Tersesat, Cinta Dua Hati

Tersesat, Cinta Dua Hati
Berlawanan Arah


__ADS_3

Kehadiran seseorang tidak selamanya kita berada bersama dengan raganya. Jika dia memilihmu, maka dia akan tetap tinggal, tapi jika dia memilih jalan lain untuk kepentingan dirinya sendiri maka dia akan pergi.


Itulah kehidupan, kita tidak tahu jalan cerita selanjutnya. Kita bisa saja menginginkan tetapi belum tentu bisa mendapatkan. Ada orang-orang yang beruntung mendapatkan keinginannya terwujud, tapi ada pula orang-orang yang tidak seberuntung itu.


Seperti sepasang suami istri yang memiliki kesepakatan pernikahan paksa yang saling membutuhkan satu sama lain hingga akhirnya ego yang membuat mereka berpisah, yakni Jasmine dan Byan.


Di antara keduanya, Byan pergi dengan menaiki mobil menuju bandara, sedangkan Jasmine belum beranjak dari apartemen, dia sengaja ingin terakhir kalinya mengenang dirinya saat berada di sana.


Di sisi lain, Byan menatap ke arah jalanan. Pikirannya tertuju pada satu bayang-bayang wajah seseorang. Dia hanya diam sedari tadi.


"Papa loe menanyakan kabar loe sejak kemarin. Hubungilah dia agar tidak cemas," ucap Wandi dengan santainya pada Byan, tapi sepertinya Byan tidak mendengarkan ucapan Wandi. Byan sibuk dengan pikirannya sendiri.


Wandi menggelengkan kepalanya dan menghela nafasnya dengan sabar melihat tingkah bosnya itu.


"Woi, Abyan Wiratama ... gue bukan patung dicuekin terus dari tadi," ujar Wandi kesal sedikit membentak sembari menatap kaca spion depan yang memantul wajah Byan.


Byan mulai sadar dengan lamunannya dan menghadap ke arah pantulan wajah Wandi pula pada kaca spion.


"Sorry, gue tadi sedang...," sahut Byan menggantungkan kalimatnya.


Wandi hanya tersenyum kecut.


"Loe sedang memikirkan Jasmine, bukan?" Wandi langsung memotong ucapan Byan.


Byan terdiam dan tak menjawab pertanyaan Wandi. Sedangkan Wandi hanya berdecak kesal pada Byan.


"Baru kali ini gue lihat sahabat gue tersihir oleh seorang wanita," ujar Wandi dengan beraninya menyinggung Byan.


Byan mulai terpancing oleh perkataan Wandi.


"Diem loe, nggak usah banyak omong, nyetir aja sana!" sahut Byan kesal tak terima.


Nyatanya Byan dan Wandi begitu dekat dan akrab, bukan karena Wandi bawahan Byan tetapi mereka berdua adalah sahabat semasa kecil, sehingga Wandi berbicara santai saat berdua saja dengan Byan.


"Hahaha, udah akuin aja jika loe melanggar prinsip hidup loe. Nyatanya loe nikah juga sama Jasmine. Loe bilang memegang prinsip tidak akan menikah dan mencintai wanita, tapi pada akhirnya dilanggar juga," Wandi tertawa geli melihat wajah Byan yang sedang kesal.


"Gue terpaksa nikahin dia. Loe juga tahu alasannya, lalu kenapa loe masih bertanya?" Byan tak terima, dia merasa terhina oleh Wandi.

__ADS_1


"Bukan masalah loe nikahin dia, tapi maksud gue itu loe jatuh cinta sama Jasmine. Loe udah ngejilat ludah loe sendiri, jadi akuin aja kesalahan loe, Byan!" bantah Wandi membenarkan.


"Loe seneng sekarang bisa ngehina gue, kan?" ucap Byan masih tak terima perkataan Wandi.


"Bukan menghina tapi fakta. Gue lihat loe di saat detik-detik terakhir kalian berpisah, loe begitu lama menatap Jasmine seakan loe nggak rela pergi dari dia alias mantan istri loe itu," tegas Wandi dengan dugaannya.


Deg


Byan terdiam sejenak mencerna ucapan Wandi yang mengatakan kata 'Mantan' begitu tak tenang hati Byan mendengarnya.


Byan menghela nafasnya kasar dan memijit-mijit kepalanya yang sedikit terasa nyeri.


Wandi merasa kasihan pada Byan, seakan dia tahu apa yang dirasakan oleh bos sekaligus sahabatnya itu.


"Belum terlambat jika loe mengatakan yang sebenarnya pada Jasmine," ujar Wandi menasihati.


