
Sebuah pertanyaan besar bagi seorang Jasmine tentang pria yang bernama Atha Bamantara. Pria yang baru dikenalnya ternyata bukanlah pria yang gampangan alias mudah digoda oleh wanita. Jasmine pikir Atha sama halnya dengan laki-laki yang pernah dikenalnya tapi nyatanya Atha berbeda, apalagi dibandingkan dengan Byan.
Salah besar jika Jasmine berpikir Atha akan termakan bujuk rayunya tapi nyatanya malah Jasmine disinggung habis-habisan oleh Atha walaupun secara halus tapi sungguh membuat Jasmine begitu tertampar memalukan.
Dan saat ini, Jasmine telah berada di kediaman Atha atau lebih tepatnya di rumah keluarga besar Bamantara. Rumah yang begitu megah dan mewah, pekarangannya pun begitu luas.
Bagi Jasmine rumah seperti itu sudah biasa baginya, karena rumah yang sebelumnya dia tempati dengan ayah tirinya juga semewah dengan rumah Atha. Jadi Jasmine cukup bersyukur bahwa dia bisa tinggal di tempat yang selayaknya dia berada bersama calon buah hatinya walau sekarang Jasmine was-was dan diliputi rasa sedihnya harus melewati masa kehamilannya sampai 9 bulan.
"Aku harus bisa menjalani kehidupanku demi janin yang ada di rahimku. Aku tidak boleh lemah, aku harus kuat," gumam Jasmine sembari mengelus perutnya ketika sudah memasuki kediaman Atha.
"Aku harus bisa melupakan Byan, dia adalah masa laluku. Biarlah ini menjadi rahasiaku. Akan ku simpan rapat-rapat kandungan ini dari Byan, lelaki yang tidak akan pernah menginginkan seorang anak," gumam Jasmine kembali dengan lirih hingga matanya berkaca-kaca.
Sekarang Jasmine harus bisa bertahan dengan hidupnya yang begitu rumit tapi dia juga begitu bahagia bahwa ada yang bisa mengisi hari-harinya karena adanya janin dalam rahimnya. Jasmine tak sendirian, dia ditemani oleh calon anaknya yang akan lahir beberapa bulan lagi. Maka Jasmine tak akan pernah menyia-nyiakan hidupnya demi kebahagiaan yang dia inginkan bersama calon anaknya kelak.
"Non Jasmine, ayo mari Bibi antar ke kamar," ucap bi Narti yang tiba-tiba memecahkan lamunan Jasmine.
"Eh, iya Bi."
"Pelan-pelan ya Non. Kamar Non ada di bawah. Sengaja tuan Atha menempatkan Nona di kamar tamu bawah biar Nona leluasa dengan kandungannya dan bisa latihan berjalan," Bi Narti memapah Jasmine berjalan menuju kamar yang akan Jasmine tempati.
"Loh, bukannya aku di sini menjadi pelayannya juga, Bi? Kok aku nggak sekamar sama Bibi saja?" tanya Jasmine menjadi tidak enak.
Bi Narti tersenyum dan sedikit tertawa mendengar perkataan Jasmine.
"Tuan Atha tidak setega itu dengan wanita yang sudah membuat Non sakit apalagi kondisi Non sedang hamil," ujar bi Narti.
Jasmine tersenyum kecil mendengar ucapan bi Narti. Hatinya bahagia bahwa Atha begitu baik padanya.
"Oh ya, Bi ... dimana tuan Atha? Kenapa sejak tadi aku tidak melihatnya? Dan dia juga tidak pulang bersama kita?" tanya Jasmine celingak-celinguk mencari keberadaan Atha.
__ADS_1
"Tuan Atha lagi di kantornya, Non. Makanya Bibi ditugaskan untuk selalu menjaga Non di manapun Non berada."
"Loh, jangan Bi. Aku bisa jaga diriku sendiri kok, Bi. Lagi pula Bibi yang mengurus rumah sebesar ini, kan capek."
"Di rumah ini ada tiga pelayan termasuk Bibi. Jadi nggak capek-capek amat. Di sini kerjanya enak kok, Non."
"Seperti di rumah papa," gumam Jasmine begitu pelan. Karena waktu dulu dia berada di rumah papa tirinya, di sana juga ada banyak pelayan.
"Rumah papa siapa, Non?" tanya bi Narti yang ternyata mendengar perkataan Jasmine.
"Eh, emm ... bukan apa-apa kok," sahut Jasmine sedikit gugup.
