Tersesat, Cinta Dua Hati

Tersesat, Cinta Dua Hati
Ruang Rahasia


__ADS_3

Byan berjalan ke depan pintu apartemennya, dia masuk ke dalam kemudian melangkah duduk di sofa ruang tamu. Dia beristirahat sejenak sambil memijat-mijat keningnya, lelah mengingat masalah yang dia hadapi. Dia melonggarkan dasinya dengan kesal.


Byan menyadari begitu heningnya di sekeliling ruangan apartemennya. Byan pikir Jasmine berada di kamarnya hingga Byan menghampiri Jasmine. Saat masuk ke dalam kamar Jasmine, nyatanya Byan tidak mendapati Jasmine di sana. Byan masuk dan membuka pintu kamar mandi nyatanya juga Jasmine tidak ada di sana.


"Jasmine, Jasmine!!!" Byan cemas dan mulai panik.


"Ah, kemana wanita itu pergi? Tidak mungkin dia kabur karena ada penjagaan ketat di sini," gumam Byan dengan kesal.


Byan mulai berpikir, selain di kamar Jasmine ada tempat yang mungkin akan Jasmine singgahi. Byan berjalan ke arah kamar pribadinya yang memang tidak dikunci.


Byan membuka pintu kamarnya dan masih juga tidak mendapati Jasmine di sana. Byan mulai marah dan kesal harus mencari Jasmine kemana lagi. Suasana hatinya sedang buruk, ditambah lagi keberadaan Jasmine yang tidak tahu kemana wanita itu pergi.


"Akhhh, sial ... wanita itu bisa-bisanya berkeliaran. Bukankah dia sedang sakit karena permainanku semalam? Mana mungkin dia bisa mondar-mandir seperti anak ayam. Hebat sekali dia," Byan merutuki Jasmine tak hentinya.


"Aku harus mencarinya kemana lagi? Apartemen ini terlalu besar. Seharusnya aku membeli yang lebih kecil dari ini, aghhh!"


Byan sangat lelah hingga tubuhnya tak mampu lagi untuk mencari keberadaan Jasmine. Byan pun menjatuhkan tubuhnya ke ranjang. Dia menghela nafasnya dengan lega.


Byan memejamkan matanya sejenak. Namun beberapa menit kemudian, dia mendengar suara seseorang. Byan membuka matanya dan mencoba mendengar dengan seksama suara yang entah dari mana berasal, dia belum mengetahuinya. Tapi lama-kelamaan, suara itu jelas terdengar oleh Byan.


"Suara itu, jangan-jangan ... oh shittt!" gumam Byan sangat panik kali ini.


Byan bangkit berdiri kemudian melangkah ke tempat suara itu berasal. Byan baru menyadari bahwa ada satu tempat yang disembunyikannya di kamar pribadinya, yaitu pintu kecil yang bisa mengakses jalan ke ruangan rahasia pribadinya. Ruangan yang dipenuhi dengan senjata tembak berbahaya.


Byan kaget bukan main saat melihat pintu ruangan pribadinya terbuka. Itu artinya ada seseorang yang telah berani memasuki wilayah pribadinya.


"Ternyata wanita itu sudah berani memasuki daerah terlarang di tempatku. Ini tidak bisa dibiarkan!" Byan mengepalkan tangannya, memutarkan kepalanya ke kanan dan kiri lalu matanya dipenuhi aura kemarahan.


Byan masuk ke dalam ruangan rahasia pribadinya. Sejurus kemudian, Byan kaget dan membulatkan matanya saat Jasmine memegang senapan berbahaya yang mematikan. Apalagi Jasmine seakan menembakkan peluru ke arah lukisan gambar wajahnya.


Byan tidak akan tinggal diam melihat Jasmine bermain-main dengan senapan miliknya. Saat Jasmine kembali merutuki Byan pada lukisannya. Byan pun mengeluarkan suaranya dengan lantang.


"Jasmine, hentikannnn! Apa yang loe lakukan? Jangan bermain-main dengan senapan itu!"

__ADS_1


Jasmine kaget hingga dia tidak sengaja menarik pelatuk senapan yang ada di tangannya, apalagi senapan itu tidak sengaja diarahkannya ke arah Byan.


