Terpaksa Menikahi Bos Kejam (Forced To Marry A Cruel Boss)

Terpaksa Menikahi Bos Kejam (Forced To Marry A Cruel Boss)
Marah tapi sayang


__ADS_3

Arin seketika terdiam bingung mendengar perkataan pelayan itu.


"memang ada promo seperti itu?" batin Arin yang kini wajahnya terlihat bingung.


"wah.. Arin bukankah ini sebuah keberuntungan, kita mendapatan promo disini, lebih baik kita kasih saja nomor mu kepadanya!" ujar Fina.


"Ah.. eng baiklah!" Sahut Arin yang kini mengambil kertas dan bolpoin di tangan pelayan itu.


Seraya mencatat nomornya disana.


"ini mbak!" ucap Arin kepada pelayan itu seraya mengembalikan kertas dan bolpoin kepada pelayan tersebut.


"makasih Nona, saya permisi dulu!" ucap pelayan itu kepada Arin seray berlalu menuju arah dapur.


Arin menganggukan kepalanya dan kini kembali menikmati makanannya seraya mengobrol satu sama lain menghabiskan waktu mereka disana.


pukul 20.00


Arin dan Fina yang kini mereka sudah selesai makan malam disana, Arin yang kini berencana menelpon Ardan untuk memberitahukan keberadaannya.


Namun saat dirinya ingin menelpon Ardan, seketika ponsel Arin mati begitu saja.


Arin membuang nafasnya dengan berat dan kini menaruh kembali ponselnya di dalam dompetnya dan beranjak menuju meja kasir untuk membayar pesanannya.


Selang beberapa menit Arin yang sudah selesai membayar dan kini berlalu pergi menuju luar restoran itu bersama Fina.


Saat mereka berdua telah berada di luar restoran Arin bernajak menuju arah jalan tol seraya memanggil taxi untuk mereka berdua pulang.


Taxi tersebut kini menghantarkan Arin dan Fina kerumah mereka masing masing, Arin yang kini sudah tiba di rumahnya beranjak keluar dari taxi tersebut seraya membayar untuk mereka berdua.


"loh Rin!" ucap Fina kepada Arin yang melihat gadis itu membayar lebih.


"anggap saja hadiah yang sudah nemenin aku makan malam di luar, bye hati hati ya Fin!" ucap Arin kepada Fina.


Fina tersenyum seraya melambaikan tangannya.


tak lama taxi itu kembali melajukan mobilnya meninggalkan rumah itu.


Arin yang masih berada di sana menatap jauh kepergian sahabatnya itu.


Arin segera beranjak menuju kearah dalam rumah, namun saat dirinya telah berada di loby rumah.


seketika Arin di kejutkan dengan kehadiran Ardan yang kini berdiri di barisan anak tangga seraya menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


dengan tatapan tajam kearah gadis itu.


deg..


Arin yang menyadari Ardan tengah menatapnya seperti itu, Arin seketika terdiam tak berani bersuara.


trak.. trak..

__ADS_1


suara langkah kaki yang menuruni anak tangga.


Ardan beranjak dari sana seraya berjalan menghampiri Arin yang masih berdiam disana.


"Eng.. mas Ardan?" panggil Arin kepada Ardan.


"mmh.. dari mana saja kamu?" tanya Ardan kepada Arin dengan tatapan penuh selidik.


"eng.. habis dari luar mas!" jawab Arin.


"sama siapa? kenapa telpon mas gak kamu angkat? kamu tahu jam berapa sekarang?" Tanya Ardan kepada Arin.


"mas, Arin bukan anak kecil loh!" ujar Arin kepada Ardan.


"jangan ngalihin topik, mas tanya sama kamu?" ujar Ardan seraya bertanya.


"Arin kan udah bilang sama mas Ardan, Arin perginya sama Fina." jawab Arin.


"huh..!" gumam Ardan seraya memijat keningnya dengan pelan.


"Mas Ardan kenapa?" tanya Arin bingung.


"Arka dari tadi nangisin kamu loh, mas coba nelpon kamu, tapi ponsel kamu malah gak aktif!" ujar Ardan yang kini kembali menatap kearah Arin.


