Tersesat, Cinta Dua Hati

Tersesat, Cinta Dua Hati
Para Orang Tua Aneh


__ADS_3

Seminggu kemudian, setelah perdebatan antara Jasmine dan Byan. Tidak ada pada keduanya menampakan wajah mereka masing-masing, karena memang Byan sengaja tidak berkunjung ke rumah Atha. Byan sengaja untuk menata hatinya agar lebih baik. Kalau Jasmine sudah pasti sangat senang bahwa tidak mendapati Byan yang sering mondar-mandir di rumahnya.


"Mama, apa om Abi tidak ada main ke sini?" tanya Sakha menghampiri Jasmine di dapur setelah Sakha pulang dari sekolahnya.


"Tidak ada, sayang!" sahut Jasmine mencium pipi Sakha setelah itu.


"Yahhh, padahal Sakha ingin om Abi mengantar Sakha ke rumah kakek," ujar Sakha kecewa.


Jasmine berjongkok mensejajarkan tubuhnya pada Sakha.


"Jangan selalu mengandalkan om Abi, karena dia sedang sibuk dan capek bekerja. Kalau dia marah sangat menakutkan loh, seperti singa!" ucap Jasmine menakut-nakuti Sakha agar anaknya tidak menanyakan Byan terus menerus.


"Apa iya, Ma?" tanya Sakha memastikan.


Jasmine menganggukkan kepalanya.


"Ih serem," seketika Sakha bergidik ngeri.


Jasmine menyembunyikan senyuman geli melihat Sakha. Padahal Jasmine sadar bahwa dia salah telah menakuti Sakha dan juga telah menjelek-jelekan Byan. Tapi itu dia lakukan agar Sakha tidak terlalu dekat dengan Byan.


Di sisi lain, di kantor tempat Atha bekerja. Kini dia sedang ditemani oleh saudaranya, siapa lagi jika bukan Byan. Jika di Indonesia, Byan kerjanya hanya cukup duduk manis menemani Atha, lebih tepatnya mengawasi seperti layaknya bos. Tapi terkadang jika ada tenaga yang sangat dibutuhkan, maka Atha meminta bantuan Byan seperti layaknya bawahan.


Atha senyum-senyum sendiri kala melihat Byan begitu fokus mengerjakan tugas yang diberikan olehnya. Byan sangat patuh pada Atha.


"Apa aku harus mentraktirmu setelah ini?" tanya Atha disela dia mengistirahatkan sejenak jari-jari tangannya bekerja sembari menatap Byan ke arah tempat duduknya di sofa.


"Ya, harus itu Mas. Lihatlah, aku sangat bisa diandalkan membuat proposal ini pada perusahaanmu," ujar Byan dengan bangga, mengetik dengan fokusnya sambil menatap layar laptop.


"Ya, ya itu lebih baik dari pada kau tidak punya kerjaan sama sekali," Atha terkekeh meledek Byan, sedangkan yang diledek hanya diam, karena diakuinya bahwa yang dikatakan oleh Atha memang kenyataan.


Dert dert derttttt


Selang beberapa menit, tiba-tiba Atha mendapatkan pesan lewat ponselnya. Atha pun segera mengambil ponselnya di atas meja kerjanya lalu membukanya.


"Hai Atha, apa kabar? Aku baru kembali ke Jakarta 1 jam lalu. Aku sangat merindukan kota ini setelah 2 tahun merantau ke negara lain. Ayo kita bertemu malam nanti, sekalian reuni. Ajak keluargamu juga. Nanti aku share lokasinya, ok!" pesan dari seseorang.


"Wow, kejutan sekali kamu kembali. Baiklah, aku tunggu!" jawab Atha membalas pesan.


Pesan yang cukup membuat Atha tercengang dan geleng-geleng kepalanya sambil tersenyum bahagia. Kemudian Atha mengalihkan pandangannya ke arah Byan.

__ADS_1


"Abi, selesaikan proposal itu hari ini. Kita akan makan besar nanti malam," ujar Atha memberitahu.


"What? Hari ini?" kaget Byan.


Atha pun mengangguk setelah itu dia kembali mengerjakan pekerjaannya.


"Wah, aku sepertinya memang menjadi bawahanmu sekarang," rutuk Byan sambil berdecak tidak terima.


Atha hanya terkekeh mendengar itu.


"Baiklah, demi makan besar nanti malam. Aku akan selesaikan proposal ini. Awas saja kau berbohong!" ucap Byan lagi dan melanjutkan pekerjaannya kembali dengan semangat.


Beberapa jam pun telah berlalu. Kini hari mulai sore. Saatnya untuk pulang. Tapi Atha dan Byan masih setia berada di kantor lebih tepatnya di ruang kerja Atha. Untuk pekerjaan yang dijalankan oleh Byan sudah selesai. Sekarang tinggal menunggu Atha yang terlihat masih mengecek berkas-berkas yang berada di mejanya.


