Terpaksa Menikahi Bos Kejam (Forced To Marry A Cruel Boss)

Terpaksa Menikahi Bos Kejam (Forced To Marry A Cruel Boss)
Kedatangan Sofia.


__ADS_3

"eng.. itu Mah, anu.. kami tidak sempat memberitahu Mamah soal pernikahan Ardan, pernikahan Ardan juga mendadak Mah." ucap Aziah.


Wanita tua itu seketika menatap Arin lekat dan seraya beranjak mendekati gadis itu.


Srek..


Bruk..


Deg...


Seketika wanita tua itu memeluk lembut tubuh Arin, sontak semua mata kini menatap tak percaya dengan apa yang mereka lihat.


"Cantik istri mu Ahen, ternyata kau pandai dalam memilih seperti Papah mu! Sayang siapa nama mu nak?" Ucap Nenek seraya bertanya kepada Arin.


"Arin Nyonya!" ucap Arin canggung.


"hei.. jangan panggil aku dengan sebutan Nyonya, panggil saja Nenek sama seperti Ahen memanggil ku Nenek." ujar wanita itu kepada Arin.


"heh. I iya Nenek!" ucap Arin canggung.


"Aziah.. aku akan menginap selama satu bulan disini!" Ujar Nenek kepada Aziah.


"Eng.. baiklah Mah." Sahut Aziah.


"tunggu siapa anak kecil ini?" tanya Nenek lagi kepada mereka semua, yang kini menatap kearah Arka yang berada di gendongan Ardan.


"eng.. anak Ardan Nek!" sahut Ardan lagi.


"bahkan kau juga sudah punya anak Ahen?" ucap Nenek yang kini menatap tak percaya kearah Arka.


"oh.. cicit oma, kau mirip sekali seperti Papah mu waktu kecil!" ucap Nenek kepada Arka seraya mencium pipih chabi Arka.


tak lama dari arah luar terlihat Tn Hendrik, Liam dan Fian kini memasuki rumah itu.


"Loh.. Mamah?" panggil Tn Hendrik yang kini melihat kearah Mamahnya.


"Nenek?" ucap Liam dan Fian bersamaan.


Mereka bertiga kini menghampiri keberadaan wanita tua itu yang kini tengah menggendong Arka seraya memanjakan anak kecil itu.


"Mamah?" panggil Tn Hendrik kepada Mamahnya.


"Oh.. Hendrik! kau sudah pulang?" ucap wanita tua itu kepada Hendrik.


"iya Mah, kapan Mamah tiba?" tanya Tn Hendrik.


"baru saja Mamah tiba!" jawab Wanita tua itu.


"Nenek!" panggil Liam dan Fian secara bersamaan.


Liam dan Fian kini memeluk lembut Neneknya itu.

__ADS_1


"Lebih baik kita duduk sekarang, Bik Yan tolong bawakan teh untuk kita ya!" ucap Aziah, seraya meminta Bibik Yan untuk menyiapkan minuman untuk mereka semua.


"Kakak ipar, kenapa kau begitu terlihat bingung?" tanya Liam yang kini menatap kearah Arin seraya berjalan di sampingnya.


"hemm, Liam kau tau kenapa Nenek memanggil Mas Ardan dengan nama Ahen?" tanya Arin yang ternyata masih memikirkan nama itu.


"oh.. Ahen itu panggilan kesayangan Nenek kepada Kakak kedua, karena kak Ardan terlihat lebih kecil dari pada kami berdua!" ucap Liam seraya tertawa kecil.


Ardan seketika menatap kearah Arin dan Liam yang kini berjalan di belakangnya.


"Beraninya kau mengataiku kecil?" ucap Ardan yang kini menatap tajam Liam.


"heheh.. kakak ipar aku duluan ya!" Ucap Liam seraya berlalu terlebih dahulu.


Arin tersenyum dan kini menganggukan kepalanya, namun di lain sisi Ardan yang kini menatap kepergian Liam seketika dirinya menatap kembali keberadaan Arin yang kini masih tersenyum mendengar perkataan Liam barusan.


"mas Ardan kenapa?" tanya Arin yang kini menatap Ardan.


"kamu ketawain mas?" tanya Ardan.


Arin menggelengkan kepalanya pertanda jawaban darinya, namun secara bersamaan tampak dari luar terlihat seorang wanita yang kini beranjak menuju kedalam rumah itu.


