Tersesat, Cinta Dua Hati

Tersesat, Cinta Dua Hati
Datang Lebih Cepat


__ADS_3

Satu mobil mewah masuk ke halaman rumah Atha. Seseorang keluar dari mobil kemudian mengitari mobil itu kemudian membuka pintu mobil penumpang di belakang dengan menunduk hormat.


Seseorang laki-laki paruh baya tampak ke luar dari mobil itu. Dengan pakaiannya yang rapi, dia memasukan salah satu kancing jasnya, kemudian menatap sekeliling rumah yang beberapa tahun tidak dia pijakan. Terakhir, saat dia melayat kakak perempuannya yang telah tiada, itu pun sudah lama sekali.


Laki-laki paruh baya itu tak lain adalah Darwish Putra Wiratama, paman dari Atha.


"Kalau bukan keponakanku, aku tidak akan menginjakan kakiku kemari," gumam Darwish bernada kesal.


Darwish pun melangkah hendak menuju rumah diikuti oleh asisten pribadinya, Martin.


"Pencet belnya!" perintah Darwish pada Martin.


"Baik Tuan!" patuh Martin.


Ting tong ting tong ting tong


Belum ada yang membuka pintu rumah itu. Darwish terlihat kesal karena cukup lama dia berdiri di depan pintu itu.


"Kemana mereka. Aku tidak tahan berdiri seperti ini," gumam Darwish berdecak kesal.


Ceklek


Dengan santainya Darwish membuka pintu rumah Atha seenaknya saja, apalagi saat itu pintunya tidak terkunci, membuat Darwish lebih mudah membukanya.


Darwish masuk ke rumah itu sembari melihat-lihat sekeliling yang tampak sepi.


"Rumah ini tidak ada orangnya atau semua orang masih tidur? Bahkan aku kemari tidak ada satu pelayan pun menyambutku," Darwish melangkah menyusuri area ruangan disekitarnya.


Masih tidak ada orang, terlihat sunyi, sepi dan senyap.


"Woi, dimana semua penghuni rumah ini?" teriak Darwish.


Tak lama bi Narti datang menghampiri sumber suara.

__ADS_1


"Tu-tuan Darwish, kapan anda datang?" tanya bi Narti kaget serta gugup.


Darwish menatap bi Narti dengan pandangan kecewa.


"Aku sejak tadi kemari, pintu juga tidak di kunci. Bagaimana nanti ada perampok, hah? Kemana semua orang di sisni?" bentak Darwish cukup kasar.


"Maaf Tuan, semua orang sedang sholat Dzuhur, termasuk tuan Atha dan istrinya."


Darwish melirik ke arah jam di tangannya. Seketika dia paham bahwa kehadirannya di waktu yang salah, dimana semua umat muslim melaksanakan kewajibannya beribadah sholat Dzuhur saat itu. Dia pun menjadi malu sendiri.


"Panggilkan tuanmu jika dia sudah selesai sholat," titah Darwish.


"Baik Tuan!" patuh bi Narti


Pelayan itu pun melangkah menuju kamar utama Atha.


"Permisi, Tuan Atha ... ada Tuan Darwish datang dan menunggu anda di ruang tamu sekarang," ucap bi Narti memberi tahu.


Sontak Atha kaget bukan main, karena tidak dia sangka bahwa pamannya itu rela sampai datang ke rumahnya tanpa pemberitahuan terlebih dulu.


"Saya akan turun ke bawah, tolong layani paman dengan baik ya Bi Narti," pinta Atha.


Bi Narti pun kembali turun ke bawah sesuai perintah dari sang majikan.


Tak lama kemudian, Atha turun dari tangga bersama dengan Jasmine yang menggendong Ziva.


"Jasmine, jangan tegang ya. Biar aku yang akan menjelaskan pada paman nanti," ujar Atha.


"Iya Mas," Jasmine mengangguk.


Mereka pun telah sampai di ruang tamu tempat Darwish berada.


"Assalamu'alaikum, Paman Darwish. Apa kabar Paman?" salam Atha sambil memberikan jabat tangan ke arah Darwish.

__ADS_1


Seketika Darwish berdiri dari sofa lalu mensejajarkan tubuhnya dengan Atha. Matanya pun menatap Atha dengan rasa kecewa serta kebencian. Darwish tidak membalas Jabat tangan Atha melainkan beralih menatap Jasmine dan Ziva.


"Dia Jasmine, istriku. Dan Ziva, anakku!" Atha memperkenalkan istri dan anaknya pada Darwish.


Jasmine langsung memperkenalkan dirinya ke Darwish.


"Saya Jasmine, senang bertemu dengan Paman," Jasmine menjabat tangan ke arah Darwish, tapi sayangnya lelaki paruh baya itu tidak membalasnya.


Jasmine langsung menarik kembali tangannya kemudian menunduk dengan hati bergetar ketakutan.


"Bahkan kau mempunyai anak sebesar ini. Kau sudah tidak menganggapku sebagai Pamanmu lagi. Padahal aku adalah pengganti orang tuamu, aku satu-satunya keluarga terdekatmu. Apa kau tidak menghormatiku lagi, hah?" Darwish menatap Atha dengan kemarahan.


"Maafkan Atha, Paman. Sungguh aku tidak bermaksud untuk menutupi pernikahanku dari Paman ataupun keluarga kita, tapi aku tidak ingin merepotkan Paman sehingga meninggalkan pekerjaan Paman," Atha melirik Jasmine seolah masalahnya saat ini biar dia yang atasi.


"Lagian, pernikahanku dan Jasmine hanya dilakukan secara sederhana," lanjut Atha.


Mendengar itu, wajah Darwish berubah menjadi kemarahan.


"Tapi tetap saja kau salah telah merahasiakan pernikahanmu selama 5 tahun dariku," bentak Darwish pecah sampai menggema ke seluruh rumah.


Semua penghuni rumah menjadi ketakutan, apalagi si Ziva yang sangat kaget hingga dia menangis dengan kencang.


"Hua...hua...hiks...hiks," Ziva menangis mengerang memeluk Jasmine ketakutan.


Darwish merasa bersalah atas tangisannya Ziva.


"Saya permisi, Paman!" pamit Jasmine.


Jasmine pun membawa Ziva pergi ke kamarnya.


"Paman, Atha tahu ini terlambat, tapi tolong restuin Atha dan Jasmine agar menjadi pasangan yang sakinah mawaddah warahmah," ujar Atha meminta restu pada Darwish.


Darwish hanya diam menatap wajah Atha dengan penuh kecewa, marah dan kesal. Tanpa menjawab perkataan Atha, lelaki paruh baya itu melangkah pergi begitu saja melewati Atha.

__ADS_1


Atha menatap kepergian Darwish sembari menghela nafasnya cukup berat.


__ADS_2