Tersesat, Cinta Dua Hati

Tersesat, Cinta Dua Hati
Sifatnya yang Tersembunyi


__ADS_3

Jasmine pasrah atas apa yang akan terjadi malam ini. Dia tahu bahwa sekarang tidak ada celah untuk dia kabur dari Byan. Sekarang Jasmine menyadari bahwa Byan lebih menakutkan dari kakak tirinya. Namun Jasmine berharap jika Byan akan memperlakukan dirinya dengan baik selama dia menuruti apa yang Byan minta.


Jasmine harus siap melayani Byan kapan saja bila lelaki itu membutuhkannya. Jasmine tidak bisa menolak ataupun menghindar, karena Jasmine adalah seorang istri dari Abyan Wiratama.


Jasmine tahu bahwa seorang istri harus melayani suaminya kapanpun suaminya meminta haknya. Dan dia harus menurut pada perintah suaminya dengan patuh selama perintah itu baik.


Jasmine duduk di ranjang sambil merangkul lututnya yang dia tekuk di depan dadanya. Sebisa mungkin Jasmine menahan tangisannya, dia tidak ingin membuat Byan marah untuk kesekian kalinya karena air matanya.


Sesuai dengan janji Byan, dia telah memasuki kamar Jasmine setelah satu jam berakhir. Byan mendekat ke arah Jasmine dan berdiri di hadapan Jasmine sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.


Jasmine tidak berani menatap Byan, dia hanya menundukkan kepalanya menatap sprei yang telah dirapikannya itu.


"Loe ketakutan?" tanya Byan bernada dingin.


Jasmine hanya menggelengkan kepalanya.


"Jangan menjawab dengan anggukan. Loe punya mulut, bukan?" tegas Byan menyinggung.


Byan mendekati Jasmine semakin dekat lalu menarik dagu Jasmine dan didonggakkan ke arahnya.


"Jawablah ... loe takut?" tanya Byan kali ini dengan mata tajamnya.


Jasmine semakin takut dan gemetar melihat tatapan mata Byan.


"Tidak!" sahut Jasmine singkat.


"Tapi kenapa tangan loe bergetar? Kalau takut bilang saja. Gue nggak akan marah!"


Byan beralih memegang tangan Jasmine, lalu menariknya turun ke lantai mensejajarkan tubuh mereka berdua.


Byan memeluk Jasmine begitu saja. Lelaki itu memeluk dengan erat. Entah mengapa, Byan merasa memeluk Jasmine membuat hati dan pikirannya tenang.


"Jangan takut, gue nggak akan bermain kasar jika loe nurut sama gue!" jelas Byan meyakinkan.


Jasmine juga merasa nyaman di pelukan Byan. Rasa takut yang semula bersemayam dihatinya kini hilang dengan hangatnya pelukan yang diberikan oleh Byan.

__ADS_1


"Byan!" sapa Jasmine pelan.


"Hemmm?" sahut Byan.


Jasmine diam sejenak, ragu untuk mengatakan sesuatu pada Byan.


"Ada apa?" tanya Byan yang beralih menatap Jasmine.


"Emm ... itu ... anu ... punya gue masih sakit. Boleh kita tunda bermain malam ini?" tanya Jasmine dengan gugup dan ketakutan terlihat dari matanya yang menyedihkan.


Byan tak lepas dari pandangan mata Jasmine. Ingin sekali Byan melepaskan hasratnya malam ini tapi saat melihat Jasmine yang meminta dengan rasa ketakutan, Byan pun menjadi tidak tega dan tidak ingin menyakiti Jasmine.


Byan pun kembali memeluk Jasmine hingga mencium pipinya berkali-kali kemudian membisikkan sesuatu ke telinga Jasmine.


"Gue akan bebasin loe malam ini, tapi loe harus janji satu hal," ujar Byan memberi tawaran.


"Apa?" tanya Jasmine.


"Loe harus merahasiakan apa yang loe lihat di apartemen gue termasuk ruang rahasia pribadi gue yang loe masukin tadi," tegas Byan mengingatkan.


Byan tersenyum kecil lalu mengangkat tubuh Jasmine dan membaringkannya ke atas ranjang. Byan berbaring di samping tubuh Jasmine dan memeluknya.


"Buat gue tidur dengan nyaman malam ini karena gue sudah mengabulkan apa yang loe mau!" pinta Byan sambil memejamkan matanya.


"Baiklah, terima kasih telah ngabulin permintaan gue," ujar Jasmine menatap sendu wajah Byan yang tenang.


