
Pagi sekali, Sakha sudah bersiap-siap dengan pakaian yang sudah rapi, setelan kemeja navi dipadu dengan celana jeans berwarna hitam. Sungguh berkarisma dan mempesona sekali dengan wajah yang tampan. Kini Sakha terlihat seperti seorang lelaki dewasa pekerja kantoran, padahal ijazah SMA saja belum dia dapat.
Sakha berjalan menuruni tangan sembari menggulung kemejanya sedikit ke atas.
"Wah, wah, rapi bener sih? Masih pagi nih, hari libur juga. Mau kencan ya?" goda Ziva melirik Sakha dari atas sampai bawah. Sungguh dia juga sampai terkagum dengan sosok kakaknya yang tampan. Benar-benar pria sempurna, pikir Ziva.
"Berisik," umpat Sakha tak peduli dengan ucapan sang adik.
Sakha malah menarik kursi lalu duduk di sana bergabung untuk sarapan bersama kedua orang tuanya beserta Ziva di ruang makan.
"Ma, Pa ... mungkin beberapa hari ini Sakha menginap di rumah kakek sampai dia pulang ke Amerika. Tau sendiri kan jika kakek sudah berkehendak. Boleh ya, Ma, Pa?" izin Sakha pada Jasmine dan Atha.
"Boleh, asal kamu jangan pernah meninggalkan kewajiban kamu, sholat. Dan jangan pergi kelayapan apalagi ke diskotik. Selalu ingat apa yang sudah diajarkan oleh Papa, mengerti?" pesan Jasmine dengan ketat.
Setiap kali Sakha berada di antara Darwish dan Byan, pasti Jasmine selalu mengingatkan Sakha dengan hal-hal yang baik, karena Jasmine masih menaruh kecemasan terhadap Byan yang notabenenya dulu sebagai pria yang berperilaku buruk.
"Tenang aja, Ma. Sakha janji nggak akan pernah mengecewakan Mama dan Papa. Ajaran kalian akan selalu Sakha ingat dan patuhi," jawab Sakha, dia bersikap layaknya anak yang berbakti.
"Kamu minta antar sama supir saja nanti," ujar Atha.
"Nggak Pa, nanti daddy jemput Sakha ke sini kok."
Uhuk uhuk uhuk
Semua pasang mata tertuju ke arah Jasmine. Ya, Jasmine sedikit tersedak makanan saat mendengar Sakha menyebut Daddy, itu artinya Byan akan datang ke rumahnya. Nggak kebayang bila Jasmine bertemu dengan lelaki itu kembali, apalagi Sakha telah memanggilnya Daddy, sedikit merasa tidak rela bagi Jasmine. Tapi Jasmine harus adil, bagaimanapun juga Byan merupakan ayah kandungnya Sakha.
"Cie ... yang punya daddy baru, papa lama jangan dilupain," ledek Ziva menyela.
"Zivaaaa!" seru Sakha menajamkan matanya.
"Upss, ya ya maaf," Ziva tertunduk namun sedikit terkikik.
Sakha hanya menggeleng melihat tingkah Ziva yang selalu saja menggodanya bahkan ngomong asal.
"Assalamu'alaikum, selamat pagi semuanya!" suara yang sangat familiar. Ya itu suara Byan.
"Wa'alaikumussalam," sahut semuanya dengan baik.
__ADS_1
"Wah, Daddy. Apa kabar Daddy? Rapi banget, mau jalan-jalan ya? Ziva ikut ya Daddy, boleh?" Ziva langsung mendekati Byan dengan permintaan manjanya.
"Ziva, apa-apaan kamu!" Sakha sedikit membentak.
"Kenapa sih? Apa nggak boleh aku manggil Daddy juga seperti Kak Sakha? Dad, Ziva boleh kan panggil Daddy juga?" pinta Ziva yang membuat Byan mematung.
Sebenarnya Byan merasa canggung, apalagi pagi-pagi sudah disuguhkan dengan drama Ziva yang konyol.
Byan hanya tersenyum kikuk. Dia merasa sangat malu, karena ternyata Sakha telah memberitahu tentang panggilan dirinya kepada anggota keluarga Atha bahkan Jasmine. Nggak kebayang wajah Jasmine saat ini terlihat tidak bersahabat.
Sedangkan Sakha hanya mendengus kesal, melihat tingkah laku Ziva yang membuat suasana menjadi canggung. Dasar Ziva pembuat onar, pikir Sakha.
"Abi, ayo duduk kita sarapan bareng," tawar Atha pada Byan.
"Sepertinya langsung saja deh, Mas. Papi sudah menunggu soalnya. Sakha, kita berangkat sekarang?" tolak Byan halus lalu beralih bertanya pada Sakha.
