
Kini Atha sudah berada di lobi hotel berbintang bersama Byan, Jasmine, Sakha dan Ziva. Sebelumnya mereka berada di kantor terlebih dahulu menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim untuk sholat magrib, sembari menunggu pesan yang dikirimkan seseorang berupa lokasi tempat mereka akan makan besar yang seperti di bilang Atha pada Byan.
"Kenapa harus makan di hotel berbintang seperti ini sih? Emang siapa yang Mas akan temui di sini?" tanya Byan penasaran sambil celingak-celinguk dengan lengan baju yang sudah dinaikan ke atas, merasa sedikit kelonggaran karena pakaian yang dipinjamkan oleh Atha padanya.
Byan tidak sempat untuk pulang karena Atha memaksanya untuk memakai pakaiannya yang ada di kantor, yang memang sengaja disiapkan khusus oleh Atha untuk berjaga-jaga sewaktu-waktu diperlukan. Tapi nyatanya saat dipakai oleh Byan, baju itu sedikit kelonggaran mengingat tubuh Atha sekarang sedikit lebih berisi setelah menikah dengan Jasmine. Padahal dulu Atha dan Byan memiliki tubuh dengan ukuran baju yang sama. Tapi sekarang sedikit berbeda.
"Nanti juga kau akan tahu, kok!" jawab Atha yang tidak lepas dari pandangannya ke arah ponsel sejak menginjakkan kakinya di hotel.
Dert dert derttttt
Tak lama kemudian, Atha pun mendapat pesan di ponselnya. Senyum mengembang di wajah Atha berseri.
"Ayo, seseorang sudah menunggu kedatangan kita," ajak Atha melirik ke arah Jasmine dan Byan.
Merasa sendiri, Byan seperti asisten yang selalu ikut kemana tuannya pergi. Rasa ingin pulang saja Byan, ketika melihat kebahagiaan Atha bersama keluarganya, apalagi Atha merangkul Jasmine di sebelah kanannya yang sedang menggendong Ziva. Lalu Sakha di gandeng oleh Atha di tangan kirinya.
Melihat itu Byan hanya pasrah dan terpaksa mengekori ke empat orang yang menyandang keluarga bahagia itu. Lengkap sudah penderitaannya. Begitu sakit yang Byan rasakan. Tapi tak bisa dipungkiri bahwa Byan sangat penasaran dengan siapa orang yang dimaksud oleh Atha.
"Atha!!!" teriak seseorang cukup keras.
Dari kejauhan ada seorang laki-laki melambaikan tangannya ke arah Atha.
"Itu dia, kita duduk di sana!" Atha menunjukkan sebuah arah ke tempat mereka akan duduk dengan mengarahkan dagu serta lirikan matanya.
Ada satu orang laki-laki yang sudah berdiri siap untuk menyambut kedatangan Atha berserta keluarga dan juga Byan tentunya.
Mereka pun berjalan menghampiri lelaki tersebut tepat di meja yang sudah dipesannya dengan jumlah kursi yang sudah dikonfirmasikan sebelumnya oleh Atha pada lelaki tersebut.
"Long time no see, Brother!" sapa Atha yang sontak melepaskan rangkulannya pada Jasmine beserta genggaman tangannya dari Sakha, kala Atha menjabat tangan lelaki itu lalu memeluknya sekilas.
__ADS_1
Sedangkan Jasmine, pandangan matanya setelah itu terfokus hanya pada Ziva dan Sakha yang langsung dia genggam tangannya.
Lalu Byan, lelaki satu ini dibuat sulit untuk berbicara kala melihat dua lelaki dihadapannya itu sedang berpelukan melepas rindu yang sekian lama tidak berjumpa. Mata Byan membulat sempurna.
"Felix," sapa Byan menekan.
Seketika Atha dan Felix pun menoleh ke arah Byan. Sedangkan Jasmine terpaku saat mendengar nama itu disebut.
"Wowww, Abi. Tubuhmu semakin perfect saja sekarang. Aku curiga, pasti kau pernah menikah sebelumnya, hahaha!" ucap Felix dengan asal bercanda. Karena yang dilihat Felix dulu adalah Byan yang paling kecil tubuhnya dari kedua lelaki itu.
"Ah, kau sudah gila!" bantah Byan sedikit kaget, karena dirinya memang sudah pernah menikah. Tapi entah kenapa candaan Felix membuatnya menjadi gelisah dan gugup. Apalagi ada Jasmine di sana.
Kini Byan dan Felix pun berjabat tangan dan berpelukan sejenak sama seperti pada Atha tadi.
