
***
pukul 07.12
Ardan dan Arin yang kini sudah selesai membersihkan tubuh mereka berdua, Arin yang memperhatikan Ardan yang lagi sibuk bersiap siap.
Kini gadis itu berlalu menghampiri keberadaan Ardan yang masih berdiri di belakangnya.
Serek...
Arin mengambil dasi Ardan yang masih terletak di atas sofa dan kini beralih memakaikannya di leher pria itu.
Ardan tersenyum dan kini menggendong Arin secara tiba tiba dan meletakan gadis itu di bangku kecil.
"eh..!" gumam Arin bingung.
"mas Ardan mau ngapain?" tanya Arin yang kini sudah berdiri di bangku kecil.
"kamu tu pendek, bagaimana cara kamu masangin mas dasi, jadi mas gendong kamu dan suruh kamu berdiri disini." ujar Ardan yang kini menatap kearah bawah.
Deg...
Arin seketika membulatkan kedua matanya dan seraya mengalihkan tatapannya kearah bangku kecil yang berada tepat di bawah kakinya.
Arin kini mengalihkan pandangannya menatap kembali pria itu, Ardan tersenyum melihat wajah Arin terlihat jengkel akibat ulahnya.
Arin memicingkan matanya menatap tajam Ardan yang masih menahan senyumnya.
Srek...
"ehh.. Sayang kamu ngapain?" tanya Ardan kepada Arin.
Yang kini menarik kuat Dasi itu dan beranjak turun dari bangku tersebut.
"Arin?" panggil Ardan kepada Arin yang kini berlalu menuju arah luar.
Ardan bergegas menghampiri gadis itu dan kini berdiri tepat di hadapan Arin.
Arin hanya menatap jengkel pria itu yang selalu mencari masalah kepadanya.
"maafin mas, mas cuma bercanda doang tadi!" ucap Ardan kepada Arin.
Arin hanya menatap diam pria itu dan seraya menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
Ardan seketika mengacungkan sebuah dasi meminta gadis itu untuk kembali memasangkannya.
"ffuthh...!" Arin seketika tertawa kecil.
Melihat wajah Ardan seperti itu.
"kamu kenapa?" tanya Ardan bingung.
"mas Ardan ternyata bisa juga minta maaf dengan wajah seperti itu haha!" ujar Arin yang masih tertawa.
Ardan seketika mengubah sikapnya kembali menjadi seperti biasa dan kini meminta gadis itu untuk memasangkan dasinya kembali.
__ADS_1
Arin mengambil dasi itu dan kini memasangkannya di leher pria itu.
Namun saat dirinya tengah pokus memasangkan dasi, seketika sebuah kecupan kini mendarat di bibir Arin, Arin sontak mengalihkan pandangannya menatap diam Ardan yang kini menatap senyum gadis itu.
"jangan marah lagi ya sayang!" ucap Ardan seraya tersenyum kepada Arin.
"Eng..!" gumam Arin yang tidak tau mau berbicara apa lagi.
Arin hanya terdiam paku menatap Ardan yang begitu manis terlihat dengan senyuman yang terukir di bibir pria itu.
Ardan membalas tatapan gadis itu dan seraya mendekatkan wajahnya ke wajah Arin, bahkan suara hembusan nafas pun terdengar begitu jelas di sana.
Ardan seketika mencium bibir Arin seraya memegang tekuk leher gadis itu dan memperdalam ciumannya, namun secara bersamaan, seketika pintu kamar itu terbuka.
Cklek...
"Kak?"
Deg..
Syut... spontan menghadap arah lain
"Apa yang ku lihat!" ucap orang itu yang ternyata Liam, yang kini membalikan tubuhnya secara spontan membelakangi Ardan dan Arin.
Ardan yang mendengar dirinya di panggil spontan menatap kearah orang itu yang tiba tiba masuk kedalam kamarnya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Namun tidak dengan Arin, tampak gadis itu terlihat sangat malu, dan kini membenamkan wajahnya di dada bidang Ardan.
"Memalukan sekali tertangkap basah seperti ini dua kali ck!' gumam Arin pelan.
