
Di kediaman Azhedra, kini mereka ber 4 telah tiba disana, Aziah beranjak keluar dari mobil dan di susul Nadia.
Arin yang masih berada di mobil bersama Ardan, hanya diam menatap jauh rumah itu, seraya berpikir apa yang akan terjadi kepadanya nanti.
"Sudah kita masuk sekarang!" ucap Ardan membuyarkan lamunan Arin.
Arin menganggukan kepalanya dan kini beranjak keluar mengikuti Ardan.
takk... tak...
suara langkah kaki, Ardan dan Arin kin mereka berdua telah berada di loby rumah.
namun di sana banyak sepasang mata yang menatap kearah datangnya mereka berdua.
Deg..
Liam yang juga berada disana melihat Arin yang kini di hadapannya, seketika bergumam.
***
"A Arin??" tukas Liam pelan melihat keberadaan Arin bersama Ardan di sana.
Fian yang hanya diam melihat kearah mereka kini bergumam di hatinya.
"gadis itu... ahh ternyata gadis yang ku lihat bersama Ardan di kantornya waktu itu, jadi... itu istrinya Ardan!" Batin Fian yang kini menatap Ardan dan juga Arin.
namun di sisi lain Arin yang dari tadi menatap kebawah kini pandangannya beralih menatap sosok Liam dan Fian yang berdiri disana, Arin terkesiap menatap kehadiran mereka berdua disana.
Arin seketika mengalihkan pandangannya melihat kearah Ardan yang kini berdiri di sampingnya dengan pandangan dingin menatap jauh kedepan.
"bukan kah mereka... orang yang pernah aku temui, apa jangan jangan mereka....." batin Arin seraya berpikir jauh tentang keluarga itu.
Tn Hendrik yang juga telah mengetahui kabar tersebut menatap kearah keduannya dengan tatapan dingin.
"apa yang ku dengar... ternyata putra ku menikahi gadis lain" ucap Tn Hendrik yang kini bersuara.
"ini alasan mu.. menolak untuk menikahi Nadia, hanya demi gadis itu?" Timpal Tn Hendrik lagi yang kini menatap kearah Arin.
"tidak... aku menolak Nadia bukan karena aku ingin menikahi gadis ini, tapi karena aku tidak mau lagi menjalin hubungan dengannya" ucap Ardan yang kini mulai berbicara.
"sudah cukup aku melihat gadis itu di kehidupanku!" Batin Ardan seraya menatap Nadia.
"apa kurangnya Nadia, dia gadis baik, dia bahkan memiliki usahanya sendiri Ardan, Nadia juga bisa menjagamu nanti." Ucap Aziah kepada Ardan.
"Ck.... menjaga ku, menurut mereka baik untuk ku hh menyedihkan sekali dirimu Ardan" batin Ardan memikirkan kejadian beberapa tahun silam saat dirinya bersama Nadia.
__ADS_1
"Gadis itu bahkan tidak tau mana yang namanya Cinta dan Ambisi, bahkan dirinya hanya tau harta dan harta, berpenghianat sepertinya, ingin mengahancurkan keluarga ku hh, jika aku tidak mengetahui hal itu, mungkin saat ini aku lah yang akan paling menderita" batin Ardan lagi seraya menatap kearah bawah.
"Ardan?" panggil Nadia yang kini memeluk tubuh itu, Ardan yang dari tadi hanya melamun.
kini tersadar mendapati dirinya di peluk oleh gadis itu, Ardan segera melepaskan pelukan itu dan seraya menatap tajam gadis itu.
"menjauh dari ku!" Ucap Ardan dengan tatapan tajam
"Ardan!!, seharusnya gadis itu yang menjauh dari mu bukan Aku!" Ucap Nadia yang kini menatap Arin dengan tatapan tak suka.
"ck.. sudah ku katakan, menjauh dari ku!!" ucap Ardan lagi yang kini sudah terlihat sangat marah.
"ARDAN??" teriak Aziah kepada Ardan.
"kenapa kau malah menyuruh Nadia untuk mejauhi mu, Apa gadis yang saat ini kamu nikahi.. bisa mencintai kamu?" Ucap Aziah dengan sedikit meninggikan nada suaranya.