Dorrrr


"Aghhhh...!"


Peluru meleset dan suara tembakkan terdengar sangat besar.


"Jasmine...!" teriak Byan sembari mengalihkan tubuhnya agar tak terkena tembakkan.


"Byannnn!" teriak Jasmine.


Jasmine ketakutan setengah mati, dia takut bila peluru itu mengenai Byan. Walaupun Byan lelaki yang telah menjebaknya tapi Jasmine tidak ada niat untuk membunuhnya.


Jasmine menjatuhkan senapan itu saat mendengar suara letusan yang begitu besar memekikkan telinganya. Jasmine terkulai lemas di lantai kemudian menangis terisak.


Byan mendekati Jasmine, emosinya sudah tak terkendali. Tapi sebisa mungkin Byan menahannya karena mengingat Jasmine adalah istrinya sebagai bahan pelampiasan hasratnya.


Jasmine tak berani mendongak menatap Byan.


Byan meraih lengan Jasmine dan menariknya berdiri di hadapannya dengan kasar.


"Loe lihat pintu itu, lihat pintu itu Jasmine!" teriak Byan meminta Jasmine untuk menurut padanya.


"Pintu itu sampai berlubang karena senapan yang loe tembakkan itu. Loe sebenarnya mau bunuh gue, kan? Iya kan?" tanya Byan dengan menunjuk senapan ke arah Jasmine untuk menjelaskan.


Jasmine hanya menggelengkan kepalanya.


"Jawabbbb!" teriak Byan bertanya.


Jasmine tersentak kaget.


"Nggak Byan. Gu-gue nggak ada niat bunuh loe. Gue cuma kesal doang sama loe, kok!" jawab Jasmine ketakutan sambil menangis.

__ADS_1


"Jadi loe ngapain ke tempat ini?" Byan mengubah nada bicaranya dengan pelan.


"Gu-gue cuma mencari kunci duplikat kamar gue agar loe nggak bisa masuk seenaknya saja. Tapi nyatanya gue salah masuk ruangan. Maafin Gue!" jelas Jasmine terbata dengan sesalnya.


Byan mendekati Jasmine dengan sangat dekat.


"Kenapa? Loe takut dengan permainan gue lagi?" tanya Byan dengan menatap Jasmine tajam.


"Dengarkan gue baik-baik. Nggak ada orang yang bisa menghalangi gue untuk mencapai kepuasan gue, termasuk loe," jelas Byan menegaskan.


Jasmine diam dan menangisi nasibnya saat ini. Dia pasrah dengan apa yang sudah terjadi. Apalagi mengingat Byan adalah suaminya. Suami yang belum dia ketahui sepenuhnya.


"Hapus air mata loe. Jangan menangis di hadapan gue. Gue benci lihat tangisan loe!" bentak Byan.


"Berhenti menangis, Jasmine!" bentak Byan kembali.


Dengan cepat Jasmine menghapus air matanya.


"Loe sekarang keluar. Jangan pernah menginjakkan kaki loe lagi ke ruangan ini dan jangan menyentuh barang apapun milik gue."


"Kalau loe berani ke ruangan rahasia pribadi gue lagi, maka loe akan hibis di tangan gue sendiri," bisik Byan mengancam.


Tubuh Jasmine bergetar mendengar Byan mengancam sesuatu yang menurut Jasmine sungguh-sungguh akan dilakukan oleh Byan jika Jasmine tak menurutinya.


Jasmine berbalik hendak keluar dari kamar Byan.


"Tunggu dulu," ucap Byan menghentikan langkah Jasmine.


"Satu jam lagi, gue ke kamar loe. Persiapkan diri loe untuk permainan kita malam ini. Nggak ada penolakan, nggak ada alasan, nggak ada ocehan dan nggak ada tangisan seperti malam kemarin!" tegas Byan mengingatkan sekaligus bernada ancaman untuk Jasmine.


Deg


Jasmine menegang ketakutan. Lagi-lagi dia harus melewati malam yang mencekam pada permainan Byan seperti malam kemarin. Malam ini mungkin akan terasa lebih panjang bersama Byan, pikirnya. Jasmine menghela nafasnya berat.

__ADS_1


__ADS_2