
...#๐ฆ๐จ๐ก๐จ๐ง ๐๐๐๐ ๐๐๐ง๐ ๐๐ง ๐๐ข๐ฃ๐๐ค ๐๐ซ๐๐ 21+...
"Mmh!" sahut Ardan dengan suara khas mabuk.
"Mas Ardan, Mas Ardan minum?" tanya Arin.
"Mas cuma minum sedikit aja!" jawab Ardan dengan masih posisi yang sama. Dengan tangan yang menunjuk kearah meja yang dimana terdapat dua botol anggur.
"Mas Ardan minum itu sendirian?" tanya Arin tak percaya.
"tidak, Mas minumanya sama Fian!" Jawab Ardan.
Srek..
Arin spontan memegangi tubuh Ardan dan menuntunya menuju tempat tidur.
Bruk...
Arin merebahkan tubuh Ardan di atas sana, dan kini berlalu menuju jendela kamar sembari menutup semua tirai di sana.
Saat dirinya sudah selesai, Arin yang kini sudah berada di samping Ardan dan hendak mematikan lampu kamar itu, namun tiba tiba, Ardan menarik tubuh Arin dan kini jatuh di atas tubuhnya.
Deg...
Arin terkejut, dan hendak bagun dari sana, namun percuma, Ardan memeluk kuat tubuh itu dan seketika membalik tubuh Arin berbaring di atas tempat tidur.
bruk..
"eng..!" gumam Arin sedikit takut.
Arin menatap lekat wajah Ardan yang terlihat memerah akibat minuman.
Cuph...
satu kecupan mendarat di bibir Arin, Arin yang mendapati Ardan seperti itu kini dirinya hanya menatap takut.
Ardan yang mencoba menyibukan dirinya untuk bermain dengan sang istri, perlahan lahan pria itu membuka sedikit demi sedikit baju yang di kenakan oleh gadis itu.
"Mas Ardan, udah malam loh, kita tidur aja ya Mas!" ucap Arin kepada Ardan.
"nanti saja, kita olahraga malam ini!" Sahut Ardan yang kini menatap wajah Arin dengan senyum nakal.
"Habis kamu Arin, gak bisa kabur kalau begini!" batin Arin tersenyum kikuk.
Ardan kini menyibukan dirinya kembali, memulai perlahan demi perlahan menciptakan kepemilikannya di sana.
"ahh!" satu des**** lolos dari mulut gadis itu.
Ardan yang mendengar suara tersebut, kini dirinya mencoba mencoba melakukan hal yang lebih dari itu, Ardan menatap lekat wajah Arin yang kini tepat di depannya, sembari memandang nakal tubuh gadis itu.
Ardan seketika mengusap wajah Arin dan kini mencium bibir gadis itu dan mel****, Ardan kini beralih menciumi leher gadis itu dan menciptakan kepemilikannya kesekian kali disana.
tampak wajah Arin yang sudah terlihat memerah akibat ulah Ardan yang tidak henti hentinya malam itu.
"Aah!"
Sura des**** kini terdengar di balik kamar itu, Ardan yang masih melakukan aktifitasnya tak memperdulikan waktu yang sudah menunjukan pukul 23.12
Bruk..
Ardan seketika merebahkan tubuhnya di samping Arin, dan seraya menyelimuti tubuh itu.
__ADS_1
cuph.. satu kecupan mendarat tepat di pipih gadis itu.
Ardan bergegas memejamkan matanya untuk lekas tidur.
...๐น๐น๐น...
Malam kini berganti pagi, terdengar suara tetesan embun yang jatuh di air, tampak pagi itu suasana kota Swiss begitu indah dan sejuk, di temani butiran salju yang turun menyelimuti satu kota Lausanne.
Kota Lausanne yang merupakan kota ke lima terbesar di Swiss yang dimana kota itu juga memiliki lokasi danau yang indah dan menakjubkan.
srek..
"Hoamm!" suara ngantuk.
"Apa sudah pagi?" tanya Arin pada dirinya sendiri.
"ck.. kenapa aku malas untuk bangun pagi ini!" gumamnya lagi.
Arin yang masih berada di balik selimutnya dan kini menatap kearah Ardan yang ternyata pria itu masih dalam posisi tertidur di sampingnya.
Srek...
"Ahkk..!" pekik Ardan seraya memegangi kepalanya.
"Mas Ardan udah bangun?" Ucap Arin seketika.
bruk..
"aah kepalaku sakit!" gumam Ardan yang kini mengubah posisinya berbaring menghadap kedepan.
"apa yang terjadi?" tanya Ardan yang tidak ingat kejadian tadi malam.
