
Di rumah sakit, dokter telah memeriksa kondisi Jasmine setelah sadar dari tidurnya. Dengan hati-hati pula dokter menerangkan keadaan Jasmine yang sebenarnya kecuali kondisi kandungannya saat ini.
Atha sengaja menyuruh dokter untuk merahasiakan terlebih dahulu tentang keadaan Jasmine yang sedang mengandung, Atha pun seperti tahu bahwa Jasmine tidak mengetahui tentang kehamilannya melihat kondisi Jasmine sekarang yang sangat cuek dan tidak peduli dengan dirinya sendiri, malah Jasmine bersikeras ingin pergi ke bandara untuk menemui seseorang yang Atha tidak tahu siapa orang yang akan ditemui Jasmine.
"Ibu harus istirahat total mengingat kaki Ibu yang sedang cidera. Kurang lebih satu minggu Ibu baru bisa berjalan. Itu pun jika kaki Ibu sembuh karena mematuhi aturan dan meminum obat yang dianjurkan dari dokter," tegas dokter berkata pada Jasmine.
Jasmine hanya diam tak merespon yang dokter katakan. Dokter melirik Atha dengan pandangan yang seakan ingin bertanya tetapi Atha hanya mengkode dengan anggukan dan matanya seolah tahu apa yang ingin dokter katakan.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi," ujar dokter itu berlalu pergi meninggalkan ruang rawat Jasmine bersama Atha.
Atha beralih ke dekat nakas di samping Jasmine.
"Nih, kamu harus minum obat dan vitamin penguat kandung ... emm vitamim penguat tubuh biar kamu cepat sembuh," Atha mengambilkan obat untuk Jasmine dan tanpa sengaja hampir keceplosan tentang kehamilan Jasmine.
Atha menyodorkan obat pada Jasmine tapi Jasmine menepis tangan Atha dan memalingkan wajahnya.
"Kamu harus minum obat ini. Kamu jangan egois, pikirkan kesembuhanmu setidaknya untuk keluargamu," ujar Atha menasihati.
"Oh ya, dimana keluargamu tinggal? Atau ada nomor ponsel yang bisa aku hubungi untuk mengabarkan keadaanmu pada mereka?" tanya Atha melanjutkan.
Jasmine mulai merespon pertanyaan Atha kali ini, hingga beralih pandang wajahnya ke arah Atha.
"Aku tidak punya keluarga!" seru Jasmine datar lalu memalingkan wajahnya kembali menatap arah lain.
Atha cukup kaget dan heran.
"Masa iya, dia tidak punya keluarga disaat dirinya hamil, apa jangan-jangan ... ah, mikir apa aku ini," batin Atha penasaran.
Atha menepis pikiran buruknya, dia tidak ingin berlama-lama saat dirinya hanya berdua dengan wanita asing.
"Baiklah kalau begitu, aku mau pergi sebentar, ada urusan di kantor. Aku sudah menyuruh orangku untuk menjagamu di sini. Sebentar lagi dia datang, namanya bi Narti," ucap Atha hendak berbalik untuk melangkah.
"Oh ya, namaku Atha ... jika perlu apa-apa tinggal bilang ke bi Narti saja," lanjut Atha yang kali ini melangkah keluar dari ruang inap Jasmine.
__ADS_1
Jasmine hanya cuek dan menangis mengingat kata 'keluarga' yang diucapkan Atha ketika Atha sudah keluar meninggalkan dia.
Suasana di bandara.
Pembicaraan dua orang asing yang didengar oleh Byan ternyata mengundang kekhawatiran padanya. Selama Byan belum memastikan kebenaran, maka dia akan terus-terusan berusaha mengorek informasi pada bawahannya.
"Siallll, kenapa ponsel Beni tidak aktif sejak tadi," kesal Byan mencoba mendial kembali nomor Beni.
"Sabar, Bro. Gue malah pusing lihat loe dari tadi malah cemasin Beni mulu. By the way, loe udah lupain Jasmine kah?" ucap Wandi bicara seenaknya.
"Gue perlu Beni karena ingin tahu kabar Jasmine. Mendingan loe diem aja deh Wandi," ujar Byan begitu kesal kemudian menjauh dari Wandi.
