Tersesat, Cinta Dua Hati

Tersesat, Cinta Dua Hati
Sebagai Pendonor


__ADS_3

Ada yang bilang, kasih ibu sepanjang masa dan kasih ayah sepanjang jalan. Tentu saja, Ayah dan Ibu memiliki kasih yang tak ada batasnya. Rasanya, setelah menjadi orang tua, kebahagiaan anak adalah nomor satu.


Kasih sayang Ibu tidak hanya datang dari belaian, tapi juga untaian doa-doa. Itulah mengapa, kasih Ibu memang sepanjang masa. Meski begitu, pengorbanan Ibu tidak sendirian. Tentu saja ada Ayah yang selalu mendampingi.


Kejadian Sakha kali ini membuat hati Jasmine begitu terpukul. Dimana dirinya sebagai seorang ibu telah melakukan kesalahan yang fatal. Sebab seorang anak tidak bisa dipisahkan dari seorang ayah. Nyatanya Sakha begitu terikat pada Abyan sebagai anak dan ayah.


Sakha begitu merasa kehilangan sosok Byan saat tahu bahwa laki-laki yang dikenalnya sebagai pamannya itu, akan berangkat ke Amerika tanpa berpamitan padanya, hingga Sakha tak peduli lagi arah tujuan yang dia kunjungi, dia berlari sekuat tenaganya sampai-sampai dia tak sadar bahwa dirinya sudah tergeletak di jalanan bersimbah darah. Itu karena Sakha ingin bertemu dengan Byan.


Sekarang dokter sedang menangani Sakha yang terbaring tak berdaya di ruang UGD. Jasmine tak henti menangis. Sedangkan Atha tak lupa memanjatkan doa untuk keselamatan Sakha. Mereka saling menguatkan hingga terdengar suara pintu terbuka yang nyatanya seorang dokter ke luar dari ruang UGD.


"Bagaimana keadaan anak saya, Dok?" tanya Jasmine dengan suara bergetar, ia tak sabar ingin mendengar pengakuan dokter tentang keadaan Sakha.


Dokter itu menghela nafasnya perlahan, seolah berat untuk menyampaikan sesuatu pada Jasmine.


"Semuanya sudah ditangani dengan baik, hanya saja anak ibu masih belum sadarkan diri, dan masih membutuhkan darah agar bisa pulih dengan normal. Namun ... di rumah sakit ini kekurangan stok darah yang cocok dengan anak ibu. Golongan darahnya AB negatif. Jika dari bapak dan ibu mungkin saja cocok, bisa donorkan darah kalian secepatnya. Saya permisi dulu Pak, Bu!" kata dokter menjelaskan dengan rinci tentang apa yang harus dilakukan oleh kedua orang yang berstatus mama dan papa Sakha itu.


Setelah dokter pergi, bergegas Jasmine berlari untuk mengecek darahnya pada bagian medis, lalu disusul oleh Atha dari belakang.


Tak butuh waktu lama, hasil pun keluar. Dan ternyata golongan darah mereka tidak cocok untuk mendonorkan darahnya pada Sakha.


"Harus cari kemana lagi, siapa yang bisa membantu Sakha," tangis Jasmine pilu.


"Tenanglah, aku akan meminta bantuan pada Billy dan karyawan kantorku. Semoga saja darah mereka ada yang cocok," ujar Atha menenangkan Jasmine sembari mencari nomor Billy hendak menelponnya.


Tapi sebelum Atha menghubungi asistennya, Jasmine langsung angkat bicara dengan mengingatkan satu nama seseorang. Karena hanya seseorang itu lah yang bisa menolong Sakha, pikirnya.


"Byan ... hubungi saja Byan, Mas. Mungkin darahnya cocok dengan Sakha," ujar Jasmine beralasan dan terlihat panik.


"Mereka sedang berada di bandara sekarang. Mungkin pesawat mereka sebentar lagi akan berangkat," cetus Atha.

__ADS_1


"Coba hubungi saja dulu, Mas. Byan harus tahu kalau Sakha ada di rumah sakit. Aku mohon Maaf. Sebelum pesawat mereka take off," ujar Jasmine seperti memaksa.


Atha sempat ragu, tapi semakin dia pikirkan ucapan Jasmine, memang benar adanya. Siapa tahu Abyan dan keluarganya masih berada di Jakarta. Apalagi mengingat golongan darah Byan adalah AB, tapi entah AB+ atau AB negatif, demi kesembuhan Sakha, Atha harus melakukan yang terbaik sebisa mungkin.


Tak ingin berlama-lama, akhirnya Atha menghubungi Byan.


*******


Di bandara, Byan begitu gelisah. Entah apa yang dia pikirkan. Bukan masalah pertunangan yang telah dia lakukan dengan Jane. Melainkan ada sesuatu yang dia merasa tidak enak. Hatinya tiba-tiba saja mendadak terasa sakit dan begitu sedih. Pikirannya hanya tertuju pada satu orang, yaitu Sakha.


"Maafkan Om Abi, karena tidak berpamitan padamu Sakha," batin Byan lirih.