"eng.. Mas Ardan tidak ingat? Mas Ardan mabuk semalaman!" ucap Arin mengingatkan.
"apa Mas minum banyak semalaman?" tanya Ardan.
Srek..
Arin seketika mengubah posisinya tengkurap, dan sembari menatap wajah Ardan yang masih terlihat bingung.
"Coba Mas Ardan lihat, berapa banyak botol anggur dimeja!" ucap Arin kepada Ardan.
Ardan spontan menatap kearah sebuah meja bulat yang dimana disana masih terpampang rapi 2 botol anggur kosong.
deg...
Ardan kini mengalihkan pandangannya menatap kearah Arin yang tertutupi selimut di tubuhnya.
"kamu gak pakai baju?" tanya Ardan.
"bahkan Mas Ardan juga tidak ingat apa yang Mas Ardan lakuin semalaman!" ucap Arin tersenyum paksa.
"eng!" gumam Ardan yang kini kembali larut dalam pemikirannya.
Deg...
"Ahh apa yang aku lakukan!" gumam Ardan yang kini mengingat semuanya.
Arin beranjak bangun dari tempat tidurnya, dan segera memakai kembali bajunya.
"kamu mau kemana?" tanya Ardan kepada Arin, yang melihat gadis itu sudah berdiri di hadapannya.
__ADS_1
"Mau mandi!" sahut Arin dan bergegas menuju kamar mandi.
...๐น๐น๐น...
Pukul 10.00 pagi.
Mereka yang baru saja selesai, Arin yang terlihat sudah bersiap siap ingin pergi jalan jalan tampak gadis itu kini sudah menggunakan Duffle Coad.
begitu juga Sofia, Fian dan yang lainnya. Mereka berenam beranjak pergi menuju kesebuah tempat yang bernama Jembatan Kapel, merupakan salah satu tempat wisata di Swiss.
Di dalam mobil, mereka yang sudah berada di dalam sana, Romi bergegas melajukan mobil itu menelusuri jalan pusat perkotaan.
Dan menuju kesuatu tempat yang dimana jembatan kapel berlokasi.
selang beberapa lama di perjalan, akhirnya mereka berenam kini sudah tiba di sana, Arin menatap kagum jembatan itu, yang merupakan salah satu tempat yang ingin di kunjungi nya.
"huh..." Arin membuang Nafasnya, tampak cuaca begitu sangat dingin pagi itu.
"aah bukankah ini cukup dingin!" ucap Sofia kepada Arin.
"Mmh iya, aku bahkan lupa membawa syal ku!" sahut Arin.
Srek..
Deg..
Arin terhentak kaget merasakan sesuatu yang lembut berada di lehernya.
"eh!" gumam Arin bingung.
"loh.. ini kan punya!" gumam Arin menggantungkan kalimatnya.
"punya kamu, Mas bawa dari Villa.. kamu meninggalkannya di sofa!" sahut Ardan.
"huh.. !" gumam Arin.
"apa lebih baik kita makan terlebih dahulu, di sana ada Cafe Guormet, tidak terlalu mahal cuma 55$ saja!" ujar Fian.
"ahh tidak masalah, aku sudah kedinginan!" sahut Arin yang berlalu terlebih dahulu meninggalkan mereka semua.
"tunggu.. Rom? Arka mana?" tanya Ardan yang baru ingat akan Arka.
"di mobil Tuan sama, Yeni.. di luar dingin katanya!" jawab Romi.
"oh.. suruh Yeni bawa Arka ke Cafe sekarang!" pinta Ardan kepada Romi.
"baik Tuan!" jawab Romi sembari berlalu menuju mobil.
Ardan begitu juga Fian berlalu menuju kesebuah cafe, namun dari arah jauh terlihat Sofia dan Arin yang ternyata sudah berlalu terlebih dahulu dengan terburu buru.
...๐น๐น๐น...
Di depan cafe, Arin dan Sofia bergegas masuk kedalam sana, sembari melihat kesan kemari, mencari meja kosong untuk mereka.
"jangan diluar, udara disini cukup dingin, kita disana saja!" ujar Arin sembari menunjuk sebuah meja yang terletak di depan pemanas ruangan.
"ayo..!" sahut Sofia yang kini menarik tangan Arin menuju tempat itu.
...(แตแตสฐแตโฟ แตแตแตแถ สธแต, สฒโฑแตแต แตแตแตแต แตแตแตแตโฟสธแต แตแตแตแต แถ แตหกแตแตสณ)...
...โ๏ธโ๏ธโ๏ธ...
__ADS_1
...๐ญ๐จ ๐๐ ๐๐จ๐ง๐ญ๐ข๐ง๐ฎ๐...