
Sepeninggalan Byan dari apartemen sejak pagi tadi, Jasmine selalu dihantui oleh bayang-bayang Byan di pikirannya. Itulah perempuan mudah sekali dilumpuhkan oleh perlakuan dan sikap seorang lelaki yang baik dan lembut serta perhatian padanya.
Tapi jangan disangka, perlakuan lelaki itu bisa saja menipu. Banyak hal yang sudah terjadi pada beberapa wanita yang masuk dalam jebakan lelaki yang pandai memikat hati wanita. Apalagi Byan begitu terkenal dikalangan para wanita oleh kebaikan dan ketampanan serta kegagahan Byan dengan permainan liarnya.
Sama halnya dengan Jasmine yang masih belum berpengalaman bisa terjerat pula oleh permainan Byan yang hanya satu kali saja, ditambah dengan sikap Byan yang lembut yang sengaja dilakukan agar bisa meluluhkan hati seorang Jasmine. Namun pada akhirnya Byan berhasil memperdaya Jasmine dengan perintahnya maupun ancamannya.
Malam ini, Jasmine sengaja menunggu Byan pulang untuk menepati janjinya pada suami sirinya itu. Kali ini Jasmine tidak akan menolak ajakan Byan, karena di malam kemarin Jasmine sudah memintanya untuk tidak melakukan penyatuan mereka. Dan malam ini Jasmine tidak akan melakukan hal yang sama, karena bisa jadi Byan akan marah padanya jika Jasmine menolak yang kesekian kalinya.
"Kenapa jam segini Byan belum pulang? Katanya mau pulang cepat, sedangkan sekarang sudah jam 10 malam," gumam Jasmine yang tiada henti melirik jam di dinding kamarnya menunggu kedatangan Byan.
Semakin lama ditunggu, semakin besar pula kekecewaan Jasmine terhadap Byan. Jasmine merasa dibohongi kembali oleh Byan. Jasmine begitu sangat kesal dan marah.
"Sekali penipu tetap penipu. Pasti dia sedang bermain dengan wanita malam diluar sana. Dasar buaya otak mesum. Gue benci loe, Byan!" kesal Jasmine dengan melempar bantal sebagai alat pelampiasan oleh kemarahannya.
Jasmine menangis dan merasa terluka. Padahal di awal menikah siri dengan Byan adalah keputusannya dan sangat dia sesali. Tapi pada kenyataannya justru Byan membuat Jasmine lupa diri.
__ADS_1
Jasmine lupa bahwa dirinya adalah wanita yang hanya sebagai alat pemuas nafsu Byan dan hubungan mereka pun tidak akan bertahan lama. Karena Byan tidak pernah menginginkan pernikahan mereka terjadi. Jasmine menyadari jika semua itu adalah ulahnya karena menjebak Byan untuk menikahinya.
"Apa ini balasan loe ke gue, Byan? Gue tahu gue salah, tapi nggak perlu loe buat gue menunggu seperti ini. Gue menyesal telah mempercayai loe, Byan!" rutuk Jasmine hingga dia menangis mengingat Byan.
"Gue harus kunci pintu kamar ini. Terserah Byan mau marah sama gue. Pokoknya gue nggak peduli, gue mau tidur!" rutuk Jasmine kembali dengan kesal kemudian dia berjalan mengunci pintu kamarnya.
Sebenarnya dikunci atau tidaknya kamar Jasmine, pasti Byan bisa membukanya dengan mudah. Tapi karena kekecewaan Jasmine yang menguasai dirinya, Jasmine lupa akan perintah dari Byan.
Jasmine berbaring di atas ranjangnya lalu menyelimuti dirinya hingga tak terasa dia tertidur lelap dan masih menyisakan air matanya di pipi.
Byan membuka pintu kamar Jasmine dengan mudah. Kunci duplikat selalu di simpan dengan baik oleh Byan. Dia tersenyum melihat Jasmine yang lagi-lagi tidak menuruti perintahnya untuk tidak mengunci pintu kamarnya dari dalam. Tapi saat ini Byan tidak peduli hal itu. Dia tidak ingin marah pada wanita yang sekarang telah tertidur dengan tenang.
"Hei, kancil ... gue meloloskan lagi permainan kita malam ini. Pasti loe senang, kan?" gumam Byan menatap Jasmine dengan teduh.
"Gue menyesal karena nggak bisa pulang cepat untuk bertemu dengan loe, menikmati tubuh loe, menyalurkan hasrat gue pada permainan kita yang tertunda semalam," Byan menghela nafasnya berat. Ada rasa kecewa juga lelah menguras tubuhnya.
__ADS_1
"Ini semua karena ulah lelaki tua itu. Jika dia tidak mencampuri urusan gue, maka apa yang gue inginkan malam ini pasti terlaksana," umpatnya kesal.
"Jasmine, gue kangen sama loe. Gue lelah, gue butuh loe agar tenaga gue pulih kembali. Buka mata loe, Jasmine. Ayo bangunlah!" Byan mengusap lembut pipi Jasmine, berharap istrinya itu terbangun dari tidurnya.
Namun Jasmine tidak terganggu sama sekali oleh sentuhan Byan. Sepertinya Jasmine kelelahan menangis karena menunggu Byan pulang.
Tapi Byan tidak akan tinggal diam. Dia semakin tertantang oleh Jasmine untuk menyentuh yang lainnya. Pertama kali Byan begitu sangat tergoda dengan bibir istrinya itu. Kemudian dia mencium lembut bibir Jasmine semakin hangat semakin lama dan semakin mendalam ciuman itu.
Jasmine terbangun dengan pergerakan yang diberikan oleh Byan. Jasmine hanya terdiam. Byan pun melepaskan ciumannya dan menatap Jasmine. Mereka saling berpandangan.
Jasmine tersenyum menatap Byan. Dia senang akhirnya melihat kembali wajah lelaki yang dirindukannya. Jasmine menyentuh wajah Byan dengan kedua tangannya. Ada rasa nyaman setelah berdekatan dengan Byan.
"Byan, apa ini loe? Loe sudah pulang? Kenapa lama sekali? Gue dari tadi nungguin loe. Gue kangen banget sama loe. Gue sedang tidak bermimpi, kan?" gumam Jasmine, matanya berkaca-kaca hingga kemudian air matanya lolos membasahi pipinya.
Jasmine memeluk Byan begitu saja. Jasmine terbawa perasaan, dia belum menyadari bahwa kenyataannya Byan ada di depannya sekarang. Jasmine berpikir bahwa dia sedang di alam mimpinya.
__ADS_1