
"mmh!" sahut Ardan, yang sibuk membuka bajunya dengan mata menatap kearah bayangan gadis itu dari cermin.
"Kamu habis mandi?" tanya Ardan yang masih menatap bayangan Arin di cermin.
"mmh iya Mas!" jawab Arin.
Ardan spontan membalikan tubuhnya menghadap kearah Arin dan beranjak menghampiri keberadaan gadis itu yang masih sibuk mencari bajunya.
Srek..
Ardan tiba tiba mengeluarkan sebuah kotak berwarna merah, dan membuka kotak tersebut, tampak di dalam kotak itu, terdapat sebuah kalung berlian, Ardan mengeluarkan kalung itu dan kini memakaikannya di leher Arin.
Arin menatap paku kalung itu yang kini berada di lehernya.
"jangan di lepas, kamu cantik memkainya!" ujar Ardan kepada Arin.
Arin menganggukan kepalanya seraya tersenyum menatap Ardan dari cermin di hadapan mereka berdua.
***
Waktur terus berlalu, malam sudah berganti pagi, di sebuah kamar cukup megah, terlihat seorang gadis dengan menggunakan gaun pengantin yang kini tengah duduk di sebuah meja rias dengan di temani beberapa wanita di dalam sana.
Sofia, yang kini tampak dari wajah gadis itu terlihat sangat gugup.
"huh..!" gumam Sofia membuang nafasnya dengan berat.
Tek tok..
waktu kini sudah menunjukan pukul 09.00, Sofia yang masih berada di dalam kamar itu, namun saat di waktu yang bersamaan Arin yang kini memasuki kamar itu dengan wajah senyum kehangatan menatap Sofia dari cermin.
"kau sudah siap?" tanya Arin kepada Sofia.
"eng... " gumam Sofia dan kini menganggukan kepalanya pelan.
Srek..
"baiklah.. kita keluar sekarang, jangan khawatir kau akan baik baik saja." tukas Arin menenangkan pikiran Sofia.
"terimakasih, kau selalu seperti ini, membuat ku lega meski dalam keadaan apapun." ucap Sofia tersenyum.
Arin membalas senyuman tersebut, dan segera dirinya membawa Sofia menuju altar pernikahan.
trak.. trak...
Mereka berdua berjalan menelusuri koridor hotel yang kini menuju sebuah ruang yang dimana di sana sudah ada puluhan tamu yang menunggu kedatangan pengantin wanita.
Sofia menatap kesana kemari, dengan wajah terlihat gelisah.
"Arin.. aku takut." ucap Sofia seketika.
"tenangkan dirimu, ini akan berlansung dengan cepat, percayalah.." ucap Arin lagi.
Trak..
Di pertengahan, Sofia yang kini berdiri di sana dengan wajah menatap kearah seorang pria yang telah bediri jauh di hadapannya, tampak terlihat di wajah pria itu ada senyuman yang terukir di bibirnya.
Sofia menghembuskan nafasnya dan membuangnya.
__ADS_1
Srek..
"ehh?" gumam Sofia bingung.
"hallo tante, aku Miden keponakan dari om Fian sama om Ardan, aku di minta om Ardan untuk berjalan bersamamu!" Ucap Miden Clyter.
"aku juga tante, namaku Meldy Clyter.. saudara kembar Miden aku juga akan menemanimu berjalan menuju altar!" ucap Meldy kepada Sofia.
Sofia seketika tertawa kecil melihat tingkah lucu kedua pria kecil itu yang kini berdiri di sisinya.
Sofia menganggukan kepalanya dan segera melangkah kan kakinya menuju altar.
srek..
Spontan semua tamu undangan kini berdiri dari tempat duduk mereka, menatap senyum kearah Sofia yang berjalan di tengah tengah tamu undangan dan diikuti Miden dan Meldy di sisinya.
Tap..
Sofia yang sudah berada tepat di sana, dengan mata yang kini menatap intens Fian yang masih menatap senyum dirinya.
Srek..
Fian seketika mengulurkan tangannya kearah Sofia, sontak Sofia membalas uluran itu dan kini berjalan menghampiri Fian.
srek..
suara para tamu yang kini duduk kembali di bangku mereka masing masing.
