
Jasmine membuka selimutnya saat Byan telah meninggalkan dia sendiri di kamarnya. Jasmine bernafas lega dan bangkit duduk sambil melilitkan tubuhnya dengan selimut karena keadaan dia masih tanpa busana.
Jasmine meringis kesakitan saat dia hendak menggerakkan kakinya ke lantai. Tapi sebisa mungkin dia menahan rasa sakit untuk bisa melangkah ke toilet.
"Akhhhh, sakit sekali. Apa semua wanita merasakan sakit seperti ini di malam pertama mereka?" Jasmine berjalan begitu lambat menuju kamar mandi.
Setelah selesai mandi dan berpakaian santai, Jasmine mulai pergi ke dapur dan memakan sarapan yang telah disiapkan oleh Byan di atas meja makan. Jasmine makan dengan tenang tanpa adanya rasa cemas atau was-was seperti di rumah lamanya dulu saat tinggal bersama kakak tirinya.
Jasmine kembali ke dalam kamar kemudian dia mengambil sprei yang ada noda merah disana. Seketika Jasmine mengingat kembali tentang permainan Byan padanya.
"Hei Byan ... lihat ini, noda merah ini adalah bukti bahwa aku bukan wanita sembarangan yang loe pikir sebelumnya," Jasmine tersenyum-senyum sendiri memandang sprei di tangannya itu sambil merutuki Byan.
Tapi seketika memudarkan senyumannya saat mengingat perlakuan Byan yang buruk.
"Ihh, apaan sih. Kok aku jadi ingat lelaki mesum itu, aghhh!" umpat Jasmine kesal saat mengingat Byan.
Jasmine berjalan ke dapur dan mulai mencuci sprei bernoda itu pada mesin pencuci sampai bersih. Dia mencoba untuk belajar mandiri mulai sekarang. Berbeda saat dia berada di rumah mewah papa tirinya, dia tidak pernah sedikit pun melakukan pekerjaan rumah karena sudah ada beberapa pelayan yang melayaninya seperti putri raja.
Dan sekarang, baru terasa berada jauh dari kemewahan begitu cukup melelahkan. Dia harus mencuci pakaian dan memasak. Tapi Jasmine beruntung karena dulu mamanya suka mengajari dia memasak. Walaupun masakannya kurang enak, setidaknya Jasmine bisa memasak berkat mamanya.
Malam hari, ketika jam sudah tepat berada di angka 10 malam, Jasmine masih saja terjaga. Dia tidak bisa tidur. Dia masih cemas jika Byan bisa masuk ke kamarnya walaupun kamarnya terkunci. Byan pasti punya cara lain untuk membuka pintu kamar Jasmine. Jasmine tahu jika Byan mempunyai kunci cadangan yang lain. Maka dari itu, Jasmine mencoba mencari-cari kunci duplikat kamarnya yang disimpan oleh Byan.
Jasmine bergegas masuk ke kamar Byan dan mencari-cari kunci duplikat di segala tempat seperti lemari pakaian, di nakas bahkan di bawah tempat tidur, toilet pun dia masuki untuk mencari-cari kunci duplikat itu.
"Aduh, dimana sih Byan menaruh kunci duplikat itu? Aku belum tenang jika kunci itu belum ketemu," ucap Jasmine sambil celingak-celinguk ke arah pintu kamar, was-was jika Byan sudah pulang.
"Aku harus cari dimana lagi kunci itu? Susah sekali sih. Hei kunci ... kau dimana?" Jasmine menghela nafasnya seakan menyerah.
"Tempat mana lagi yang belum aku cari ya? Di sana sudah, di sana, di sana, terus di sana juga sudah, emm ... oh itu apa ya?" Jasmine memutar-mutar tubuhnya mengabsen satu per satu tempat mana saja yang sudah dia cari.
__ADS_1
Tapi ada sesuatu yang membuatnya penasaran. Tidak sengaja mata Jasmine tertuju pada salah satu tempat yang menurutnya aneh, yaitu sebuah pintu minimalis yang sangat unik. Jasmine pun akhirnya mendekat ke sana.
"Ini seperti pintu? Tapi pintu apa ya? Apa ini pintu rahasia?" Jasmine meraba-raba pintu itu lalu membukanya perlahan.
Ceklek
Beruntungnya pintu itu tak terkunci jadi lebih mudah Jasmine memasukinya.
Jasmine tercengang oleh tempat itu. Sejenak dia terpaku dan membulatkan matanya.
"I-ini tempat apa? Kenapa banyak sekali senapan dan pistol di sini?" Jasmine perlahan mendekat ke arah pajangan senapan dan pistol di sana.
