
Sakha masih merengek pada Jasmine kala mereka sudah masuk ke dalam kamar pribadi Sakha. Anak itu menggoyang-goyangkan tangan Jasmine meminta untuk menghubungi Byan. Sudah berbagai alasan membujuk Sakha agar menunda video call dengan Byan, tapi malah Sakha semakin menangis dengan kuat hingga Atha mendengarnya dari dalam kamarnya.
"Kenapa Sakha menangis?" tanya Atha yang sudah masuk ke kamar Sakha, dia menghampiri Sakha dan mengelus pucuk kepalanya lembut.
"Papa, tolong hubungi om Abi. Sakha kangen sama om Abi," rengek Sakha dengan terisak.
Atha melirik Jasmine yang menggeleng mengkode untuk menolak pintanya Sakha, lalu Atha beralih ke jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 10 malam.
"Besok pagi saja ya. Om Abi pasti sudah tidur," bujuk Atha beralasan.
"Nggak mau, pokoknya sekarang. Om Abi sudah gede, pasti tidurnya lama, apalagi dia jomlo dan kerjaannya hanya bolak balik main ke kantor Papa," bantah Sakha keras kepala sampai-sampai dia meledek Byan, ya walau itu kenyataannya.
Atha tak bisa berkata lagi. Mau tak mau Atha harus menuruti kemauan Sakha. Di samping itu, Atha sangat paham dengan Byan. Biasanya Byan di jam segini sedang bersenang-senang di tempat hiburan malam bersama Wandi atau teman-temannya yang lain.
*******
Di sisi lain, terlihat orang-orang yang sedang bersenang-senang berjoget dengan meliuk-liukan tubuhnya diiringi musik yang keras dan juga cahaya gemerlap lampu berkedip-kedip sesuai iringan musik yang dimainkan.
Seperti apa kata Atha, kini Byan tengah meneguk minumannya sambil duduk di sofa bersama Wandi dan dua orang pengawal bayaran yang disewa Byan untuk berjaga-jaga jikalau dia mabuk berat agar membawanya pulang ke apartemen. Sungguh kali ini Byan terlihat sangat frustasi mengingat tentang kebenaran asal usul Jasmine sebenarnya. Hatinya terasa sakit karena kebohongan Jasmine selama mereka bersama dulu.
Byan menatap ke arah depan sambil menggoyangkan gelas berisi minuman beralkohol, pandangan matanya seakan kosong.
"Sudah, hentikan minumnya. Sudah habis 5 botol tuh yang loe minum. Ntar otak loe error, baru tahu rasa loe. Terus loe gila dan gue nggak mau temenan sama loe lagi," ancam Wandi yang mencoba merebut gelas dari tangan Byan yang hendak di teguknya lagi minuman beralkohol itu.
"Sini gelasnya woi. Gue belum mabuk. Masih kuat gue minum," protes Byan meraih kembali gelas yang dirampas paksa oleh Wandi.
Wandi hanya menggelengkan kepalanya heran. Dia sekarang masa bodoh dengan apa yang bakal terjadi pada Byan, mungkin saat dia terkapar setelah menghabiskan minuman memabukkan itu.
__ADS_1
"Cinta memang membuat orang gila. Hah, bisa ikutan gila gue lama-lama duduk sama orang yang patah hati kayak loe. Mending gue happy happy sama cewek-cewek cantik disana," Wandi kesal hingga dia berjalan ke area depan dimana banyak orang berjoget ria menghilangkan stres.
Byan menatap nanar Wandi dengan senyuman miringnya.
Derttt, derttt, derttt
Ponsel Byan bergetar, segera dia mengambil ponselnya dari saku celananya. Dia melihat nama di layar ponselnya.
"Mas Atha, ngapain dia video call gue? Tumben banget," ucap Byan mengerutkan keningnya tak percaya.
Byan mengusap wajahnya dan memposisikan duduknya dengan benar, karena dirasa dirinya sekarang ini hampir mabuk. Setelah itu Byan menjawab video call itu.
"Ada apa Mas? Nggak biasanya video call sama aku. Kangen yah?" ledek Byan dengan sudut bibir terangkat dengan kata sedikit merancau.
Atha kaget kala melihat pemandangan di belakang Byan.
Byan mengkerut heran kala layar ponselnya gelap karena tangan Atha menutupinya.
"Kamu lagi di club? Bisa menjauh dari sana? Pemandangan di belakangmu mengundang dosa," ujar Atha sedikit berteriak.
Belum saja dijawab pertanyaan dari Atha, segera Byan langsung menoleh ke arah belakang. Seorang wanita berada dipangkuan pria sambil bercumbu mesra.
Byan terkekeh dibuatnya.
"Ok, ok, aku pindah sekarang!" Byan bangkit dan menuju toilet. Sebenarnya tubuhnya cukup lemah saat ini karena pengaruh alkohol. Tapi dia masih bisa menahannya.
Setelah sampai di toilet pria, Byan menatap layar ponselnya. Dari sana, Byan sempat mendengar Sakha yang merengek.
__ADS_1
"Apa ada Sakha di sampingmu?" tanya Byan penasaran.
Belum saja dijawab oleh Atha, tiba-tiba Sakha merebut ponsel itu dari Atha, hingga muncul wajah Sakha di layar ponsel Byan.
"Om Abi ... Sakha kangen, kapan Om bawa Sakha jalan-jalan lagi?" rengek Sakha dengan wajah memelasnya.
"Hoho, kenapa menangis sayang? Baiklah, besok Om akan jemput Sakha di sekolah ya," ujar Byan.
Sengaja Byan menjemput di sekolah Sakha, agar dirinya tidak bertemu dengan Jasmine. Wanita itu selalu mengganggu pikirannya.
"Om Janji, ya. Besok Sakha tunggu di sekolah," jelas Sakha.
Permintaan Sakha tentunya membuat Byan tidak bisa menolaknya. Entah kenapa ada perasaan yang tak bisa diartikan. Byan begitu sangat menyayangi Sakha seperti anaknya sendiri.
"Ya, pasti. Sudah sana tidur. Ini sudah malam," Byan melihat jam di tangannya, hari yang sudah sangat malam untuk anak diusia Sakha yang seharusnya sudah terlelap di tempat tidurnya.
"Sampai jumpa Om Abi," Sakha melambaikan tangannya. Terlihat air mata Sakha sudah mengering.
"Sampai jumpa, sayang!" Byan melambaikan tangannya dan tersenyum senang.
Video call pun terputus. Byan berjalan kembali menuju tempat awal yang dia duduki tadi.
Betapa bahagianya dia, hanya karena Sakha merindukannya sampai merengek menangisi dirinya. Suasana hatinya yang tadi buruk seketika membaik kala melihat Sakha. Anak itu seperti obat penenang baginya.
"Aku akan menepati janjiku pada Sakha. Setelah itu aku akan pulang ke Amerika. Aku akan melupakan masa laluku dan juga Jasmine," gumam Byan lirih.
Byan menuangkan minumannya ke gelas. Lalu dia meneguknya tak bersisa. Dia mengulangnya berkali-kali hingga benar-benar mabuk sampai ambruk di sofa.
__ADS_1