Tersesat, Cinta Dua Hati

Tersesat, Cinta Dua Hati
Teringat Kenangan


__ADS_3

Setelah pertemuan Darwish dengan keluarga Atha, kini tak bisa dihindarkan lagi bahwa Darwish adalah satu-satunya keluarga yang tersisa dari pihak ibunya Atha. Dan memang telah diakui oleh Darwish bahwa dirinya merupakan paman sekaligus orang tua bagi Atha.


Sebenarnya Darwish adalah sosok yang baik dan dermawan. Dia pun menyayangi Atha. Hanya karena satu alasan yang membuat Darwish marah yaitu, warisan yang diberikan ayahnya yang merupakan kakeknya Atha, begitu tidak masuk akal menurut Darwish. Maka sejak saat itulah Darwish sedikit berubah kepada Atha. Bukan karena benci melainkan kecewa pada mendiang ayahnya.


"Tolong siapkan makan malam yang lezat, nanti. Keponakan saya, Atha dan keluarganya akan datang ke rumah ini," ujar Darwish memberi perintah pada pelayan rumahnya setelah dia kembali dari kantor.


Nyatanya Darwish mengunjungi kantor cabang yang dipegang oleh Atha. Darwish sengaja ke sana, bukan hanya karena mengecek pekerjaan Atha, melainkan mempunyai maksud untuk mengundang Atha beserta istri dan anak-anaknya makan malam di rumah besar keluarga Wiratama. Darwish merasa rumah itu sekarang tampak sepi dan tak berpenghuni. Dia menjadi bosan bila sendirian.


"Iya, baik Tuan!" sahut pelayan dengan patuh.


Setelah itu Darwish melangkah ke atas menaiki tangga menuju kamarnya.


Di kediaman Atha, suasana sore itu setelah Atha pulang dari kantor, rumah tampak ramai karena semua keluarganya berkumpul sambil bercanda tawa, ditambah ada Sakha dan Ziva yang saat itu sedang bermain bersama.


"Malam ini kita makan bersama dengan paman Darwish di rumah peninggalan kakek," ucap Atha saat ikut bergabung dengan Jasmine dan anak-anaknya di ruang keluarga.


Sakha yang rupanya antusias mendengar nama paman Darwish langsung merespon cepat.


"Kakek Darwish?" tanya Sakha memastikan.


"Iya sayang," Atha mengangguk tersenyum.


"Yeay, asikkk!" ucap Sakha kegirangan.


Mendengar itu, Jasmine dan Atha tersenyum bahagia.


"Untuk pertama kalinya kita ke luar bersama anak-anak. Apakah tidak masalah?" ujar Jasmine merasa khawatir.


Atha merangkul Jasmine mencoba memberi pengertian.

__ADS_1


"Semua orang sudah tahu status kita, apalagi aku sudah memberikan informasi ini kepada karyawan kantor, jadi sekarang kamu bisa ke luar rumah tanpa harus menyamar," jelas Atha.


Tapi sayangnya Jasmine masih saja tampak khawatir terlihat dari raut wajahnya dan kekhawatiran Jasmine seolah diketahui oleh Atha.


"Selama ini kau ketakutan jika diajak ke luar hanya sekedar ke mini market. Apa mungkin ada yang kamu sembunyikan dariku, Jasmine?" tanya Atha cukup was-was.


Jasmine terbelalak kaget, dia cukup gugup untuk menjawab pertanyaan Atha.


"Ah, itu ... ti-tidak ada kok. Lagian aku ... aku ma-sih trauma soal kecelakaan waktu itu," ujar Jasmine beralasan.


Atha tersenyum dan meraih pundak Jasmine.


"Jangan berlarut dalam ketakutanmu itu. Insya Allah tidak akan terjadi apa-apa selama kau mengingat Allah, dan ada aku di sampingmu," Atha memeluk Jasmine dalam dekapannya sembari memandang Sakha dan Ziva yang sedang bermain di depannya.


***********


"Hei, Pak Boss mau pulang kemana? Gue langsung ke rumah nenek gue. Jadi kita berpisah di sini saja," ucap Wandi setelah mereka sampai di bandara Jakarta.


Wandi mengerutkan keningnya heran, dia tidak habis pikir dengan tingkah Byan yang selalu saja ingin bersamanya tak pernah lepas.


"Udah, ayo kita berangkat!" seru Byan merangkul tangan Wandi dan berjalan dengan santai.


Wandi menggelengkan kepalanya merasa kesal dengan terpaksa menuruti kehendak Byan.


"Bukannya balik ke rumah dengan bokap loe, eh ini malah balik ke apartemen. Anak durhaka loe!" umpat Wandi sekenanya.


"Bodoh amat!" ujar Byan tak peduli.


Tak lama, 30 menit kemudian sampailah mereka di apartemen. Byan pun turun dari taksi, tapi ada yang aneh saat dilihatnya Wandi tidak ikut turun bersamanya.

__ADS_1


"Woi, turun loe!" teriak Byan pada Wandi.


"Gue ngantuk mau pulang, udah kangen sama nenek gue. Ayo jalan, Pak!" tolak Wandi dan menyuruh sopir untuk menjalankan mobilnya.


"Jangan, Pak!" cegat Byan.


Dengan cepat Byan membuka pintu dan menarik lengan Wandi untuk ke luar dari dalam mobil taksi.


"Ah, sialan loe!" Wandi terpaksa mengikuti Byan dengan langkah gontai.


Setelah masuk ke apartemen, Wandi langsung menjatuhkan tubuhnya ke sofa. Sedangkan Byan masih berdiri menatap sekeliling ruangan di sana. Seketika dia mengingat bayang-bayang kenangan dirinya bersama Jasmine.


"Woi, melamun aja loe. Kenapa? Hoho, pasti teringat dengan mantan istri, iya kan!" goda Wandi.


"Berhenti mengingatkan dia," bentak Byan marah. Dia pun langsung melangkah ke kamarnya.


Byan masuk ke kamarnya dengan perlahan, ada rasa yang begitu menusuk di hatinya. Pikirannya mulai kembali mengingat kenangan bersama Jasmine. Byan duduk di sisi ranjang dengan menundukkan kepalanya seakan menyesal.


Diam-diam Wandi menyelinap masuk ke kamar Byan dan membuyarkan lamunannya.


"Tuh kan, bener loe teringat sama Jasmine. Di kamar ini kalian pernah bergulat dengan suara ******* nakal Jasmine yang menggoda, akhhh...akhhh...akhhh," Wandi sampai memperagakan suara ******* ke arah telinga Byan.


"Berhenti, Wandi. Jangan membuat lelucon konyol seperti itu," Byan bangkit dari sisi ranjang kemudian melangkah ke luar dari kamarnya.


"Hei kau mau ke mana, Bro!" teriak Wandi.


"Kita ke rumah nenekmu, sekarang!" seru Byan.


Wandi kaget, padahal Byan sendiri yang meminta ke apartemen dan sekarang malah ingin pergi untuk ke rumah neneknya.

__ADS_1


"Dasar, DUDA AKUT loe Byan!" teriak Wandi kesal.


__ADS_2