
Pagi ini bertepatan dengan keberangkatan Darwish ke Amerika. Byan dan Atha sudah berada sejak pukul 8 pagi di kediaman keluarga besar Wiratama setelah itu pergi ke bandara bersama menggunakan mobil Atha. Setelah sampai di bandara, tidak menunggu waktu lama untuk take off, Darwish segera masuk ke dalam setelah berpamitan serta berpelukan pada anaknya, Byan dan keponakannya, Atha.
Diperjalanan ke kantor, Byan yang sedang menyetir mobil sengaja membuka topik pembicaraan yang selama ini dia tunggu-tunggu. Waktu inilah kesempatan yang paling tepat. Dia mengambil celah saat melirik Atha ketika saudaranya itu sudah tidak lagi sibuk dengan ponselnya.
"Emm ... Mas, bagaimana sih rasanya sudah memiliki istri dan anak? Aku nggak nyangka saja jika Mas sudah memiliki dua anak," tanya Byan mengawali obrolannya sembari melirik Atha sesekali.
Atha yang mendengar itu pun langsung menoleh ke arah Byan.
"Pastinya bahagia, setiap kali pulang ke rumah disambut oleh istri dan anak yang membuat hari-hari menjadi semangat. Makanya kamu segeralah menikah agar tahu rasa senengnya dan enaknya," Atha tersenyum dengan lebar.
Byan merasakan sakit dihatinya begitu mendengar jawaban dari Atha, palagi saat meyebut soal istri. Byan kembali mengingat kenangannya bersama Jasmine dulu saat menjadi istrinya.
"Istrimu dulu adalah mantan istriku, Mas!" batin Byan dalam hati. Ingin sekali dia mengatakan itu tapi rasanya tidak mungkin.
"Apa kau sudah mempunyai calon istri, Abi?" tanya Atha.
"Hah, emm ... pacar ada tapi calon istri belum ada, Mas!" sahut Byan.
"Loh, kok gitu? Bukannya pacar itu adalah bakal jadi istri kamu?" Atha terlihat bingung.
"Ya tapi aku belum yakin sama dia, Mas!" ungkap Byan jujur.
"Kalau belum yakin, mending putusin dia. Nggak usah pacaran. Kasihan tuh perempuan, kamu pacaran sama dia hanya untuk hiburan semata, yang ada kamu mendapat dosa," kata Atha dengan bijak. Atha tahu bagaimana kehidupan Byan diluar sana dengan perkumpulan dan pergaulan bebasnya.
Byan hanya tersenyum getir. Inilah jika dia membahas suatu keburukan bersama Atha, maka Atha akan menasehatinya dengan ajaran agama seakan Byan diceramahi oleh saudaranya itu.
"Emm ... kalau boleh tahu, bagaimana Mas Atha bisa kenal Jasmine lalu menikahinya?" tanya Byan yang sejak tadi sudah mulai tidak sabar untuk mendengar jawaban Atha.
Hening sejenak. Atha mulai memikirkan jawaban apa yang akan dia katakan pada Byan.
"Pertemuanku dengan Jasmine berawal saat di bandara. Dan itu salah satu alasanku membatalkan berangkat ke Amerika untuk rapat beberapa tahun lalu," ucap Atha dengan tenang.
"Maksudnya?" Byan belum mengerti.
__ADS_1
"Kau tahu, saat itu aku menabrak Jasmine...," sahut Atha yang masih menggantung.
Ckittttt
Seketika Byan mengerem mendadak saat mendengar kalimat Atha. Dia mengingat saat Beni, sang supirnya dulu pernah mengatakan bahwa Jasmine ke bandara tepat saat dirinya dan Atha sama-sama akan berangkat ke Amerika.
Apalagi Byan mengingat jelas ada dua orang asing yang mengatakan bahwa ada kecelakaan tepat di pintu masuk hendak ke bandara. Byan yakin bahwa yang orang asing itu ceritakan adalah Jasmine.
"Byan hati-hati, are you ok?" Atha menjadi panik. Dia menghadap Byan dengan heran.
"Ya, a-aku baik! Maksud kamu menabrak Jasmine, apa dia sekarat waktu itu atau dia sempat koma? Bagaimana maksudnya, Mas?" Byan memberondong banyak pertanyaan dan terlihat panik sekali di mata Atha.
Atha yang melihat dan mendengarnya terkekeh kecil.
"Hei kenapa kau begitu cemas? Lagian kejadian itu sudah lama, dan tidak ada luka serius pada jasmine," Atha menatap aneh ke arah Byan.
Byan yang ditatap seperti itu menjadi salah tingkah. Tidak seharusnya dia mencemaskan Jasmine berlebihan seperti itu hingga menggundang kecurigaan pada Atha.
