Terpaksa Menikahi Bos Kejam (Forced To Marry A Cruel Boss)

Terpaksa Menikahi Bos Kejam (Forced To Marry A Cruel Boss)
Kedatangan Nadia Lagi


__ADS_3

namun di lantai bawah Ardan yang sudah berada di sana kini dirinya di panggil oleh Tn Hendrik Ardan berjalan mendekati papahnya itu.


"ada apa Pah?" Tanya Ardan yang sudah berada disana.


"duduklah dulu, kenapa kau ini suka terburu buru untuk menanyakan masalah" ucap Tn Hendrik yang kini menyeruput kopinya.


Ardan segera duduk di salah satu sofa.


"sekarang apa?" Tanya Ardan lagi Fian,Liam begitu juga Aziah kini menggeleng pelan melihat tingkah Ardan yang tidak pernah berubah, selalu terburu buru...


"hem... " belum sempat Tn Hendrik melanjutkan perkataannya tiba tiba Ardan bersuara.


"cuma Hemm doang.. Pah Papah mau bicara apa?" Tanya Ardan seraya menyandarkan tubuhnya di sana.


"Papah belum selesai ngomong, kamu aja yang sudah berbicara duluan, begini... apa kamu sudah kerja sama dengan perusahaan 𝐆.𝐈 𝐆𝐫𝐨𝐮𝐩 ?" Tanya Tn Hendrik seketika.


"oh... itu... sudah" jawab Ardan singkat, Fian yang melihat Ardan seperti itu seketika bergumam


"ngidam apa Mamah waktu nih anak dalam kandungan, perasaan di tanya malah jawabnya singkatnya kebangetan" gumam Fian seraya memijat keningnya.


Tn Hendrik kini diam menatap Ardan yang hanya menjawabnya seperti itu.


"itu aja?" tanya Ardan balik.


"kalau begitu Ardan pergi dul.." belum sempat Ardan melanjutkan perkataanya dan beranjak ingin pergi, namun seketika Aziah berbicara.


"Ardan? Mamah ingin bertanya sama kamu?" tanya Aziah yang kini memulai pembicaraan.


Ardan seketika kembali duduk dan kini menatap kearah Mamahnya,


"hemm" gumam Ardan yang kini menatap Mamahnya.


"kalau Mamah ingin tau, dari mana kamu bisa ketemu sama gadis itu?" Tanya Aziah kepada Ardan.


"sudah.. Ardan duga, pasti Mamah akan bertanya perihal ini kan" ucap Ardan.


"jangan mengelak.. katakan" sahut Aziah kepada Ardan.


"dari... eng...Ardan juga lupa Mah.. dari mana" jawab Ardan seraya berpikir mengingat kejadian


Tn Hendrik dan yang lainnya seketika membuang nafas mereka dengan berat.


Aziah kini menatap kearah lantai atas terlihat Arin yang baru saja keluar dari dalam kamar Arin yang menyadari tatapan itu seketika menundukan kepalanya,


Ardan yang dari tadi hanya diam, kini beralih menatap kearah gadis itu.


"kenapa kamu disana, kemarilah" panggil Ardan yang masih menatap Arin di atas sana.


Arin menganggukan kepalanya dan kini turun kelantai bawah di mana Ardan dan yang lainnya berada disana,


Srek..


Bruk...

__ADS_1


Ardan menarik Arin duduk di sampingnya, Tn Hendrik, Aziah begitu juga Liam dan Fian, kini menatap kedua orang itu yang kini berada di hadapannya.


"kamu masak apa nanti?" Tanya Ardan seketika, yang kini membuat Arin menatap Ardan.


"bibi bisa masak untuk kita Ardan kenapa kamu menyuruh gadis itu untuk masak?" Tanya Aziah.. kepada Ardan,


"tidak mau.. Ardan hanya ingin makan masakan Arin saja" ucapnya lagi.


tak lama dari luar terdengar suara langkah kaki yang masuk kediaman keluarga Azhendra.


Seketika semua mata tertuju kearah sumber suara itu. Tampak dari ambang pintu terlihat seorang gadis yang kini berjalan memasuki rumah itu,


"Ck.. kenapa gadis itu kemari lagi" gumam Ardan seraya menyanggah kepalanya dengan tangan kanannya.


dan kini mengalihkan pandangannya melihat kearah lain, Arin yang sedikit bisa mendengar perkataan Ardan kini bergumam, dalam hatinya


"kenapa mas Ardan begitu tak menyukai gadis itu?" Batin Arin yang kini melihat kedatangan Nadia disana.


