
Di tahun-tahun berikutnya, Darwish kembali datang ke Indonesia. Tampak Darwish yang sudah tidak sabar lagi untuk bertemu dengan cucunya, Sakha. Selama ini Darwish diam dengan status dirinya yang merupakan kakek kandungnya tanpa diketahui oleh Sakha.
Tapi kini Darwish emosinya sudah tidak bisa terkendali. Dia akan berdiskusi pada Atha, Byan dan juga Jasmine untuk memberitahu tentang kebenaran yang sebenarnya pada Sakha. Tapi kendalanya ada pada Jasmine yang paling sulit di bujuk untuk memberikan izin tentang kebenaran itu.
Dan siang ini, di hari libur, Darwish sengaja mengundang keluarga Atha untuk berkumpul di rumah utama keluarga Wiratama, tanpa terkecuali. Sekarang Darwish beserta Byan sedang menunggu kedatangan mereka. Byan melihat Darwish yang terlihat tidak sabaran seperti menunggu seorang kekasih.
"Nah, itu mereka datang. Cucuku Sakha, sudah besar saja dia," gumam Darwish yang pertama kali dia lihat adalah kehadiran Sakha sesaat memasuki rumah.
Saat ini Sakha sudah semakin besar dengan usia 11 tahun. Sakha pun sudah tamat dari sekolah dasar. Dan sekarang dia akan melanjutkan sekolah menengah pertama.
"Kakek...!" seru Sakha berjalan cepat menghampiri Darwish, lalu memeluknya sejenak.
"Sakha, kau tambah besar dan tinggi sekarang. Mukamu tambah mirip sekali dengan papamu, Nak!" ujar Darwish tanpa sadar membuat orang sekitarnya cemas, apalagi raut wajah Jasmine yang menatap cukup tajam ke arah Darwish.
Suasana hening seketika. Darwish pun menyadari ucapannya barusan.
Sakha memicingkan matanya, dia merasa aneh dengan ucapan kakeknya.
"Emm ... maksud kakek kau mirip dengan papamu Atha," Darwish tersenyum kikuk.
"Kakek salah, kebanyakan orang mengatakan kalau aku lebih mirip dengan paman Abi," sahut Sakha langsung menimpali ucapan Darwish.
"Hem, iya sayang. Kamu lebih cocok menjadi anaknya Om Abi," ucap Darwish tersenyum bangga sembari melirik ke arah Atha, Jasmine dan juga Byan secara bergantian.
Tidak dipungkiri memang itu adalah kesempatan yang memang tidak boleh dilewatkan oleh Darwish, mengingat dirinya memang sudah ingin sekali mengatakan bahwa dirinya adalah kakek kandung dari Sakha, yang berarti ayah dari Abyan sekaligus ayah kandung Sakha.
"Om Abi, aku merindukanmu. Sudah satu bulan Om tidak ke rumahku," ungkap Sakha bergantian berhambur pelukan kepada Byan.
"Om Abi banyak pekerjaan, jadi belum bisa main ke rumahmu," jawab Byan berbohong, padahal dia sering berkunjung ke rumah Atha, tapi selalu ditentang oleh Jasmine yang melarangnya.
Tak ingin mengambil banyak waktu lagi, Darwish tanpa basa-basi mengajak Atha beserta Jasmine pergi ke ruang kerjanya.
__ADS_1
"Sakha dan Ziva main saja dulu di sini, ya!" titah Jasmine berpesan pada Sakha.
"Iya Ma," sahut Sakha dan Ziva patuh.
"Ayo kita ke luar taman, Kak!" ajak Ziva, lalu dia berjalan ke luar taman sambil bergandengan dengan Sakha.
Suasana di dalam ruang kerja Darwish yang berada di atas, tepatnya ruangan itu adalah peninggalan ayahanda Wiratama yang sudah tiada. Ruangan yang penuh kenangan bagi Darwish. Juga Atha dan Byan saat kakeknya masih hidup. Ruangan yang telah lama tidak terpakai, kini menjadi saksi para anak cucunya sedang berdiskusi.
Tiga kursi telah disiapkan di depan meja Darwish. Suasana menjadi tegang. Tatapan Jasmine tak tentu arah. Atha menyikapi dengan santai dan tenang. Sedangkan Byan tampak sangat cemas, takut jika Darwish akan menyinggung perasaan Atha maupun Jasmine. Apalagi sekarang Jasmine terlihat wajahnya tidak bersahabat dengannya saat pertama kali masuk di kediaman rumah utama Wiratama.
"Sengaja aku mempertemukan kita berempat di sini, di tempat ini karena kita adalah keluarga. Dan ... aku rasa, kalian berdua tahu apa yang ingin paman sampaikan," kata Darwish terlebih mengarah pada Atha dan Jasmine.
Atha dan Jasmine saling pandang sekilas. Mereka seolah tahu apa yang akan dikatakan oleh Darwish, bahkan saat mereka masih berada di rumah sebelum menginjakkan kaki di kediaman Wiratama. Pasti dan tak bukan adalah seputar tentang Sakha.
"Langsung saja ke intinya Paman. Apa yang akan Paman bahas kali ini," ucap Atha berpura-pura seolah tidak tahu.
Darwish dengan posisi duduk yang tenang sambil kedua tangannya menyatu di atas meja kerja, melirik ketiga orang yang ada di depannya. Tak lupa Darwish menarik nafas sejenak untuk mengurangi rasa gugupnya.