Baru kali ini Jasmine merasa nyaman di pelukan seorang lelaki. Selama ini Jasmine menganggap Byan hanya lelaki mesum yang hanya menginginkan tubuh wanita, tetapi baru dia sadari bahwa lelaki yang memeluknya itu nyatanya lelaki yang baik.


Sejam yang lalu Byan bagaikan singa yang ingin memakan musuhnya saat Jasmine hampir saja menembakkan peluru di dadanya. Jasmine pikir Byan akan membalaskan dendamnya tapi nyatanya Byan mengabulkan apa yang Jasmine minta dengan meloloskan dari permainan Byan.


Sungguh tak disangka. Sosok Byan yang terlihat kejam ternyata tersembunyi sifat yang lembut dan baik hati. Jasmine begitu kagum melihatnya.


"Tidurlah Jasmine, jangan menatap gue terus seperti itu," ucap Byan yang membuat Jasmine kaget. Byan tahu jika Jasmine sedari tadi menatapnya karena Byan tidak sepenuhnya memejamkan matanya.


"Byan, boleh gue bertanya?"

__ADS_1


"Apa?"


"Kenapa semua senjata tembak itu ada di apartemen ini?" tanya Jasmine sedikit ragu.


"Hanya koleksi, kok. Pokoknya kamu lupakan apa yang terjadi di ruangan rahasia tadi," pinta Byan.


Byan mulai membuka matanya lebar dan menatap wajah Jasmine.


"Kenapa? Loe takut? Bagaimana jika gue adalah seorang pembunuh bayaran yang membunuh banyak orang diluaran sana?" tanya Byan seolah menakut-nakuti Jasmine.


Jasmine tersentak kaget dan ketakutan kembali.


"Gu-gue nggak takut. Pokoknya rahasia loe aman bersama gue, percayalah!" bergegas Jasmine menjawab.


"Bagus, loe juga pasti aman bersama gue selama loe menuruti apa yang gue mau. Setelah 3 bulan nanti loe bebas dari gue karena gue nggak akan lama tinggal di sini," ungkap Byan disela-sela memainkan rambut Jasmine.


"Maksudnya?" tanya Jasmine bingung.


"Gue akan pergi, entah kapan gue kembali. Di saat itu juga status kita berubah menjadi orang asing. Tidak ada ikatan pernikahan lagi di antara kita. Kita akan berpisah dan tak akan pernah bertemu kembali," ucapan Byan seakan meruntuhkan hati Jasmine yang semula bersinar menjadi redup.


Deg


Jasmine diam tanpa kata, tak ada jawaban ataupun gumaman kecil. Jasmine merasa ada sesuatu yang hilang bila dia tidak bersama Byan. Entah mengapa, pelukan yang baru saja diberikan oleh Byan membuatnya tak ingin terlepas seolah kerinduan yang telah lama tidak dia dapatkan dari orang tuanya, justru didapatkan oleh Byan, lelaki misterius yang baru Jasmine kenal beberapa hari.


"Jadi loe harus cari tempat tinggal setelah kita berpisah. Tenang saja, masalah uang akan gue beri nanti," Byan berkata dengan santai padahal dia tidak tahu apa yang sedang diresahkan Jasmine.


"Tidurlah, ini sudah malam. Jika loe masih terjaga, maka permainan yang tertunda ini akan gue lanjutkan sekarang," Byan tersenyum kecil dan terlihat manis.


Byan mencium kening Jasmine begitu lembut lalu didekapnya tubuh Jasmine dengan erat.


Itulah perlakuan Byan terhadap setiap wanita, Byan selalu perhatian dan menyayangi wanita mana saja yang menjadi pemuas hasratnya. Sedangkan Jasmine malah terbuai dengan perlakuan Byan yang seperti itu. Bukan Jasmine saja yang terbuai oleh sosok Byan tetapi wanita-wanita diluar sana pun begitu sangat memuja Byan yang mempunyai daya tarik luar biasa.


Jasmine menerima dengan senang perlakuan Byan padanya. Hati Jasmine menjadi gundah. Akankah dia bisa menjalani hidup kesana kemari tanpa arah dan tujuan kembali? Serasa kisah hidupnya tidak akan pernah berhenti untuk mencari kebahagiaan. Jasmine harus berjuang demi masa depannya.


"Gue tahu kalau gue bukan wanita pilihan hati loe, Byan. Tapi bisakah kita tetap bersama?" batin Jasmine lirih dan kecewa.

__ADS_1


__ADS_2