Tersesat, Cinta Dua Hati

Tersesat, Cinta Dua Hati
Aku nggak Takut


__ADS_3

Sejak pertemuannya kembali dengan Jasmine, ada saja cara Byan berkunjung ke rumah Atha. Seperti pagi ini, saat semua orang sedang sarapan, Byan muncul di tengah-tengah mereka.


Karena kebetulan hari ini adalah hari Minggu, Byan sengaja memakai setelah pakaian olahraga, itulah salah satu alasannya dia datang ke rumah Atha agar tidak menimbulkan kecurigaan terutama pada Jasmine yang saat ini terlihat sangat tidak menyukai kedatangan Byan.


"Om Abi," teriak Sakha saat melihat Byan sudah berada di hadapannya.


"Hei Sakha," sahut Byan menghampiri dan mengelus kepala Sakha.


"Ajak Sakha ke rumah kakek Darwish, Om. Sakha ingin main ke sana," rengek Sakha menggoyang-goyangkan tangan Byan.


"Kangen sama kakek Darwish atau rumahnya nih?" tanya Byan.


"Dua-duanya, hihihi...," ujar Sakha sambil tertawa nyengir.


"Baiklah, Om akan ajak Sakha ke sana, tapi setelah kita sarapan ya?" Byan menatap menu sarapan yang ada di meja makan.


Kebetulan ada makanan kesukaannya berada di antara salah satu hidangan yang sejak tadi dia incar. Apalagi makanan itu sudah lama tidak pernah dia makan.


"Aku gabung ya, udah lama nggak makan yang beginian," Byan langsung mengambil potongan makanan itu dengan keadaan dia yang masih berdiri di samping Sakha.


"Itu makanan kesukaan Sakha, Om. Mama yang memasaknya. Omlet buatan Mama paling enak deh pokoknya," Sakha memuji Jasmine di depan Byan.


Seketika Byan bernostalgia dengan kenangannya di masa lalu. Ya, omlet adalah makanan yang dulu pernah Jasmine buatkan untuk Byan saat mereka masih tinggal bersama waktu dulu.


"Emm ... rasanya sama persis seperti beberapa tahun lalu," gumam Byan melahap omlet itu sampai habis.


Atha yang mendengar itu pun jadi ingin tahu apa yang dikatakan oleh Byan.


"Sama persis, maksud kamu apa, Abi?" tanya Atha di sela makannya.


"Emm ... itu, aku ingat dulu ada yang membuatkan omlet seperti ini juga," ucap Byan sekaligus mengingatkan pada Jasmine.


"Siapa? Pasti pacar kamu ya?" selidik Atha.


"Ya, bisa dibilang begitu," ujar Byan sembari melirik ke arah Jasmine dengan seringai liciknya.


Jasmine yang dilirik pun menjadi tidak nyaman, karena secara tidak langsung Byan seolah menyinggungnya.


Byan menaikan sudut bibirnya, dia serasa puas membuat Jasmine salah tingkah.


"Oh ya, Mas. Lusa papi balik ke Amerika. Jadi aku harap kau juga bisa mengantarnya ke bandara," Byan mulai menarik kursi dan duduk di sebelah Sakha.

__ADS_1


"Baiklah, apa kau juga ikut pulang bersama paman?" tanya Atha yang setelah itu dia mengelap mulutnya dengan tisu.


"Tidak, masih ada urusan yang belum aku selesaikan di sini," ujar Byan sembari mengambil satu potong lagi omlet ke atas piringnya.


"Urusan? Urusan apa?" tanya Atha memicingkan matanya bingung. Karena menurutnya, Byan tidak memiliki pekerjaan tetap di Indonesia.


Byan kembali menatap perlahan wajah Jasmine. Byan ingin menujukkan bahwa tujuannya masih menetap di Jakarta adalah dia, yakni Jasmine.


"Aku ada urusan sedikit dengan seseorang yang masih harus aku tangani, Mas!" ujar Byan menatap Atha kemudian berganti menatap Jasmine dengan seringai tajam.


Ditatap seperti itu oleh Byan, Jasmine langsung menunduk. Jasmine merasa cemas dan ketakutan, dia yakin yang di maksud oleh Byan adalah urusannya dengan dirinya.


Tanpa sadar Byan melahap habis omlet yang ada di piring. Melihat itu, Sakha terlihat kesal karena makanan kesukaannya habis tak tersisa.


"Yahhh, omletnya kenapa dihabisin, Om? Sakha masih ingin makan omlet lagi," lirih Sakha kecewa dan menekuk wajahnya murung.


"Eh, iya ya ... maaf sayang, Om Abi kebablasan, hehehe!" Byan menggaruk-garuk kepalanya, dia merasa bersalah dan malu karena hal itu.


Jasmine yang melihat itu langsung berdiri dan menenangkan Sakha.


"Mama buat lagi omletnya, ya. Udah jangan cemberut," ujar Jasmine sembari melirik Byan dengan sebal.


Byan yang dilirik seperti itu menyeringai kecil. Dia sukses membuat Jasmine kesal dan itu terlihat menyenangkan bagi Byan karena terlihat menggemaskan.


Tak lama kemudian, setelah omletnya sudah jadi, sengaja Byan permisi ke toilet padahal dia hanya beralasan untuk pergi ke dapur menemui Jasmine.


"Emm, enak! Aku rindu masakan ini," ujar Byan yang tanpa malu langsung menyambar omlet yang telah disajikan oleh Jasmine di dalam piring.


