Tersesat, Cinta Dua Hati

Tersesat, Cinta Dua Hati
Terima Kasih, Perhatiannya


__ADS_3

Sudah satu minggu ini Jasmine jarang ke luar dari kamarnya, dia tidak ingin bertemu dengan Atha sementara waktu. Dari kejadian saat dia memeluk Atha tanpa sadar hingga dia nyaris terpeleset saat bertabrakan dengan Atha, saat itu pula Jasmine mulai hati-hati jika ingin ke luar kamar. Dia masih malu saat berhadapan dengan Atha. Makanya dia menghindari Atha saat lelaki itu berada di rumah.


Bila Jasmine ingin ke luar dari kamarnya, dia menunggu waktu yang pas yaitu saat Atha sudah berangkat ke kantor. Barulah Jasmine bisa leluasa tanpa adanya Atha sang tuan rumah.


Dan pagi ini persediaan air minum di kamar Jasmine sudah habis, jadi dia terpaksa mengambil air minum ke dapur. Dari pada dia berdiam karena menghindari Atha, alangkah bodohnya dia. Dia tidak mau mati kehausan. Jadi dia harus berani ke dapur apapun resikonya sekalipun bertemu dengan Atha dan tertabrak lagi.


"Duh, hausnya. Aku harus ke dapur sekarang!" gumam Jasmine lalu dia membuka pintu kamarnya dan bergegas berjalan menuju dapur.


Jasmine melihat-lihat sekelilingnya, dan ternyata di ruang makan masih kosong, tidak ada Atha di sana.


"Huh, aman!" seru Jasmine lega.


Dengan santainya Jasmine menuangkan air minum di gelasnya, setelah itu dia dengan santai pula berjalan balik ke kamarnya.


Baru sampai di pertengahan, muncul lelaki yang beberapa hari ini dia hindari. Atha, dia berjalan hendak ke ruang makan untuk sarapan.


Jasmine tercengang, dia berhenti sejenak kala di sampingnya ada sosok Atha yang hendak berjalan di depannya.


"Aduh, bagaimana ini? Apa aku harus menyapanya? Tidak, tidak, aku malu. Tapi tidak sopan bila aku diam saja," batin Jasmine dengan dirinya sendiri.


Tapi nyatanya Jasmine hanya diam tertunduk, seolah dia kehabisan kata-kata. Sedangkan Atha hanya melewati dan melirik sekilas Jasmine di sampingnya. Mereka sama-sama canggung bila tertemu.


Di satu sisi, Jasmine menghindari Atha karena dia malu. Sedangkan Atha menghindari Jasmine karena pandangan matanya harus dia jaga agar tak menimbulkan dosa.


Kini bulan telah berganti hingga seterusnya, namun Atha dan Jasmine masih berdiam dan canggung bila bertemu atau berpapasan.


Saat ini usia kandungan jasmine memasuki usia 7 bulan. Untung saja Jasmine jarang muntah-muntah dan ngidam saat mengandung. Itu membuat Jasmine bahagia, setidaknya dia tidak merepotkan orang-orang di rumah itu.


Tapi saat ini Jasmine merasa gelisah, entah mengapa hatinya tak tenang. Muncul rasa ketakutan yang cukup membuatnya cemas.


"Ya Allah, bagaimana nanti jika aku melahirkan? Aku akan sendirian nanti. Dan saat anak ini lahir, ayah kandungnya tidak ada bersama kami, hiks...hiks...!" Jasmine menangis lirih, dia begitu sedih.


Nafasnya sesak karena bersedih sepanjang hari. Dia mengeluhkan sakitnya pada bi Narti.

__ADS_1


"Bi, nafasku sedikit sesak. Bisa antarkan aku ke rumah sakit?" pinta Jasmine minta ditemani bi Narti.


"Bisa Non, sebentar Bibi suruh supir menyiapkan mobil dulu," Bi Narti bergegas berjalan ke luar.


Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Jasmine yang duduk di samping bi Narti hanya diam sembari menyandarkan punggungnya di kursi mobil sambil memejamkan matanya, berharap sesak dadanya perlahan menghilang.


Tak menunggu waktu lama, mereka pun telah sampai di tempat tujuan. Dokter pun telah memeriksa Jasmine. Dan kondisi Jasmine sudah membaik setelah ditangani oleh dokter yang biasa memeriksa kandungannya.