"M maaf mas, ponsel Arin mati tadi!" Jawab Arin kepada Ardan dengan ekspresi seperti anak kecil.


"hem yasudah kamu ganti dulu baju kamu." ucap Ardan yang kini berlalu menuju arah dapur.


Arin menganggukan kepalanya dan seraya menatap Ardan yang berlalu menuju dapur.


"Mas mau bikinin Arka susu!" jawab Ardan kepada Arin.


Arin tersenyum dan bergegas beranjak naik menuju kamarnya.


***


Di dalam kamar Arin yang kini sudah tiba di dalam sana, gadis itu bergegas menuju kamar mandi dan segera membersihkan tubuhnya yang sudah terasa lengket.


Selang beberapa menit terlihat dari arah pintu kamar mandi, Arin yang kini sudah selesai mandi, dan hendak menghampiri keberadaan Arka.


Arin beranjak menuju keruang kantor pribadi Ardan, tampak dari dalam sana terlihat anak kecil itu yang kini tengah berada di pangkuan sang Papah seraya meminum susunya.


Arin berjalan masuk kedalam ruangan itu dan kini menghampiri keberadaan Ardan dan Arka disana.


"Mas Ardan belum tidur?" tanya Arin kepada Ardan.


"belum, masih ada tugas kantor yang harus mas kerjakan dulu!" jawab Ardan.


"hmm sini biar Arka sama Arin saja, mas Ardan lanjut kerja aja dulu!" ucap Arin seraya mengambil Arka di pangkuan Ardan.


Arin menggendong Arka seraya membawa anak kecil itu menuju sebuah sofa yang tak jauh dari sana. Dan seraya menidurkan Arka.

__ADS_1


"oh ya mas, tadi dikantor mas Ardan kemana?" tanya Arin seketika.


"eng.. !" gumam Ardan yang kini menatap kearah Arin.


"tadi Arin kesana cari mas Ardan, tapi saat Arin lihat di ruangan mas Ardan cuma ada Sekretaris mas Ardan doang." Jelas Arin kepada Ardan.


"loh kok mas gak tau kamu ke perusahaan hari ini." sahut Ardan yang kini menatap kearah laptopnya.


"Arin udah kasih tau sama Sekretaris mas Ardan kok!" ucap Arin kepada Ardan.


"tapi Cristin nggak ada bilang sesuatu sama mas." sahut Ardan.


"hemm?" gumam Arin bingung, yang kini menatap kearah Ardan yang masih menatap kearah laptopnya.


"mungkin saja dia lupa!" timpal Ardan lagi.


Arin seketika memicingkan matanya menatap kearah suaminya itu yang masih pada posisi yang sama masih menatap laptopnya.


"oh.. lupa, bahkan Arin saja nggak di izinin loh buat nunggu mas Ardan di ruangan suami Arin sendiri!" ucap Arin yang terlihat jengkel.


Mengingat sikap Cristin kepada dirinya tadi soreh.


Ardan seketika mengalihkan pandangannya kearah Arin dan kini menatap intens wajah gadis itu.


"eng..!" gumam Ardan tak percaya mendengar perkataan Arin barusan.


"kenapa? mas Ardan tidak percaya? gak papa kok mas... Arin baik baik aja kok di gituin sama Sekretaris pribadi nya mas Ardan." ucap Arin dengan senyum paksa dan seraya beranjak dari sofa dan berlalu menuju luar ruang pribadi Ardan.


Ardan yang dari tadi menatap Arin, seketika dirinya menghentikan pekerjaanya dan kini berlalu menyusul Arin yang sudah berada di tempat tidurnya.


Ardan berjalan menghampiri Arin yang kini duduk di tempat tidur nya.


"sayang?" panggil Ardan kepada Arin.


"mmh." jawab Arin tanpa mengalihkan pandangannya.


"kamu marah sama mas?" tanya Ardan yang kini duduk di sana.


"nggak kok, untuk apa juga Arin marah sama mas Ardan!" jawab Arin yang kini meletakan ponselnya yang masih di cas di atas meja.