Ada beberapa senapan juga pistol cukup banyak di dinding dan juga lemari kaca. Entah benda itu asli atau palsu atau mungkin hanya sekedar koleksi.
Jasmine dengan pelan menarik lemari kaca tersebut untuk mengambil satu pistol dan dilihatnya benda itu berasal dari Jerman, kemudian Jasmine melihat pistol satunya yang ternyata berasal dari Italia, ada yang dari Rusia bahkan Amerika. Dan tak henti-hentinya Jasmine melihat beberapa pistol lainnya hanya untuk melihat dari negara mana pistol itu dibuat.
"Sebenarnya apa yang Byan lakukan dengan semua pistol dan senapan sebanyak ini? Apalagi barang ini semuanya buatan dari luar negeri," ujar Jasmine yang masih dihantui rasa penasarannya hingga dia lupa dengan kunci duplikat yang sedang dia cari.
Dengan berani Jasmine meraih senapan itu. Senapan yang berasal dari Amerika. Senapan yang menurut Jasmine keren dan dia cukup mengenal senapan itu seperti di film Sniper yang pernah dia tonton.
Jasmine tahu betul jika senapan yang ada di film Sniper itu memiliki fungsi yang cukup kuat apalagi untuk membidik sesuatu dari jarak jauh.
"Wah, aku serasa seperti Chad Michael Collins, dia penembak jitu yang keren dan tampan. Aku sangat suka dia," Jasmine mencoba mempraktekkan gaya menembak aktor yang dia suka begitu semangat.
"Apakah senjata ini asli?" Jasmine membolak-balikan senapan itu dengan mempertanyakan keasliannya pada dirinya sendiri.
"Tapi kalau semua senjata tembak ini asli, bagaimana bisa Byan memakainya? Sekaya apa Byan sampai-sampai dia membeli semua senjata semahal ini?"
Jasmine sejenak menduga-duga dengan pikiran buruknya.
__ADS_1
"Atau jangan-jangan semua senjata tembak ini barang ilegal? Oh no ... Byan seorang mafia? Tidak mungkin aku menikah dengan seorang mafia," Jasmine sangat ketakutan.
"Ya Allah, aku nggak mungkin menikahi lelaki yang salah, kan? Byan bukan orang jahat, kan?"
"Jasmine, dasar bodoh! Dengan gampangnya gue mau menikah dengan orang asing seperti Byan. Apalagi gue sudah melakukan malam pertama dengan Byan. Aduh, bagaimana ini? Dia yang sudah membuat gue tidak virgin sekarang, arghhh!" Jasmine menyesali apa yang telah terjadi di antara dia dan Byan.
Jasmine begitu sangat kesal dan marah dengan akal pikirnya yang masih tidak menentu, menduga-duga sesuatu yang belum diketahui kebenarannya. Dia cemas dan semakin takut dengan kenyataan bila dugaan-dugaannya semuanya benar.
Jasmine beralih pada lukisan seseorang lelaki yang gagah dan tampan. Lukisan yang cukup besar dan membuat Jasmine menjadi muntah melihatnya. Lukisan itu adalah gambar wajah Byan.
"Hei, kau lelaki hidung belang. Bisa-bisanya kau menjebakku dan kau sudah merampas harta berharga yang selama ini aku jaga. Jika kau macam-macam padaku lagi, maka aku akan membunuhmu, kau paham!" gumam Jasmine sambil mengangkat senapan ditangannya dan mengarahkannya ke lukisan Byan seolah Jasmine akan menembak lukisan Byan karena kekesalannya.
"Aku akan membunuhmu, Byannnn!" teriak Jasmine sambil memajukan senapan di tangannya pada lukisan Byan.
Hanya sekedar melampiaskan kemarahannya saja. Jasmine tidak akan berani melakukan penembakan walau dia tidak mengetahui ada peluru atau tidaknya di senapan itu.
"Mati kau Byan, mati kau, mati kau, mati kau...!" ucap Jasmine tanpa henti.
Tak lama kemudian, ada suara bariton yang tiba-tiba mengagetkan Jasmine ketika Jasmine sedang fokus memaki-maki lukisan Byan di depannya.
"Jasmine, hentikannnn! Apa yang kau lakukan? Jangan bermain-main dengan senapan itu!" ujar Byan dengan lantang.
Jasmine kaget hingga dia tidak sengaja menarik pelatuk senapan yang ada di tangannya, apalagi senapan itu tidak sengaja diarahkannya ke arah Byan.
Dorrrr
"Aghhhh...!"
Peluru meleset dan suara tembakkan terdengar sangat besar.
__ADS_1
"Jasmine...!"
"Byannnn!"