Jasmine melotot sempurna kala Byan melakukan hal itu.


"Hei, ini punya Sakha!" ketus Jasmine.


Byan tak mengindahkan ucapan Jasmine. Byan malah mengambil kembali omlet dari tangan Jasmine beserta piringnya.


"Byan, berhenti bertingkah konyol. Itu milik Sakha. Nanti dia nangis!" ucap Jasmine bersuara sangat pelan. Dia takut jika kebersamaannya dengan Byan akan membuat kecurigaan terhadap orang-orang di rumah.


"Aku suka kamu manggil namaku seperti itu. Aku rindu dipanggil Byan dari mulutmu itu. Ok, lupakan! Sekarang aku dan Sakha akan pergi, aku berjanji akan membelikannya pizza, jadi dia tidak membutuhkan ini lagi. Dan sekarang omlet ini milikku," ucap Byan dengan beraninya.


Byan bahkan tak malu-malu lagi di depan Jasmine, toh mereka saling kenal dan mereka sudah saling tahu sifat dari masing-masing di antara keduanya, pikir Byan.


"Kamu sama sekali tidak punya etika, tidak tahu malu," gumam Jasmine yang hendak meninggalkan Byan.

__ADS_1


Dengan cepat Byan mencekal tangan Jasmine menghentikan langkahnya.


"Lepasin aku, nanti dilihat orang. Aku sudah bilang, jaga sikap kamu. Jangan sampai orang curiga dengan kita. Orang lain nggak boleh tahu jika kita saling kenal," tekan Jasmine memperingati sembari mencoba melepaskan tangan Byan darinya.


"Oh ya, di sini hanya ada kita berdua!" Byan bermain mata pada Jasmine seolah menggodanya.


"Dasar gila. Kamu berani main mata sama istri saudaramu sendiri. Lepasin aku!" Jasmine mencoba berontak dan melihat sekeliling, kalau saja ada pelayan yang melihat dirinya dan Byan.


Byan mendekatkan tubuhnya sedikit pada Jasmine dengan tangan yang masih menggenggam tangan Jasmine.


"Kuperingatkan padamu, aku tidak akan membiarkanmu berkeliaran sesuka hatimu di sisi mas Atha. Jika terbukti kau hanya memanfaatkan dia, maka aku akan membongkar rahasiamu pada mas Atha," tekan Byan mengancam.


"Silahkan, AKU NGGAK TAKUT!" tantang Jasmine sambil menekan kata-katanya pula. Jasmine pun kembali berjalan ke ruang makan.


Byan hanya mendecih dengan senyuman menyeringai.


Malam pun tiba, sudah hampir pukul 8 malam, Byan dan Sakha tak kunjung pulang. Jasmine begitu cemas jika Sakha berada di tangan Byan. Tapi Jasmine mencoba mengusir pikiran buruk tentang Byan yang akan membawa pergi Sakha, karena selama rahasianya tak terbongkar tentang status Sakha pada Byan maka situasinya masih aman terkendali.


"Mas, coba kamu hubungi Abi, sudah dimana mereka. Ini sudah malam, besok Sakha mau sekolah, nanti susah dibangunin," Jasmine menghampiri Atha di ruang kerjanya yang sedang mengetik dengan laptopnya.


"Sebentar lagi mereka pulang, tunggu saja. Jangan khawatir, tumben sekali Sakha begitu dekat pada keluargaku, seperti paman dan Abi, padahal Sakha baru kenal dengan mereka," ujar Atha, sejenak dia menghentikan aktivitasnya dan beralih menatap Jasmine. Bisa Atha lihat kecemasan di wajah istrinya itu.


Jasmine pun memikirkan demikian, sejak pertama kali Darwish dan Byan datang, Sakha begitu dekat. Ya, mungkin karena hubungan darah mereka begitu kental, jadi Sakha begitu nyaman berada di antara mereka. Dan itu menjadi salah satu penyebab ketakutan Jasmine.


"Kau temani saja Ziva di kamar. Jika Sakha pulang, aku akan mengantarkannya padamu," Atha beranjak lalu mencium kening Jasmine lembut sebagai penenang rasa khawatirnya.


"Baiklah Mas," Jasmine akhirnya luluh dan kembali ke kamarnya.


Tak lama kemudian, bunyi suara mobil masuk di halaman rumah Atha. Jasmine segera melihat ke jendela kamarnya, dia merasa lega akhirnya Sakha pulang dengan aman. Ingin sekali dia turun untuk menemui Sakha tapi niatnya diurungkan karena Jasmine malas harus berhadapan kembali dengan Byan. Dan terpaksa Jasmine menunggu Sakha di dalam kamar.


Cukup lama Jasmine menunggu hingga dirinya merasa ngantuk. Dia memejamkan matanya sejenak, dan tak lama kemudian, bunyi suara pintu terbuka dari kamarnya.


Ceklek


Sontak Jasmine membuka matanya dan bangkit dari ranjang.


"Kamu sudah pulang, sayang!" ucap Jasmine dengan pandangan nanar. Dirinya masih diselimuti rasa kantuk.


"Ya, aku sudah kembali, sayang!" sahutnya dengan seringai tajam.


Deg

__ADS_1


Suara yang berbeda dari suara lembut yang selama ini mengisi hari-harinya di masa ini, namun kini suara itu berbeda seperti suara sangar yang pernah mengisi hari-harinya di masa dulu.


__ADS_2