"hallo tante.. Hallo om, Kak Fian apa kabar dan bagaimana kabar mu Liam?" Ucap Nadia yang sok dekat dengan mereka


"seperti yang kau lihat, aku baik" jawab Liam cuek.


Fian hanya memalingkan wajahnya dan kini menatap jauh kearah Ardan dan Arin yang masih saling pandang satu sama lain.


"hemm" jawab Fian dingin.


"kak Fian.. sudah lama kakak tidak berkunjung kerumah, Papah sering menannyakan kakak" ucap Nadia yang terlihat sok akrab dengan Fian.


terlihat dari arah pandangan Ardan ada rasa penuh kebencian Fian yang menyadari hal itu hanya diam tanpa suara.


Nadia yang melihat tatapan Ardan seperti itu, kini dirinya mengambil kesempatan untuk membuat Ardan cemburu kepadanya.


srek..


Nadia seketika melingkarkan tangannya kelengan Fian, Fian yang mendapati dirinya seperti itu sontak kaget dan kini matanya menatap kearah Nadia.


"eh." Gumam Fian seraya mengundurkan kepalanya sedikit.


Aziah Tn Hendrik begitu juga Liam kini menatap heran tinggkah Nadia yang begitu manja kepada Fian.


Ardan dan Arin yang melihat kejadian itu hanya mentap Nadia dengan ekspresi biasa biasa saja.


"k kamu kenapa?" Tanya Fian bingung.


"kak.. nanti malam kerumah ku ya" ucap Nadia.


Fian menggelengkan kepalanya pelan, tak mengerti dari tindakan Nadia seperti itu.


Fian seketika beralih menatap Ardan namun wajah itu tampak biasa biasa saja.


"ck.. apa apaan gadis ini, berani beraninya dia memeluk kakak sulungku seperti itu" batin Liam yang duduk di samping Fian.


"Nadia?.. ada perlu apa kedatangan mu kemari?" Tanya Aziah kepada Nadia.

__ADS_1


"eng.. oh Nadia bawa sesuatu untuk tante dan yang lainnya" ucap Nadia seraya mengambil sebuah Boks makanan


"tante.. bisa Nadia pinjem dapurnya sebentar?" tanya Nadia kepada Aziah, Aziah menagnggukan kepalanya.


Nadia kini beranjak pergi menuju dapur dan diikuti oleh Aziah.


"Mamah mau kemana?" Tanya Liam yang melihat Aziah bangkit dari tempat duduknya.


"mau kedapur, sudah kalian kesana semua cepetan" ucap Aziah kini melanjutkan langkahnya.


dan kini diikuti oleh yang lainnya, Arin yang masih duduk disana.


seketika Ardan kini menarik tangan itu untuk membawanya ikut bersamanya.


"eh.." gumam Arin yang tiba tiba di tarik begitu saja,.


didapur kini tampak mereka semua telah berkumpul disana, Nadia yang juga berada disana.


kini tampak sibuk membuka boks makanan seraya mengeluarkannya.


"kamu yang masak Nad?" Tanya Aziah kepada Nadia yang masih sibuk mengeluarkan makanan,


"iya tante" jawab Nadia bohong yang sebenarnya mamahnya lah yang memasak bukan dirinya.


kini pandangannya beralih menatap Arin yang berada di samping Ardan.


dengan senyuman penuh kemenangan.


"tante boleh nyoba Nad?" Tanya Aziah kepada Nadia,


"boleh tante" ucap Nadia.


tak lama Aziah kini mencicipi makanan itu begitu juga Tn Hendrik Liam dan Fian ikut mencicipi, namun tidak dengan Ardan dan Arin yang masih duduk diam di meja makan.


"ehm.. ini enak Nad, kamu pandai masak" ucap Aziah kepada Nadia, Ardan kini beralih menatap sang Mamah namun masih dengan pandangan biasa biasa saja.


"Ardan kamu coba, ini kan masakan kesukaan kamu?" Ucap Aziah kepada putranya.


"Arin.. saya mau makan, tolong kamu masakin saya sesuatu" ujar Ardan tak menyahuti perkataan Mamahnya.


Nadia dan yang lainnya kini menatap heran Ardan, padahal Nadia membuat makanan kesuakaannya itu.


"eng..." gumam Arin bingung.


"Ardan?" Panggil Aziah kepada Ardan yang masih diam disana seraya memainkan ponselnya.


Arin segera beranjak dari tempat duduk dan menuju meja kompor, memasak makanan untuk Ardan.


Aziah dan yang lainnya kini beralih menatap Arin yang berjalan menuju meja kompor seraya mengikat rambutnya di sanggul tinggi.


Ardan kini manatap gadis itu dengan senyuman yang terukir di bibirnya.


__ADS_1


__ADS_2