"Sensitif banget tuh orang. Untung bos gue, kalau bukan udah gue tinggal loe!" gumam Wandi geleng-geleng kepala.
Menjelang keberangkatan Byan, dia masih saja tak patah semangat untuk selalu menghubungi Beni, bawahannya.
Dan beruntungnya, ponsel Beni baru saja tersambung oleh panggilan Byan. Kemudian berceritalah Beni pada Byan selama dia mengantar Jasmine.
"Apa? Jadi Jasmine ke bandara untuk menemuiku? Kenapa kamu tidak langsung menghubungiku, Beni? Sekarang Jasmine kemana? Bagaimana keadaannya sekarang, hah?" tanya Byan cukup banyak hingga Beni bingung menjawab yang mana dulu.
"Apa kau yakin Jasmine baik-baik saja?" tanya Byan masih tak percaya.
"Sa-saya yakin, Tuan!" ucap Beni asal padahal dia tidak tahu sama sekali.
Tuttttt
Ponsel pun terputus sepihak oleh Byan.
"Arghhhh, Jasmine kamu dimana? Kenapa kamu ingin menemuiku? Aku menjadi tidak tenang setelah berpisah denganmu. Aku khawatir padamu Jasmineee!" teriak Byan yang tak sadar dirinya berada di bandara yang banyak orang-orang berlalu lalang.
"Woi, Byan apaan sih loe! Jangan teriak disini, malu banyak orang noh!" Wandi mendekati Byan dengan rasa malunya pada pengunjung bandara yang memandang ke arah Byan saat dia teriak tadi.
"Ayo, kita berangkat sekarang!" ajak Wandi yang kemudian berjalan mendahului Byan.
__ADS_1
Byan merasa sulit melangkahkan kakinya untuk meninggalkan kota yang telah membuat hatinya jatuh pada seorang wanita yaitu Jasmine. Hatinya bimbang, ingin menemui Jasmine tapi dia tidak tau harus mencarinya dimana. Apalagi mereka tidak pernah bertukar nomor ponsel. Tapi takdir berkata lain, Byan harus pergi. Dia tidak bisa menunda lagi keberangkatannya kali ini.
Byan tak menyangka bahwa dia akan pergi meninggalkan sesuatu yang berharga yang selama ini dia remehkan, nyatanya malah membuat hatinya terluka, yaitu Jasmine.
Brukkk
"Papa, papa, papa!" ucap anak laki-laki berkisar 3 tahun yang tiba-tiba saja memegang tangan Byan.
Byan kaget dan beralih menatap anak laki-laki itu lekat.
"Papa, papa, papa!" ucap anak laki-laki itu lagi dengan menggoyangkan tangan Byan.
Tak lama seorang pria datang menghampiri Byan dan anak laki-laki itu.
"Hey Tristan ini Papa, Nak!" ujar pria itu yang nyatanya adalah ayah dari anak laki-laki itu.
"Papaaaaa," anak laki-laki bernama Tristan itu beralih berhambur kepelukan ayahnya dengan tersenyum ceria.
Ayah dari Tristan langsung meminta maaf pada Byan.
"Maaf ya, Pak. Anak saya terlalu aktif kesana kemari. Mungkin wajah kita hampir sama, jadi anak saya mengira Bapak itu adalah saya," ujar pria itu dengan candaan basa-basinya.
"Owh, ya tidak apa-apa. Lain kali hati-hati, anak anda ini lucu, takut nanti ada yang menculiknya," ucap Byan sambil mencubit gemas Tristan.
Tristan hanya tertawa-tawa hingga akhirnya Tristan dan ayahnya berlalu meninggalkan Byan.
"Lucu sekali anak itu, andai aku memiliki putra seperti Tristan," gumam Byan menatap Tristan tersenyum dari kejauhan.
"Mengapa aku ingin sekali mempunyai seorang anak. Ahhh, mikir apa aku ini? Tidak, tidak, tidak ... aku tidak ingin punya anak, karena kehadirannya akan membuat kekacauan!" gumam Byan menggelengkan kepalanya hingga membayangi masa depan yang menurutnya tidak ingin terjadi.
Plakkk
"Woi, ayo berangkat. Melamun aja Loe!" ujar Wandi memukul pundak Byan keras.
__ADS_1
"Iyaaa, ahhh sialan Loe!" umpat Byan kesal.