Mereka pun akhirnya pulang ke rumah. Dan bertepatan dengan Atha pulang dari kantor. Mobil Atha 1 menit lebih dulu sampai di parkiran mobil rumahnya dibanding mobil yang membawa Jasmine dan bi Narti.


Atha heran begitu dia ke luar dari mobilnya, dia melihat mobilnya yang lain masuk ke halaman rumahnya. Atha berdiam sejenak, dilihatnya bi Narti sedang menuntun di lengan Jasmine untuk berjalan. Barulah saat itu Atha sadar kemungkinan Jasmine sedang chek up ke dokter kandungannya.


Seketika itu Atha masuk ke dalam rumahnya. Jasmine yang melihat Atha sudah masuk ke dalam rumahnya pun lega. Setidaknya dia merasa aman dari kecanggungan.


Setelah Jasmine dan bi Narti melangkah masuk ke dalam rumah, tiba-tiba saja ada suara bariton yang membuat mereka berhenti melangkah.


"Habis dari mana kalian?" tanya Atha yang nyatanya duduk di sofa ruang tamu sembari matanya terfokus ke arah ponsel yang dipegangnya. Tiba-tiba saja Atha merasa ingin tahu dengan kegiatan Jasmine dan bi Narti di luar.


Atha menganggukan kepalanya paham.


"Bagaimana dengan kandungannya? Semua baik-baik saja, kan?" tanya Atha dengan santai tapi dalam bentuk perhatian.


Jasmine dan bi Narti saling pandang. Mereka bingung sebenarnya siapa yang ditanya oleh Atha. Lalu siapa yang harus menjawabnya.


Kebungkaman Jasmine bisa ditebak oleh bi Narti sehingga lagi-lagi bi Narti lah yang menjawabnya. Karena bi Narti tahu jika Jasmine dan sang majikannya saling berdiam diri. Bi Narti menjadi pusing dibuat mereka.


"Se-muanya baik, Tuan!" ujar bi Narti ragu-ragu.


Atha mengangguk paham kembali dan masih memegang ponselnya seolah membaca pesan, padahal nyatanya dia hanya memainkannya saja.


Hening sejenak.


"Kami permisi, Tuan!" ucap bi Narti.

__ADS_1


"Hemm," sahut Atha mengangguk kembali.


Tapi di detik kemudian Atha mengeluarkan suaranya kembali.


"Emm ... Jasmine!" Atha memanggil sambil melirik wanita yang dia sebutkan namanya.


Seketika Jasmine dan bi Narti berhenti.


"Kau melaksanakan sholat 5 waktu, bukan?" tanya Atha pada Jasmine.


Jasmine tersentak. Bi Narti menyenggol lengan Jasmine menyuruhnya untuk menjawab.


"I-iya, ta-pi ma-sih ada yang bolong juga," jawab Jasmine jujur dengan bersuara gemetar.


"Berusahalah untuk sholat 5 waktu, apalagi diusia kandunganmu 7 bulan yang sebentar lagi akan melahirkan," ucap Atha mengingatkan.


"Iya," patuh Jasmine.


"Satu lagi, sempatkanlah dirimu untuk membaca Al-qur'an. Surah Maryam baik untuk dirimu agar mempermudah proses persalinan nanti," ujar Atha mengingatkan kembali.


Deg


Mata Jasmine berkaca-kaca hingga dia menundukkan kepalanya agar Atha tak melihatnya. Dia sangat tersentuh dengan perhatian dan kepedulian Atha padanya.


"A-ku a-kan bacakan nanti, terima kasih perhatiannya," susah payah Jasmine berucap karena menahan air matanya yang akan tumpah.


Bergegas Jasmine berjalan cukup pelan meninggalkan Atha begitu saja.


"Permisi Tuan," ujar bi Narti, lalu dia menyusul Jasmine setelah mendapat anggukan dari Atha.


Sedangkan Atha, dirinya tersadar atas apa yang baru saja dia katakan kepada Jasmine.


"Apa yang telah aku lakukan? Apakah aku terlalu kentara telah memberikan perhatian pada Jasmine?" gumam Atha menghela nafasnya berat yang dia sadari dirinya ada perubahan yang aneh akhir-akhir ini.

__ADS_1


__ADS_2