Terpaksa Menikahi Bos Kejam (Forced To Marry A Cruel Boss)

Terpaksa Menikahi Bos Kejam (Forced To Marry A Cruel Boss)
Kemarahan Mamah


__ADS_3

Di kediaman Ardan Azhedra, Arin dan Romi kini mereka telah tiba, Arin segera masuk kedalam rumahnya.


dengan wajah yang masih terlihat sedikit panik, Arin berlalu menuju kamar atas namun saat dirinya membuka pintu.


tampak sosok pria yang kini tengah menunggunya.


Arin menatap kearah pria itu, seketika dirinya teringat lagi akan perkataan nya.


untuk tidak memberitahukan soal kehamilannya, Arin segera masuk dan beranjak menuju kamar mandi.


namun di sisi lain Ardan hanya menatap bingung Arin.


"ada apa dengannya saat ini?" Tanya Ardan yang masih berada di atas kasur dengan laptop di hadapannya.


Malam pun kini telah berganti pagi Arin yang sudah selesai membersihkan tubuhnya dan begitu juga Ardan, mereka hendak turun kebawah.


***


Disis lain di kediaman Azhendra tampak disana seperti tengah mengadakan suatu acara.


"apa Ardan datang kemari Mah?" Tanya Fian kepada sang Mamah.


Aziah yang tadinya menatap jauh arah luar kini beralih menatap putra sulungnya itu.


"ntahlah Mamah juga tidak tau, apakah Ardan akan datang atau tidak!" Ucap Aziah kepada Fian,


"Eng..." belum sempat Fian melanjutkan perkataannya.


tiba tiba seseorang memanggil mereka berdua, Fian dan begitu juga Aziah kini mengalihkan pandangan mereka menatap kearah orang yang kini berada di hadapan mereka.


"Liam?" tukas Fian melihat kehadiran Liam di sana, Liam segera mendekati Mamahnya dan juga Fian yang berada di loby rumah.


"kakak? Kau juga datang?" Tanya Liam kepada Fian, Fian menganggukan kepalanya seakan akan pertanda jawaban darinya.


"oh.. kak Ardan apa juga hadir kemari Mah?" Tanya Liam kepada Aziah.


Aziah kini menatap lekat wajah putra bungsu nya itu dan seraya membelai lembut wajah itu.


"ntahlah Liam, Mamah juga tidak tau apakah Kakak mu Ardan akan datang kemari" jawab Aziah yang kini kembali menatap jauh kedepan.


"sudahlah Mah, kita kedalam saja!" Tukas Fian yang kini merangkul lembut tubuh sang Mamah.


namun saat mereka hendak berbalik tiba tiba ada suara yang kini masuk kerumah mereka dengan nada sedikit penuh amarah.


"Ardan?" Panggil orang itu seraya memasuki kediaman Azhendra.


Aziah dan begitu juga kedua putranya kini melihat kearah orang tersebut yang ternyata Nadia yang baru saja tiba disana.


namun dengan wajah yang terlihat sangat marah.


"Nadia? kamu kenapa?" Tanya Aziah yang kini menghampiri Nadia disana.


"tante... Ardan mana?" Tanya Nadia dengan wajah melihat kesana kemari mencari sosok Ardan.

__ADS_1


"Nadia.. kamu kenapa? Ardan belum datang kemari" jawab Aziah kepada Nadia, Nadia seketika menatap Aziah dan seketika bersuara.


"mana wanita itu? Mana gadis itu!" Ucap Nadia.


Azia dan yang lainnya menatap heran, dengan perkataan Nadia.


"Nadia? Apa yang kau maksud? gadis itu?" Tanya Aziah lagi seraya menenangkan Nadia.


"tante... Ardan!!" Ucap Nadia menggantungkan kalimatnya.


"Ardan? apa yang kau maksud?" tanya Fian yang kini mulai bersuara.


"Ardan menikahi gadis itu!" Ucap Nadia dengan wajah yang masih tidak terima kenyataan.


Aziah, Fian dan begitu juga Liam seketika kaget mendengarkan perkataan Nadia.


"m menikah? Ardan menikah? Dengan siapa?" Tanya Aziah yang sudah terlihat khawatir.


"bagaimana bisa Ardan menikah tanpa sepengetahuan kita mah?" Sahut Fian kini yang sudah berada di antara Nadia dan Mamahnya.


"kakak menikah? Dengan siapa?" Tanya Liam yang kini ikut berada di sana.


"Fian,... apa Ardan bisa di hubungi?" ujar Aziah yang sudah terlihat kahwatir.


"Nadia? Apa Ardan ada di Villanya?" Tanya Fian sebelum dirinya menghubungi Ardan, Nadia menggelengkan kepalanya.


dan kini memberitahukan keberadaan Ardan saat ini.