"Udahlah, loe nyetir aja yang bener. Cepetan, nanti kita ketinggalan pesawat!" perintah Byan yang sengaja mengalihkan pembicaraan.


Mobil yang dikendarai oleh Wandi sebentar lagi menuju bandara, sementara Byan terus saja gelisah tiada henti.


Wandi pun selalu memperhatikan gerak gerik Byan dari kaca spion di depannya. Jangan ditanya, bahwa Wandi begitu mengkhawatirkan Byan.


Byan mengusap wajahnya kasar. Dia semakin gelisah dan hatinya menjadi tidak tenang. Ucapan Wandi pun hanya sebatas angin lewat, tak dijawab Byan. Akan tetapi di satu sisi, Byan mempertimbangkan apa yang telah dikatakan oleh Wandi.


Baru saja, Jasmine menaiki mobil untuk menuju tempat yang akan dia tinggali, mengingat apartemen milik Byan harus dikosongkan dan tidak ada orang satu pun yang tinggal di sana kecuali pelayan kepercayaan Byan yang mengurus kebersihan apartemen itu bahkan ruang rahasia pribadi Byan yang pernah dimasuki oleh Jasmine.


Jasmine bingung kemana dia akan tinggal, dia tidak ada arah tujuan. Sedangkan pikirannya tidak tenang mengingat Byan yang kini telah berpisah dengannya, ditambah lagi ketakutannya akan kakak tirinya yang mungkin masih mencari keberadaannya.


"Nona Jasmine, sekarang kita menuju kemana?" tanya Beni yang tak lain adalah anak buah dari Byan.


Jasmine tersadar mendengar pertanyaan dari anak buah Byan itu.


"Emm, jalan lurus saja dulu!" seru Jasmine dengan bimbang.


Beni pun menuruti permintaan Jasmine, dan mobil melaju ke depan tanpa arah tujuan yang pasti.


Jasmine menimbang-nimbang hati dan pikirannya yang tidak karuan. Keduanya tidak sejalan. Namun Jasmine tidak ingin egois, karena menurutnya dia tidak ingin kehilangan orang yang berarti baginya lagi. Nyatanya Jasmine menyadari sesuatu hal.

__ADS_1


"Kita ke bandara, sekarang!" ujar Jasmine dengan tiba-tiba.


Ckittt


Beni menghentikan mobil secara mendadak.


"Ke bandara?" tanya Beni begitu heran sembari memutar kepalanya menghadap Jasmine.


"Iya, antarkan aku ke bandara tempat tujuan Byan sekarang!" pinta Jasmine tergesa-gesa.


Beni mematung sejenak, dia heran dan juga bingung dengan permintaan Jasmine. Bukankah Jasmine dan Byan telah berpisah? Lalu kenapa Jasmine meminta ke bandara yang bosnya tuju?


"I-iya baiklah Nona," dengan terpaksa Beni menuruti perintah Jasmine kembali, mengingat Jasmine adalah wanita yang pernah dinikahi oleh bosnya.


Sementara, Byan yang gelisah hingga tak bisa lepas dari bayang-bayang Jasmine. Byan telah berusaha merelakan Jasmine dan mencoba melupakan Jasmine, namun Byan tetap saja dihantui oleh perasaannya yang tak menentu. Hatinya begitu sakit dan pikirannya pun tidak fokus.


"Arghhh, shittt!" ujar Byan meremas rambutnya dengan kesal.


Wandi hanya menggelengkan kepalanya dan membiarkan Byan menyesali perbuatannya sendiri.


"Putar balik sekarang!" pinta Byan tiba-tiba.


"What?" Wandi kaget.


"Putar balik, cepat!" ucap Byan tak sabaran.


"Putar balik kemana?" tanya Wandi yang masih menyetir mobil dengan santai.


"Putar balik ke apartemen gue lah. Cepetan!" perintah Byan yang harus dipatuhi.


Wandi mengukir senyuman kecil di bibirnya. Wandi senang akhirnya Byan mendengarkan nasihatnya tentang Jasmine.


"Tapi pesawat kita sebentar lagi take off," ujar Wandi beralasan.


"Gue nggak peduli. Ayo cepat kita ke apartemen sekarang. Mungkin Jasmine masih di sana," pinta Byan dengan teriakannya.


"Ok, ok ... dengan senang hati. Gue akan antar loe ke apartemen!" seru Wandi bergegas penuh semangat.

__ADS_1


Nyatanya, Byan kembali menuju apartemen, sedangkan Jasmine dalam perjalanan menuju bandara. Mereka berdua menuju arah yang berlawanan. Lalu bagaimanakah takdir mereka selanjutanya? Akankah mereka dipertemukan kembali?


__ADS_2