
Jasmine menghampiri Atha di ruang keluarga yang sedang menonton TV. Jasmine merasa belum tenang jika anak sulungnya itu belum kembali dari beberapa jam yang lalu. Entah kenapa hati Jasmine menjadi tak tenang bila belum melihat Sakha.
"Mas, ini sudah sore loh, kenapa Sakha belum pulang?" tanya Jasmine setenang mungkin.
"Paling bentar lagi Sakha pulang, nanti juga dia diantar sama Abi ke sini," ujar Atha menenangkan Jasmine.
Atha tahu jika ada kecemasan diraut wajah istrinya itu. Lalu seketika Jasmine bertanya-tanya dengan seseorang yang disebutkan oleh suaminya itu.
"Abi siapa?" tanya Jasmine.
"Abi itu sepupuku yang tinggal di Amerika. Dia anak dari paman Darwish. Nanti kau bakal tahu orangnya," jelas Atha tersenyum.
"Baiklah," Jasmine mengangguk paham.
Setengah jam kemudian, ada satu mobil yang baru masuk ke dalam halaman rumah Atha. Dengan begitu, Atha bergegas ke luar dari rumahnya. Atha tahu siapa yang datang, jadi dia ingin menyambut seseorang itu. Ya, siapa lagi kalau bukan Abyan, sepupunya yang telah bertahun-tahun lamanya tidak bertemu.
Atha tersenyum setelah melihat sosok dua orang berjalan bergandengan tangan, yakni Abyan dan Sakha. Atha bisa lihat ada kemiripan di antara keduanya bak ayah dan anak.
"Papaaaa!" teriak Sakha berhambur ke pelukan Atha.
"Mama dimana, Pa?" tanya Sakha tak melihat Jasmine menyambutnya.
"Mama di atas sama adik Ziva. Sana gih panggil mama kamu," ucap Atha mengelus pucuk kepala Sakha.
__ADS_1
Sakha langsung melepaskan pelukannya dan berlari menghampiri Jasmine di kamar atas.
Atha bersedekap dada melihat Abyan yang berdiri sambil berkacak pinggang.
"Kenapa kau melihatku seperti itu? Apa kau sudah melupakanku, hah? Dasar menyebalkan!" rutuk Byan bernada kesal.
"Kau tidak ingin memelukku, hah? Kita sudah lama tidak bertemu, ayolah kemari," Atha merentangkan tangannya seolah meminta pelukan dari saudaranya itu.
Byan menyunggingkan senyuman sebalnya.
"Kau sepertinya tidak merasa bersalah, ya? Wow luar biasa, kau sudah melupakan saudaramu ini karena sudah punya keluarga baru, kan? Wah wah wahhhhh, kau sudah berubah!" Byan menelisik Atha dari ujung kepala sampai ujung kaki sambil menggelengkan kepalanya masih tak percaya jika kakak sepupunya itu sudah menikah dan mempunyai anak. Bahkan dirinya saja masih single.
Atha hanya tersenyum melihat sikap Byan. Atha tahu bahwa saudaranya itu sekarang sedang memberinya sindiran, tapi bukan sindiran buruk melainkan sindiran candaan.
Byan langsung melepaskan tangan Atha darinya seolah marah padanya.
"Hei, aku marah padamu, Mas. Bisa-bisanya kau menikah diam-diam dan tidak memberitahu aku dan Papi. Keterlaluan kamu, Mas!" Byan melotot seolah-olah marah pada Atha.
Atha mengatupkan kedua tangannya di depan Byan sambil memohon.
"Tolong maafkan saya, Paduka. Saya akan beri penjelasan, tapi bisakah anda masuk terlebih dulu, Paduka?" raut wajah Atha memelas dengan ekspresi menyedihkan yang dibuat-buat.
Hening sejenak. Byan dan juga Atha saling melirik satu sama lain.
__ADS_1
"Hahahahaaaa!" tawa Byan pecah gara-gara melihat kelakuan Atha yang konyol.
Ya, Atha tidak hanya memiliki sikap dingin tapi juga Atha bisa saja melakukan hal yang konyol ketika berhadapan dengan seseorang yang paling dekat dengannya, contohnya Abyan. Mereka berdua bisa dibilang sangat sangat akur sekali dalam menjalin tali persaudaraan.
Atha ikut tertawa bersama Byan, setelah itu mereka berdua masuk ke dalam rumah dan Atha membawa Byan masuk ke dalam ruang kerjanya untuk mengobrol sejenak sembari menunggu azan magrib berkumandang.
Tepat pukul 7 malam setelah Atha dan Byan menyelesaikan sholat magrib bersama, kini waktunya Atha mengajak Byan untuk makan malam bersama keluarganya. Kala itu Atha, Byan dan Sakha sudah cukup lama berada di ruang makan, sedangkan makanan telah tersedia di meja makan.
Sakha yang sudah tidak sabar untuk melahap makanan di depannya itu, dia berteriak memanggil Jasmine yang tenggah menenangkan Ziva di kamar yang lagi rewel.
"Mamaaaa, ayo buruan turun kita makan. Sakha udah laparrrrr!" teriak Sakha lantang sekali.
Sembari menunggu, sebenarnya Byan penasaran dengan istri dari kakak sepupunya itu, Atha. Sejak tadi Byan juga belum melihat istri dan anak perempuan dari saudaranya itu. Rasa penasaran Byan kepada Atha semakin menjadi-jadi.
"Eh, Mas ... sebenarnya aku penasaran deh, wanita mana sih yang bisa meluluhkan hati seorang Atha Bamantara yang susah sekali di dekati oleh wanita-wanita. Pasti istrimu itu adalah istri sholehah seperti impianmu yang pernah kau ceritakan padaku dulu, kan Mas?" tanya Byan yang sudah sangat penasaran sekali.
Atha tersenyum kecil mendengar perkataan Byan. Ya, memang benar sekali, dulu pernah Atha bercerita pada Byan tentang istri idaman yang diimpikan oleh Atha.
"Nanti juga kau bakal tahu, Abi" sahut Atha.
"Ok, ok ... aku menantikan itu," ujar Byan.
Tak lama kemudian datanglah Jasmine yang berjalan dengan menggendong Ziva menuju ruang makan.
__ADS_1
"Tuh istri saya," ucap Atha sambil menatap sosok wanita cantik dan berjilbab yang sedang berjalan sembari menatap dirinya pula.