"Kau jahat, Mas tidak memberitahu kedatangan Felix padaku. Ternyata kau merahasiakannya dariku," protes Byan menatap Atha sedikit merajuk.
"Maaf, biar kejutan. Karena jika aku memberitahumu, aku takut kau akan mengingat taruhan kalian berdua waktu dulu," ujar Atha menduga-duga sambil melirik Byan dan Felix bergantian.
Dan saat ini nyatanya Byan dan Felix tidak membawa pasangan sama sekali. Itu artinya tidak ada yang menang dan kalah. Mereka berdua seimbang.
"Hehehe," Byan dan Felix tertawa kikuk sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Atha hanya terkekeh melihat keduanya dan menggelengkan kepalanya menatap heran pada Byan dan Felix.
Ketiga lelaki itu asik dengan obrolan mereka, sehingga melupakan keberdaan Jasmine dan kedua anaknya. Tak lama dari itu, Atha pun tersadar dengan istrinya dan hendak memperkenalkan Jasmine pada Felix.
Tapi ketika menoleh ke belakang, Atha hanya menemukan Sakha yang masih setia berdiri menatap Atha, Byan dan Felix.
"Sakha, Mama dan Ziva mana?" tanya Atha memegang kedua bahu Sakha.
__ADS_1
"Ke toilet, Pa!" sahut Sakha.
Setelah mengetahui itu, Atha mengajak Sakha untuk duduk di kursi yang telah disiapkan bersama Byan dan Felix sembari menunggu Jasmine dan Ziva.
Sementara di toilet, Jasmine sejak tadi gelisah saat masuk ke dalam sana. Hatinya tiba-tiba merasa tidak tenang. Hanya mondar mandir dengan memikirkan bagaimana caranya agar dia bisa keluar dan kembali pulang ke rumah tanpa sepengetahuan suaminya.
Tapi rasanya itu tidak mungkin, Jasmine tak bisa bersembunyi atau menghindar lagi. Walaupun dia bisa lari dari sana sekarang, toh pada akhirnya dia bakal ketahuan juga.
"Bagaimana bisa mereka bertiga saling kenal? Sejak kapan? Kenapa aku baru mengetahuinya sekarang?" gumam Jasmine ketakutan sembari menggigit jari kuku-kukunya sambil memeluk Ziva dengan gemetar.
Dert dert derttttt
Tak lama ponsel Jasmine berbunyi. Lalu dia meraih ponselnya di tas. Sontak Jasmine kaget saat melihat nama di layar ponselnya, tak lain adalah suaminya, Atha.
"Haruskah aku menjawabnya? Aku tidak bisa bersembunyi seperti ini, tapi aku juga tidak ingin kembali menemui mereka. Aku belum siap. Apalagi ini terlalu mendadak. Apa yang harus aku lakukan?" gumam Jasmine panik, dan masih membiarkan panggilan teleponnya bergetar menyala.
Atha, tidak mendapatkan jawaban dari Jasmine. Dia menjadi cemas dan bergegas menyusul Jasmine ke toilet sambil berkali-kali menghubungi Jasmine kembali.
Kini Atha tepat berada di depan toilet wanita, menunggu Jasmine ke luar dari sana. Cukup lama, 5 menit Atha menunggu, padahal itu sejak 15 menit yang lalu Atha masih bersama dengan Byan dan Felix. Atha semakin cemas dan dia berharap tidak ada hal buruk yang terjadi pada Jasmine dan Ziva.
Ingin rasanya Atha menerobos masuk ke toilet wanita itu, tapi rasanya tidak mungkin dan terkesan kurang ajar serta tidak sopan untuk ukuran lelaki seperti Atha yang tabiatnya baik apalagi mendekati lelaki sholeh.
Karena sudah terlalu lama, akhirnya Atha terpaksa meneriaki nama Jasmine di depan toilet wanita. Itu lebih baik dari pada menerobos masuk ke area terlarang walau masih sama-sama tidak sopan.
"Jasmine, Jasmine!!" teriak Atha menahan malu.
"Mbak, maaf ... apa anda melihat seorang wanita berjilbab yang sedang menggendong seorang anak perempuan di dalam sana?" tanya Atha pada wanita yang barusan ke luar dari toilet itu.
"Nggak lihat tuh, Mas!" jawab wanita itu datar kemudian berlalu begitu saja.
__ADS_1
Atha mulai frustasi, dia sangat cemas berkali-kali lipat.
"Kemana kamu Jasmine!" gumam Atha lirih, tubuhnya mulai lemas.