
"ck.. kau sama Ardan sama sama suka mengejek ku ya, eng.. aku rasa, aku akan menikah setelah adik sepupuh Liam yang duluan menikah." ujar Jeray yang kini menatap kearah Liam yang masih sibuk makan yang di temani oleh ketiga anak kecil yang tak lain Arka, Miden dan Meldy.
"huks huks..apa katamu kakak sepupuh, aah aku masih belum mau menikah!" jawab Liam kepada Jeray.
"ya, apa lagi sifat kekanak kanakan mu itu, mana ada gadis yang mau menempel dengan mu!" sahut Jeray lagi.
"Huh.." gumam Liam kesal.
Di sisi lain, terlihat beberapa wanita berumuran yang tengah asik menikmati segelas anggur di tangan mereka seraya mengobrol satu sama lain melepas kerinduan di antara mereka.
"sudah lama kita tidak berkumpul seperti ini, saat kau kembali dari Kanada Ziah!" ujar Ny Holine yang merupakan sepupuhnya dari Kanada.
"Bahkan pernikahan Ardan kau tidak mengundang kami sama sekali Ziah!" timpal Ny Dyna.
"aah.. kalian tau, pernikahan putraku Ardan itu sangat terburu buru, karena itu aku lupa memberitahu kalian soal itu!" jawab Aziah.
"mmh baiklah, lalu dimana istrinya Ardan aku tidak melihatnya?" tanya Ny Holine kepada Aziah.
"dia ada disana!" jawab Aziah seraya menatap senyum kearah seorang gadis yang berdiri di antara keponakannya.
Arin yang kini terlihat sangat senang berkenalan dengan sepupuh dari keluarga Mamah dan Papah mertuanya yang terlihat sangat dekat dengan dirinya.
"Tante, berapa usia mu?" tanya anak kecil yang kini berusia 8 tahun.
"aunty, bisakah kau mejadi ibu angkatku, kau sangat cantik!" ucap Cielya anak kecil berusia 5 tahun.
"eng..!" gumam Arin.
"Aunty, jangan perdulikan dia, dia anak kecil yang manja!" ujar Miden kepada Arin.
"kau.. Miden lihat saja jika aku menangkapmu!" ujar Cielya kepada Miden.
Arin yang melihat perdebatan antara anak kecil itu tampak di wajahnya sangat kelelahan yang mencoba menghentikan perdebadatan itu.
Srek.. Bruk..
"ehem.. apa yang kalian lakukan anak anak?" tanya Ardan yang yang kini tiba di sana.
"Mas Ardan?" panggil Arin kepada Ardan.
Ardan seketika menatap Arin dan merangkul pundak gadis itu.
"apa kau kelelahan menghadapi mereka?" Tanya Ardan.
"begini saja, lebih baik kalian pergi makan saja, bukan kah kalian suka kue tart kan!" ujar Ardan kepada anak anak itu.
"ya..kami menyukainya!" jawab mereka serempak.
"mmmh lebih baik kalian cepat pergi, nanti keburu om Liam yang menghabisinya" ujar Ardan lagi.
Sontak semua anak anak itu berlari berhamburan, namun begitu juga dengan anak kecil yang berusia 1 tahun itu, Arka yang ingin ikut pergi, namun dengan cepat anak kecil itu di gendong oleh sang Papah.
"kau mau kemana jagoan?" tanya Ardan kepada Arka yang kini berada di gendongan.
__ADS_1
"Kue Papah!" jawab Arka, dengan suara anak kecil namun tak terdengar jelas dalam bicaranya.
"tidak.. sudah cukup, kau lihat mulutmu, sudah penuh makanan, jangan lagi!" Tukas Ardan seraya membersihkan sisa makanan yang menempel di bibir Arka.
"Mamah?" panggil Arka yang mengadu kepada Arin.
"mmh!" Sahut Arin yang kini menatap keduanya itu.
"Arka mau itu!" Ujar Arka dengan wajah imut memohon kepada sang Mamah.
"eng..!" gumam Arin.
"Mamah rasa satu kali lagi itu tidak masalah!" timpal Arin.
"sayang..?" panggil Ardan yang kini tidak meminta gadis itu memperboleh kan Arka untuk memakan makanan manis lagi.
"Papah larang loh Arka.!" ujar Arin serba salah.
