Tersesat, Cinta Dua Hati

Tersesat, Cinta Dua Hati
Cara Lain Lagi


__ADS_3

Segala cara akan dilakukan jika itu untuk kepentingan yang harus diselamatkan. Ya, Jasmine malam ini tengah was-was, dia tidak bisa tidur. Dia mengingat kebodohannya telah mengungkapkan kondisi kakinya yang kembali pulih walau jalannya masih sangat lambat, tidak dipungkiri bahwa kaki Jasmine bisa berjalan dengan normal.


"Duh, gimana yah kalau Atha beneran pindahin aku ke apartemennya? Oh tidak, tidak, aku tidak mau!" gumam Jasmine sembari mondar mandir di kamarnya dengan cemas.


"Lagian aku suka di rumah ini, banyak penglihatan mata, ada tamannya, ada bi Narti dan pelayan lain yang bisa menjadi teman."


"Aku harus gimana ya?" Jasmine tampak berpikir.


"Apa aku harus memainkan taktik yang biasa aku pakai ya?"


"Oh Nooo, Atha tidak mudah dijebak. bisa-bisa Atha akan marah padaku dan mengusirku," Jasmine menggelengkan kepalanya.


"Jika aku ke luar dari rumah ini maka bahislah aku, mugkin keberadaanku akan diketahui oleh kakak. Pokoknya aku nggak mau kembali ke rumah kakak tiriku itu," kesal Jasmine berkata dengan dirinya sendiri.


Tak terasa pagi pun datang, namun Jasmine tak gentar untuk bisa meyakinkan Atha kembali untuk dia tetap tinggal di kediamannya.


"Ya ampun, kenapa pagi begitu cepat datangnya," rutuk Jasmine setelah dia bangun dari tidurnya.


"Aku harus mandi, lalu bertemu Atha sebelum lelaki itu selesai sarapan," bergegas Jasmine melangkah ke kamar mandi dengan langkah yang dia paksakan untuk berjalan cepat namun penuh hati-hati.


Namun langkah Jasmine perlahan berhenti di depan pintu kamar mandi.


"Oh ya, nanti aku harus panggil dia dengan sebutan apa ya?" tanya Jasmine sembari berpikir.


"Arghhhh, tau ah terserah!" sikap bodoh amat Jasmine hingga dia melanjutkan langkahnya masuk ke kamar mandi.


Setelah selesai mandi dan berpakaian santai, Jasmine bergegas menemui Atha di ruang makan. Ya, Jasmine sering sekali menemui Atha di sana, karena di waktu itulah kesempatan Jasmine bisa bertemu dengannya.


Di ruang makan, Atha nampak melahap sarapannya dengan santai. Sesekali dia melihat layar laptopnya memeriksa email masuk. Sepertinya Atha punya waktu luang pagi itu, karena dia juga memakan sarapannya dengan kunyahan pelan saking fokusnya ke arah laptop.


"Ekhemmm...," deheman cukup panjang sebagai sapaan Jasmine pada Atha. Karena dia belum tahu panggilan yang pas buat Atha.


Atha pun melirik ke arah sumber suara, hingga saat dia melihat Jasmine di sampingnya, maka Atha harus siap-siap memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang akan Jasmine lontarkan nanti.

__ADS_1


Atha sekarang paham dengan sifat Jasmine saat mereka berada di rumah yang sama. Jasmine adalah wanita yang aktif, pemberani dan to the point. Jadi sebisa mungkin Atha harus bisa bersabar.


"Apa ada sesuatu yang kamu butuhkan?" tanya Atha dengan wajah datarnya.


Jasmine tampak sedikit gugup.


"Emm ... i-tu, ma-salah se-malam seper-tinya aku belum siap deh kalau sekarang tinggal di apartemen," ucap Jasmine sedikit terbata-bata.


"Jadi mulai kapan kamu siap tinggal di sana?" tanya Atha sembari matanya berfokus ke arah laptop.


"Eemm ... itu ... itu...," Jasmine bingung akan menjawab apa.