"Ah, i-iya ... aku hanya kaget saja. Maaf ya Mas," Byan menjadi gugup sambil cengengesan, kemudian melajukan kembali mobil yang sempat dia hentikan tadi.
"Aku tidak sengaja menabrak Jasmine tepat di depan bandara. Dia pingsan lalu aku langsung membawanya ke rumah sakit. Dia mendapat cidera dikakinya dan harus beberapa hari dirawat di rumah sakit. Jadi aku harus bertanggung jawab sampai dia sembuh dan berjalan dengan normal kembali," kata Atha menjelaskan dengan benar dan jujur.
Atha melirik sekilas ke arah Byan lalu menatap ke arah depan kembali.
"Lalu Jasmine memintamu untuk menikahinya karena cidera itu?" tanya Byan yang masih belum puas mengorek informasi tentang Jasmine, karena menurutnya mungkin Jasmine melakukan hal yang sama pada Atha dengan cara menjebaknya seperti yang dilakukan Jasmine pada dirinya dulu.
Deg
Seketika Atha kaget mendengar pertanyaan Byan yang memang benar jika Jasmine lah yang meminta untuk menikahinya.
"Ti-tidak seperti itu. Aku selalu mengecek keadaannya lewat bi Narti. Hingga tanpa aku sadari ternyata dia wanita yang baik ... lalu aku melamarnya untuk segera menikahinya," ujar Atha sedikit gugup dibarengi perkataan bohong.
Tidak bisa dipungkiri bila Atha jujur, maka semuanya akan terbongkar. Sejatinya, jika dia jujur maka akan merendahkan harga diri Jasmine yang kenyataannya Atha menikahi Jasmine atas permintaan wanita itu sendiri dengan alasan serta ancaman. Sebisa mungkin Atha harus menutupinya, apalagi status Jasmine yang seorang janda yang sedang hamil saat itu.
__ADS_1
"Oh jadi begitu, kisah cinta yang menarik," Byan hanya tersenyum getir melirik ke arah Atha.
Sampai disitulah obrolan mereka. Byan tidak berniat untuk bertanya lagi. Dia tidak ingin membuat Atha curiga dengan banyak bertanya padanya. Selebihnya Byan akan tanyakan langsung pada Jasmine.
Keesokan harinya, saat Atha sudah berangkat ke kantor. Byan sengaja datang ke rumah saudaranya itu. Dia ingin segera bertemu dengan Jasmine. Pikirannya kacau jika belum menanyakan langsung perihal pernikahannya dengan Atha, seolah Byan belum saja rela melepaskan Jasmine sepenuhnya.
"Hei kau, lancang masuk ke kamarku. Apa yang kau lakukan, Byan? Keluarlah, sebelum semua pelayan di sini melihat, mereka akan berpikir macam-macam," Jasmine begitu panik saat Byan tiba-tiba saja masuk ke kamarnya tanpa sepengetahuan penghuni orang-orang di rumah.
"Aku tidak akan pergi sebelum kau menjawab pertanyaanku," tekan Byan dengan sorot mata tajam menatap Jasmine.
Jasmine menjadi takut, dia melihat kemarahan pada Byan seperti beberapa tahun lalu saat dirinya menjebak lelaki itu menikahinya.
"A-apa yang ingin kau tanyakan?" tanya Jasmine menunduk dengan tangan bergetar.
Byan mendekatkan dirinya ke arah Jasmine.
"Katakan, apa yang sebenarnya kamu lakukan di bandara saat perpisahan kita waktu itu?" tanya Byan yang sengaja mengorek kembali masa lalu mereka.
Jasmine diam seolah tak bisa menjawab.
"Kepergianmu ke bandara itu, apa mungkin kau sebenarnya menyusulku, kan?" tanya Byan lagi.
Jasmine kaget dan mundur ke belakang dengan perlahan.
"Katakan Jasmine!" seru Byan.
Byan semakin emosi bahkan dia melangkah mendekati Jasmine yang semakin mundur hingga berhenti di sudut dinding yang tak bisa lagi untuk bergerak.
"A-aku...aku...," Jasmine tak sanggup menjawab hingga matanya berkaca-kaca.
Byan mendecih dengan seringai putus asa.
"Please, katakan sekali saja. Kenapa kau menyusulku ke bandara waktu itu?" tanya Byan sudah semakin penasaran dan tak sabar.
__ADS_1
"A-aku...aku...," lagi-lagi Jasmine mengulang kata 'aku' yang membuat Byan semakin kesal.
"Katakan Jasmine, katakannnn!!" teriak Byan frustasi dengan kegugupan Jasmine.