Tersesat, Cinta Dua Hati

Tersesat, Cinta Dua Hati
Kembali ke Rumah


__ADS_3

Setelah tiga hari Jasmine berada di rumah sakit bersama anaknya, baby Sakha maka mereka sudah diperbolehkan pulang oleh dokter mengingat kondisi Jasmine tampak sehat karena melahirkan secara normal. Tidak ada keluhan yang buruk.


Jasmine begitu sangat bahagia karena dia akan kembali ke rumah Atha. Apalagi dia akan segera menikah dengan Atha. Rasanya Jasmine tidak sabar dengan status yang bernama 'istri'. Sedangkan status jandanya hanya tinggal kenangan.


Atha sengaja berada di rumah sakit untuk menjemput Jasmine pulang ke rumahnya. Mereka sekarang sudah berada di dalam mobil yang berisikan 4 orang termasuk bi Narti dan juga baby Sakha yang dalam gendongan bi Narti. Atha yang saat ini mengemudikan mobilnya menuju kediamannya.


Setelah mobil terparkir di halaman depan rumahnya, segera Atha ke luar dan membukakan pintu untuk Jasmine ke luar dari mobil, disusul oleh bi Narti yang ke luar dari mobil bersama baby Sakha.


Sedangkan para pelayan yang lain, antusias menyambut kedatangan tuannya dan juga calon istrinya serta bayi mungil yang akan mengisi keramaian di rumah mewah Atha.


Tepat di depan pintu rumah, Atha menghentikan langkahnya dan berbicara kepada bi Narti. Dia tidak ikut memasuki rumah miliknya itu.


"Bi Narti, tolong jaga rumah ini seperti biasa, ya. Aku akan menginap di apartemen untuk sementara, setelah kondisi....," pesan Atha langsung kepada bi Narti yang belum terselesaikan.


Tiba-tiba Jasmine langsung memotong perkataan Atha kemudian memborong pertanyaan bertubi-tubi kepada Atha.


"Kenapa begitu? Kenapa harus di apartemen? Apa kau sengaja menghindar dariku? Apa kau akan mengingkari janjimu? Sebenarnya kau tidak mau menikahiku, kan? Iya kan?" tanya Jasmine panik dan matanya pun sekarang berkaca-kaca.


Atha menghela nafasnya dengan sabar, sebenarnya dia pusing dengan keadaannya saat ini, apalagi suasana hatinya tidak baik. Tapi sebisa mungkin Atha harus bisa bersikap sabar dan tenang menghadapi sikap Jasmine.


Bi Narti yang melihat adegan itu dihadapannya menjadi serba salah. Mau berbicara tapi dia takut mencampuri urusan dua orang sepasang calon suami istri itu. Bi Narti hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ya, maklum calon suami istri itu masih muda, jadi sebisa mungkin bi Narti bisa memahami kedua sepasang calon pengantin itu.


"Bibi masuk duluan, mau menidurkan Sakha di kamar. Kasihan Sakha, di luar panas. Permisi, Tuan, Nona!" ujar bi Narti yang pada akhirnya dia menghindari kecanggungan di antara pasangan calon suami istri itu.


Atha menganggukan kepalanya, sedangkan Jasmine hanya diam dan mengalihkan pandangannya karena menyadari sikapnya yang begitu berlebihan pada Atha.

__ADS_1


Bi Narti pun melangkah masuk ke dalam rumah membawa Sakha. Setelah dirasa suasana di sekitar itu tenang, Atha pun mencoba untuk berbicara pada Jasmine, membuat Jasmine memahami apa yang sebenarnya dimaksudkan oleh ucapan Atha yang membuat wanita di depannya itu langsung emosi.


"Jasmine dengarkan aku, kedengarannya aku menghindar dari kamu, itu memang benar. Tapi aku melakukan itu semata-mata demi kita," ucap Atha menjeda kalimatnya.


"Tapi...," Jasmine mencoba ingin mengungkapkan pendapatnya.


"Nanti dulu, aku belum selesai bicara," lanjut Atha memotong ucapan Jasmine.


Jasmine pun terdiam, tapi tiba-tiba saja air matanya lolos dan sekarang membasahi pipinya. Dengan segera Jasmine mengusapnya.