"Minggu depan? Dua minggu lagi? Atau bulan depan?" tanya Atha tanpa jeda.


"Tidak semuanya?" sahut Jasmine cepat.


"Lalu?" Atha mengernyit bingung dan sekilas melirik Jasmine.


Jasmine mengubah posisinya ke hadapan Atha.


Atha menutup laptopnya kemudian mengatur pandangan matanya pada Jasmine dengan sopan dan sedikit menundukan pandangan.


"Dari awal aku tidak ingin memberikan izin pada seorang wanita tinggal di rumahku kecuali wanita paru baya yang sudah berkeluarga. Jadi tolong mengertilah!" ujar Atha menjelaskan dengan tutur kata sebaik-baiknya.


Jasmine terlihat sedih, karena dia tahu maksud dari perkataan Atha.


"Pasti dia pikir aku wanita yang tidak jelas, hamil tanpa suami," batin Jasmine lirih.


Atha merasa iba pada Jasmine. Tapi Atha terpaksa tegas pada Jasmine bagaimanapun caranya. Toh, dia melakukan itu karena semata-mata untuk menghindari kesalahpahaman.


"Nanti di apartemen akan aku suruh bi Narti menjagamu. Kau tidak akan kubiarkan sendirian di sana," jelas Atha lagi.


Jasmine masih saja merasa sedih.

__ADS_1


"Please, tolonglah aku agar tetap tinggal di sini. Aku janji akan tetap stay di rumah dan nggak bakal pergi ke luar hingga orang-orang tidak mengetahui keberadaaku di rumah ini," Jasmine tak gentar meyakinkan Atha.


Sedangkan Atha terkekeh kecil mendengar perkataan Jasmine.


"Kau bukan Rapunzel yang terkurung di dalam menara tinggi. Emm ... atau rumah ini lebih nyaman dan mewah dibanding apartemen?" Atha bertanya dengan sedikit penasarannya.


"Tidak, bahkan aku pernah tinggal di rumah semewah ini sebelumnya," sangkal Jasmine dengan jujur.


Ya, Jasmine mengingatkan dirinya pernah tinggal dengan ayah tirinya yang kaya raya dan mempunyai rumah semewah Atha.


"Owh ya, dimana?" Atha mencoba mencari tahu.


"Emm ... ya pokoknya ada deh!" Jasmine sengaja menutupi kebenaran karena jika dia memberitahu maka asal usulnya pun akan diketahui oleh Atha.


Atha sedikit kecewa karena rasa ingin tahunya tidak tercapai.


"Aduh, bodoh loe Jasmine. Keceplosan lagi kan?" batin Jasmine merutuki dirinya.


Hening tak ada pembicaraan lagi.


Tak ingin berlama-lama diam yang mengundang kecanggungan, Atha pun segera memasukkan laptopnya ke dalam tas kemudian bangkit berdiri.


"Ma-mau kemana?" tanya Jasmine panik.


"Aku mau ke kantor. Kau sarapan saja di sini minta temani bi Narti," ujar Atha seketika memberhentikan langkahnya dan menawarkan sarapan bentuk pedulinya sesama manusia.


Kemudian Atha melanjutkan langkahnya kembali.


"Hei ... kau ... bagaimana dengan perkataanku tadi?" tanya Jasmine sedikit keras.


"SEPERTI NIATKU DI AWAL," tegas Atha memperjelas kata-katanya dengan setengah berteriak saat hendak melewati pintu ke luar.


Jasmine benar-benar panik setengah mati. Dia sungguh tidak ingin tinggal di apartemen. Karena dia pikir, keberadaan dia akan mudah diketahui oleh orang-orang suruhan kakak tirinya. Sedangkan di rumah Atha, keberadaannya sangat sulit untuk ditemukan, secara Atha adalah orang terpandang.

__ADS_1


"No no no, aku nggak mau ... aku nggak mau," gumam Jasmine terlihat cemas.


"Terpaksa aku harus mencari cara lain lagi untuk tetap tinggal di rumah ini," Jasmine memutar otaknya untuk membuat tak tik handalnya.


__ADS_2