin yang begitu berbeda saat ini.



"Arin?" panggil Roy tiba tiba.



Sontak Arin begitu juga Ardan menatap kearah Roy disana.



"Roy?" gumam Arin pelan.



"Ternyata kau?" Tukas Ardan yang masih menatap kearah Roy.



"eng.. hh iya!" sahut Roy canggung.



"Mamah kenal sama om ini?" tanya Arka tiba tiba.



"jadi anak kecil ini putra mu Arin?" Tanya Roy kepada Arin.



"iya!" jawab Arin singkat.



Ardan yang masih berdiam kini dirinya beranjak mengambil alih Arka dari gendongan Arin dan memanggil Agus untuk membawa Arka menuju mobil mereka.



"tunggu apa kalian pernah saling kenal sebelumnya?" tanya Gina tiba tiba.



Arin spontan menatap kearah Ardan dan yang dimana pria itu juga menatap dirinya.



"iya.. kami temenan!" Jawab Arin kepada Gina.



"apakah itu benar?" tanya Gina lagi.



"iya!" jawab Roy.


__ADS_1


"oh baiklah.. kenalkan, aku Gina pacarnya Roy!" Ucap Gina memperkenalkan dirinya kepada Arin dan Ardan.



"Mmh iya!" sahut Arin.



"Sayang kita pulang sekarang!" ucap Ardan yang kini berbalik dan berlalu pergi.



"iya Mas.. oh kami permisi dulu ya!" ucap Arin kedapa Roy dan Gina, dan beranjak pergi mengikuti Ardan.



Roy menatap diam kepergian keduanya itu yang kini kian menjauh dari matanya.



Namun di lain sisi Arin yang kini berlalu mengikuti Ardan yang sudah terlihat sedikit jauh seketika dirinya memanggil pria itu.



"Mas Ardan jalan nya cepat banget sih Mas!" gerutu Arin.



Ardan spontan menghentikan langkahnya dan kini berbalik menghadap kearah Arin yang bejalan di di belakangnya.



Ardan seketika mengulurkan tangannya meminta gadis itu untuk berjalan bersamanya.



Srek..



Ardan memimpin lembut tangan gadis itu dan kini kembali berjalan menelusuri tepian pantai di soreh hari.



"Arin?" panggil Ardan yang kini mulai berbicara.



"iya Mas!" sahut Arin.



"apa kamu masih punya rasa sama Roy?" tanya Ardan tiba tiba.



"Eng.. Mas Ardan kok tanya gituan sih Mas?"



"Mas cuma nanya aja, iya atau tidak?" ujar Ardan lagi.



"Mas Ardan cemburu?" tanya Arin balik.



"kok kamu tanya Mas balik sih!" sahut Ardan.



"iya atau tidak?" timpal Arin.



"kalau iya kenapa?" jawab Ardan lagi.



Arin seketika menghentikan langkahnya dan kini menatap kearah pria itu, Ardan spontan ikut menghentikan langkahnya dan kini membalas tatapan tersebut.



"Sudah lama loh Mas untuk apa juga di cemburuin!" Ujar Arin tiba tiba.



Ardan tidak menyahuti perkataan gadis itu melainkan menatap lekat kedua mata Arin sembari mendekatkan wajahnya keawajah gadis itu.



Dan seketika sebuah ciuman kini mendarat tepat di bibir gadis itu, Arin menatap Ardan yang masih dalam posisi yang sama dan kini membalas ciuman tersebut dalam waktu yang cukup lama.



Ardan kini mnyudahi ciuman itu dan beralih menatap wajah Arin yang masih menatap dirinya.



Srek... satu pelukan mendarat di tubuh Arin.



"I hope you stay with me, forever." ucap Ardan seketika.



"I will always love this cruel man! And stay with you Mas Ardan!" ucap Arin kepada Ardan.



Sembari memeluk kembali tubuh pria itu, Ardan tersenyum mendengar perkataan Arin tentangnya, dan seketika Ardan mengangkat tubuh Arin seraya mebawanya ke arah air pantai.



"ehh Mas Ardan mau ngapain?" tukas Arin kepada Ardan yang dimana dirinya berada di gendongan pria itu. Ardan menatap Arin sekilas dan tersenyum seketika kini...



Byurr....



Ardan meletakan Arin di dalam air dan membuat gadis itu basah kuyup.



"Hahah!" tawa Ardan yang kini berlari pergi meninggalkan Arin di sana.



"MAS ARDAN!!" teriak Arin yang kini beranjak dari sana dan berlari mengejar Ardan yang sudah berlalu jauh.



...☘️☘️☘️...



...𝐋𝐚𝐬𝐭 𝐄𝐧𝐝𝐢𝐧𝐠...



...𝑆𝑒𝑎𝑠𝑜𝑛 2 𝑛𝑦𝑎 𝑖𝑡𝑢 𝑏𝑒𝑙𝑢𝑚 𝑢𝑝 𝑦𝑎 𝑔𝑢𝑦𝑠, 𝑆2 𝑖𝑡𝑢 𝑝𝑒𝑟𝑗𝑎𝑙𝑎𝑛𝑎𝑛 𝑐𝑖𝑛𝑡𝑎 𝐴𝑟𝑘𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑐𝑜𝑏𝑎 𝑚𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡𝑘𝑎𝑛 𝑏𝑎𝑙𝑎𝑠𝑎𝑛 𝑐𝑖𝑛𝑡𝑎 𝑑𝑎𝑟𝑖 𝑠𝑒𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑔𝑎𝑑𝑖𝑠 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑐𝑖𝑛𝑡𝑎𝑖𝑛𝑦𝑎....


__ADS_1


...\*\*\*...


__ADS_2