"Ya kamu gak marah, tapi.... kamu kesal kan sama mas." ucap Ardan.


Arin seketika mengalihkan pandangannya yang kini menatap lekat wajah pria itu yang masih menatap dirinya.


***


#๐‘จ๐’–๐’•๐’‰๐’๐’“#


โ™ก๏ธŽโ™ก๏ธŽโ™ก๏ธŽโ™ก๏ธŽโ™ก๏ธŽ


๐‘š๐‘Ž๐‘˜๐‘Ž๐‘ ๐‘–โ„Ž ๐‘๐‘ข๐‘Ž๐‘ก ๐‘˜๐‘Ž๐‘™๐‘–๐‘Ž๐‘› ๐‘ฆ๐‘Ž๐‘›๐‘” ๐‘ข๐‘‘๐‘Žโ„Ž ๐‘š๐‘Ž๐‘ข ๐‘˜๐‘Ž๐‘ ๐‘–โ„Ž ๐‘ ๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘Ž๐‘› ๐‘ ๐‘Ž๐‘š๐‘Ž ๐‘˜๐‘Ÿ๐‘–๐‘ก๐‘–๐‘˜๐‘Ž๐‘›, ๐‘š๐‘Ž๐‘˜๐‘Ž๐‘ ๐‘–โ„Ž ๐‘—๐‘ข๐‘”๐‘Ž ๐‘๐‘ข๐‘Ž๐‘ก ๐‘˜๐‘Ž๐‘™๐‘–๐‘Ž๐‘› ๐‘ฆ๐‘Ž๐‘›๐‘” ๐‘ข๐‘‘๐‘Žโ„Ž ๐‘š๐‘Ž๐‘š๐‘๐‘–๐‘Ÿ ๐‘ข๐‘›๐‘ก๐‘ข๐‘˜ ๐‘๐‘Ž๐‘๐‘Ž ๐‘๐‘’๐‘Ÿ๐‘–๐‘ก๐‘Ž ๐‘Ž๐‘ข๐‘กโ„Ž๐‘œ๐‘Ÿ ๐‘š๐‘Ž๐‘Ž๐‘“ ๐‘˜๐‘Ž๐‘™๐‘Ž๐‘ข ๐‘๐‘’๐‘Ÿ๐‘–๐‘ก๐‘Ž๐‘›๐‘ฆ๐‘Ž ๐‘˜๐‘ข๐‘Ÿ๐‘Ž๐‘›๐‘” ๐‘š๐‘’๐‘š๐‘ข๐‘Ž๐‘ ๐‘˜๐‘Ž๐‘› ๐‘Ž๐‘ก๐‘Ž๐‘ข ๐‘˜๐‘ข๐‘Ÿ๐‘Ž๐‘›๐‘” ๐‘š๐‘’๐‘›๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘–๐‘˜ ๐‘๐‘’๐‘Ÿโ„Ž๐‘Ž๐‘ก๐‘–๐‘Ž๐‘›.

__ADS_1


๐ด๐‘ข๐‘กโ„Ž๐‘œ๐‘Ÿ ๐‘๐‘Ž๐‘˜๐‘Ž๐‘™๐‘Ž๐‘› ๐‘ข๐‘ ๐‘Žโ„Ž๐‘Ž๐‘–๐‘› ๐‘š๐‘’๐‘š๐‘๐‘’๐‘Ÿ๐‘–๐‘˜๐‘Ž๐‘› ๐‘ฆ๐‘Ž๐‘›๐‘” ๐‘ก๐‘’๐‘Ÿ๐‘๐‘Ž๐‘–๐‘˜ ๐‘๐‘ข๐‘Ž๐‘ก ๐‘˜๐‘Ž๐‘™๐‘–๐‘Ž๐‘› ๐‘๐‘’๐‘š๐‘๐‘Ž๐‘๐‘Ž!


โ™ก๏ธŽโ™ก๏ธŽโ™ก๏ธŽโ™ก๏ธŽโ™ก๏ธŽ


__ADS_2