Arka seketika cemberut dan kini meminta sang Papah untuk memberikannya minum.
Pukul 19.00
Di Hotel GAURENCY FEARFILED.
Terlihat satu persatu para tamu kini sudah meninggalkan hotel itu menuju kerumah mereka.
Namun di sebuah ruang makan, tampak terlihat suasan meriah keluarga Azhendra, Siklye, Clyter, Mahesa dan begitu juga keluarga Crevin yang merupakan sepupuh jauh dari Tn Hendrik dan begitu juga Ny Aziah.
Terlihat keluarga itu tengah asik menikmati suasana makan malam bersama, Arin yang asik melihat kesebuah jendela ruangan itu, namun tiba tiba seseorang kini membuyarkan keasikannya disana.
Arin yang merasa bahunya di sentuh seseorang, spontan dirinya menatap keberadaan orang itu disana.
Arin seketika memicingkan matanya menatap keseorang gadis yang berdiri di hadapannya.
Srek..
seketika gadis itu mengulurkan tangannya, Arin menatap bingung uluran itu.
"Kau Arin bukan, aku Melinda, sepupuhnya Ardan!" ujar gadis itu yang ternyata Melinda.
"oh.. iya!" jawab Arin yang kini membalas uluran tangan itu kepadanya.
"Selamat atas pernikahan mu dengan Ardan meski itu sudah berjalan lama, aku tidak tau kalau pria itu akan menemukan seorang gadis seperti mu!" ucap Melinda kepada Arin.
"aah iya, terimakasih!" jawab Arin, meski tampak di wajah gadis itu terlihat bingung dengan perkataan Melinda kepadanya.
"mmh baiklah, aku pergi dulu!" ucap Melinda yang kini berlalu menghampiri keberadaan Farhan yang terlihat pria itu tengah asik mengobrol dengan Fian begitu juga pria lainnya.
Arin menatap intens sosok Ardan yang ternyata juga ikut berada di sana,namun saat dirinya tengah asik melamun seketika Sofia yang sedari tadi berada di sana, menatap kearah Arin yang kini masih melamun kan sesuatu.
bruk...
Deg...
__ADS_1
"Aa..Sofia?" tukas Arin kaget.
"apa yang kau lamunkan?" tanya Sofia.
"eng tidak ada apa apa!" jawab Arin kikuk.
"mmh baiklah!" sahut Sofia.
"Selamat atas pernikahan mu Sofia." ucap Arin kepada Sofia.
"hh, iya... Arin!" jawab Sofia.
Brukk..
Sofia seketika memeluk tubuh Arin, Arin yang merasa bingung kini gadis itu membalas pelukan itu kepadanya.
"Terimakasih atas semuanya, ku rasa aku tidak akan ada apa apanya jika di bandingkan kau." Tukas Sofia kepada Arin yang masih memeluk tubuh gadis itu.
"mmh.. tidak masalah, Sofia!" jawab Arin.
srek...
Sofia melepaskan pelukannya dan kini mereka berdua tertawa penuh kehangatan.
Namun di lain sisi Ardan dan Fian yang kini menatap kearah kedua gadis itu yang berdiri jauh dari sana.
Ardan begitu juga Fian kini mereka berdua beranjak menghampiri keberadaan gadis itu disana.
"eh!" gumam Arin dan Sofia bersamaan.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Fian kepada Sofia.
"tidak ada apa apa!" Jawab Sofia.
Fian menganggukan kepalanya dan kini menatap kearah Ardan yang ternyata pria itu juga menatap kearahnya.
Ardan seketika tersenyum penuh arti, entah apa yang kedua pria itu pikirkan saat ini, Arin dan Sofia menatap bingung kedua pria itu.
***
Pukul 21.00
Mereka semua kini beranjak pulang menuju kediaman mereka, Arin yang sudah berada di dalam mobilnya, dengan mata yang kini menatap kearah jauhnya seseorang yang kini berada di depan pintu hotel.
cklek...
Bamm... suara pintu mobil di tutup.
"sudah siap?" tanya Ardan yang sudah berada di dalam mobilnya.
"mmh sudah." jawab Arin.
Ardan bergegas melajukan mobilnya meninggalkan hotel itu dan berlalu menuju kediamannya.
__ADS_1