
"hemm, ya.. kau gadis yang mabuk yang hampir di lecehkan oleh seseorang waktu itu!" sahut pria itu mengingat sosok Arin.
Arin seketika teringat kembali beberapa bulan silam yang menimpa dirinya.
"ah jadi pria itu.. yang menyelamatkan ku dan teman ku waktu itu kau Tuan?" Ucap Arin tak percaya.
Pria itu seketika tersenyum kepada Arin yang kini mengingat dirinya.
"maaf kan aku, sungguh aku tidak terlalu melihat wajah mu, karena jalan itu cukup gelap, tapi.. aku berterimakasih kepadamu Tuan!" ucap Arin seraya tersenyum.
"ahh tidak perlu Nona, melihat mu baik baik saja aku senang." ucap pria itu kepada Arin.
Arin seketika terdiam mendengar perkataan pria itu kepadanya.
Srek..
Pria itu kini mengulurkan tangannya kearah Arin seraya memperkenalkan namanya.
"kenalkan namaku Ferdian Adnan!" ucap pria itu yang bernama Ferdi.
Arin spontan membalas uluran itu.
"Arin!" jawab Arin seraya memperkenalkan namanya.
"lebih baik kita masuk sekarang Nona!" ucap Ferdi kepada Arin.
"aa iya." jawab Arin yang kini beranjak masuk kedalam restoran itu.
***
di dalam Restoran Arin yang kini duduk seraya menunggu pesanannya dan di temani oleh Ferdi yang kini juga menunggu pesanannya.
Ferdi yang duduk di bangku yang terletak di samping Arin tampak pria itu sesering kali mencuri pandang kearah gadis itu.
"cantik!" gumam Ferdi yang masih menatap kearah Arin.
"Eng..!" gumam Arin yang kini menatap kearah Ferdi.
Deg..
Ferdi sontak mengalihkan pandangannya menatap kembali kedepan.
Tak lama seorang pelayan kini memberikan pesanan mereka berdua, Arin beranjak mengambil pesanan itu dan seraya membayarnya.
"terimakasih Nona!" ucap pelayan restoran itu kepada Arin.
"Hm iya!" ucap Arin yang kini menatap kearah Ferdi.
" Fer, aku duluan ya!" ujar Arin kepada Ferdi.
Srek..
Ferdi spontan menahan tangan Arin yang kini hendak menuju luar restoran
"ah.. maafkan aku, eng.. bisakah kita sering bertemu seperti ini Nona!" ucap Ferdi kepada Arin.
"eng..aku tidak janji Fer, mungkin bisa lain kali." ucap Arin kepada Ferdi.
"aku permisi dulu." timpal Arin yang kini beranjak menuju luar restoran.
Ferdi menatap senyum kepergian Arin yang kini telah jauh dari pandangannya.
__ADS_1
"ku harap bisa bertemu dengan mu lagi Arin!" gumam Ferdi.
***
pukul 16.20
Arin yang kini sudah tiba di kediaman mertuanya, Arin bergegas beranjak masuk kedalam rumah itu.
"Selamat soreh Nyonya, Tuan Ardan sudah menunggu Nyonya di kamarnya!" ucap Yeni kepada Arin.
"Tn Ardan udah pulang?" ucap Arin lagi.
"Iya Nyonya!" jawab Yeni.
"ah iya Yen, eng.. Arka nya mana?" tanya Arin kepada Yeni.
"Tuan muda Arka sama Nyonya besar Nya." jawab Yeni.
"oh baiklah..!" ucap Arin yang kini beranjak menaiki anak tangga seraya menuju kearah kamar yang dimana Ardan sudah menunggunya.
cklek..
Sret...
"mas Ardan?" panggil Arin pelan, seraya menatap kesana kemari mencari sosok Ardan.
"hemm!" sahut Ardan yang kini tiba tiba dari arah belakang Arin.
Deg..
"Aaa..!" teriak Arin terkejut akan kehadiran Ardan yang tiba tiba di belakangnya.
"mas Ardan ngagetin Arin aja." ucap Arin.
"eng.. ada urusan mendadak mas jadi Arin pulangnya telat dikit!" sahut Arin
"urusan? Urusan apa?" tanya Ardan penasaran.
"eng.. anu itu.. apa ya Arin lupa loh tadi!" ucap Arin bohong.