"Abi, sebentar lagi aku ada meeting dadakan dengan klien di sini. Dia memajukan meeting karena besok dia berangkat ke Italy. Jadi aku akan bersiap-siap sekarang. Billy juga sedang menjemputnya di lobi," ucap Atha sambil melirik jam di tangannya dengan sedikit menampakkan wajah lelah dan gusar.


"Baiklah, aku pulang saja dulu. Jangan lupa nanti malam," Byan bangkit berdiri sambil memperingatkan janji Atha padanya.


Setelah Byan berjalan beberapa langkah hendak membuka pintu, tiba-tiba Atha menahan Byan dengan suaranya.


"Abi tunggu!" cegah Atha ke Byan.


Atha mendekat ke arah Byan dengan wajah yang sedikit bimbang.


"Bisa tolong kau jemput istri dan anak-anakku ke sini? 10 menit lagi aku ada meeting. Dan aku lebih percaya padamu dari pada supir taksi," Atha menepuk bahu Byan dengan senyum mengembang.


Byan diam mematung mendengar itu langsung dari Atha, karena apa yang barusan dia dengar membuatnya sedikit syok.


"Cepatlah sana pergi. Kita makan besar malam ini. Aku tidak mungkin hanya mengajakmu saja. Nanti akan ada sebuah kejutan," lanjut Atha dengan kembali melangkah ke arah meja kerjanya untuk mengambil berkas meeting.


Byan bingung menjawab apa. Padahal sudah 1 minggu ini dia sengaja menghindar dari Jasmine tapi nyatanya mereka masih akan bertemu kembali. Byan pun menyadari bahwa keberadaannya tidak akan pernah menjauh dari Jasmine selama dia masih berada di Indonesia.


"I-iya Mas. Aku segera menjemput mereka," ujar Byan sedikit terbata, lalu melangkah perlahan meninggalkan Atha.


Dalam perjalanan menuju rumah Atha, pikiran Byan tidak karuan. Ingin menolak permintaan Atha, tapi dia tidak berani mengatakannya. Karena mengingat Atha adalah satu-satunya saudara yang paling dekat dengannya.


Tak terasa mobil yang dikendarai Byan telah terparkir di halaman rumah mewah Atha.


Tin tin tinnnn

__ADS_1


Sengaja Byan mengklakson beberapa kali mobilnya supaya Jasmine beserta kedua anaknya turun tanpa dia masuk ke rumah. Hal itu agar membuat Byan tidak menyapa Jasmine terlebih dulu.


Tin tin tinnn


Untuk kedua kalinya Byan mengklakson mobilnya dengan cukup kuat kali ini. Terlihat sekali wajah Byan yang kesal.


"Hei, Om Abi berisik. Berhenti membunyikan klakson. Mama dan Ziva sebentar lagi akan turun," ucap Sakha yang tiba-tiba datang menghampiri Byan lalu memasuki mobil di kursi belakangnya.


"Lama banget, ngapain aja sih? Dari tadi Om udah on the way ke sini. Bukankah papa kamu sudah memberitahu?" tanya Byan menatap Sakha menoleh ke belakang.


"Ziva lagi rewel tadi, Om. Jadi mama agak sedikit kerepotan," jawab Sakha.


Tak lama kemudian, Jasmine berjalan ke arah mobil dengan menggendong Ziva. Jasmine terlihat sangat cantik, tapi sayang Byan hanya sedikit melirik dengan sekilas, karena dia tidak mau berlarut-larut dengan perasaannya. Jasmine membuka pintu belakang mobil, duduk bersama Sakha.


Melihat itu, Byan merasa terhina karena dia seperti dijadikan supir oleh Jasmine.


"Sakha, pindah ke depan bersama Om, sayang!" pinta Byan dengan suara datar.


"Siap Om!" Sakha pun patuh dengan memindahkan dirinya ke kursi depan sebelah Byan.


Dalam perjalanan begitu hening, yang ada hanya musik dan celotehan dari Sakha dan Ziva. Sedangkan kedua orang dewasa di dalam mobil itu saling tak ada tegur sapa walau sekedar basa-basi.


Kediaman Byan dan Jasmine pun mengundang kecemasan pada Sakha. Sejenak Sakha menoleh ke arah Byan dan Jasmine bergantian.


"Mama dan Om Abi lagi berantem, ya?" tanya Sakha begitu saja yang ke luar dari mulutnya.


"Nggakkk!" jawab Jasmine dan Byan bersamaan.


Sakha kaget dengan kedua jawaban yang bersamaan itu.


"Lalu kenapa kalian hanya diam saja dari tadi?" tanya Sakha dengan rasa ingin tahunya.


"Malasss!" jawab Jasmine dan Byan Bersamaan lagi.


Kali ini bukan hanya Sakha yang kaget melainkan Ziva yang melirik Jasmine dan Byan bergantian.


"Huhhh, dasar para orang tua aneh!" rutuk Sakha dengan kesal.


"Sssttttt," ujar Jasmine dan Byan bersamaan kembali.

__ADS_1


Sakha pun menggelengkan kepalanya dengan memukul keningnya pelan.


__ADS_2