"Kalian tahu jika aku sudah tua, aku terkadang lelah bekerja seharian hanya untuk melepas kesendirianku. Aku rindu masa-masa dulu di rumah ini bersama keluargaku. Tapi sekarang di sini tinggal hanya kenangan, rumah ini sepi jika aku tinggal di sini. Abyan juga sudah punya apartemen dan jarang sekali menginap di sini. Dan aku juga akan pulang ke Amerika," ucap Darwish menjeda kalimatnya.
Atha dan Byan yang mendengar itu, langsung kaget. Tidak menyangka bila Darwish akan berani berbicara seperti itu. Terlebih lagi Jasmine yang menggeleng-gelengkan kepalanya terlihat jelas menentang permintaan Darwish.
"Papi, apa-apaan ini?" tanya Byan terlihat tidak senang, dia yakin pasti Jasmine akan marah.
Hubungan Byan sekarang dengan Jasmine saja sudah renggang ditambah Darwish meminta Sakha dari ibunya. Maka pasti Jasmine akan tambah membenci dirinya, pikir Byan.
"Paman mohon Jasmine, izinkan Paman mengajak Sakha sekolah di Amerika. Bahkan Paman tidak tahu sampai kapan Paman akan bertahan hidup di dunia ini. Paman tidak ingin sendirian, Jasmine!" Darwish memohon dengan memelas sampai-sampai matanya berkaca-kaca.
Byan yang tak bisa menahan lagi kekesalannya, dia pun bangkit berdiri dari kursinya.
"Papi, apa yang kau lakukan? Jangan membuat masalah semakin rumit," ucap Byan merasa tidak enak hati dengan Jasmine juga Atha.
__ADS_1
Jasmine menggeleng pelan sambil memejamkan matanya sejenak lalu menghela nafas perlahan.
"Tidak, aku tidak bisa memberikan Sakha izin ke Amerika. Aku juga nggak bisa jauh dari anakku. Tolong jangan buat alasan karena kau sudah tua, Paman!" ujar Jasmine sekaligus menyindir dengan memberanikan dirinya menentang permintaan mantan calon mertuanya itu.
"Tapi Jasmine....," protes Darwish terpotong.
"Cukup Paman. Apalagi di sini ada keluargamu yang bisa mengurus mu jika kau sakit. Ada Byan bahkan pelayan. Jika kau merasa kesepian, tinggalkan pekerjaanmu di Amerika, lalu tinggallah di sini, maka aku akan mengizinkan Sakha tinggal di sini saat akhir pekan," tegas Jasmine to the point. Dia sebisa mungkin bersikap tenang dan sopan pada Darwish.
Atha tersenyum kecil mendengar perkataan istrinya. Baru kali ini dia melihat Jasmine bisa menentang Darwish dengan kesabaran dan lembut walau sebenarnya emosinya begitu memuncak. Atha sangat bangga terhadap Jasmine. Bahkan dirinya saja tidak berani untuk menentang sang Paman hingga sampai sekarang ini sang Paman lah yang berada di puncak kejayaan perusahaan Wiratama, walau Atha lah yang menjadi penerus dari perusahaan utama. Namun Atha sadar diri bahwa dirinya hanya keturunan Wiratama dari sebelah sang ibu.
Darwish tersentak kaget. Ternyata Jasmine adalah wanita yang cukup berani, pikir Darwish. Dia pun hanya bisa menghela nafas pelan.
"Baiklah, jika kau tidak mengizinkan aku membawa Sakha ke Amerika. Maka biarkan Sakha tahu yang sebenarnya jika dia adalah cucu kandungku," ancam Darwish yang sangat egois, yang artinya Sakha akan tahu bahwa ayah kandungnya adalah Byan, bukan Atha.
"Paman, jaga bicaramu! Aku ibunya, dan aku yang berhak atas Sakha sepenuhnya!" ucap Jasmine menentang keras. Air matanya mulai membasahi pipinya.
"Papi, kau keterlaluan!" kesal Byan cemas.
Tak lama kemudian, diskusi ke empat dari mereka pun selesai di dahului oleh kepergian Jasmine dari ruang kerja tersebut, lalu diikuti oleh Atha di belakangnya.
"Papi tolong jangan buat hubunganku retak pada mereka berdua dengan cara Papi yang ingin mengambil Sakha dari tangan mas Atha dan Jasmine. Aku tahu ide licik Papi. Apa belum puas Papi mengambil kedudukan mas Atha dari perusahaan!" marah Byan pada Darwish dengan emosi. Sungguh Byan cukup frustasi menghadapi papinya.
"Biarkan saja. Dari pada kau hanya diam tidak melakukan apa-apa. Setidaknya aku mencoba untuk merebut cucu dari wanitamu dulu," ujar Darwish dengan entengnya sambil bangkit dan melangkah pergi dari ruangan itu.
"Papiiiii ... apa yang kau katakan!" teriak Byan cukup menggema di ruangan itu.
Darwish menarik sudut bibirnya, lalu menoleh kebelakang sejenak.
"Jika kau tidak bisa merebut Jasmine dan Sakha dari Atha, maka rebut lah Sakha dari mereka berdua," ucap Darwish seolah tak berpikir jernih.
"Papiiiii....," teriak Byan kembali.
__ADS_1
"Papi tahu jika kau masih mencintai Jasmine, jangan mengelak lagi anak bodoh!" umpat Darwish menggelengkan kepalanya yang kali ini melenggang pergi.
Byan hanya melongo atas apa yang diucapkan oleh papinya. Lantas apakah mungkin Atha pun merasakan hal yang sama, pikir Byan mengacak rambutnya.