Ardan seketika mencondongkan tubuhnya menatap kedua mata Arin dengan penuh selidik.
"kamu gak bohong sama Mas kan?" tanya Ardan.
Arin seketika menelan ludahnya dengan kasar, seraya menatap takut mata pria itu.
"mas heran loh, sekarang kamu lebih suka keluar akhir akhir ini, kamu gak macam macam kan diluar?" ucap Ardan seraya bertanya.
"eng.. nggak kok mas, Arin cuma keluar jalan jalan aja kok." jawab Arin.
"hemm baiklah!" sahut Ardan yang kini berlalu menuju lantai bawah.
Arin beranjak mengikuti Ardan yang kini berlalu menuju lantai bawah.
Di lantai bawah Arin yang kini sudah tiba di sana, segera dirinya beranjak menghampiri Ardan yang kini berdiri tak jauh dari sebuah kolam seraya menggendong Arka.
Cuph..
Arin seketika mencium lembut pipih Arka.
"halo anak Mamah!" ucap Arin dengan suara anak kecil.
__ADS_1
Ardan yang masih mengendong Arka kini menatap senyum kearah gadis itu dan seraya menjawab perkataan Arin.
"Hallo Mamah!" ucap Ardan dengan suara anak kecil.
Arin seketika tersenyum dan kini beralih menatap Ardan, namun secara bersamaan tampak seorang wanita tua yang kini masuk kedalam rumah itu.
"Apa rumah ini tidak berpenghuni sama sekali?" ucap wanita tua itu yang kini berada tepat di ambang pintu rumah itu.
Arin dan Ardan spontan menatap kearah suara itu.
Deg..
Ardan seketika membulatkan kedua matanya menatap tak percaya dengan apa yang dirinya lihat.
"Kemana orang dirumah ini, kenapa mereka membiarkan rumah ini sepi seperti kuburan!" ucap wanita tua itu lagi.
"Mas Ardan itu siapa?" tanya Arin.
"N Nenek!" Gumam Ardan yang kini menatap tak percaya dengan apa yang dirinya lihat.
"AZIAH? HENDRIK? kemana orang orang ini?" gumam wanita tua itu.
"Apa mas Nenek?" ucap Arin yang kini menatap Ardan.
Ardan seketika bersuara memanggil wanita tua itu yang kini berada di pertengahan loby rumah.
"Nenek?" panggil Ardan kepada Wanita tua itu.
"Oh Ahen? Ternyata kau?" ucap Ardan.
"Nenek Ardan bukan Ahen!" ucap Ardan yang kini beranjak menghampiri Neneknya.
Arin seketika menatap bingung Ardan dengan apa yang wanita tua itu katakan.
"Ahen?" gumam Arin.
"Kemana Mamah mu Hen!" tanya Nenek kepada Ardan.
"huh.. Mamah..." belum sempat Ardan melanjutkan perkataanya seketika seseorang kini memanggil wanita tua itu.
"Mamah?" panggil Aziah kepada ibu mertuanya.
"Aziah.. anak ku apa kau baik baik saja?" Tanya ibu mertuanya kepada Aziah.
"Ziah baik Mah, kapan Mamah datang? kenapa tidak menelpon untuk meminta Liam atau Fian yang menjemput." ucap Aziah kepada ibu mertuanya.
"tidak.. aku tidak mau merepotkan cucu cucu ku, kalian pikir aku setua apa, aku bahkan masih kuat untuk berjalan jalan ke Mall!" ucap ibu mertuanya kepada Aziah.
Arin yang sedari tadi diam menatap kearah wanita tua itu yang kini menggunakan baju serba modis.
Arin seketika menatap bingung wanita tua itu yang merupakan Nenek dari suaminya.
"Ahh bahkan Nenek ku tidak berpenampilan seperti ini" batin Arin yang kini menatap Nenek itu dari ujung kepala hingga kaki.
"oh.. Ahen, siapa gadis itu?" tanya Nenek seketika yang kini menatap kearah Arin.
Ardan spontan menatap kearah Arin yang kini menatap kearah Nenek.
"eng.. Istri Ardan Nek!" jawab Ardan.
"oh.. Istri.. tunggu istri? sejak kapan kau menikah Ahen? Aziah kenapa kalian tidak memberitahuku kalau cucu ku Ahen sudah menikah?" tanya Nenek kepada Aziah.
__ADS_1