Byan berjalan membawa kopernya, antara mau tak mau dia melangkahkan kakinya. Perasaannya begitu kuat merasa tidak enak. Lalu tanpa sadar, ada panggilan telepon masuk pun dia hanya diam.


"Sayang, ponselmu berbunyi," ucap Jane sambil menyenggol lengan Byan.


"Oh, ya!" kaget Byan. Kemudian dia pun mengambil ponselnya di saku celana.


"Hallo Mas," sahut Atha.


Tiba-tiba langkah Byan terhenti saat Atha mengatakan sesuatu padanya. Matanya membulat sempurna, lalu badannya tiba-tiba lemas tak ada tenaga.


"Baik, aku akan segera ke sana!" ujar Byan lalu dia berbalik dan berlari meninggalkan kopernya dan juga rombongannya begitu saja yang akan berangkat ke Amerika.


"Abyan, mau kemana loe?" teriak Wandi yang memang sedari tadi memperhatikan Byan menelpon, sebab terlihat dari raut wajah Byan begitu panik dan cemas.


Wandi pun berlari mengejar Byan.


"Loe mau kemana, Bro?" tanya Wandi saat menarik tangan Byan.

__ADS_1


"Gue mau ke rumah sakit sekarang. Sakha kecelakaan. Dia membutuhkan gue. Bilang pada Papi dan Jane untuk berangkat duluan, loe juga. Gue akan menyusul kalian nanti," ujar Byan sangatlah panik, lalu dia pergi begitu saja meninggalkan Wandi.


"Woi, mana bisa begitu. Kita harus sama-sama pulang ke Amrik!" teriak Wandi, dia bingung dan serba salah.


*******


Setelah Byan sampai di rumah sakit, dia langsung mengecek darahnya. Dan akhirnya golongan darahnya cocok untuk didonorkan pada Sakha. Kini keadaan Sakha jauh lebih baik. Tinggal menunggu dia sadar dari tidurnya tiga jam yang lalu setelah kecelakaan.


Kini semua keluarga menunggu di luar ruang perawatan. Tidak hanya Jasmine, Atha, Abyan saja. Melainkan Wandi, Jane dan Darwish, mereka membatalkan penerbangannya ke Amerika. Mereka juga ikutan panik melihat Byan yang berlari begitu saja tanpa perkataan apapun.


"Bagaimana kecelakaan itu terjadi pada Sakha?" Darwish baru berani membuka suaranya bertanya pada Atha setelah mendengar kondisi Sakha membaik.


"Sakha berlari ke luar rumah, saat tahu Abi akan berangkat ke Amerika. Sakha tidak rela jika Abi pergi tanpa berpamitan padanya terlebih dulu. Setelah sampai di jalanan, Sakha terus berlari tanpa melihat kondisi jalanan yang saat itu ada kendaraan berlalu-lalang, hingga sebuah mobil menabrak dia saat di persimpangan," ungkap Atha menceritakan kronologi kecelakaan yang Sakha alami.


Mereka semua pun akhirnya paham dan mengerti, tapi satu hal yang membuat mereka heran. Kenapa Sakha begitu sangat tidak rela berpisah dengan Byan? Bukan hanya kali ini tapi tahun lalu juga seperti itu, dimana Sakha merengek tidak memperbolehkan Byan pulang ke Amerika.


Abyan yang mendengar itu, hanya diam dan ada rasa bersalah karena dirinya adalah penyebab Sakha terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Tapi beruntungnya dirinya pula yang dapat membuat Sakha pulih kembali. Jika tidak, maka selamanya dirinya berada dalam penyesalan seumur hidupnya.


Ngomong-ngomong soal darah, terbesit pikiran yang membuat Byan jadi bertanya-tanya.


"Kenapa hanya darahku yang cocok didonorkan pada Sakha? Seharusnya salah satu di antara kalian sebagai orang tuanya ada yang cocok mendonorkan darah pada Sakha," Byan mengalihkan pandangannya ke arah Atha dan Jasmine bergantian, menanyakan kejanggalan yang membuatnya heran.


Deg


Apa yang akan dijawab oleh Atha begitu juga dengan Jasmine. Padahal mereka sudah sepakat akan merahasiakan tentang hubungan Sakha dengan Atha yang sebenarnya bukanlah anak kandung. Tapi jika diberitahu tentang kebenaran itu, maka mereka akan bertanya tentang asal-usul Sakha dan ayah kandungnya. Sedangkan Atha pun tidak tahu siapa ayah kandung dari Sakha. Jasmine pun menutup rapat tentang hal itu. Atha menjadi serba salah.


"Mas Atha? Bisa jelaskan padaku?" tanya Byan penasaran hingga membuyarkan lamunan Atha.


"Emm, sebenarnya Sakha itu...," Atha menjeda kalimatnya, lalu dia melirik ke arah Jasmine seolah meminta persetujuan tentang kebenaran hubungan dirinya dan Sakha pada keluarganya.

__ADS_1


Namun Jasmine menggeleng pelan seolah tidak mengizinkan Atha untuk membongkar rahasia Sakha saat ini, apalagi ada Byan di sana.


__ADS_2