Arin yang hendak berbicara seketika dirinya terhenti, menatap datangnya seseorang yang kini berada di ambang pintu rumah.


Ardan yang masih menatap kearah Arin yang kini menatap kearah lain, seketika dirinya mengikuti arah pandang gadis itu.


Deg...


Sontak Fian dan yang lainnya menatap kearah Ardan yang menyebut nama Sofia, Fian yang kini duduk di antara keluarganya spontan dirinya beranjak bangun dari sana seraya menatap kearah pintu yang dimana disana terlihat seorang gadis.


"S Sofia?" gumam Fian yang kini menatap keberadaan gadis itu yang selalu dicarinya.


Di lain sisi Sofia yang kini menatap keberadaan Arin dan Ardan seketika dirinya menatap kearah seorang pria yang kini berada jauh dari hadapannya.


Sofia menatap diam keberadaan mereka yang kini dirinya tidak tau mau berbuat apa.


Arin segera menghampiri Sofia yang kini tampak di wajah gadis itu terlihat sangat gugup.


"Sofia?" panggil Arin kepada Sofia.


"eng..!" gumam Sofia yang kini menatap kearah Arin yang berdiri di sampingnya.


"Kau sudah tiba?" ucap Arin lagi.


Sofia menganggukan kepalanya pertanda jawaban dari gadis itu.


"Fian? siapa gadis itu?" Tanya Nenek yang kini beralalu menuju ketengah loby rumah seraya menatap jauh keberadaan Sofia.


Ardan dan Fian seketika terdiam mematung tak berani menjawab perkataan dari sang Nenek.


Ardan seketika melangkahkan kakinya menghampiri Arin dan kini membisikan sesuatu kepada gadis itu.

__ADS_1


"Sayang ikut mas sebentar!" pinta Ardan kepada Arin.


"tapi Mas Sofia?" ucap Arin.


"ikut sebentar saja!" pinta Ardan lagi.


yang kini menarik Arin menuju kearah belakang tangga seraya berbicara kepada gadis itu.


"Mas mau tanya, bagaimana Sofia bisa kemari?" tanya Ardan.


"Eng..!" ucap Arin yang kini tak berani bersuara.


"Apa kamu selama ini mencari Sofia? jadi selama ini kamu izin sama mas buat ketemu Sofia?" tanya Ardan lagi.


"Eng.. Mas, Arin hanya ingin.. membantu saja!" jawab Arin.


"huh.. Arin!" gumam Ardan seraya memijat keningnya.


"Mas Ardan kenapa?" tanya Arin.


Ardan tak menyahuti perkataan Arin melainkan kini menatap gadis itu dalam diam.


"Siapa yang bantu kamu mencari Sofia?" tanya Ardan seketika.


"eng.. Yuan sama Romi Mas!" jawab Arin.


"bukannya Mas melarang kamu buat membantu mencari Sofia, tapi... bagaimana caranya jika nanti Nenek mengetahui hal itu, Fian akan dalam masalah besar jika Nenek tau soal gadis yang dihamilinya!" Ujar Ardan yang kini menatap jauh kearah luar.


"eng... Mas maafin Arin seharusnya Arin tidak..." ucap Arin yang kini menggantungkan kalimatnya.


Namun saat mereka tengah berbicara seketika suara penuh amarah kini menggema di rumah itu.


"FIAN? KAMU TAU APA YANG KAMU LAKUKAN?" ucap Nenek yang kini menatap penuh amarah kepada Fian.


Deg..


Tn Hendrik, Liam begitu juga Aziah seketika beranjak bangun dari tempat duduk mereka seraya menatap jauh kearah Fian yang kini berdiri di samping gadis itu.


Namun di lain sisi Ardan dan Arin yang masih berada di belakang tangga spontan kini menatap kearah luar yang dimana kini Nenek tengah memarahi Fian.


"Nenek.. maafin Fian, Fian tau ini kesalah dari Fian, tapi Fian akan bertanggung jawab Nenek!" ujar Fian yang kini berdiri di dekat Sofia.


Nenek tak menyahuti perkataan dari Fian melainkan kini wanita itu melangkah kan kakinya menghampiri dimana pria itu berada.


Trak... trak... suara langkah kaki yang menghampiri


PLAK... satu tamparan tepat di wajah kiri Fian.


Deg...


Sontak semua mata kini tertuju kepada Fian yang masih berdiam diri disana.

__ADS_1



__ADS_2