
Kepergian Sakha ke Amerika membuat Jasmine dan Atha bahkan Ziva begitu kesepian. Sosok anak sekaligus kakak yang baik dan sopan serta peduli dengan sesama membuat dirindukan keluarganya. Kepribadian Sakha hampir sama dengan Atha yang membuatnya menjadi anak yang berbudi pekerti baik dan juga taat beribadah.
Salut, itulah yang selalu dikatakan oleh Darwish dalam hatinya. Ya, mana mungkin lelaki paruh baya itu memuji Atha secara langsung. Sekarang ini Darwish masih saja gengsi dan hanya bisa bangga karena sifat Sakha yang terpuji dan berwawasan luas, semua itu berkat didikannya Atha. Sangat berbanding terbalik dengan ayah kandungnya, siapa lagi jika bukan Abyan Wiratama.
"Inilah, kantor kakek. Bagus bukan? Kamu suka di sini Sakha?" tanya Darwish saat dia mengajak Sakha untuk melihat-lihat perusahaan pusat.
Sambil melangkah tidak lupa mata Sakha melirik ke segala arah di perusahaan teknologi itu. Sangat menakjubkan pikir Sakha.
"Wah, ini jauh lebih keren dari kantor papa. Sakha suka, Kek!" Sakha kagum dengan suasana itu.
"Makanya Sakha harus rajin belajar, apalagi tentang bisnis," kata Darwish menasehati Sakha.
"Papa sering ngajarin Sakha tentang berbisnis kek," sahut Sakha.
"Bagus, jangan malas-malasan, agar kamu bisa memimpin perusahaan besar seperti ini," lanjut Darwish yang kali ini melirik Byan seolah menyinggung.
Byan hanya menghela nafasnya kesal, membiarkan Darwish menyinggung dirinya karena memang diakui bahwa dirinya memang tidak terlalu tertarik dengan menempati kedudukan yang lebih tinggi seperti pemimpin di kantor pusat. Yang bahkan dirinya sekarang menjadi CEO di anak cabang pun terkadang dia pusing sendiri dan sering melibatkan Wandi sebagai asistennya.
"Halo, Tuan Darwish. Bersyukur kau telah kembali dari Indonesia. Aku menantikan kehadiranmu untuk membahas bisnis kita yang tertunda," ujar Robert, salah satu sahabat sekaligus rekan bisnis Darwish yang tiba-tiba datang menghampirinya.
"Oh, maafkan aku baru sempat mengabari kamu secara mendadak seperti ini. Mari kita ke ruangan ku saja," ajak Darwish hendak melangkah.
"Tunggu dulu, anak siapa ini? Mukanya mirip seperti Abyan? Wah, sudah lama kita kenal tapi aku tidak tahu jika Abyan mempunyai anak laki-laki sebesar ini," tanya Robert sambil memerhatikan wajah Sakha dan Byan bergantian.
__ADS_1
Byan, Darwish dan Sakha saling pandang. Mereka terdiam sejenak.
"Bukan, Tuan Robert. Dia ini Sakha, keponakan sa....," sangkal Byan terpotong.
"Ya, dia cucu saya. Sakha namanya. Mari ikut saya ke ruangan," timpal Darwish memotong ucapan Byan, lalu dengan alasan dia mengajak Robert untuk pergi sehingga tidak ada alasan untuk Byan menyangkal ucapannya.
Byan hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah sang papi. Sakha hanya diam tak merespon apa-apa.
"Sakha, kamu ikut Om. Kita beli keperluan kamu untuk sekolah," ajak Byan merangkul Sakha.
"Ya Om," patuh Sakha mengikuti.
Sejak saat itu, hubungan Sakha dan Byan maupun Darwish begitu dekat dan akrab. Apalagi Byan yang telah menepati janjinya untuk selalu menjaga Sakha. Kini dia tidak pernah absen untuk mengantar jemput Sakha ke sekolah. Sampai-sampai dia berani meninggalkan pekerjaannya dan meluangkan waktunya untuk berada bersama Sakha walaupun dia orang yang cukup sibuk di perusahaan. Dan sang asisten lah yang selalu dilimpahkan pekerjaan itu oleh Byan.
Ada banyak sekali anak-anak seusia Sakha, yang pastinya adalah teman-temannya. Ada banyak teman-temannya memberikan selamat untuk Sakha dikarenakan Sakha adalah orang yang mendapat peringkat pertama di kelasnya bahkan juara umum di sekolah dengan hasil nilai yang tinggi.
Byan begitu sangat bangga, sangat-sangat bangga memiliki anak secerdas Sakha. Tidak sia-sia dia membawa Sakha ke Amerika, dengan begitu Jasmine akan senang dan berharap Jasmine tidak akan membenci dirinya lagi.
"Pak selamat ya, atas keberhasilan anak Bapak. Sakha anak yang cerdas. Sayang sekali jika Sakha tidak melanjutkan sekolah di sini," ucap ibu guru wali kelas dari Sakha kepada Byan.
"Ya, saya juga menyayangkan sekali akan hal itu, Bu. Tapi ini sudah keputusan dari Sakha sendiri. Saya hanya bisa mendukungnya selama itu memang terbaik buat Sakha," jawab Byan seadanya. Ya, dia akui sangat kecewa harus merelakan Sakha kembali dengan Jasmine dan Atha.
Byan pun menghampiri Sakha yang tengah mengobrol, duduk dengan teman-temannya di depan kelas.
__ADS_1
"Sakha, ayo kita pulang!" ajak Byan.
Sakha pun menoleh dan hendak bangkit dari kursi.
"Sakha, itu papamu ya? Hai Om salam kenal. Saya Pedro," ucap Pedro memperkenalkan dirinya.
"Saya Johnson, Om!" timpal Johnson pula.
"Saya Marco, Om!" timpal Marco ikut pula.
Mereka bergantian menjabat tangan Byan yang membalas jabatan tangan mereka pula. Byan tersenyum dengan kikuk.
"Wajah kalian mirip sekali," ujar Pedro antusias.
Sakha yang sedari tadi hanya diam, kini dia merespon jawaban temannya.
"Ya, dia papaku. Wajar saja mirip," sahut Sakha membenarkan perkataan temannya sembari tersenyum ke arah Byan.
Deg
Byan begitu terharu, dia tidak menyangka bahwa Sakha akan mengatakan dirinya adalah papa baginya. Sungguh keadaan yang sangat langka. Baru kali ini Byan mendengarkan Sakha mengakui dirinya sebagai papa di depan teman-temannya. Byan sangat bahagia sekali. Padahal Sakha belum mengetahui tentang kebenaran status dirinya sebagai anak kandung dari Abyan.
Andaikan Sakha tahu yang sebenarnya, maka sejak dulu pasti Byan akan dipanggil oleh Sakha dengan sebutan 'papa'. Tapi kini Byan cukup bersabar dengan keadaan yang sekarang, sampai Jasmine mengizinkan dirinya diakui sebagai orang tua kandung dari Sakha oleh wanita yang pernah menjadi bagian dari hidupnya, cintanya, yakni Jasmine Noreen.
__ADS_1