"tidak.. Fian, biarkan Mamah saja yang menemuinya disana, kalian tetap lah di rumah, biar Mamah sama Nadia saja kerumahnya!" Ucap Aziah yang kini berlalu pergi menuju luar bersama Nadia.


Namun kini terlihat Arin dan Ardan yang sudah bersiap siap untuk pergi kesuatu tempat, saat mereka hendak menuju keluar seketika


BRAAkk


suara pintu rumah yang di buka begitu kencang.


Arin terhentak kaget dan kini menatap kearah pintu rumah, dan begitu juga Ardan yang kini berada di samping Arin.


Ardan seketika membulatkan kedua matanya melihat apa yang di hadapannya.


"M Mamah?" Ucap Ardan yang kini menatap keberadan Aziah di rumahnya dan begitu juga dengan Nadia.


Aziah tak menyahuti perkataan Ardan melainkan menatap tajam kearah gadis yang kini berdiri di samping putranya itu.


"ARDAN??" teriak sang Mamah memanggil Ardan, tampak di Wajah sang Mamah begitu murkah.


"Mamah kenap..." belum sempat Ardan melanjutkan perkataannya, seketika Aziah menyela perkataan putranya itu.


"katakan kapada Mamah? Siapa gadis yang saat ini berdiri disamping mu.. KATAKAN?" ujar Aziah yang terlihat sangat marah.


Arin yang menyadari dirinya tengah di bicarakan hanya tertunduk dan diam, ntah apa yang akan terjadi di pikirnya.


Ardan melirik Arin sekilas dan kini kembali menatap mamahnya.

__ADS_1


"Dia istri Ardan Mah!" Jawab Ardan mengakui semuanya, Aziah yang tadinya menatap putranya kini beralih menatap gadis itu, dan kini merangka maju menghampirinya.


"Mamah? Mamah mau apa?" sahut Ardan seketika melihat mamanya yang kini berjalan menghampiri Arin.


tak ada jawaban dari Aziah, melainkan menatap lurus kearah dimana Arin berada, Dari kejauhan Nadia tersenyum smrik melihat kejadian itu.


PLAK...


satu tamparan tepat di wajah kiri Arin, Ardan seketika membulatkan kedua matanya, tak percaya apa yang kini dirinya lihat.


Arin tak mengubris tindakan dari ibu mertuanya, melainkan menerima pukulan tersebut dengan wajah masih tertunduk.


PLAKK....


Aziah menampar wajah Arin lagi dan lagi.


"MAH?" Ucap Ardan sedikit meninggikan nada suaranya.


Aziah kini beralih menatap putranya itu.


"Apa yang Mamah lakukan?" Tanya Ardan kepada Mamahnya.


"Gadis ini, tidak tau malu, berani beraninya dia merebut kamu dari Nadia" ucap Aziah yang kini beralih menatap Arin.


yang masih berdiam dengan wajah yang tertunduk, Ardan yang tadi menatap sang Mamah kini beralih menatap gadis yang berada di bawah sana.


"Berani beraninya kau menikah tanpa sepengetahuan Papah dan Mamah mu Ardan?, kau menikahi gadis ini, gadis yang tidak tau malu, bahkan kurasa dia tidak mencintai dirimu, melainkan hanya ingin hartamu" ucap Aziah yang kini berbicara kepada Ardan.


"Mah? Sudah, lebih baik Mamah pergi sekarang" ucap Ardan kepada Aziah.


"berani beraninya kau mengusir Mamah mu sendiri Ardan!!" Sahut Aziah yang terlihat sedikit emosi.


"Ardan bukannya mengusir Mamah, Ardan hanya tidak mau menambah masalah" jawab Ardan lagi.


"baiklah, tapi Mamah tidak akan pergi berdua dengan Nadia!!" ucap Aziah lagi.


kali ini Ardan terlihat bingung dengan perkataan Mamahnya.


"apa maksud Mamah?" Tanya Ardan dengan wajah bingung.


"Kalian harus ikut bersamaku" ucap Azia yang kini menuruni anak tangga.


"tapi..." belum sempat Ardan melanjutkan perkataanya, namun Aziah menyela perkataan itu.


"jangan membantah Ardan, pulang sekarang juga!!" Ucap Aziah yang kini berlalu meninggalkan mereka berdua.


dan segera menuju mobil diikuti Nadia, Arin yang masih terdiam disana kini melihat kearah Ardan.


begitu juga sebaliknya.


"turuti saja Mas, dari pada Mas Ardan dalam masalah nantinya!" Ujar Arin yang kini tersenyum kecut, sembari berlalu menuju kekamarnya.


Ardan tak menjawab perkataan itu malah menatap punggung Arin yang kini kian menjauh.

__ADS_1


Ardan segera menyusul Arin kekamarnya, saat mereka sudah bersiap siap, mereka segera turun dari sana dan menuju mobil.



__ADS_2