Setelah sampai di kamar tamu, Jasmine pun duduk di sisi ranjang dengan mengelus perutnya pelan. Dia masih teringat Atha yang begitu membuatnya penasaran.
"Bi, a-ku bo-leh tanya sesuatu tentang tuan Atha?" tanya Jasmine ragu dan takut-takut.
Bi Narti yang sedang menempatkan pakaian Jasmine ke lemari, langsung berjalan mendekat ke arah Jasmine.
"Emm ... sebenarnya tuan Atha itu orangnya seperti apa sih?" tanya Jasmine begitu sangat penasaran dan ingin tahu.
Bi Narti menghela nafasnya pelan kemudian dia tersenyum menatap wajah cantik Jasmine. Seketika Jasmine pun ikut tersenyum melihat bi Narti yang begitu ramah.
"Tuan Atha itu baik, sangat-sangat baik. Orangnya sopan, tutur katanya lembut dan dermawan serta tulus membantu orang-orang yang kesusahan. Dia anak tunggal sekaligus cucu pertama di keluarga besarnya, tapi dia sangat mandiri, tidak pernah mengeluh sedikit pun walau banyak orang yang mau menjatuhkan dia dalam perusahaannya," kata bi Narti panjang lebar menatap wajah Jasmine agar mengerti.
"Menjatuhkannya? Itu maksudnya apa?" tanya Jasmine heran.
"Tuan Atha itu sangat pandai dan pintar mengelola perusahaan, dia juga disayang oleh kakek dari pihak ibunya. Hingga kakeknya begitu bangga pada tuan Atha, kemudian mewariskan perusahaan pusat di Luar Negeri dari beliau. Lalu paman tuan Atha tidak rela sehingga pamannya itu yang berkuasa memimpin perusahaan pusat sampai saat ini. Tapi tuan Atha sama sekali tidak pernah mempermasalahkan hal itu karena dia tahu bahwa sang paman memang keturunan langsung dari sang kakek," lanjut bi Narti bercerita panjang lebar kembali.
Jasmine mendengarkan begitu seksama penjelasan bi Narti. Jasmine pun merasakan kagum pada Atha.
__ADS_1
"La-lu ba-gai-mana dengan kehidupan pribadi tuan Atha?" tanya Jasmine ragu-ragu.
Bi Narti mengernyitkan dahinya seolah mempertanyakan apa yang ditanyakan oleh Jasmine, seketika Jasmine langsung memperjelas pertanyaannya.
"Emm ... maksudku tentang tuan Atha, apakah dia mempuyai pacar, gitu? Karena selama ini aku melihatnya selalu sendiri," tanya Jasmine yang sangat penasaran lagi dan lagi.
Bi Narti tersenyum lebar dan menggeleng-gelangkan kepalanya. Jasmine menjadi heran dengan sikap bi Narti itu.
"Tuan Atha masih sendiri. Dia tidak mau pacaran, karena menurutnya pacaran itu adalah ladang dosa," kata bi Narti.
Jasmine mengangguk paham.
"Apa dia tidak ingin menikah? Menurutku usia tuan Atha itu sudah pantas untuk menikah," tanya Jasmine lagi.
"Entahlah, dia bilang belum ketemu jodoh yang pas."
"Apa tuan Atha pemilih? Ya, seleranya mungkin wanita yang cantik, seksi dan berkelas," tanya Jasmine yang semakin penasaran.
Bi Narti menggeleng cepat.
"Selera tuan Atha itu adalah wanita yang taat beribadah, gemar mengaji dan bisa menjaga auratnya dari laki-laki yang bukan mahromnya," jelas bi Narti.
"Dan satu lagi, bahwa tuan Atha itu lelaki yang taat beribadah juga, dia paling tidak suka dengan wanita centil, wanita manja dan wanita penggoda. Makanya tuan Atha sangat hati-hati dalam memilih pasangan hidupnya," tegas bi Narti penuh penjelasan kembali.
Deg
Seketika tubuh Jasmine lemas, dia baru tahu tentang bagaimana pribadi Atha Bamantara sekarang. Dari penjelasan bi Narti barusan, Jasmine benar-benar malu atas apa yang sudah dia lakukan pada Atha saat di rumah sakit, yaitu Jasmine telah berani menggoda Atha dengan mata genitnya.
Dan itu membuat Jasmine benar-benar merasa dirinya hina di mata seorang Atha Bamantara yang tabiatnya adalah seorang yang taat beribadah.
__ADS_1
"Oh no, aku sudah melakukan kesalahan besar pada tuan Atha," batin Jasmine lirih dan sangat malu atas ulahnya.