
Tiga hari berlalu, tetapi Jasmine masih saja dirawat inap terbaring lemah. Menggerakkan tangannya saja serasa lemah apalagi untuk makan sesuap nasi. Bukan karena Jasmine tak mampu tetapi Jasmine sudah lupa dirinya sendiri karena dia merasa kehilangan Byan.
Selama ada bi Narti yang menjaga Jasmine, maka Atha sibuk mengurus perusahaannya. Tapi mendengar kondisi Jasmine semakin buruk maka Atha terpaksa harus kembali menjengguk Jasmine di rumah sakit.
Atha tahu batasan, dia tidak bisa keluar masuk menjengguk Jasmine yang dia kira Jasmine itu adalah istri orang lain.
Dengan memakai pakaian kantornya, Atha bergegas pergi melajukan mobilnya ke rumah sakit tempat Jasmine dirawat.
"Sedang apa wanita itu sekarang, Bi?" tanya Atha pada bi Narti yang sengaja menunggu tuannya di depan pintu ruang inap Jasmine.
"Non Jasmine lagi berbaring di ranjangnya, Tuan. Dia tidak menyentuh makanan sedikit pun, dia masih saja mual-mual, Tuan!" ujar bi Narti lembut.
"Keras kepala sekali dia," sahut Atha cemas.
"Apa sebaiknya Tuan katakan saja yang sebenarnya kondisi non Jasmine, kasihan kandungannya kalau dibiarkan tidak memakan vitamin atau makanan ke perut ibunya," kata bi Narti mengingatkan.
Tidak ada perubahan baik dari kondisi Jasmine, membuat Atha terpaksa mengatakan kebenaran yang selama ini ditutupi olehnya, yaitu kehamilan Jasmine. Sebab Atha melakukan itu semata-mata hanya ingin bertanggung jawab atas kecelakaan yang dia lakukan serta agar kandungan Jasmine dalam keadaan baik-baik saja.
"Ya, saya pikir juga begitu," ucap Atha kemudian memasuki ruangan Jasmine.
Jasmine melirik sekilas ketika Atha masuk dan mendekatinya kemudian Jasmine memalingkan wajahnya ke arah lain.
Atha tetap mendekati ranjang dimana Jasmine berbaring.
"Apa kabarmu? Aku dengar namamu Jasmine, nama yang indah," ucap Atha basa basi.
Jasmine hanya diam tak mempedulikan perkataan Atha.
"Sampai kapan kamu mogok makan dan tidak minum obat? Apa kamu tidak ingin sembuh?" tanya Atha pada Jasmine kembali.
Lagi-lagi Jasmine diam seribu bahasa.
"Kamu itu pemalas. Jika kamu selalu meratapi nasibmu dan tidak melatih kakimu, aku pastikan kakimu tidak akan sembuh dalam waktu cepat. Mungkin setahun atau dua tahunan atau bisa jadi tidak sembuh sama sekali," ucap Atha mencoba menakut-nakuti Jasmine.
__ADS_1
Tapi Jasmine tetap diam seribu bahasa. Perkataan Atha nyatanya tak berpengaruh pada Jasmine.
Atha menghela nafasnya pelan. Dia harus sabar menghadapi Jasmine yang dia pikir hatinya masih bersedih.
"Bukankah kamu ingin ke bandara menemui seseorang? Maka berjalanlah untuk seseorang itu," ujar Atha yang ternyata membuat Jasmine tersentak.
Jasmine menoleh ke arah Atha.
"Sudah tidak ada lagi harapanku menemuinya karena kecelakaan itu!" tegas Jasmine mengungkit dan bernada menyinggung pada Atha.
Atha sedikit tersentak.
"Kau menyalahkan aku untuk kecelakaan itu? Apa kau tidak sadar bahwa bukan hanya aku yang salah?" Atha mempertanyakan kembali kejadian dimana kecelakaan itu pertama kali terjadi.
Jasmine tak menjawab, dia juga mengaku bahwa dia bersalah hingga matanya berkaca-kaca.
Melihat itu, Atha menjadi iba dan merasa bersalah atas ucapannya pada Jasmine.
"Maafkan aku, bukan maksudku untuk mengungkit kejadian itu," ujar Atha memperjelas.
Atha sedikit tersenyum dengan hati yang lega.
"Aku penasaran, sebenarnya siapa yang ingin kamu temui itu? Apakah dia orang yang penting dalam hidupmu?" tanya Atha dengan beraninya.
"Bukan siapa-siapa!" sahut Jasmine malas.
"Baiklah, sekarang kamu harus makan dan setelah itu minum obatmu," pinta Atha kesekian kalinya.
Atha menyerahkan mangkok makanan pada Jasmine, tapi Jasmine hanya menatapnya saja tak niat mengambilnya.
"Jika kau tidak berselera dengan makanan rumah sakit, aku akan membelikannya di luar. Sebutkan, kamu mau aku belikan makanan apa?" Atha mencoba menghibur.
"Aku tidak berselera makan, baunya saja sudah buat aku mual apalagi memakannya," ujar Jasmine yang sudah membuka suaranya dengan jujur.
__ADS_1
Wajar saja bila Jasmine suka mual karena jelas dia sedang hamil.
"Emm ... aku belikan buah saja nanti, tapi setelah kamu memakan satu atau dua suap bubur ini, gimana?" tawar Atha.
Jasmine tampak berpikir sambil melirik Atha.
"Aku tidak mau!" ketus Jasmine.
Atha mulai jenuh dengan tingkah Jasmine, dia tidak bisa menunda lagi tentang rahasia kehamilan Jasmine. Atha akan mengungkapkan rahasia yang ditutupinya selama ini dari Jasmine.
"Sebenarnya aku tidak berhak ikut campur dengan urusan kamu, tapi ini penting bagimu dan juga ... kandunganmu," ujar Atha sedikit berat mengatakannya.
Jasmine menatap serius wajah Atha.
"Kandungan? Kandungan apa maksudmu?" tanya Jasmine belum paham.
"KAMU HAMIL," ujar Atha menekan.
Deg
Jasmine kaget kemudian menatap nanar Atha. Lalu Jasmine menarik sudut bibirnya tertawa aneh.
"Hahaha, jangan bercanda, aku rasa kau ini seorang aktor, karena kau pandai sekali berakting," singung Jasmine tak percaya.
Atha kemudian menaruh mangkuk makanan di atas nakas lalu dengan sabar meyakini ucapannya kembali pada Jasmine.
"Perlu aku buktikan? Baiklah, bersiaplah untuk menerima kenyataan bahwa kamu itu sedang HAMIL," Atha sengaja menekan kata 'hamil' sembari melirik perut Jasmine yang terbalut selimut.
Jasmine diam membisu kemudian menyentuh dan memandang perutnya yang masih terlihat datar itu.
"Tidak mungkin," gumam Jasmine lirih sambil menggelengkan kepalanya pelan masih tak percaya.
Seperti di awal dugaan Atha, bahwa benar jika Jasmine belum mengetahui kondisinya yang saat ini sedang hamil.
__ADS_1
"Untuk lebih jelasnya, aku akan panggilkan dokter sekarang!" seru Atha melangkah pergi mencari bukti dengan memanggilkan dokter untuk membuat Jasmine percaya.