Liam seketika membalikan tubuhnya menghadap kearah Ardan dan Arin berada.
"heheh.. maaf kak, aku kira kau sendirian di kamar!" Jawab Liam seraya terkekeh
"ck.. ada apa kau kemari?" tanya Ardan.
"hemm, nanti setelah kau pulang dari kantor Mamah sama Papah ingin kalian datang kerumah!" ujar Liam kepada Ardan.
"oh.. mmh baiklah!" jawab Ardan.
Ardan yang kini melihat kearah Arin yang berdiri agak jauh darinya dengan kepala yang masih menunduk malu, Ardan kini mengalihkan pandangannua kembali menatap Liam dan seketika pria itu bersuara.
"Lebih baik kau pulang sekarang!" pinta Ardan kepada Liam.
"eng.. kau mengusir ku kak?" ucap Liam tak percaya dengan apa yang dirinya dengar.
"ck..!" gumam Ardan dengan tatapan tajam.
"Hehe iya iya aku pulang sekarang, bye..!" ucap Liam seraya keluar dari kamar itu buru buru.
Ardan kini mengalihkan pandangannya menatap kembali Arin yang kini menatap kearah luar pintu kamar itu.
"sudah?" tanya Ardan kepadanya.
"eng..!" gumam Arin bingung.
__ADS_1
"Apa masih mau lanjut lagi hem!" ujar Ardan seraya tersenyum nakal kearah gadis itu.
Deg...
Arin seketika membulatkan kedua matanya dan seraya memikirkan kejadian yang memalukan yang menimpanya barusan.
"Buang jauh jauh otak mesum mu itu mas Ardan!" sahut Arin seraya berjalan menuju luar meninggalkan Ardan.
"haha.. tapi kamu suka kan!" sahut Ardan seraya tertawa kecil.
Arin menghentikan langkahnya dan kembali menatap pria itu dengan wajah cemberut.
Ardan semakin tertawa melihat wajah Arin yang benar benar memerah akibat ulahnya.
***
Pukul 09.00
Arin yang kini sudah bersiap siap untuk melanjutkan misinya mencari keberadaan Sofia saat ini yang tidak tahu kabar dari gadis itu.
di luar rumah.
Ardan yang kini berlalu pergi bersama Agus menuju perusahaan, namun selang beberapa menit kepergian Ardan tampak sebuah mobil hitam mewah memasuki perkarangan rumah itu.
Arin menatap diam keberadaan mobil tersebut dan tampak dari dalam mobil terlihat Yuan yang kini buru buru menghampiri keberadaan Arin yang masih berada di depan rumahnya.
"Selamat pagi Nyonya?" ucap Yuan kepada Arin.
"iya.. tunggu sebentar, mana Romi? ROMI??" ucap Arin seraya memanggil Romi.
Tampak dari arah pos, Romi kini beranjak menghampiri keberadaan Arin dan Yuan disana.
"Iya Nya?" sahut Romi yang kini sudah bersiap untuk ikut pergi.
"ehh tunggu sebentar!" ucap Arin yang kini kembali masuk kedalam rumahnya.
Sesaat dirinya sudah berada di dalam sana, Arin segera menghampiri Yeni dan Arka yang masih bermain berdua di ruang tamu.
Arka yang menyadari keberadaan Mamah nya seketika anak kecil itu beranjak dari tempat duduknya.
Arin yang menyadari Arka yang tiba tiba ingin berjalan sendirian spontan dirinya berlari menghampiri anak kecil itu dan dengan cepat menggendongnya.
"Heh..!" Gumam Arin yang kini menggendong Arka.
Arka tertawa melihat Arin yang kini menggendong tubuh kecil Arka.
"kau hampir membuat Mamah mu ini dimarahi oleh Papah mu!" ujar Arin yang kini menatap gemas wajah Arka.
"Oh ya Yen, kamu ikut saya ya!" ujar Arin kepada Yeni
"Baik Nya!" jawab Yeni seraya berlalu mengikuti majikannya itu dari belakang.
Di luar rumah Arin yang kini sudah tiba kembali disana, Arin segera meminta Romi untuk menghantarkan nya ke kediaman Azhendra.
__ADS_1