
Byan menggelengkan kepalanya merasa tidak tahu sama sekali.
"Alasannya karena bokap loe akan menghadiri pernikahan seseorang," ungkap Wandi yang sok tahu.
Byan sontak kaget.
"Apa? Pernikahan? Emang siapa?" Byan bertanya-tanya.
Wandi hanya mengedikkan bahunya.
"Apa jangan-jangan...," gumam Byan dengan sangkaannya menduga-duga.
Byan menjeda kalimatnya, menatap ke arah Wandi yang juga terlihat sedang berpikir kala itu.
"Jangan-jangan yang di maksud pernikahan itu adalah...," lagi-lagi Byan menjeda kalimatnya.
Wandi menjentikan telunjuknya ke arah Byan. Sahabatnya itu tampak mengerti dengan apa yang akan Byan katakan. Mungkin Wandi juga berpikir hal yang sama dengan Byan.
"MAS ATHA!" ucap Byan dan Wandi bersamaan.
Byan dan Wandi pun saling mendekat, mereka masih tak percaya apa yang barusan saja mereka katakan, apalagi tebakan mereka sama.
"Keluarga gue yang dekat, ya cuma mas Atha. Lalu apakah emang beneran dia yang nikah?" gumam Byan bertanya-tanya.
__ADS_1
Nyatanya, Atha Bamantara adalah keluarga dari Byan. Lebih tepatnya sepupuh dari sebelah papinya. Atha adalah anak dari saudara perempuan papinya Byan. Ibunya Atha adalah anak sulung di keluarga Wiratama yang bernama Zemira Putri Wiratama. Sedangkan papi dari Byan adalah anak kedua dari keluarga Wiratama yaitu Darwish Putra Wiratama.
Itulah kenapa Atha mewarisi perusahaan pusat dan beberapa cabang lainnya dari kakeknya. Selain Atha adalah cucu pertamanya, Atha juga sangat cerdas, begitu menekuni bakat di bidang bisnis, apalagi perilaku Atha begitu sopan dan bertanggung jawab sejak kecil.
Maka dari itu, papinya Byan tidak menyetujui Atha menduduki kursi pimpinan yang berpusat di Amerika karena Atha memiliki garis keturunan yang kental dari keluarga Bamantara, walaupun ibunya adalah saudara kandung Darwish. Tetapi tetap saja Darwish tidak akan rela bila perusahaannya bukan dipimpin oleh orang yang bukan bermarga Wiratama.
Lain halnya dengan Byan, dia adalah orang yang tidak ambil pusing tentang masalah warisan. Walaupun dia terlihat santai, tetapi dia bertanggung jawab dengan pekerjaannya meskipun dia melakukannya sesuka hatinya. Yang penting hidupnya bahagia dengan tidak merampas hak milik orang lain. Dan yang penting dia juga mendapatkan hak waris dari kakeknya walaupun tidak sebesar Atha.
"Kalau mas Atha menikah, masa dia nggak kasih kabar bahagianya ke gue?" Byan bertanya-tanya.
"Mungkin dia sibuk!" sahut Wandi.
Byan berkacak pinggang.
"Mending loe tanya ke orangnya langsung deh, dari pada loe penasaran. Ntar loe kepikiran terus, ya kan?" ujar Wandi memberi saran.
Byan menjentikan telunjuknya ke kening Wandi.
"Ah, loe pikir gue orang yang baru putus cinta, hem? Kepikiran, nggak segitu juga kali," bantah Byan tak terima.
"Ya, siapa tau aja. Mungkin loe penasaran sama istrinya mas Atha, gitu!" sangka Wandi melanjutkan ocehannya.
Byan melirik Wandi dengan malas kemudian menghela nafasnya kasar.
__ADS_1
"Sudah, loe sana pergi. Mual gue liat muka loe. Kerja sana ... loe mending cari tahu tentang pernikahan mas Atha, bener apa tidak!" ucap Byan sembari mendorong tubuh Wandi untuk keluar dari apartemennya.
"Eh, eh, kok malah gue. Elo yang sepupuhnya!" seru Wandi.
"Dan gue boss loe. Gue kasih perintah ke loe!" bantah Byan tidak mau kalah.
Wandi mundur beberapa langkah hendak sampai ke arah pintu luar.
"Wah, loe parah loe Byan! Ok, kalau begitu, gue akan pergi ke Jakarta untuk memastikan sendiri," ujar Wandi merajuk sambil melangkah pergi.
"Heh, apa maksudnya? Loe nggak boleh pergi ke sana?" cegat Byan menarik lengan Wandi.
"Bodoh amat, lagian loe yang beri perintah ke gue tadi," Wandi menarik lengannya kembali dengan kasar.
"Hey, ayolah aku minta maaf. Aku cuma becanda," sesal Byan.
Wandi tak mempedulikan ucapan Byan, dia tetap melangkah pergi.
"Berhenti Wandi, jangan pergi kumohon. Kau tahu kan jika kita tidak bisa terpisah," ujar Byan membujuk Wandi.
Wandi berbalik ke arah Byan.
"Kalau begitu ikutlah denganku ke Jakarta," ajak Wandi.
__ADS_1
"Apa? Jakarta? Loe udah gila, ya!" ucap Byan cukup keras.