Atha yang melihat itu menjadi risau.


"Aku ingin kamu mengerti bahwa sepasang calon pengantin tidak baik jika mereka berada di satu rumah yang sama. Tujuanku tinggal di apartemen hanya untuk menghindar dari hal-hal buruk yang mungkin saja bisa terjadi," ujar Atha menjelaskan.


"Aku tidak mengingkari janjiku, Jasmine. Aku bukan pengecut. Aku laki-laki yang di didik agama yang baik oleh orang tuaku sejak kecil, jadi aku sangat menjaga martabat, harga diri dan menjalankan hukum agama yang benar," lanjut Atha menjelaskan.


Jasmine terdiam sejenak, dia merasa tertampar oleh ucapan Atha. Lelaki itu benar, bahwa tidak seharusnya Jasmine berpikir yang buruk terhadap calon suaminya. Entahlah, Jasmine sekarang menjadi egois menjelang persalainan beberapa waktu lalu hingga sekarang. Dia seakan tidak bisa melihat orang yang dia sayangi pergi meninggalkannya. Jasmine yang pemberani malah takut kehilangan seseorang, yaitu Atha.


Dulu sejak bersama Byan, bahkan Jasmine rela berpisah demi kesepakatan yang mereka buat. Bahkan Jasmine mengorbankan perasaan cintanya pada Byan hingga Jasmine memendamnya sendiri tanpa Byan tahu yang sebenarnya. Apalagi saat wanita itu tahu jika dia hamil, awalnya dia drop tapi karena adanya Atha membuat Jasmine bangkit dan bersemangat menjalani hidupnya.


Jasmine menyadari, bahwa Atha telah banyak membantunya hingga memberikan tempat tinggal. Bukan hanya itu, Atha pula telah memberikan kelayakan hidup Jasmine saat mengandung, dari hal kebutuhan makanan bahkan pakaian. Sungguh Atha sangatlah dermawan dan begitu bertanggung jawab atas kecelakaan yang menimpa mereka beberapa bulan lalu.


Jasmine pun menyadari bahwa dia tidak akan bisa kehilangan sosok Atha dalam hidupnya. Jasmin tidak ingin kehilangan lagi orang-orang yang dia cintai.


Masalah cinta, entah Jasmine mencintai Atha atau hanya sekedar menyukai. Satu hal yang pasti, Jasmine tidak ingin kehilangan Atha, Jasmine tidak ingin Atha meninggalkan dirinya, Jasmine hanya ingin Atha yang menjadi ayah dari anaknya, Sakha.

__ADS_1


Maka dari itu, Jasmine merasa bersalah pada Atha, tidak seharusnya Jasmine berburuk sangka pada Atha. Ya, semata-mata takut jika Atha pergi meninggalkan dirinya.


"Maafkan aku, sungguh aku hanya takut jika...," ucap Jasmine yang seketika itu pula ucapannya menggantung.


Atha mulai terpikir kalimat selanjutnya yang akan Jasmine katakan. Jadi sebisa mungkin Atha meyakinkan Jasmine.


"Tenang saja, aku tidak akan mengingkari janjiku!" seru Atha.


"Ya, seharusnya aku tidak menuduhmu karena aku tahu kebaikanmu selama ini menolongku dan juga Sakha saat dalam kandunganku. Maafkan aku," ucap Jasmine menyesal hingga menundukkan kepalanya merasa malu pula.


"Nggak masalah, yang paling penting kamu harus merubah sikap dan sifat kamu lebih baik lagi kedepannya," ujar Atha.


Sontak Jasmine mendongak ke arah Atha.


"Ya, aku janji akan berubah!" Jasmine menjawab dengan cepat sembari menganggukan kepalanya.


"Itu harus!" seru Atha.


Hening sejenak.


Tak lama kemudian Atha mengeluarkan sesuatu yang mengganjal di hatinya.


"Tapi ada satu hal yang paling tidak aku sukai dari sifat seorang wanita," ucap Atha.


Jasmine membulatkan matanya.

__ADS_1


"A-apa itu?" tanya Jasmine penasaran hingga ucapannya terbata.


__ADS_2