
Jasmine membelalak kaget. Dia benar-benar panik saat ini. Seketika dia bangkit berdiri dari ranjang.
"Aduh gawat, gawat, gawat. Aku harus gimana? Aku belum punya persiapan. Aku harus berakting gimana, nih? Jangan sampai Atha menyuruhku untuk pindah ke apartemennya sekarang. Aghhhh!" gumam Jasmine frustasi mencari ide sembari menggigit jari-jari tangannya was-was.
Tok tok tok
Pintu kembali diketuk oleh Atha, namum tak ada sahutan dari dalam. Atha merasa aneh, ketukan pertama disahut cepat oleh Jasmine, dan saat Atha mengetuk pintu untuk kedua kalinya, tiba-tiba suara Jasmine hilang begitu saja.
Tok tok tok
Dan untuk ketiga kalinya pintu diketuk oleh Atha, namun lagi-lagi tidak ada sahutan dari Jasmine.
Atha tampak paham dengan kondisi saat ini, bahwa Jasmine sengaja menghindar darinya.
"Hei dengar, kau tidak perlu membuka pintu ini karena aku nggak ada niat untuk masuk ke kamarmu. Kau hanya perlu menjawab pertayaanku saja dari dalam, kau paham?" jelas Atha mempertegas.
Namun suara Jasmine masih saja belum terdengar.
"Jasmine, kau mengerti bahasaku, bukan?" singgung Atha.
Jasmine sangat keras kepala hingga masih mempertahankan kebungkamannya.
Ceklek
Atha membuka pintu kamar Jasmine tapi tidak membukanya dengan lebar. Atha sekedar hanya menakut-nakutinya saja.
Jasmine kaget bukan main.
"Hei, jangan dibuka!" teriak Jasmine bergegas duduk di ranjang dan dengan cepat berakting seolah kakinya memang sakit. Takut kalau-kalau Atha benaran masuk ke kamarnya.
Atha menaikan sudut bibirnya penuh kemenangan.
__ADS_1
"Ternyata dia memang menghindariku," gumam Atha pelan.
Dengan rasa penasarannya bercampur dengan rasa khawatirnya, Atha mulai menanyakan kondisi Jasmine dari luar kamar tersebut. Seperti yang dikatakan oleh bi Narti tadi pagi, Atha ingin memastikan.
"Bi Narti bilang jika kakimu sakit lagi, apa benar?" tanya Atha yang masih memegang gagang pintu kamar Jasmine.
"I-iya kakiku ngilu dan berjalan terasa sedikit sakit," sahut Jasmine sedikit gugup dalam kebohongan.
"Perlu aku panggilkan dokter?" tanya Atha menawarkan.
Jasmine seketika kehilangan kata-kata. Dia benar-benar panik saat ini.
"Aduh, gawat ini. Bisa ketahuan kalau aku berbohong," gumam Jasmine.
Jasmine was-was merasa dirinya tidak tenang. Dia takut jika kebohongannya terbongkar, padahal sebenarnya Atha sudah menaruh curiga terhadap Jasmine. Bagaimanapun, alasan Jasmine menghindar dari Atha adalah salah satu kebohongan yang mudah ditebak oleh Atha.
"Hallo Jasmine, kau mendengarku?" tanya Atha kembali.
Sontak Jasmine bangkit berdiri dari ranjang. Hampir saja dia berjalan ke arah pintu menemui Atha tapi diurungkannya.
"JANGANNNN!" teriak Jasmine lantang hingga dia langsung menutup mulutnya.
Atha pun terkejut mendengar teriakannya.
"Kenapa? Bukankah kakimu sedang sakit? Jika tidak ditangani dengan cepat, maka sakitnya bertambah parah," ujar Atha membujuk Jasmine.
"Jangan panggil dokter. Kakiku sakit karena..., karena...," Jasmine menggantungkan ucapannya sembari berpikir mencari alasan.
"Karena ... a-ku ke-banyakan latihan berjalan dari kemarin dan terlalu bersemangat. Ja-di aku bisa mengatasi sendiri rasa sakit kakiku ini, kok!" lanjut Jasmine gugup dan kekeh dengan perkataannya.
Atha mendecih pelan hingga menggelengkan kepalanya sembari menyeringai. Dia tahu jika Jasmine benar membohonginya.
__ADS_1
"Yakin tidak mau aku panggilkan dokter?" tanya Atha memastikan kembali.
"Tidak, sungguh aku akan baik-baik saja tanpa dokter. Aku akan minum obat penghilang rasa sakit," jawab Jasmine cepat.
"Jangan sembarangan minum obat. Ingat, kau sedang hamil," jelas Atha mengingatkan.
"Iya, aku tahu!" ketus Jasmine.
Mendengar itu Atha langsung menutup rapat pintu kamar Jasmine. Tapi seketika muncul ide jahil Atha pada Jasmine.
Ceklek
Lagi, Atha membuka pintu kamar Jasmine tanpa membukanya dengan lebar.
Jasmine yang tadinya sudah merasa lega bahwa Atha menutup pintunya, kini malah pintu itu dibuka kembali oleh sang tuan rumah. Otomatis, Jasmine kaget dan panik kembali.
"Ada apa lagi?" ketus Jasmine.
"Emm ... tidak ada. Aku hanya mengingatkan. Pakailah kamar ini sebaik-baiknya, kunci pintunya. Takutnya nanti saat kau tidur tiba-tiba esok harinya kau malah berada di tempat yang berbeda," ujar Atha menaikan sudut bibirnya yang sebenarnya hanya ingin menjahili Jasmine.
Jasmine tersentak, dia tahu apa yang sebenarnya dimaksudkan dari perkataan Atha. Itu sama halnya dengan ancaman. Jasmine diam seribu bahasa. Dia tidak berani menjawab ucapan Atha. Jasmine hanya bisa bersembunyi dibalik selimut menutupi seluruh tubuhnya.
Namun tak lama kemudian...
Ceklek
Kali ini Atha menutup pintu kamar Jasmine dengan benar, lalu dia berbalik dan berjalan melanjutkan aktivitasnya kembali.
Sedangkan Jasmine merutuki dirinya sendiri karena alasan konyolnya dan betapa takut dirinya saat ini karena perkataan Atha barusan.
"Oh noooo, apa mungkin maksud Atha, di tempat yang berbeda itu adalah di apartemennya? Tidak, tidak, tidak ... aku tidak mau. Ya Tuhan, tolong aku," gumam Jasmine lirih bercampur was-was.
__ADS_1