
Pemandangan indah di suatu malam dengan cahaya kemilau yang menarik perhatian orang-orang yang melihatnya. Siapa yang tak kenal dengan Menara Eiffel. Dengan ketinggian 300 meter, jika berjalan-jalan di malam hari, maka kita akan melihat gemerlapnya lampu yang dipasang di Menara Eiffel seolah kita sedang bermain mata dengannya.
Selain karena keindahannya, Paris juga dikenal sebagai kota romantis sehingga dijuluki sebagai kota cinta atau city of love. Makanya Paris menjadi tujuan banyak orang untuk merayakan cinta.
Tapi bagaimana dengan lelaki yang satu ini? Dia sedang termenung sambil duduk di bangku taman menghadap keindahan Menara Eiffel. Tapi pikirannya entah kemana dan pandangannya pun kosong seolah tak menikmati gemerlap cahaya Menara Eiffel di sana.
Padahal banyak orang yang memperlihatkan keromantisan mereka dengan pasangan masing-masing, bahkan ada yang merayakan hari jadi mereka di sana. Malah lelaki ini merasa jijik dengan pemandangan romantis sepasang kekasih yang memadu kasih itu.
Byan, lelaki yang termenung menatap Menara Eiffel dengan pandangan kosong. Seolah dia tidak peduli apa anggapan orang-orang di sana yang melihatnya karena kesendiriannya dan ekspresi menyedihkan dia yang duduk bangku taman itu.
"Woi, duda jomlo bodoh! Udahlah ... yang sudah terjadi ikhlaskan, toh dia nggak akan kembali lagi," ujar Wandi yang tiba-tiba datang dari arah samping sembari menepuk bahu Byan hingga membuyarkan pikiran kosongnya.
Byan berdecak kesal saat lamunannya begitu saja lenyap karena hadirnya sosok Wandi yang mungkin akan mengeluarkan kata-kata bijaknya nanti. Jadi Byan mulai bersiap-siap dengan ocehan sahabatnya itu sebentar lagi.
Kemudian Wandi duduk di sebelah Byan dengan kakinya yang disilangkan persis seperti Byan memposisikan dirinya saat ini.
Ternyata Byan telah berada di Paris. Dia tidak sendiri, selalu saja ada Wandi yang menemaninya. Pas sekali untuk Byan saat ini, walaupun Byan tidak ada pasangan kekasih, maka Wandi lah pengganti sebagai pengobat kesepian Byan dikala sendiri. Ya, mereka adalah sahabat yang tak terpisahkan.
"Berhenti loe ngatain gue duda. Kalau sampai orang lain tahu, apalagi bokap gue, awas loe ya. Persahabatan kita putus!" ancam Byan dengan konyolnya seperti anak kecil.
"Buahahaha ... marah ni yeee. Emang loe bisa hidup tanpa gue jika kita putus? Loe kira kita ini sepasang kekasih? Hahaha," tantang Wandi bertanya.
__ADS_1
Byan memalingkan pandangannya ke arah lain sambil mendengus kesal.
"Loe ada-ada aja kayak anak kecil tau nggak? Apa-apa ngambek, marah, terus ngancem," ejek Wandi terkekeh.
Wandi memegang pundak Byan tetapi langsung disingkirkan oleh Byan dengan kasar.
"Nih gue kasih tahu ya sama loe. Gue takutnya suatu hari nanti rahasia loe tentang pernikahan siri loe akan terbongkar, Bro!" ujar Wandi mengingatkan.
Byan mulai menghadapkan wajahnya ke Wandi.
"Rahasia gue aman jika loe tutup rapat mulut loe ini, hah!" tutur Byan sambil menarik mulut Wandi ke depan hingga Wandi merasa kesakitan.
"Arghhhh, gila loe Byan. Mulut gue panas!" umpat Wandi kesal.
"Itu hukuman buat, loe!"
"Ya tapi jangan gitu juga, kali. Ntar mulut gue panjang kayak bebek, gimana? Ntar nggak ada cewek yang mau sama gue. Gila loe, Bro. Kalau jomlo jangan ngajak-ngajak gue, apalagi duda nggak jelas kayak loe!" kesal Wandi memaki Byan.
Byan merespon dengan santai sembari menaikkan kedua bahunya menandakan masa bodohnya pada Wandi.
Byan pun bangkit dan melangkah ke depan untuk memandang lebih dekat lagi keindahan Menara Eiffel. Dia meninggalkan Wandi sendirian di bangku taman dengan perasaan tak bersalah.
__ADS_1
Sedangkan Wandi begitu kesal dan sangat marah pada Byan hingga merutuki sahabatnya itu dengan makian yang cukup kasar.
"Hei ... dasar duda gila, duda jomlo, duda bodoh, duda pe'ak loe Byan!" teriak Wandi memaki-maki Byan sampai terengah-engah.
Byan tak peduli dengan makian sahabatnya itu. Byan tetap melangkah dengan santainya.
"Hati loe selalu hampa jika loe masih angkuh. Akui saja jika loe tersiksa karena penyesalan loe melepaskan Jasmine!" teriak Wandi kembali yang kali ini mengingatkan Byan.
Byan malah terkekeh kecil. Sejujurnya perkataan Wandi sangat benar bahwa Byan tersiksa dengan penyesalannya tapi Byan menyangkalnya.
Byan berbalik menghadap Wandi yang nyatanya berada 5 meter di antara keduanya.
"I AM HAPPY. I AM SO HAPPY," teriak Byan dengan bangga sambil merentangkan tangannya agar dia merasa lega. Pada kenyataannya dari hati yang paling dalam, hatinya sangatlah perih, dadanya begitu sakit.
Tapi Byan tak ingin dia lemah di depan orang lain, terutama sahabatnya, Wandi. Sehingga dia harus bangkit dan bersemangat mulai dari saat ini. Dia akan membuang rasa kesedihannya dan penyesalannya di masa lalu, apalagi menyangkut tentang wanita.
Wandi tersenyum simpul. Dia tau bahwa pernyataan Byan itu adalah tidak benar alias bohong.
"Cih ... DASAR DUDA AKUT LOE!!!" teriak Wandi memaki Byan dengan sangat keras.
Byan terkekeh, Wandi pun membalas senyumannya saat melihat tingkah sahabatnya itu. Keduanya pun larut dalam cerita-cerita konyol di hamparan gemerlap indahnya Menara Eiffel.
__ADS_1