Tn Hendrik hanya menatap diam putranya itu dan seraya berkata.
"sudahlah... lebih baik kamu tenangkan pikiran mu sekarang" ujar Tn Hendrik kepada istrinya.
Aziah segera berlalu pergi meninggalkan semua yang ada di sana, dan beranjak menuju kamarnya.
Liam yang masih berada di sana melihat semua situasi hari ini, segera berlalu pergi menuju balkon belakang rumahnya.
Arin hanya menatap lekat mereka berdua dan kini kembali tertunduk.
"ayo kita masuk" ucap Ardan seraya menarik tanggan Arin menuju kamar.
Nadia yang masih berada di sana menatap kepergian mereka dengan penuh amarah.
"Arggh... berani berani nya dia merebut Ardan dari ku ck" ucap Nadia dengan tubuh yang sudah bergetar menahan amarahnya.
Nadia berlalu pergi meninggalkan kediaman Azhedra dan menuju suatu tempat, ntah apa yang akan di lakukannya nanti.
***
Di sebuah kamar terlihat Arin yang kini berada di sebuah teras kamar, menatap jauh air yang terletak di belakang rumah itu.
Arin hanya diam terpaku memikirkan apa yang akan dirinya hadapi nantinya, mengingat kejadian yang baru saja menimpanya.
namun tanpa sadar ada sepasang mata yang kini menatapnya, dengan pandangan rasa bersalah di dalam hatinya.
"apa yang aku lakukan! Aku bahkan membuatnya terjebak dalam situasi seperti ini" ucap orang itu yang ternyata Ardan yang kini menatap punggung Arin yang masih berada di sana.
Ardan segera berlalu pergi meninggal kan kamar itu, Arin yang tadinya masih berdiam kini.
__ADS_1
beranjak keluar mencari sesuatu, namun saat dirinya hendak melangkah kan kakinya tiba tiba.
Cklek...
suara pintu terbuka, Arin seketika membulatkan kedua matanya melihat apa yang ada di hadapannya.
"L Liam!!" Ucap Arin yang kini menatap keberadaan Liam disana.
Liam menatap jauh mata itu yang kini tengah menatapnya.
tanpa basa basi Liam segera menarik Arin dan membawanya jauh dari sana, Di sebuah koridor terlihat Liam yang kini berada disana .
"L Liam?" Panggil Arin dengan gugup.
"katakan kepadaku?" Ujar Liam yang kini menatap Arin yang berada di hadapannya.
Arin hanya diam menatap pria itu dan tak mengerti arti dari perkataanya.
"katakana kepadaku? Kenapa bisa kau menikah dengan kakak ku?" timpal Liam lagi.
"eng....Li.." belum sempat Arin melanjutkan perkataanya, Liam memegang pundak Arin dan menatap jauh kearahnya.
"kenapa? Kenapa kau menikahi kakak ku? apa yang kau maksud membayar hutang itu, ada sangkut pautnya dengan kakak ku?" ucap Liam menerka.
Arin hanya menundukan kepalanya tak menjawab pertanyaan dari Liam.
"ck...demi hutang mu.. kau bahkan rela menikah dengan kakak ku, hh aku tidak menduga kau ternyata gadis yang mudah akan...uang".
PLAK...
satu tamparan tepat di pipih Liam.
Arin seketika terhentak kaget melihat apa yang terjadi.
"Jaga bicara mu Liam!!" Ucap orang itu yang ternyata juga berada di sana dan mendengar semua pembicaraan mereka.
"Ck..." Liam menatap keberadaan orang itu dan seraya tersenyum smrik.
"kenapa kau lakukan itu kakak? Kau bahkan menikahi gadis yang masih berumur 19 tahun!" Ucap Liam kepada orang itu yang ternyata Ardan.
"Liam.. jangan ikut campur urusan ku!" Ucap Ardan yang kini menatap Arin sekilas dan segera membawanya pergi dari sana.
Liam menatap nanar kepergian mereka seraya mengacak acak rambutnya.
__ADS_1