“pendeta: Maka tibalah saatnya untuk meresmikan perkawinan saudara. Saya persilahkan saudara masing-masing menjawab pertanyaan saya:
Fian : Ya, saya mau.
pendeta : ……..(Sofia kalysa), maukah saudara menikah dengan ……..(Fian Azhendra) yang hadir di sini dan mencintainya dengan setia seumur hidup baik dalam suka maupun dalam duka?
Sofia: Ya, saya mau.”
"Baiklah sekarang kalian sudah resmi menjadi pasangan suami dan istri, semogah kalian di berkati dalam hubungan ikatan suci ini." ucap pendeta itu kepada Fian dan Sofia.
Prok..
prok....
Suara meriah tepukan tangan dari ruangan itu, yang kini menatap kebahagian kedua pasangan itu.
"akhirnya resmi juga!" Ucap Arin yang masih menatap keduanya itu.
Bruk..
Deg..
Ardan seketika merangkul tubuh Arin yang kini berdiri di sampingnya.
"maaf!" ucap Ardan kepada Arin.
"kenapa minta maaf, emang Mas Ardan punya salah sama Arin?!" tanya Arin bingung.
"banyak banget malah!" jawab Ardan yang masih menatap lekat kedua mata gadis itu.
__ADS_1
"eng..!" gumam Arin.
"Apa kamu mau menikah dengan Mas, Arin?" tanya Ardan tiba tiba.
"loh.. kita udah nikah loh Mas, mau nikah berapa kali coba!" sahut Arin.
"haha.. tapi kita cuma nikah di gereja aja kan, itu pun tanpa adanya persiapan!" Jelas Ardan.
"ck.. Mas, Arin gak keberatan kok, Arin gak berharap semewah apapun itu, yang Arin inginkan cuma saling setia satu sama lain itu aja kok Mas." ucap Arin kepada Ardan.
Ardan yang mendengar perkataan dari Arin seketika dirinya tersenyum lembut dan.
Deg..
satu ciuman mendarat tepat di bibir gadis itu.
"mmh.. baiklah, jika kamu tidak mau, berarti.. kali ini honeymoon gak boleh nolak!" ujar Ardan.
"apa? honeymoon?, Mas.. kita juga udah punya anak loh Mas, buat apa lagi honeymoon segala!" Sahut Arin tak percaya dengan apa yang dirinya dengar.
"Terus pekerjaan Mas Ardan gimana? perusahaan kan perlu di pantau Mas?" timpal Arin lagi.
"tidak masalah, Mas udah urus semuanya, Mas minta Liam untuk jadi Direktur sementara di G.A group dan soal pekerjaan yang lainnya Mas minta Gibran yang Handle!" jawab Ardan dengan penuh kepercayaan.
"hah!" gumam Arin tak bisa berbicara sepata kata pun lagi.
"baiklah.. kalau begitu, kapan Mas Ardan mau perginya?" tanya Arin.
"besok siang!" jawab Ardan tanpa bersalah.
"APA?" sahut Arin terkejut.
Deg...
sontak semua mata kini menatap kearah Arin yang masih duduk di bangkunya.
"kamu kenapa teriak sih yang?" tanya Ardan.
"Mas Ardan kok gak kompromi dulu sih, Arin belum siap siap juga, malah besok lagi berangkatnya!" gerutu Arin.
"kamu tenang saja, gak usah bawa banyak pakaian disana, kalau kamu butuh sesuatu nanti kita beli di sana aja." jelas Ardan.
"lalu bagaimana dengan Arka?" tanya Arin lagi.
"Romi sama Yeni juga ikut untuk jagain Arka disana!" jawab Ardan kesekian kalinya.
Arin membuang nafasnya dengan kasar, tak percaya dengan apa yang dirinya dengar.
***
Brukk
"selamat ya Kak Fian, gak lajang lagi akhirnya!" tukas Jeray kepada Fian, yang masih memeluk tubuh pria itu.
"lalu, kapan kau menyusul ku, Aku sudah menikah, Ardan bahkan sudah punya momongan, sekarang waktunya kau bukan!" ujar Fian kepada Jeray.
__ADS_1