Sakha hanya mengangguk, jujur dia masih malu untuk memanggil Daddy di depan Jasmine, Atha apalagi si Ziva yang sangat heboh itu.
"Sakha, kamu belum sempat sarapan loh," ujar Jasmine.
"Nanti diluar saja, Ma!" Sakha pun bangkit dari duduknya.
Byan dan Sakha saling pandang.
"Emm ... nggak juga sih, Mas. Cuma papi sedari tadi yang nggak sabar ketemu Sakha," sahut Byan beralasan.
"Bukannya Sakha kemarin lusa sudah ketemu sama paman? Kalau ada hal penting, mending dibicarakan bersama-sama. Aku nggak mau kalau kalian bertindak sesuka hati pada Sakha," kali ini Jasmine angkat bicara. Dia heran dan merasa tidak senang dengan Byan maupun Darwish yang semena-mena terhadap Sakha setelah kebenaran terungkap.
"Kamu yang sabar, Jasmine!" Atha memegang tangan Jasmine memenangkan istrinya. Byan yang melihat itu merasa tidak suka, bisa dibilang Byan cemburu.
"Tenang saja, tidak ada sesuatu yang aku bahkan papi bertindak tanpa persetujuan dari kamu," kata Byan menatap Jasmine sekilas, lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain. Rasanya dia tidak kuat melihat kebersamaan Jasmine dan Atha.
Byan dan Sakha pun langsung pergi setelah berpamitan pada Jasmine dan Atha.
Setelah menempuh perjalanan 30 menit, di sebuah hotel terkenal, kini Darwish sudah merasa lega mendapati anak dan cucunya telah datang memenuhi breakfast bersama di restoran hotel tersebut. Senyum mengembang dari wajah Darwish begitu terpancar.
"Sakha, Kakek kangen sama kamu. Malam ini kamu jadi menginap di rumah utama kan?" tanya Darwish bersemangat.
__ADS_1
"Ya, Kek!" sahut Sakha sambil menyalami tangan Darwish dengan sopan.
"Ayo duduk dan pesan makanan dan minuman yang kamu mau," Darwish menyerahkan papan menu pada Sakha.
Sakha tampak bingung, dia sebenarnya tidak terlalu suka makanan luar. Dia lebih senang bila sarapan dengan bubur atau omlet buatan rumahan apalagi buatan ibunya, Jasmine.
"Emm, Daddy pesan apa? Samain aja kayak Daddy, deh!" ujar Sakha.
"Daddy?" Darwish menoleh ke arah Byan dan Sakha bergantian. Dia terlihat bingung.
Byan langsung berpura-pura mengecek makanan dan minuman yang akan dia pesan dengan Sakha.
Dari sikap diam di antara Byan dan Sakha, Darwish pun dapat menyimpulkan sesuatu. Dia tersenyum senang.
"Wah, Kakek senang kau akhirnya memanggil dia dengan sebutan Daddy. Pantesan saja dari kemarin Daddy kamu itu senyum-senyum nggak jelas," kata Darwish sekaligus menggoda Byan.
Ekhem
Byan terlihat santai tapi kenyataannya dia sangat malu.
"Pelayan!" teriak Byan sambil mengangkat tangannya.
Pelayan itu mendekat. Kemudian Byan pun memesan makanan dan minuman yang dia pesan untuk dirinya dan Sakha. Sedangkan Darwish sejak 5 menit lalu dia sudah memesan makanan dan minuman terlebih dulu.
"Lihat tuh, Daddy mu itu sok tuli nggak peduli dengan omongan Kakek. Nanti tuli beneran dia, hehehe!" ledek Darwish terkekeh.
"Astaga Papi, kok nyumpahin Byan tuli. Jahat bener, sih!" Byan menjadi murung dan ngambek.
Hahahaha
Tawa Sakha dan Darwish pun pecah kala wajah Byan terlihat seperti kepiting rebus seolah malu-malu kucing.
"Oh ya, Sakha. Bagaimana tawaran Kakek tentang kuliah kamu di Amerika?" Darwish begitu ingin sekali jika Sakha berada di dekatnya, di dekat cucunya, apalagi Sakha anak yang patuh, tidak seperti Byan.
"Emm, masih rahasia. Sakha akan kasih kabar pada kalian semua pada saat yang tepat, kita kumpul keluarga besar nanti," jawab Sakha seolah masih merahasiakan tentang keputusannya.
Darwish menghela nafasnya pelan.
__ADS_1
"Ya, baiklah. Semoga tidak mengecewakan," gumam Darwish berharap.